Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (2)

Standar

Suara decitan rel kereta api membangunkan saya, yang entah sudah berapa lama tertidur dalam gerbong kereta nomor 4. Inilah kali pertama saya bisa menikmati udara bebas setelah bisa keluar dari… “Penjara VVIP”. Iya penjara VVIP agaknya pas saya sematkan untuk merujuk tempat itu, tempat saya menghabiskan waktu berminggu-minggu tanpa bisa keluar sama sekali. Sebuah kamar di salah satu rumah sakit Pemerintah Metropolitan Tokyo. (Lagi) kesabaran saya dan istri diuji, entah untuk kali ke berapa.

Suasana

Suasana “Penjara” VVIP

Awalnya saya agak ragu menceritakan kisah ini, kisah yang sebenarnya cukup saya, istri, dan keluarga inti saja yang tahu,  tapi setelah saya melihat bahwa banyak yang bisa saya bagi dalam kisah ini, saya mencoba berbagi, walau mungkin bagi sebagian orang cerita ini tak lebih dari cerita fiktif belaka. Karena ada hal-hal yang mungkin tak akan bisa dilogikakan, di mana ada peran kekuatan sang khaliq, Allah SWT, yang tak kan pernah memberikan ujian melebihi kemampuan hamba-Nya memikul ujian itu.

Selepas saya memutuskan akan melanjutkan studi di Jepang pada April 2015 yang lalu, saya menyiapkan segala persiapan. Salah satunya adalah pemeriksaan kesehatan, medical check up. Di sini, ujian itu bermula. Sekitar sebulan setelah pemeriksaan selesai, hasil medical check up saya semuanya baik, kecuali satu, yaitu hasil rontgen thorax (paru-paru). Dokter kampus menemukan ada spot putih kecil di paru-paru kanan saya. Saya pun kemudian ditanya-tanya tentang hasil ini. Riwayat keluarga, riwayat penyakit, serta keluhan-keluhan yang sering saya alami. Saya mulai curiga, ada apa gerangan? Saya merasa baik-baik saja, tidak pernah demam tinggi berkepanjangan, batuk-batuk hingga lebih dari seminggu, apalagi berdarah. Tidak juga pernah berkurang berat badan secara signifikan dan nafsu makan saya baik-baik saja, dalam hal ini istri bisa menjadi saksi. Tahulah akhirnya, para dokter kampus ternyata menghawatirkan saya terkena penyakit tuberkolosis (TBC).

Saya sempat kaget dengan diagnosis ini, lantaran saya sama sekali tidak merasakan apa-apa di tubuh saya. Saya pun mengikuti saran dokter kampus untuk analisis darah dan dahak di rumah sakit yang lebih besar, yang alat-alatnya lebih lengkap. Berkali-kali melakukan pemeriksaan, hasilnya menunjukkan negatif ada bakteri TBC. Tentu saya mulai merasa aman dan tak ada yang perlu dihawatirkan, karena berdasarkan informasi yang diperoleh kalau positif saya bisa jadi diinapkan di rumah sakit sampai 3 bulan lamanya.

Namun perasaan senang itu tak lama, tiga minggu berselang setelah pemeriksaan dahak dan gas lambung terakhir, mereka berhasil mengkultur dan menemukan adanya bakteri TBC walaupun sedikit. Berdasarkan peraturan di Jepang, saya mau tidak mau harus mau diinapkan di rumah sakit. Istri saya langsung diperiksa, takut kalau sudah tertular. Juga teman-teman lab dimana saya biasa meneliti di kampus. Saya masih bingung pada saat itu, karena saya tidak tahu harus berbuat apa, karena saya tidak punya gejala batuk yang bisa menyebarkan bakteri TBC ini, lantas kenapa saya harus diperlakukan seperti ini? Di saat seperti itulah ada seorang petugas kelurahan yang membantu menjadi mediator bagi kami, rumah sakit, kampus, dan masyarakat, yang berupaya menjelaskan tentang perihal TBC dan bantuan apa saja yang akan diberikan pemerintah untuk membuat penderita bisa segera sembuh.

