Siapa Bilang ini Wasir?

Standar

Terpisah jauh dari keseharian aktivitas yang biasa kita lakukan tentunya akan membuat rindu yang tak terkira. Apalagi ketika itu terpaut jauh, beda suasana, beda negeri. Jalan satu-satunya pengobat hati ya bercerita dan berdiskusi. Tapi kadang kala kesibukan tak sama, sehingga jarang bersua dengan sesama. Itu semua tak masalah. Toh, masih ada laman ini. Laman yang selalu setia menemani. Hanya si empunya yang kadang terlalu malas untuk singgah.

Hari ini saya ingin berbagi cerita tentang sebuah nama penyakit. Namanya wasir atau ambeyen, yang dalam istilah kedokteran disebut hemorrhoid. Mengapa saya ingin bercerita tentang wasir? Ya, karena tak banyak mereka yang pernah mengalami sakit di organ intim mau bercerita. Karena memang menurut sebagian orang, adanya penyakit di organ intim menandakan orang itu tak bersih. Tak 100% benar. Tapi itu juga yang saya pikir sebelumnya, hingga saya mendapati sebuah penyakit, yang sama, saya kira ini wasir. Tak ada maksud saya ingin membanggakan aib ini, saya hanya berbagi pengalaman yang pernah saya alami, sehingga setidaknya ada sedikit tambahan referensi bagi mereka yang butuh, tentang apa yang disebut wasir. Siapa yang bilang?

Setidaknya ada beberapa tanda yang menandai kamu diduga menderita wasir. Di antaranya adalah keluarnya darah segar beserta kotoran dan seringnya dubur gatal atau nyeri. Ini saya alami akhir Januari 2014 yang lalu. Setelah membaca-baca artikel dan banyak bertanya dengan rekan-rekan (cowok) yang berprofesi sebagai dokter, saya akhirnya memutuskan untuk mencoba melakukan proses penyembuhan. Teratur makan buah yang berserat, minum air putih yang cukup, serta jadwal makan yang tak boleh telat. Toh, ini adalah fase awal, belum ada tonjolan daging yang keluar seperti pada fase wasir lebih lanjut. Alhamdulillah, empat hari kemudian kotoran saya tak lagi berdarah dan yatta saya tidak perlu lagi khawatir dengan pikiran macam-macam tentang sakitnya menderita wasir. Namun minggu yang lalu saya kaget ketika di atas lubang dubur saya ada bengkak kecil. Saya hanya membiarkan bengkak itu hingga empat hari kemudian bengkak itu semakin membesar. Jelas begitu terasa sekali nikmat sehat pada waktu itu, mau berdiri dan duduk itu harus berpikir dua kali.

Keesokan harinya, hari kelima, saya kaget bukan main. Ketika tiba-tiba saya berdiri tanpa dibarengi rasa sakit, sesat saya lupa, kok ada yang aneh. Saya baru ingat. Apa yang terjadi dengan bengkak saya? Lalu saya buru-buru ke toilet dan saya dapati bengkak itu telah pecah? Buru-buru saya bersihkan. Apakah wasir bisa meletus? atau jangan-jangan ini bisul? Banyak pertanyaan yang menggelayuti pikiran saya. Sepanjang malam itu di lab, saya hanya mencari informasi tentang ini. Ini penting bagi saya, sebab bagi saya yang hampir tak pernah sakit dan anti minum obat, sehat adalah perihal penting. Sebab jika tak sehat, maka akan sangat terbatas kemampuan untuk berbuat baik.

Saya mencoba menghubungi beberapa teman dokter di sini yang bisa memberikan saran. Tapi sepertinya mereka sangat sibuk dengan berbagai aktivitas. Begitu pula dengan teman-teman di sini, semua sedang sangat-sangat sibuk. Hingga akhirnya saya pergi ke rumah sakit seorang diri. Mungkin perkara mudah jika kawan berada di Indonesia, komunikasi gampang terutama dalam menjelaskan perkara penyakit yang kawan alami, walau dengan rada malu-malu..:) Saya sedang tidak di Indonesia, tepatnya di Jepang, lebih spesifik lagi di Tokyo Metropolitan Area. Walau akan dicover asuransi 70% semua biaya yang kita keluarkan setiap berobat di Jepang, tetap saja saya was-was, belum lagi bagaimana berkomunikasi nantinya.

Tapi Alhamdulillah pemeriksaan berjalan dengan lancar. Dokter (baca: Sensei) bisa berkomunikasi dengan bahasa Inggris walau sedikit tak lancar, sehingga saya harus meminta tamu, seorang guru Indonesia, yang baru saja tiba dari Hokkaido membantu. Saya tidak tahu apakah pemeriksaan dari keluhan pasien akan sama atau tidak dengan apa yang saya alami. Dokter memeriksa bagian dalam dubur saya dengan jarinya yang telah dilapisi sarung tangan sejenis karet. Saya tidak bisa memastikan jari mana yang ia masukkan, tapi saya bisa pastikan itu bukan jempol🙂. Tiga kali ia masukkan jarinya untuk mengecek lokasi bagian kiri dan kanan dubur, bagian atas, dan bagian bawah. Setelah itu saya bisa merasakan ia mengecek bekas bengkak yang telah meletus dan mengoleskan salep seraya berkata, “Nanti jam 4 kita operasi kecil”

Glek. Operasi? Begitu entengnya ini dokter ngomong operasi. Pakai kata-kata kecil lagi. Saya mulai berpikir dua kali. Sehat sangat penting sekali, tapi bagaimana jika uang tak cukup? Bagaimana jika operasi ini tak sukses? Saya coba menanyakan kira-kira berapa biaya semua proses. Saya mencoba meminta saran dari beberapa teman. Tapi ya lagi-lagi tak ada jawaban. Mungkin memang sedang sibuk. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk mengambil pilihan ini. Saya ingin sehat, setidaknya harus ada yang menjadi prioritas. Pukul 4 sore, seorang diri memasuki ruang operasi “kecil” itu. Saya tak bisa mengingat berapa kali suntikan untuk anestesi lokal pada operasi “kecil” itu. Waktu itu juga, saya teringat waktu kecil menunggu giliran di suntik untuk imunisasi. Pucat pasi.

