Category Archives: cerita gw

Kita Memang Berbeda

Standar

Melihat kawan-kawan yang semakin giat menulis, membuat saya turut dan ikut ketularan untuk memberikan waktu luang untuk satu kegiatan yang boleh dikatakan gampang dibuat susah. Kok gitu? Apa sih susahnya menulis? Tinggal ambil bullpen, atau buka laptop, nulis dah. Sulit dapetin ide? Banyak baca dan cari pengalaman, ga mesti jauh-jauh, saya yang berada di kamar 4 m x 4 m aja bisa dapetin puluhan ide, apalagi kalau tak tersekat batas dan waktu. Apalagi alasannya sampai bilang nulis itu susah? Nah, itu lah yang mengakibatkan kenapa menulis itu seringkali gampang dibuat susah. Ada saja alasan untuk menunda-nunda menulis. Setidaknya saya mencoba untuk tidak menjadikan alasan capek karena harus eksperimen, belajar di kelas, serta bersepeda 1 jam-an setiap hari, sehingga malas menulis. Juga tidak ingin menjadikan alasan untuk tidak menulis karena kurangnya waktu mendapatkan “ide” selama berada di toilet. Sesuai anjuran dokter, kini keberadaan saya di toilet harus dikurangi. Padahal ide-ide tulisan selama ini bermunculan selama berada di toilet. Ya, saat ini saya sedang mencoba untuk memaksa terus menulis. Setidaknya sebulan ini “paksaan”  itu membuahkan sedikit hasil. Walau kadang tak semua saya posting di rumah kecil ini.

5403902488_d24d4c95e7_z Read the rest of this entry

Iklan

Dilema Perut Buncit

Standar

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini? 🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014. Tapi mungkin bukan di sini saya akan membahas. InsyaAllah dilain kesempatan saya akan mencoba membahas kenapa saya memilih PKS. Read the rest of this entry

Siapa Bilang ini Wasir?

Standar

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebut hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir. Siapa yang bilang? Read the rest of this entry

Menangisi Negeri

Standar

Untuk kali kesekian saya hampir melupakan laman ini. Kadang saya berpikir apa mungkin saya sudah malas berbagi lewat tulisan? Tapi sepertinya tidak juga. Atau mungkin karena berbagi pesan lewat facebook dan twitter lebih mudah? Hmm. Mungkin. Bisa jadi. Tersebab kisah yang coba saya bagikan tampaknya cenderung “lebih mudah” untuk dishare lewat media sosial ketimbang harus bercapek-capek menulis panjang, yang mungkin, tak banyak orang yang suka membaca panjang (atau mungkin saya mulai tak suka menulis panjang :)).

Yep. Apapun penyebabnya, setidaknya saya tak melupakan laman ini. Laman yang sengaja dibuatkan untuk saya agar bisa berbagi kisah. Kisah yang semoga menjadi pelajaran buat diri saya supaya menjadi lebih baik dan syukur-syukur ada manfaat buat orang lain. Tak ada rasa bahagia di diri, ketika tahu bahwa apa yang saya lakukan tak memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain? Read the rest of this entry

Tafakuri Alam Lewat Momiji

Standar

Cuaca pada pagi itu sangat cerah dibanding beberapa waktu yang lalu. Namun, rasa dingin cukup menusuk, walau sebenarnya musim dingin belum bermula. Di depan sebuah stasiun telah berkumpul kerumunan massa yang kelihatan “aneh” dibanding keramaian orang di stasiun tersebut. Mereka adalah masyarakat muslim Indonesia di Jepang yang kebanyakan mahasiswa. Menjelang pukul 10, orang-orang yang dianggap “aneh” itu semakin banyak jumlahnya. Sekitar 60 an orang telah terkumpul di Stasiun Takaosanguchi.

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Read the rest of this entry

Celana 2000 Yen

Standar

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet

Sumber: Internet

Read the rest of this entry

Surat Untuk Emak

Standar

Mak, saya tahu emak hanya lulusan SD yang tak paham dengan teknologi. Walau begitu izinkan saya menulis surat ini mak. Saya rasa hanya ini cara satu-satunya saya ingin bercerita padamu mak. Saya tahu mak suka cerita, itu pula yang mak turunkan ke saya. Izinkan saya bercerita mak tentang gugupnya saya saat ini ketika engkau telah tiada mak.

Suhu di luar jendela kamar ini bisa saya prediksi minus belasan. Sudah tentu dingin mak. Tapi saya dinginmu tak terukur kini yang kau rasakan, di sanalah saya ingin memegang tanganmu agar terasa hangat. Saya berusaha untuk bangun mak ketika mendapat kabar kepergianmu. Tapi ternyata infomasi itu benar-benar nyata mak. Padahal mak, senja tadi (sekitar jam 3 sore di Pekanbaru) saya sedang membayangkan wajahmu yang sedang mengenakan jaket yang akan saya beli sebagaimana janji yang pernah saya utarakan kepadamu jauh sebelum keberangkatan ke sini. Begitu juga ekspresi ketika menerima tas yang saya belikan di sini. Ya, saya rasa emak pasti akan senang. Saya teringat perkataan mak di telepon dulu sebelum saya berangkat, “jangan ragu-ragu mau berangkat. Berangkat saja, insyaallah mak akan masih sehat sampai nanti pulang,” Ah begitu tenangnya hati saya mak, ketika engkau bilang itu. Saya rasa, optimisme mu masih belum hilang mak walau sudah 20 tahun engkau tak kuat berjalan.

Read the rest of this entry