Category Archives: cerita fiksi

Cinta di Sakura (Bab 2)

Standar

Cuaca Jogja yang sudah diguyur hujan sejak subuh tadi tampaknya dianggap tak bersahabat bagi sebagian penjaja dagangan di sepanjang jalanan Malioboro. Lihat saja remaja tanggung bercelana 3/4 di depan Pasar Bringharjo itu, hingga jam telah menunjukkan pukul 11 siang, dagangan nasi pecelnya belum sepiring pun terjual. Biasanya dengan kepiawaiannya berdagang dan jago bermanuver, menjelang makan siang biasanya dagangannya sudah habis. Tapi memang nasi pecelnya berbeda dari yang lain, terlihat lebih higienis dan lezat. Dia yang menjual pun bermuka ramah dan jago berbahasa asing. Tak pelak, sejak tiga tahun ini lapaknya sering didatangi para wisatawan asing. Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa kali ketika hujan datang, remaja itu memasang tampang masam, siapa saja yang melihat pasti tidak akan mau mendekat. Bisa-bisa kamu jadi pelampiasan ledakan emosinya.

“Sudahlah Nak, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah pasti sudah mengatur riski kita,” tiba-tiba seorang nenek tua yang juga menjaja nasi pecel di sebelah kiri lapaknya menasehati. Memang begitulah adanya, walau dagangan si remaja ini paling laris dan diminati oleh pengunjung Malioboro, tak ada rasa iri dari mereka sesama penjual nasi pecel, karena memang rerata penjual nasi pecel adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua yang memang telah memasrahkan diri untuk menjadi apa adanya sebagai seorang penjual nasi pecel. Lagian mereka juga tau bagaimana perjuangan si remaja itu yang kini masuk tahun ketiga bersekolah di salah satu SMA negeri di Jogja. Hidup si remaja tak jauh lebih baik dari mereka. Read the rest of this entry

Cinta di Sakura (Bab 1)

Standar

Arak-arakan awan hitam itu muncul lagi. Sesekali disusul dengan angin kencang dari arah laut. “Ah, hujan bakal turun,” pikirku. Langkah pun kupercepat. Sesekali penduduk lokal berlalu lebih cepat, terutama yang tidak membawa payung.  Sore itu aku pulang menuju dorm menyusuri jalan khusus pejalan kaki di tepi pelabuhan kota kecil di semenanjung barat Jepang.

Hujan rintik-rintik akhirnya mulai membasahi kota pelabuhan ini. Ini adalah kali ke enam hujan datang di awal musim dingin. Aku terus berjalan, sesekali berlari dengan tangan tetap berada di saku jaket tebal yang kukenakan. Aku lupa membawa payung. Aku tak sempat melihat prakiraan cuaca, lagian ini bukanlah perkara penting bagiku. Nanti kamu akan mengerti kenapa aku tak terlalu peduli dengan hal remeh temeh ini.

Hujan semakin deras. Tampaknya hujan kali ini lebih deras dari hujan-hujan sebelumnya. Pakaian yang kugunakan telah basah kuyup, sementara aku harus berjalan sekira 15 menit lagi menuju dorm. “Kenapa hujan datang pada musim ini,” rutukku. Hujan yang identik dengan dingin ditambah dengan suhu di musim dingin bukanlah paduan yang romantis ketika masih berada di luar seperti aku saat ini. Rasa dingin itu benar-benar telah menusuk-nusuk sekujur tubuhku, “Aku harus berteduh.” Akhirnya aku putuskan untuk berteduh di depan sebuah kombini (convenient store). Read the rest of this entry