3

Pemikiran Sang Presiden

barack

Judul                : Barack Obama: in His Own Words
Penyunting    : Lisa Rogak
Alih Bahasa    : Rani R. Moerdiarta
Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan            : Pertama, 2008
Tebal                 : xxiv-134 halaman

Kemenangan Barack Obama atas John McCain disambut meriah para pendukungnya di segenap penjuru Amerika Serikat. Di ibu kota Washington, misalnya, pendukung Obama berkumpul di pusat kota hingga larut malam. Obama berhasil merebut 338 electoral vote, jauh di atas angka 270 yang diperlukan untuk menang. Sedangkan rivalnya McCain hanya meraih 141 electorel vote.
Jauh sebelum Obama ikut dalam bursa pencalonan The Next President, ucapan dan pemikiran Obama telah menjadi sumber berita media terkemuka, terutama setelah ia menjadi Senator. Hal itu dikarenakan Obama adalah seorang politikus yang terlibat dalam banyak persoalan kemanusiaan. Ia memberikan pandangan, melontarkan pendapat, mengajukan alternatif, menyodorkan solusi; tapi juga dengan berani menolak, mengecam, dan gagah berpendirian dengan teguh.
Tidak hanya masyarakat Amerika yang ingin tahu lebih banyak tentang Obama, tetapi juga masyarakat dunia. Salah satu yang ingin diketahui orang mengenai Obama ialah sikapnya terhadap berbagai persoalan. Untuk itulah Lisa Rogak berusaha memberikan informasi tentang Obama dengan mengumpulkan semua kutipan ucapan Obama dari berbagai sumber. Sehingga di dapat kurang lebih 250 kutipan, dimana pengumpulan kutipan dimulai sejak Obama menjadi African American (orang AS keturunan Afrika) pertama yang terpilih sebagai Presiden Harvard Law Review pada 1990, yang kemudian disertai berbagai transkrip dari wawancara radio dan televisi, profil surat kabar dan majalah, serta pidato dan surat untuk pengumpulan dana.
Buku ini merekam pikiran dan ucapan Barack Obama atas sikapnya tentang berbagai persoalan dan memperlihatkan visi terbaiknya. Semua pemikiran dalam buku ini dikumpulkan dari berbagai sumber terpercaya, baik media, pidato resmi, siaran pers, maupun podcast.
Dari buku ini, terlihat bahwa Obama bukan saja terlihat pandai bersilat kata, memilih sejumput kata dengan begitu pas dan mengena, melainkan juga memancarkan karisma, rendah hati, bahkan berani menampilkan rasa humor.
Tapi apakah benar Obama, yang masa kecilnya pernah tinggal di Indonesia, adalah pemimpin yang sempurna? Hingga semua masyarakat di dunia, termasuk Indonesia, mengelu-elukan Obama semenjak pencalonannya menjadi Presiden AS.
Banyak pemikirannya yang mungkin menjadi kontra jika membaca buku ini. Salah satu contohnya adalah pemikirannya mengenai Israel. “AS harus menggunakan kewenangan moral dan kredibilitas membantu Timur Tengah mencapai perdamaian. Komitmen pertama dan mustahil ditawar ialah keamanan Israel, sekutu sejati kita di Timur Tengah dan satu-satunya demokrasi.” Belum lagi pemikiran-pemikirannya tentang teroris, Irak, dan Islam.
Namun ini hanyalah pemikiran dan ucapan Obama, yang akan resmi menjabat sebagai Presiden AS pada 20 Januari 2009. Bisa saja dirinya memiliki komitmen yang tinggi untuk melaksanakan ucapan dan pikirannya,bisa juga tidak. “Apakah kucing yang jinak akan menjadi singa yang ganas?” Hanya waktu yang dapat menjawab semua itu.

2

Cerita Dibalik Kasus Poso

Judul : Indonesian Top Secret Membongkar Konflik Poso
Penulis : Drs M Tito Karnavian MA, dkk
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xxxiv-553 halaman

