Tafakuri Alam Lewat Momiji

Standar

Cuaca pada pagi itu sangat cerah dibanding beberapa waktu yang lalu. Namun, rasa dingin cukup menusuk, walau sebenarnya musim dingin belum bermula. Di depan sebuah stasiun telah berkumpul kerumunan massa yang kelihatan “aneh” dibanding keramaian orang di stasiun tersebut. Mereka adalah masyarakat muslim Indonesia di Jepang yang kebanyakan mahasiswa. Menjelang pukul 10, orang-orang yang dianggap “aneh” itu semakin banyak jumlahnya. Sekitar 60 an orang telah terkumpul di Stasiun Takaosanguchi.

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Di awali dengan doa, maka agenda pun dimulai. Sebuah agenda yang dirancang oleh Persaudaraan Muslim Indonesia-Jepang (PMIJ) untuk masyarakat muslim Indonesia di Jepang. Walau demikian, ada sebagian masyarakat non-muslim ikut terlibat dalam agenda ini, karena memang PMIJ membuka pendaftaran untuk siapa saja. Agenda kali ini adalah mendaki gunung yang dibarengi dengan aktivitas melihat momiji (maple), dimana kita bisa melihat perubahan warna daun dari hijau menjadi kuning, merah, dan orange. Sungguh suatu keindahan luar biasa dari ciptaan Allah SWT.

Aktivitas momiji PMIJ ini diadakan di Gunung Takao pada ketinggian 599 m dari permukaan laut (dpl). Dibutuhkan setidaknya waktu 2 jam untuk berada pada ketinggian tersebut. Pendakian itu ternyata membuat udara dingin tak terlalu terasa, sebab panjangnya perjalanan membuat keringat mengalir cukup banyak. Setibanya di puncak, banyak orang telah berkumpul dan memulai aktivitas momiji sambil menikmati bento ataupun soba dan jajanan khas yang dijual di sekitaran salah satu puncak Gunung Takao tersebut.

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Dalam pada itu, agenda pertama yang ditunggu-tunggu setelah sampai di puncak pun tiba, yaitu makan bersama. Energi yang terkuras selama perjalanan menuju puncak pun tergantikan dengan bento khusus yang dibawa oleh panitia konsumsi. Apalagi kalau bukan makanan halal, makanan paling wah yang bisa dijumpai di Jepang. Usai makan bersama dilanjutkan dengan shalat berjamaah. Alhamdulillah. Pelaksanaan shalat zuhur yang kemudian dilanjutkan shalat ashar secara jamak tidak mendapat gangguan sama sekali. Shalat di negara minoritas muslim cukup dikatakan sulit, masalahnya tidak mudah menemukan tempat shalat dan izin melakukan shalat. Kadang taman, lorong kelas, dan ruang ganti dijadikan tempat untuk shalat. Bagi orang Jepang sendiri, aktivitas shalat yang dilakukan oleh masyarakat muslim Indonesia ini terasa aneh, hingga tidak heran jika banyak pengunjung momiji lainnya, yang kebanyakan orang Jepang, mengabadikan momen shalat berjamaah ini.

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah yang dibersamai oleh Ustadz Rino. “Inilah sebuah karya dari sang pencipta agar kita selalu memahami begitu luasnya kekuasaan Allah SWT. Aktivitas momiji ini membuat kita semakin dekat dengan alam sebagai bagian dari penciptaan Allah SWT,” ujar Ustadz Rino di sela-sela tausiah yang ia berikan. 

Hingga akhirnya acara momiji pun berakhir pada pukul 14.30 waktu Jepang yang ditandai dengan foto bersama.

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Didokumentasikan bagi PMIJ Kepengurusan 2013-2014
Tokyo, 22 Muharram 1435 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s