Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)

Standar

Suara decitan rel kereta api membangunkan saya, yang entah sudah berapa lama tertidur dalam gerbong kereta nomor 4. Inilah kali pertama saya bisa menikmati udara bebas setelah bisa keluar dari… “Penjara VVIP”. Iya penjara VVIP agaknya pas saya sematkan untuk merujuk tempat itu, tempat saya menghabiskan waktu berminggu-minggu tanpa bisa keluar sama sekali. Sebuah kamar di salah satu rumah sakit Pemerintah Metropolitan Tokyo. (Lagi) kesabaran saya dan istri diuji, entah untuk kali ke berapa.

Suasana

Suasana “Penjara” VVIP

Read the rest of this entry

Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)

Standar

Teringat kisah awal Maret tahun lalu, ketika saya bertelpon dengan Apak mengenai rencana akan pulang ke Pekanbaru akhir Juli untuk berjumpa beliau sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Di sinilah mula cerita itu berawal. Si Bapak melarang saya untuk pulang. Menurutnya buang uang saja jika hanya mau bertemu beliau, kan masih bisa jumpa pas program selesai dan dia sudah pulang dari tanah suci, tambahnya lagi. Tapi saya tetap saja ngotot mau pulang. Saya tak mau kejadian itu terulang. Harga perjumpaan itu memang mahal. Dengan penjelasan saya, serta penjabaran tentang sejumlah Yen yang bisa saya hemat dari uang beasiswa, membuat Apak tak lagi berang. Saya akhirnya bisa pulang. Tiket Vietnam Airlines yang sedang promo kala itu pun saya beli, dari Tokyo 19 Juli, kembali ke Tokyo 4 Agustus.

Maret hampir berakhir, namun cerita masih terus berlanjut. Dosen yang menjadi supervisor saya di kampus sini terus menawarkan untuk melanjutkan studi S3 di lab nya dan ini terus berlangsung dari akhir 2013. Saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman di Indonesia dan senior di Jepang, rerata mereka mendukung saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun kembali berpikir tentang tawaran ini, rencana awalnya selesai program Oktober 2014, saya akan langsung pulang ke Indonesia, menamatkan S2 di UGM, dan segera menikah. Setelah memikirkan dengan matang, meminta petunjuk kepada yang kuasa, serta mempertimbangkan saran rekan-rekan yang telah berpengalaman, saya putuskan untuk menyambung S3, walaupun ini masih 50:50, karena tangan saya sudah sangat gatal ingin segera kembali mengambil bagian dalam memajukan bangsa. Tapi ya sudahlah, dijalani saja dulu, pikir saya.Proses Aqad Nikah

Read the rest of this entry

Lagi. Sejarah Itu Terulang

Standar

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

Cinta di Sakura (Bab 2)

Standar

Cuaca Jogja yang sudah diguyur hujan sejak subuh tadi tampaknya dianggap tak bersahabat bagi sebagian penjaja dagangan di sepanjang jalanan Malioboro. Lihat saja remaja tanggung bercelana 3/4 di depan Pasar Bringharjo itu, hingga jam telah menunjukkan pukul 11 siang, dagangan nasi pecelnya belum sepiring pun terjual. Biasanya dengan kepiawaiannya berdagang dan jago bermanuver, menjelang makan siang biasanya dagangannya sudah habis. Tapi memang nasi pecelnya berbeda dari yang lain, terlihat lebih higienis dan lezat. Dia yang menjual pun bermuka ramah dan jago berbahasa asing. Tak pelak, sejak tiga tahun ini lapaknya sering didatangi para wisatawan asing. Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa kali ketika hujan datang, remaja itu memasang tampang masam, siapa saja yang melihat pasti tidak akan mau mendekat. Bisa-bisa kamu jadi pelampiasan ledakan emosinya.

