Surat Untuk Emak

Standar

Mak, saya tahu emak hanya lulusan SD yang tak paham dengan teknologi. Walau begitu izinkan saya menulis surat ini mak. Saya rasa hanya ini cara satu-satunya saya ingin bercerita padamu mak. Saya tahu mak suka cerita, itu pula yang mak turunkan ke saya. Izinkan saya bercerita mak tentang gugupnya saya saat ini ketika engkau telah tiada mak.

Suhu di luar jendela kamar ini bisa saya prediksi minus belasan. Sudah tentu dingin mak. Tapi saya dinginmu tak terukur kini yang kau rasakan, di sanalah saya ingin memegang tanganmu agar terasa hangat. Saya berusaha untuk bangun mak ketika mendapat kabar kepergianmu. Tapi ternyata infomasi itu benar-benar nyata mak. Padahal mak, senja tadi (sekitar jam 3 sore di Pekanbaru) saya sedang membayangkan wajahmu yang sedang mengenakan jaket yang akan saya beli sebagaimana janji yang pernah saya utarakan kepadamu jauh sebelum keberangkatan ke sini. Begitu juga ekspresi ketika menerima tas yang saya belikan di sini. Ya, saya rasa emak pasti akan senang. Saya teringat perkataan mak di telepon dulu sebelum saya berangkat, “jangan ragu-ragu mau berangkat. Berangkat saja, insyaallah mak akan masih sehat sampai nanti pulang,” Ah begitu tenangnya hati saya mak, ketika engkau bilang itu. Saya rasa, optimisme mu masih belum hilang mak walau sudah 20 tahun engkau tak kuat berjalan.

Walau begitu saya masih saja ingin memastikan kabarmu dengan merepotkan teman untuk menelponmu. Setelah itu saya benar-benar sangat semangat mencari ilmu dan pengalaman mak, supaya saya bisa bercerita banyak padamu mak. Bagaimana saya di sini kedingin bak di freezer dengan suhu -12 sampai -18 C. Bagaimana saya bisa jatuh di jalan raya 2 kali di jalanan yang tertutup batu es. Bagaimana kebaikan-kebaikan masyarakat, terutama masyarakat Indonesia, di sini yang begitu sangat membantu saya hingga bisa bertahan di sini. Saya rasa engkau akan tertawa mendengar cerita ini. Ah, lagi-lagi saya teringat gigi ompongmu saat tertawa. Saya rasa itu moment paling indah mak dalam beberapa part kehidupan saya.

Ah,lagi-lagi saya berusaha bangun dari mimpi ini, walau berkali-kali logika saya menyatakan ini adalah suatu kenyataan yang seharusnya sudah bisa diterima sejak tadi. Mak, harus tahu, saya merasa gugup ketika engkau tiada. Engkau adalah sumber inspirasi dan motivasiku mak. Walau kadang aku sempat menentangmu, tapi aku selalu sayang padamu. Maafmu selalu kuharapkan dalam setiap doa saya mak. Semoga engkau benar-benar telah memaafkanku mak dan izinkan saya untuk tidak bisa melihat dan menemanimu untuk kali terakhirnya di dunia. Doakan anakmu masih kuat untuk berbakti bagi siapa saja.

Tengah Malam di Kota Salju, 9 Rabbiul Awal 1430 H

Saya yang akan selalu merindukanmu, Ibu

Indra Purnama

3 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s