Siapa sangka kalau polisi bisa menulis sebuah buku? Bayangkan saja, masih banyak kasus yang belum terpecahkan oleh kepolisian negara ini, namun di tengah itu semua ada yang meluangkan waktunya untuk menulis. Dialah Drs M Tito Karnavian MA, dkk.
Dalam buku ini Tito yang merupakan Tim Satuan Tugas (Satgas) Investigasi Kasus Mutilasi 3 Siswi SMU Kristen Poso (2005) dan kasus-kasus lainnya selama di Poso mencoba memberikan gambaran mengenai akar permasalahan yang selama ini melanda salah satu kota di Sulewasi Tengah itu.
Poso, kota yang sungguh menakutkan bagi mereka yang pernah tinggal di sana. Bagaimana tidak? Menembak dan ditembak, menikam dan ditikam adalah hal yang sangat familiar dari kota berpenduduk sekitar 2,7 juta jiwa. Namun, banyak masyarakat tidak mengetahui pasti akar permasalahan yang menjadikan Poso seperti itu.
Buku yang telah menjadi best seller ini mengungkapkan fakta bahwa konflik komunal di Poso ini dibagi dalam tahapan-tahapan yang diistilahkan dengan jilid yang berawal dari 1998 hingga 2001. Setidaknya ada tiga jilid penting dalam proses konflik tersebut.
Konflik Jilid I berawal ketika pada malam tanggal 24 Desember 1998, beberapa pemuda yang sedang mabuk, salah seorang di antaranya Roy Runtu Bisalemba, dengan membawa senjata tajam, mendatangi sebuah masjid di Pondok Pesantren Darussalam yang terletak di kelurahan Sayo kecamatan Poso Kota. Ahmad Ridwan, seorang pemuda yang saat itu sedang tidur di dalam masjid tersebut dibangunkan, dan tanpa alasan yang jelas dibacok hingga mengalami luka yang cukup parah di punggung dan lengannya sehingga harus dirawat di RSU Poso. Peristiwa ini menjadi awal timbulnya sentimen agama yang kental, karena terjadi ketikan umat Muslim sedang berpuasa Ramadhan, sementara umat Kristiani akan merayakan Natal. Aksi kekerasan, pengrusakan, dan main hakim sendiri pun dimulai. Tapi aksi anarkis itu dapat diatasi hingga pada 30 Desember 1998 situasi kota Poso kembali Pulih.
Suasana damai di Poso setelah konflik berdarah jilid I ternyata tidak berlangsung lama. Rangkaian peristiwa yang terjadi pada era konflik Jilid I masih menyisakan trauma yang cukup membekas dalam lubuk hati hampir seluruh warga Poso. Aroma permusuhan dan saling curiga terus mewarnai kehidupan masyarakat walaupun tidak sampai ke permukaan. Hubungan antara pemeluk agama, khususnya Islam dan Kristen, terus berjarak dengan suhu terus panas, seperti api dalam sekam. Di Konflik Jilid II, lagi-lagi dimulai dari kematian umat Islam. Kematian dua orang pemuda Islam itu dikarenakan tertembak oleh aparat saat terjadi bentrokan kecil antara pemuda Kristen dan Islam di terminal Poso.
Hanya berselang beberapa minggu setelah kerusuhan massal jilid II, konflik Jilid III pun dimulai. Konflik Jilid III diawali oleh peristiwa terbunuhnya seorang warga muslim di desa Taripa, 100 km dari Kota Poso pada tanggal 16 Mei 2000. Lalu, pada tanggal 19 Mei 2001 massa Kristen yang ada di Taripa melakukan sweeping terhadap mobil-mobil yang melintas di sana. Puncak konflik adalah munculnya kelompok “Pejuang Pemulihan Keamanan Poso” yang oleh masyarakat dikenal dengan sebutan “Pasukan Kelelawar”. Pasukan Kelelawar, yang menurut informasi dipimpin Fabianus Tibo (alm), membunuh Serma Komarudin Ali, dua warga Islam, serta pembakaran rumah warga muslim di sejumlah tempat di kota Poso. Yang jelas pada Konflik Jilid III ini, umat Kristen yang cenderung tidak banyak memberikan perlawanan pada Konflik jilid I dan II, serta memang agama mayoritas, berusaha untuk membabat habis umat Muslim, termasuk umat Muslim yang akan datang dari luar Poso untuk memberikan bantuan.
Setelah melalui jalan panjang dan berliku, termasuk upaya pendekatan Pemerintah terhadap kedua pihak, pada hari Kamis tanggal 20 Desember 2001 jam 15.40 WITA di Malino Sulawesi Selatan dua kelompok yang selama 3 tahun terakhir ini bertikai di Poso, Sulawesi Tengah, menandatangani kesepakatan untuk menghentikan segala bentuk pertikaian di antara mereka.
Sabtu, 29 Oktober 2005, Poso gempar lagi. Pagi itu ditemukan tiga tubuh siswi berseragam SMU berlimpah darah, tanpa kepala, tergeletak mengenaskan di jalan setapak Bukit Bambu. Tak lama kemudian, tiga kepala siswi tersebut ditemukan di dua tempat berbeda, disertai surat ancaman mencari kepala-kepala lain.
Bagi warga Poso khususnya dan Sulawesi Tengah pada umumnya, insiden itu menimbulkan klimaks ketidakpercayaan terhadap pemerintah, aparat keamanan, maupun penegak hukum. Takut dan putus asa menghinggapi mereka. Akankah peristiwa pemenggalan kepala tiga orang siswi ini ada hubungannya dengan konflik yang selama ini pernah terjadi di Poso? Temukan jawabannya di buku setebal 4 cm ini.
Buku ini menggambarkan bagaimana kredibilitas Polri dan Pemerintah dipertaruhkan demi mengungkap kasus yang terjadi di Poso secara mendetail. Buku ini juga membuktikan kepada sebagian masyarakat yang menganggap bahwa kepolisian adalah sarang korupsi, tidak “selalu” benar. Namun, ada tulisan yang mungkin membuat pembaca sangat risih, yaitu di halaman 85, Warga saling serang, saling bunuh dengan dalih membela agama dan Tuhannya, padahal mereka memiliki Tuhan yang sama yang tidak pernah mengajarkan umat-Nya untuk saling bunuh. Tentunya saya secara pribadi sangat tidak senang jika Tuhan saya disamakan dengan Tuhan dari agama lain.