Perasaan kagum dan bingung bercampur menjadi satu. Kagum dengan cara pemerintah Jepang mengantisipasi penyebaran penyakit dan membantu warganya, warga asing pula. Bingung dengan apa yang harus saya lakukan terhadap rencana masa depan yang telah disusun bersama istri dan keluarga inti. Saya “dijebloskan” ke rumah sakit, tepat saat saya akan melaksanakan ujian masuk S3. Jelas satu fase rencana kehidupan telah terkorbankan. Kemudian yang lebih mengejutkan dokter menyebutkan kemungkinan saya diisolasi 3 hingga 6 bulan dan selama itu saya hanya boleh berada di ruangan khusus penderita TBC saja. Hal ini sempat membuat saya emosi, lantaran saya dan istri telah membeli tiket pergi pulang Tokyo-Pekanbaru PP dalam rangka mengadakan pesta pernikahan pada 28 Feb 2015. Keluarga di Pekanbaru juga sudah jauh-jauh hari menyiapkan segala tetek bengek keperluan pesta. Tapi apalah daya, kami hanya diberi dua pilihan, manut saja dan mau “dipenjarakan” di rumah sakit atau masuk penjara yang sebenarnya karena melawan peraturan yang telah ditetapkan.

Kekesalan begitu menggelora pada awal-awal mendapat kabar ini, apalagi sempat membuat keluarga inti khawatir. Tapi saya meminta untuk merahasiakan informasi ini. Saya tak mau membuat daftar panjang orang-orang yang khawatir terhadap saya ketika berada di Tokyo, memang agak narsis sih, siapa sih saya yang harus dikhawatirkan. Maklum di banyak kasus di Indonesia, orang-orang yang masuk rumah sakit biasanya mereka yang sudah parah. Namun lepas dari semua itu, tugas terberat saya adalah menghibur istri. Bagaimana tidak, sejak saya diharuskan inap di rumah sakit, ia tak berhenti bersedih. Ini yang sakit siapa, yang sedih siapa? Beberapa kali saya menanyakan.

Alhamdulillah beberapa hari kemudian beberapa hikmah pun muncul. Hingga istri pun bisa kembali tersenyum dan fokus menyelesaikan skripsi dan sidangnya. Saya menjadi lebih memaknai nikmat bebas, saya juga bisa tilawah lebih banyak dari biasanya, saya juga bersyukur mendapatkan istri yang bisa berbahasa Jepang, yang menjadi interpreter bagi para dokter, saya juga bisa melakukan banyak hal positif yang selama ini kadang lupa saya lakukan. Belum lagi banyaknya mendapatkan informasi peluang beasiswa yang lebih baik, informasi tentang bagaimana beruntungnya saya bisa diobati sebelum parah hingga hampir mati, serta informasi lainnya, lantaran adanya rekan-rekan yang menyempatkan hadir melihat kondisi saya dengan menggunakan masker yang super ketat. Istri dan teman lab pun negatif tertular bakteri TBC. Pada saat di rumah sakit ini pula saya mendapat kabar kalau artikel yang saya kirim di salah satu jurnal internasional diterima. Maka nikmat Tuhan mana lagi yang engkau dustakan.

Setelah sebulan saya hanya bisa melihat salju dan matahari di balik jendela kamar 416, akhirnya ada kabar baik dari dokter kalau saya akan segera “dilepaskan”. Menurut para dokter, bakteri TBC saya yang sedikit itu tak resisten terhadap obat, serta efek samping obat tidak terlalu berarti bagi tubuh saya. Tapi desas desus lain menyebutkan lantaran saya makan terlalu banyak dan suka nambah. Yang terakhir ini tak perlu dihiraukan, karena ini asumsi pribadi.

Makanan

Makanan “Hambar” RS

Cerita pun terus berlanjut, istri saya bisa selesai dengan nilai yang memuaskan walau tanpa ada suami di sisi. Alhamdulillah bisa juga menamatkan studi di UGM dengan nilai yang cukup pula walau dengan berbagai rintangan yang luar biasa. Alhamdulillah semua itu telah berhasil kami lalui, tanpa pernah menyalahkan Allah dengan menyebut semua itu adalah badai yang tak kunjung berhenti. Kini, kami sedang mengenang masa-masa itu, tepat setahun silam, ketika kami mengikrarkan diri untuk hidup bersama, Happy 1st Anniversary My Honey. Sembari menunggu kedatangan kiriman Certificate of Eligibility dari Jepang untuk mengurus Visa dengan status mahasiswa doktoral di salah satu universitas negeri di sana.

wisuda(h)

wisuda(h)

Berkat pertolongan Allah SWT lah kami masih bisa bertahan hingga titik ini. Titik dimana kami bisa bersama kembali menjalani kehidupan dengan selalu mengusahakan yang terbaik, berdoa, dan selalu bersabar terhadap segala apapun rencana dan keputusan yang diberikan oleh Allah.

Di saat adzan Ashar berkumandang di Tanah Pasundan, 
4 Dzulqaidah 1436 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s