Menangisi Negeri

Standar

Untuk kali kesekian saya hampir melupakan laman ini. Kadang saya berpikir apa mungkin saya sudah malas berbagi lewat tulisan? Tapi sepertinya tidak juga. Atau mungkin karena berbagi pesan lewat facebook dan twitter lebih mudah? Hmm. Mungkin. Bisa jadi. Tersebab kisah yang coba saya bagikan tampaknya cenderung “lebih mudah” untuk dishare lewat media sosial ketimbang harus bercapek-capek menulis panjang, yang mungkin, tak banyak orang yang suka membaca panjang (atau mungkin saya mulai tak suka menulis panjang :)).

Yep. Apapun penyebabnya, setidaknya saya tak melupakan laman ini. Laman yang sengaja dibuatkan untuk saya agar bisa berbagi kisah. Kisah yang semoga menjadi pelajaran buat diri saya supaya menjadi lebih baik dan syukur-syukur ada manfaat buat orang lain. Tak ada rasa bahagia di diri, ketika tahu bahwa apa yang saya lakukan tak memberi manfaat kepada orang lain. Bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia yang lain?

Walau begitu, mungkin sebagian kawan tahu, saya tak pernah menganggap diri paling benar. Saya juga tak pernah memaksakan apa yang saya sampaikan harus diterima oleh semua orang. Toh, kadang kisah yang coba saya bagikan sama sekali tak berhubungan dengan bidang keilmuan saya yang tak seberapa, bahkan hampir semua kisah yang saya bagikan tak ada hubungan sama sekali dengan kimia. Bukannya karena kimia tak menarik lagi, melainkan memang kimia itu ya seperti itu-itu saja (bagi saya).

Membahas masalah bangsa dalam konteks kenegarawanan adalah hal yang menarik untuk dilakukan saat ini. Problematika bangsa kian hari kian akut. Jauh dari kata berkesudahan. Kebencian dimana-mana, buruk sangka merajalela, saling salah menyalahkan pun semakin menjadi biasa. Hampir tak ada waktu untuk memikirkan solusi. Begitulah kini ibu pertiwi. Apakah hal ini akan terus kita pelihara dan biarkan begitu saja? Dengan mengatakan, “bukan urusan saya”?

Siapa bilang tak ada yang mencoba memikirkan masalah ini? Ada. Saya yakin akan hal itu. Tapi persentasenya sangat kecil. Jumlahnya kian hari kian berkurang, karena kerap dicaci dan dimaki dengan cap sok baik dan ada maksud-maksud tertentu. Hingga tetap saja banyak masalah yang terus membumi di negeri kita yang tercinta. Belum lagi ketika melihat bagaimana oknum pejabat-pejabat kita mendustai hati nuraninya sebagai manusia. Lihatlah begitu mudah dan senangnya mereka menerapkan peraturan-peraturan yang menyiksa banyak penduduk di negeri yang katanya gemah ripah loh jenawi.

Namun begitu tak ada gunanya jika terus-terus menyalahkan oknum pemerintah, yang sebagian dari mereka tak lagi memenuhi kriteria disebut manusia. Lihat saja dengan program-program yang mereka sebut membela kepentingan rakyat. Hingga kini saya masih heran kenapa UN masih ada. Kurikulum berganti tanpa dipikirkan masak-masak. Belum lagi program asuransi kesehatan yang dinamai BPJS, bukannya malah menyehatkan masyarakat kecil, tapi justru “membunuh” mereka secara perlahan dengan dokter sebagai pelaku utamanya. Sehingga pemerintah justru seakan cuci tangan dari semua ini. Ah, bangsaku. Kasian sekali engkau punya banyak warga, tapi hanya segelintir saja yang cinta. Saya dalam hal ini bukan ingin mengatakan saya lebih hebat atau sejenisnya. Bukalah hati dan pikiran kawan dulu dengan lapang sebelum ingin cepat-cepat menyangkal saya yang sok tahu ini.

Semua ini seharusnya adalah urusan kita. Kita harus tahu politik. Kita harus tahu hukum. Kita harus tahu ekonomi. Kita harus tahu semua bidang. Hal itu penting agar kita bisa menerapkan kepentingan kebaikan di dalam semua bidang itu sesuai tempatnya. Agar ketika memutuskan sebuah keputusan berasal dari berbagai sudut pandang. Lihatlah bagaimana para pilot-pilot Merpati harus menganggur menanti ketidakjelasan keberlanjutan Merpati Airline yang salah urus, diurus oleh oknum-oknum yang menguras uang negara. Coba jika mereka mengerti sedikit saja tentang ekonomi, politik, atau hukum. Mereka tak kan begini nasibnya. Karena di benak kita masih saja terset, kalau tau ekonomi, lebih baik lah jadi ahli ekonomi, jika tau hukum jadi ahli hukum, jika tahu politik ya jadi politikus, dst. Padahal tidak. Kita disuruh belajar dari buaian hingga akhir hayat. Tak pernah ada batas-batasan yang menghalangi kita untuk mempelajari sesuatu di luar bidang kita.

Hanya saja. Hanya saja. Kadang kita terlalu sombong dengan kesibukan-kesibukan kita. Iseng-iseng saja, coba hitung-hitung berapa lama kawan-kawan dalam satu hari menggunakan waktu untuk hal yang benar-benar serius. Jujur. Lebih lama mana untuk hal yang serius atau sekedar nge-tweet atau BBM-an? Ah, iseng-iseng saja. Jangan terlampau serius. Kadang juga dengan ilmu yang sudah ada, kadang kita merasa sudah cukup. Ada yang mencoba menasehati kita, tak kita hiraukan. Ya kadang terlampau sombong dengan keahlian yang dipunya.

Ya sudahlah. Untuk kesekian kalinya saya belajar untuk berhenti menyalahkan oknum-oknum jahat itu.  Saya memberi opsi menangis. Lalu apa yang harus kita lakukan? Segera kita sadar untuk memperbaiki bangsa. Sekedar sadar saja jadilah. Dengan menangis mungkin. Menangis sejadi-jadinya. Atau lari? Lari sejauh-jauhnya karena tak tahan dengan negeri yang tak punya harapan. Semua kita boleh mengambil opsi itu. Atau ikut terlibat menambah kehancuran bangsa? Silakan! Kawan berhak mengambil jalan hidup yang dijalani. Tak ada hak saya melarang. Namun, dengan sisa umur yang ada, tenaga yang tak seberapa, dengan jumlah kawan-kawan seadanya, saya tak kan berhenti memikirkan dan bertindak untuk memperbaiki bangsa. Silakan anggap remeh, silakan cemooh, silakan hina, silakan fitnah. Kerja-kerja yang kami lakukan ini biar Tuhan saja yang menilai. Karena Dia-lah sebaik-baik penilai. Percayalah, tak kan ada dendam di hati-hati ini ketika waktu dimana kami membuktikan bahwa Islam itu benar-benar rahmat sekalian alam akan menciptakan peradaban yang semua orang inginkan.

Di Penghujung Musim Gugur

Di Penghujung Musim Gugur

Tokyo di Musim Dingin, 7 Rabi’ul Akhir 1435H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s