Mungkinkah kasus di Poso ini sebagai pemanasan buat para “prajurit” kita. Wallahualam bissawab

1

Sudahkah Kita Menjadi Manusia di atas Rata-rata?

Judul : Awareness Of Ramadan, Mengaktifkan Kesadaran Diri Menjadi Manusia di atas Rata-Rata
Penulis : Nanang Qosim Yusuf
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, 2008
Tebal : xxv + 228 halaman

Ahlan wa sahlan ya Ramadan, Selamat Datang bulan Ramadan, bulan kebijaksanaan, bulan penuh kebahagiaan, bersiaplah, sehatkan badan, jernihkan pikiran, suburkan cinta dan isi hatimu hanya untuk Allah swt. Kira-kira seperti itulah kata-kata yang sering kali kita dengungkan yang muncul pula di sudut-sudut kota hingga ke pelosok desa, ketika Ramadan yang dinanti tiba. Namun apa yang sebenarnya kita tuju? Buku berjudul Awarenes of Ramadan, yang merupakan buah pemikiran Nanang Qosim Yusuf, berusaha menjawab pertanyaan itu.
Berbicara tentang puasa tidak jauh beda dari membahas budi pekerti yang luhur karena hikmah kemanusiaan dalam ibadah puasa adalah hadirnya Allah dalam kehidupan kita sehari-hari. Kemanusiaan yang hakiki adalah berdasarkan kepada keimanan dan ketakwaan. Maka, sudah seharusnyalah kita menjunjung tinggi nilai kemanusiaan dengan keimanan dan ketakwaan pada Allah, karena pada bulan puasa ini kita dituntut untuk menahan diri dari rasa ingin memiliki sesuatu yang dimiliki orang lain agar dapat menjadi manusia di atas rata-rata, yakni manusia yang mampu menahan kenikmatan sesaat untuk kenikmatan yang lebih abadi-surga, tempat kelak semua kita akan kembali. Wallahualam.
Namun, sebentar lagi Ramadan akan segera berakhir. Menjelang akhir Ramadan ini kita diharapkan telah menemukan kesadaran tinggi betapa Allah mencintai hamba-Nya. Tanpa terasa Ramadan akan meninggalkan kita, ia tetap sama seperti dulu, tetap sama menyapa kita, ia tetap bulan suci yang memuliakan semua orang yang bertaqwa. Kita semua yang betul-betul menikmati Ramadan ini merasa sangat kehilangan. Selama 30 hari kita disapa, dibelai, disadarkan oleh Allah dengan kegiatan sunnah, kegiatan wajib, dan kegiatan ibadah. Kita bertarawih bersama, kita bertadarus, kita beriktikaf, kita menanti lailatul qadr. Oleh karenanya, tak hern jika puasa merupakan dimensi spritual yang Allah berikan untuk mengangkat derajat hamba-Nya, dari hamba di bawah rata-rata menjadi hamba di atas rata-rata. Dengan derajat ketakwaan yang dilatih setiap hari, maka diharapkan setelah puasa berakhir, manusia menjadi manusia takwa (sadar) yang menjadi tujuan awal. Sudahkah kita menjadi manusia rata-rata? Tanyakan pada diri sendiri atau Silakan simak dan baca buku penuntun kesadaran ini.
Awareness of Ramadan adalah buku kontemplasi yang mengajak kita bangkit dari kondisi biasa menjadi manusia di atas rata-rata.
Buku ini dirancang untuk membantu kita untuk mengaktifkan kesadaran diri dalam memaknai kehidupan yang dapat menjadi titik balik dari hidup kita, baik di masa lalu, masa sekarang, dan masa depan. Buku ini bagaikan petunjuk, ketika kita membeli gergaji, bagaimana cara menggunakannya,mengasahnya. Semakin sering kita mengasah gergaji, semakin mudah kita memotong kayu yang kini inginkan. Sebaliknya, semakin malas dan jarang kita mengasah gergaji tersebut, semakin sulit kita memotong kayu. Begitulah kehidupan ini, selama 11 bulan kita melakukan tugas dan kewajiban kita, seperti tukang kayu yang memotong kayu setiap hari, satu bulan kita manfaatkan untuk mengasah gergaji hidup kita, agar setelah puasa, kita benar-benar tajam lagi. Sungguh ini suatu bacaan yang sarat dengan makna bagi mereka yang rindu akan Ramadan.
Di akhir kata pengantarnya, Nanang mendoakan agar puasa yang kita lakukan tahun ini dan seterusnya benar-benar menyadarkan kita menjadi manusia muttaqin seperti tujuan puasa dalam Alquran.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s