Jepang, Oh Jepang (Jilid 1)

Standar

Alangkah terkejutnya saya ketika pertama kali membuka email saat akan kembali menuju Pekanbaru sepulang dari mudik lebaran di kampung halaman di Sumatera Barat. Paper yang saya kirimkan ternyata lolos. Tidak tanggung-tanggung, kali ini Call of Paper dari Kyoto, Jepang. Hmm, saya pun terbayang Jepang malam itu di bawah langit Padang. Tapi setelah dipikir-pikir saya pun mengurungkan niat untuk berangkat. Pasalnya, saya sudah tidak lagi mahasiswa, mana mau kampus membantu. Saya pun mendiamkan cukup lama, padahal acaranya sangat mepet. Saya mendapatkan email notification of acceptance dari panitia pada 4 September, sementara acaranya pada 8-10 Oktober. Sebenarnya harga tiket yang melambung hingga 9 juta juga menjadi alasan utama kenapa saya melepaskan angan-angan ke negeri “penjajah” itu.

Waktu pun berjalan, seiring waktu berjalan, walau kemungkinan besar kesempatan ini akan saya sia-sia kan, tapi keinginan pergi itu tetap ada. Lalu pun saya iseng-iseng mengurus visa. Dari awal saya berniat, ketika visa tidak bisa diurus, artinya saya memang tidak diizinkan untuk pergi. Namun, ternyata urusan ini dimudahkan, terlebih lagi saya memiliki sobat yang sangat baik mengurus visa saya di Medan. Terimakasih Irwan. V^^. Dalam tempo 3 hari, visa saya selesai. Padahal saya mendengar kabar jika pengurusan visa ke Jepang cukup sulit. Akhirnya melalui pertolongan Allah pun saya bisa hadir dalam acara Sustain 2011 Sustainable for Human Security di Uji Kampus Kyoto University.

transit menuju Malaysia

transit menuju Malaysia

Sebelum ke Osaka, saya transit di Kuala Lumpur dan Singapura. Di Kuala Lumpur saya hanya di bandara saja, baru saat di Singapore saya bisa jalan-jalan. Saya menuju Merlion Park dan Mustafa Centre. Dan beberapa gambar saya ambil menggunakan EOS 550 D .

taman di Singapore

taman di Singapore

Singapore City

Singapore City

Perjalanan saya menuju Osaka melalui Singapura dengan maskapai Singapore Airline. Dalam waktu 6 jam saya pun tiba di Jepang. Ada perasaan yang berbeda ketika saya tiba di Jepang. Galau hati begitu besar kala itu. Karena memang kedatangan saya kali ini tidak seperti sebelumnya, akomodasi dicarikan oleh panitia dengan harga murah, kemudian dijemput, dan diberi masukan-masukan. Tapi tidak untuk ke Jepang. Saya benar-benar tunggang langgang mencari hostel murah di Jepang, mempelajari peta Jepang beserta alat transportasinya. Semua itu saya lakukan sendiri tanpa ada arahan dari panitia. Untung saja saya dibantu oleh kenalan Mbak Yudha dari MITI Mahasiswa di Tokyo. Setidaknya saya punya gambaran. Namun, tidak lama perasaan galau tadi menghilang ketika saya menemukan sosok manusia Indonesia. Setelah melalui proses perkenalan, ternyata mereka juga akan mengikuti konferensi yang sama dengan yang saya ikuti. Rahman, Uti, Monic, dan Viviq. Begitu nama kawan pertama yang saya jumpai yang berasal dari Indonesia selama beberapa menit menginjakkan kaki di Jepang. Mereka berempat dari IPB dan masih terhitung junior saya.

Daerah Merlion Park

Daerah Merlion Park

Pernahkah menyadari bahwa orang Indonesia jika berkumpul sangat jauh berbeda dibanding warga negara lain? Jika yang sudah pernah melihat warga negara lain berkumpul, yang dilihat adalah tenang dan tertib. Tapi jika warga Indonesia bertemu, apalagi ketemunya di tempat yang minoritas orang Indonesia, sekali ketemu apa yang terjadi? Yup bener, KEHEBOHAN. Bagus memang, melepas rindu. Tapi ekspresi rindu yang terlampau heboh itu tidak disukai oleh kebanyakan orang luar negeri, salah satunya Jepang. Kegemaran orang Indonesia yang hobi difoto adalah salah satu penyebab kehebohan selain gosip-gosip yang tak bermutu. Belum sempat prosesi foto-foto di Pintu Kedatangan Luar Negeri Kansai Internasional Airport (KIX) usai, yang sempat membuat pintu kedatangan tersebut bak pasar, kami kedatangan Kepolisian Imigrasi Jepang. Ditanyai macam-macam, termasuk di Jepang akan tinggal dimana. Karena saya sudah mengetahui bahwa keempat rekan tersebut belum reservasi hotel, saya pun mengatakan bahwa mereka berempat ikut menginap di penginapan saya. Fiuh, sejak itu, saya, dan juga termasuk teman-teman lainnya, mulai waspada, karena kamera ada di mana-mana.

Welcome to Kansai (Uti, Rahman, Monic, Viviq)

Welcome to Kansai (Uti, Rahman, Monic, Viviq)

Oh ya, sebagai informasi, bahwa KIX adalah salah satu bandara termodern di Jepang. Bandara ini terletak di pulau buatan di tengah laut. Menurut Wikipedia, bangunan KIX merupakan terminal bandara terpanjang di dunia, yang panjangnya mencapai 1,7 km.