“Semuanya oke? Terus bernapas, jangan tahan napas,” begitu terus kalimat yang keluar dari suster sambil menahan badan saya untuk tidak bergerak ketika jarum-jarum runcing itu menusuk-nusuk pantat saya. Sakit.

Alhamdulillah ketika operasi akan berakhir, teman saya ada yang datang, yang berniat menemani dan mentransfer “titah” dari dokter berbahasa Jepang. Hari-hari berikutnya hingga kini adalah hari dimana saya benar-benar memanjakan pantat🙂 dan terus melakuan check up, serta meminum berbagai jenis obat. Alhamdulillah saya banyak belajar dari ini. Belajar (lagi) akan sebuah ritme kehidupan, belajar (lagi) tentang sebuah pengalaman.

Menurut dokter saya ini, keluarnya darah segar bersama kotoran saat buang air besar adalah salah satu gejala awal wasir. Nah, sementara yang bengkak itu bukan wasir. Masih menurut dokternya lagi, ketika darah itu mengalir, diduga masih tertinggal di sekitar dubur. Dalam hati saya berpikir, “apa saya cebok ga bersih ya?” Ternyata bisa jadi, sebab di sini toiletnya menggunakan air semprot otomatis, yang ketika dipencet sebuah tombol, air akan membasuh lubang dubur dari arah bawah. Tentu ini memudahkan bagi saya untuk tak repot-repot menggunakan tangan untuk cebok🙂..Tapi ternyata tak semua kemudahan itu membawa dampak baik, bisa jadi ada noda darah yang tak tersemprot, yang kemudian itu menginfeksi di sekitar lubang dubur hingga membentuk bengkak. Dan namanya adalah perirectal abscess, bagi kita mungkin lebih enak menyebutnya bisul (atau yang lain menyebutnya perianal abscess). Ini bukan sembarang bisul. Menurut sebuah artikel yang saya baca apabila setelah pecahnya bisul ini dan tidak ditangani secara benar maka akan bisa memicu munculnya fistula sebagai jembatan antara bekas bisul dengan bagian dalam dubur. Bisa dibayangkan akan terjadi banyak masalah sesudahnya. Alhamdulillah saya telah melewati fase operasi ini, semoga tak ada komplikasi selanjutnya. Aamiin ya rabb.

Dari informasi yang didapat dari dokter dan membaca beberapa artikel, saya bisa menduga kenapa saya bisa mendapatkan penyakit ini, mungkin juga teman. Secara garis besar pada umunya penyebab wasir hanya dua, yaitu kurang minum dan kurang serat. Akibat kurang minum dan kurang serat ini kadang kita sembelit atau susah untuk mengeluarkan kotoran, sehingga kadang kali mengejan menjadi terlalu keras. Komplit sudah. Di sini kadang saya salah menafsir dan kadang dengan kesombongan (saya), tak mau bertanya atau mencari informasi. Makanan berserat terdapat pada kacang-kacangan, makanan bergandum seperti roti, kacang-kacangan, beberapa jenis buah, serta beberapa jenis sayuran. Dulu saya mengira pisang dan pepaya saja sudah cukup untuk mengatasi sembelit. Ternyata pisang dan pepaya bukanlah dua buah-buahan yang banyak seratnya. Jeruk, apel, alpukat, semangka, melon, dan buah-buahan lain yang mengandung banyak air, lebih disarankan oleh dokter untuk dikonsumsi, karena seratnya lebih banyak. Konsumsinya pun sebaiknya pukul 10 pagi (dua jam sebelum makan siang) dan pukul 5 sore (dua jam sebelum makan malam).

Sebenarnya ada faktor lain yang bisa jadi menyebabkan munculnya gejala wasir, di antaranya terlalu banyak duduk atau berdiri dan sering mengangkat beban berat. Tapi saya rasa tak banyak orang yang terkena wasir akibat aktivitas ini. Sebab, sesekali kita pasti pergi ke toilet ketika telah duduk lama. Bagi yang muslim, kita juga harus sholat 5 waktu, sehingga mengharuskan melakukan aktivitas yang tidak hanya duduk atau berdiri. Walau demikian, ini tetap menjadi perhatian bagi kita. Satu lagi, wasir diduga juga salah satu penyakit keturunan. Namun, untuk memastikan apakah yang kawan alami itu benar-benar wasir, saya menyarankan sebaiknya kawan berkonsultasi dan memeriksakannya ke dokter. Jangan hanya menerka-nerka dan mengambil tindakan seorang diri. Malu itu biasa, tapi jangan takut dokter tak akan bertanya macam-macam selain penyakit yang kamu keluhkan🙂. Saran saya pergilah ke dokter praktik umum atau jika punya sedikit rezeki konsultasikan ke dokter spesialis bedah digestif, jangan ke dokter gigi. #JustJoking.

Di sebuah jendela yang bertaburan salju,

Tokyo, 14 Rabi’ul Akhir 1435 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s