“Sudahlah Nak, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah pasti sudah mengatur riski kita,” tiba-tiba seorang nenek tua yang juga menjaja nasi pecel di sebelah kiri lapaknya menasehati. Memang begitulah adanya, walau dagangan si remaja ini paling laris dan diminati oleh pengunjung Malioboro, tak ada rasa iri dari mereka sesama penjual nasi pecel, karena memang rerata penjual nasi pecel adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua yang memang telah memasrahkan diri untuk menjadi apa adanya sebagai seorang penjual nasi pecel. Lagian mereka juga tau bagaimana perjuangan si remaja itu yang kini masuk tahun ketiga bersekolah di salah satu SMA negeri di Jogja. Hidup si remaja tak jauh lebih baik dari mereka. Read the rest of this entry

Kita Memang Berbeda

Standar

Melihat kawan-kawan yang semakin giat menulis, membuat saya turut dan ikut ketularan untuk memberikan waktu luang untuk satu kegiatan yang boleh dikatakan gampang dibuat susah. Kok gitu? Apa sih susahnya menulis? Tinggal ambil bullpen, atau buka laptop, nulis dah. Sulit dapetin ide? Banyak baca dan cari pengalaman, ga mesti jauh-jauh, saya yang berada di kamar 4 m x 4 m aja bisa dapetin puluhan ide, apalagi kalau tak tersekat batas dan waktu. Apalagi alasannya sampai bilang nulis itu susah? Nah, itu lah yang mengakibatkan kenapa menulis itu seringkali gampang dibuat susah. Ada saja alasan untuk menunda-nunda menulis. Setidaknya saya mencoba untuk tidak menjadikan alasan capek karena harus eksperimen, belajar di kelas, serta bersepeda 1 jam-an setiap hari, sehingga malas menulis. Juga tidak ingin menjadikan alasan untuk tidak menulis karena kurangnya waktu mendapatkan “ide” selama berada di toilet. Sesuai anjuran dokter, kini keberadaan saya di toilet harus dikurangi. Padahal ide-ide tulisan selama ini bermunculan selama berada di toilet. Ya, saat ini saya sedang mencoba untuk memaksa terus menulis. Setidaknya sebulan ini “paksaan”  itu membuahkan sedikit hasil. Walau kadang tak semua saya posting di rumah kecil ini.

5403902488_d24d4c95e7_z Read the rest of this entry

Cinta di Sakura (Bab 1)

Standar

Arak-arakan awan hitam itu muncul lagi. Sesekali disusul dengan angin kencang dari arah laut. “Ah, hujan bakal turun,” pikirku. Langkah pun kupercepat. Sesekali penduduk lokal berlalu lebih cepat, terutama yang tidak membawa payung.  Sore itu aku pulang menuju dorm menyusuri jalan khusus pejalan kaki di tepi pelabuhan kota kecil di semenanjung barat Jepang.

Hujan rintik-rintik akhirnya mulai membasahi kota pelabuhan ini. Ini adalah kali ke enam hujan datang di awal musim dingin. Aku terus berjalan, sesekali berlari dengan tangan tetap berada di saku jaket tebal yang kukenakan. Aku lupa membawa payung. Aku tak sempat melihat prakiraan cuaca, lagian ini bukanlah perkara penting bagiku. Nanti kamu akan mengerti kenapa aku tak terlalu peduli dengan hal remeh temeh ini.

Hujan semakin deras. Tampaknya hujan kali ini lebih deras dari hujan-hujan sebelumnya. Pakaian yang kugunakan telah basah kuyup, sementara aku harus berjalan sekira 15 menit lagi menuju dorm. “Kenapa hujan datang pada musim ini,” rutukku. Hujan yang identik dengan dingin ditambah dengan suhu di musim dingin bukanlah paduan yang romantis ketika masih berada di luar seperti aku saat ini. Rasa dingin itu benar-benar telah menusuk-nusuk sekujur tubuhku, “Aku harus berteduh.” Akhirnya aku putuskan untuk berteduh di depan sebuah kombini (convenient store). Read the rest of this entry

Malu(ku) di Jepang

Standar

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah.🙂 Read the rest of this entry