Menjelang menuju JR KIX yang akan memberangkatkan kami menuju Kyoto, kami berjumpa pula dengan 4 orang Indonesia yang juga akan menuju Kyoto. Namun dalam tujuan berbeda. Mereka adalah rombongan I yang akan mengikuti lomba menari tingkat dunia. Mereka berasal dari Universitas Padjajaran. Setelah perjumpaan itu pula lah pertualangan menghamburkan uang dimulai.hahah. Kereta di Jepang kebanyakan dioperasikan oleh JR (Japan Railways).

Naik Haruka JR

Naik Haruka JR

Harga tiket menuju Uji Kampus adalah 3000 JPN. Kami transit terlebih dahulu di Kyoto Sta. Setelah itu baru dilanjutkan menuju Obaku Sta. Kami berpisah dengan teman dari Unpad di Kyoto sta, karena lokasi acara kami berbeda dengan mereka. Setelah berada di Obaku Sta, kami terduduk lesu. Oh ya, saya lupa menceritakan, bahwa kami sempat tersesat hingga ke Uji Sta. Walaupun namanya Uji Kampus, tapi lokasinya lebih dekat dari Obaku Sta. Ini menjadi salah satu faktor kelelahan. Selain itu, juga dikarenakan barang bawaan yang sangat banyak, terutama Rahman yang katanya membawa nenas, pepaya, ayam kampung, serta produk pertanian lainnya dalam karton yang ia jinjing terus menerus setelah saya menanyakan apa isinya. Terlepas dari apa isinya, yang jelas tampak sangat berat. Oke, selain memang bawaan berat, faktor menahan mulut untuk tidak bicara keras juga menjadi faktor pemicu kelelahan. Bayangkan saja, dalam kereta, tidak boleh bersuara ribut. Karena orang Jepang suka ketenangan. Preet. Mereka tenang, kami tersiksa. Apalagi ternyata kami memang suka cerita. Hahahahaha

Suasana Dalam Kereta (Ngambilnya Sambil Tutup Mulut)

Suasana Dalam Kereta (Ngambilnya Sambil Tutup Mulut)

Setelah duduk sekitar 10 menit dan menikmati hidangan makanan yang dibawa rekan-rekan IPB dari pesawat Garuda yang mereka tumpangi, kami mulai membicarakan rute menuju Uji Kampus, walaupun sebenarnya kami berlima juga belum tahu apakah Uji Kampus terletak memang dekat dengan Obaku Sta. Kami hanya berbekal petunjuk dari petugas stasiun yang hanya bisa berbahasa Inggris Yes dan No saja. Kacau bener orang Indonesia, emang mudah ketipu.hehehe. Selang beberapa menit dari diskusi itu, Rahman atau Uti melihat sosok Indonesia keluar dari pintu Obaku Sta. Rahman mengejar sosok itu, ternyata memang benar orang Indonesia.

Barang bawaan I

Barang bawaan I

Barang bawaan II

Barang bawaan II

Entah memang memiliki rasa jiwa sosial yang tinggi atau merasa iba melihat tampang Rahman, akhirnya kami diantar menuju Uji Kampus, ternyata hanya membutuhkan waktu 15 menit berjalan kaki menuju Uji Kampus. Penginapan saya sebenarnya tidak di daerah Uji, tetapi arah Utara Kyoto. Namun, karena ingin kebersamaan saya ikut bersama temen IPB mencari penginapan dibantu panitia. Tapi saying seribu sayang, ternyata waktu itu panitia tidak ada. Kami dititipkan di sebuah rumah yang boleh dikatakan cukup layak sambil menunggu panitia datang. Saya pun mulai berpikir, ternyata orang Jepang baik juga ya. Sementara itu, saya tidak tahu apa yang dipikirkan oleh rekan IPB, karena penginapan belum pasti, sementara badan juga sudah sangat capek.

rumah transit

rumah transit

Namun, bukannya berita gembira yang didapat sewaktu ketua panitianya datang, melainkan berita yang sungguh sangat menyakitkan. Ketua panitia mengatakan tidak bisa membookingkan penginapan karena kedatangan mendadak. Hmmm. Kacau ini pikir saya, karena semua kehadiran telah harus dikonfirmasi sebelum kedatangan. Akhirnya kami pun mencari penginapan di sekitar Uji Kampus Kyoto University.

Walau Saya Tau Mereka Lelah, Tapi di Depan Kamera Tetap Saja Tersenyum

Uti, Monic, Viviq, Rahman

Mengobati Lelah, Berfoto

Mengobati Lelah, Berfoto

Setelah mencari selama hampir 3 jam, kami pun menemukan penginapan serupa Ryokukan. Satu kamar berisi 11 orang. Cewek dan cowok kamarnya terpisah.

Ternyata sudah ada peserta lain yang tiba, salah satunya Prof. Kumar dari India. Nanti akan ada cerita unik dari professor ini. Setelah menghamburkan uang sekitar 6300 JPN untuk penginapan selama 3 hari, saya pun berbenah diri, shalat, cerita, dan akhirnya terlelap.

Bersiap Berbaring

Bersiap Berbaring

Gambar Penginapan (Tempat Dojo)

Gambar Penginapan (Tempat Dojo)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s