Bermimpilah Kawan

Standar

Malam ini, sama-sama seperti malam-malam beberapa hari yang lalu. Aku hanya bisa menahan tangis ketika mengingat wajah Emak. Wajah, yang tak pernah kubayangkan akan tak bisa lagi melihatnya. Keriput kulitnya, ompong giginya, apapun yang jelek bagi orang lain melihatnya, aku selalu tak pernah menghiraukan. Ia Emakku. Perasaan sedihnya karena tak pernah membersemaiku sejak kecil, pun tak pernah kuhiraukan. Aku tak pernah berharap Emak menyesali semua itu, karena aku tahu bahwa kondisinya tak memungkinkan bagiku untuk bermanja-manja. Aku selalu sedih ketika melihatnya sedih bercerita tentang sedihnya dia karena membiarkanku mandiri terlalu dini. Aku akan selalu mengalihkan topik, karena aku memang berusaha membuat ia tidak sedih. Ah, mak, semoga emak tetap bisa mendengar ceritaku dan tak pernah bosan, seperti aku yang tak pernah bosan mendengar cerita emak. Masih ingat dua bulan yang lalu, waktu emak bercerita tentang kampung halaman, yang entah untuk kesekian kalinya cerita itu diulang, tapi aku tetap selalu senang. Emak selalu semangat bercerita tentang kampung. Ah,kawan, itu lah emakku. Walau tak tamat SD, ia punya banyak cerita. Semoga suatu saat nanti, kita bisa bercerita kembali, seperti kala itu mak. Aku akan selalu merindukan waktu itu.

Hanya satu yang membedakan malam ini dengan malam-malam lain selama aku di sini. Aku bercerita ditemani oleh bulan purnama. Di lantai 9 dormitory ini, bulan purnama seakan ingin ikut bercerita denganku. Keberadaanku di sini banyak yang tak menduga, serupa pula denganku. Tapi aku tidak menduga kehadiranku di sini, tetapi tidak menduga mimpi ini terlalu cepat dikabulkan Allah SWT. Iya kawan. Kehadiran aku di sini adalah buah dari mimpi-mimpi itu, mimpi yang mungkin kawan dan aku kira mimpi itu akan sia-sia saja. Lagi-lagi Tuhan memang tahu, tetapi menunggu. Bermimpilah dan jaga mimpi kita. Majukan Indonesia dengan mimpi-mimpi besar itu kawan.

Salah satu sudut Incheon International Airport

New Chitose di Siang Hari

Mendapatkan Uang Yen

Merasakan Salju

Kesempatan Bersilaturrahmi

Sapporo Besalju

Bisa makan makanan Jepang yang Halal    Melihat Penguin Secara Langsung     Merasakan Licinnya Jalanan Bersalju

Menikmati Keanekaragaman

Tetap bisa shalat berjamaah

Dan masih banyak lagi nikmat yang bisa saya rasakan. Maka, nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan..

di penghujung malam 16 Rabbiul Awwal 1430 H, Sapporo

8 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s