Yang Akan Berlalu Itu Bukanlah Sebuah Badai (1)

Standar

Teringat kisah awal Maret tahun lalu, ketika saya bertelpon dengan Apak mengenai rencana akan pulang ke Pekanbaru akhir Juli untuk berjumpa beliau sebelum keberangkatannya ke tanah suci. Di sinilah mula cerita itu berawal. Si Bapak melarang saya untuk pulang. Menurutnya buang uang saja jika hanya mau bertemu beliau, kan masih bisa jumpa pas program selesai dan dia sudah pulang dari tanah suci, tambahnya lagi. Tapi saya tetap saja ngotot mau pulang. Saya tak mau kejadian itu terulang. Harga perjumpaan itu memang mahal. Dengan penjelasan saya, serta penjabaran tentang sejumlah Yen yang bisa saya hemat dari uang beasiswa, membuat Apak tak lagi berang. Saya akhirnya bisa pulang. Tiket Vietnam Airlines yang sedang promo kala itu pun saya beli, dari Tokyo 19 Juli, kembali ke Tokyo 4 Agustus.

Maret hampir berakhir, namun cerita masih terus berlanjut. Dosen yang menjadi supervisor saya di kampus sini terus menawarkan untuk melanjutkan studi S3 di lab nya dan ini terus berlangsung dari akhir 2013. Saya mencoba berdiskusi dengan teman-teman di Indonesia dan senior di Jepang, rerata mereka mendukung saya untuk menerima tawaran itu. Saya pun kembali berpikir tentang tawaran ini, rencana awalnya selesai program Oktober 2014, saya akan langsung pulang ke Indonesia, menamatkan S2 di UGM, dan segera menikah. Setelah memikirkan dengan matang, meminta petunjuk kepada yang kuasa, serta mempertimbangkan saran rekan-rekan yang telah berpengalaman, saya putuskan untuk menyambung S3, walaupun ini masih 50:50, karena tangan saya sudah sangat gatal ingin segera kembali mengambil bagian dalam memajukan bangsa. Tapi ya sudahlah, dijalani saja dulu, pikir saya.Proses Aqad Nikah

Waktu pun berlalu, hingga awal April datang tawaran dari seorang Ustadz tempat saya mengaji di sini. Beliau memang tahu rencana saya yang akan menikah tahun itu dan dia juga tahu saya belum punya calon. Beliau pun menanyakan ke saya tentang pandangan pernikahan, serta kriteria calon istri yang saya cari dan menawarkan untuk dicarikan sang calon istri oleh istrinya. Menurutnya kalau beristri dengan perempuan yang kuliah di sini, sepertinya agak mudah, tidak perlu berpisah jika melanjutkan S3 dan hidup di Jepang jauh lebih mudah sebab sudah mengenal Jepang.

Butuh sekitar seminggu untuk saya mengiyakan tawaran sang ustadz. Tentu setelah berdiskusi juga dengan Apak, kakak, dan abang. Selang beberapa lama setelahnya biodata sang calon istri itu sampai di email saya. Kaget bukan kepalang kala saya melihat biodata sang calon, ternyata dia adalah orang yang saya kenal dan setiap pertemuan PPI Nokodai (perkumpulan mahasiswa Indonesia di Tokyo University of Agriculture & Technology) sering bertemu. Saya kagok. Saya mencoba berdiskusi dengan ustadz, mengenai si calon. Saya hanya khawatir, apa yang dipikirkan orang-orang di sekitar kami nanti? Ustadz meminta saya untuk memikirkannya kembali, shalat, serta berdiskusi dengan orang tua. Dua minggu berlalu dan proses itu telah saya lakukan. Insya Allah keputusan ini yang terbaik, saya memutuskan melanjutkan proses itu dengan mengirimkan biodata saya ke sang ustadz, ustadz kemudian meneruskan ke istrinya, dan istrinya meneruskan biodata saya ke ustadzahnya sang calon.Tinggal menunggu jawaban si calon apakah menerima saya, tentunya dengan pertimbangan seperti yang saya lakukan juga.

Proses itu pun terus berlangsung. Saya pun mulai menjauh dari sang calon. Saya berusaha mengurangi kontak dengannya, baik lewat SMS ataupun bertemu. Hingga akhir Mei, kami melakukan ta`aruf. Pertemuan pertama kami berbicara serius ditemani oleh ustadzah istri dan suaminya, serta ustadz saya. Dengan keputusan kedua orang tuanya si calon untuk sementara bisa menerima saya sebagai calon menantu. Pembatasan kontak terus kami lakukan hingga bulan Juni akhir. Pada waktu tersebut, kami mulai membicarakan waktu pernikahan dengan berdiskusi dengan orang tua. Februari 2015 adalah rencana awal pernikahan itu berlangsung.

Tapi tampaknya Apak punya rencana lain, beliau menawarkan pernikahan sebelum keberangkatan beliau naik haji, supaya tugasnya selesai sebagai orang tua ucapnya waktu itu, tapi dengan syarat si calon harus dia lihat dulu seperti apa rupanya, jangan seperti memilih kucing dalam karung katanya. Perbincangan pun terus berlanjut hingga sehari sebelum saya pulang ke Pekanbaru, akad nikah bisa berlangsung jika kedua belah pihak orang tua setuju dengan kami. Saya pun langsung menghubungi pihak kampus tentang perubahan jadwal pulang saya yang sebelumnya telah di acc kembali ke Jepang 4 Agustus 2014. Alhamdulillah diterima. Saya bisa kembali ke Jepang selambat-lambatnya 17 Agustus.

Dari awal saya memang meminta keluarga inti merahasiakan tentang si calon, karena kalau-kalau saya ditolak oleh orang tua pihak si calon, keluarga yang lain tak perlu tahu tentang ini. Baru setelah kunjungan saya ke rumah orang tua calon dan keluarga calon datang ke rumah Apak, baru informasi itu disebar. Awalnya sempat takut apa yang nanti dipikirkan orang, karena pernikahannya tampak buru-buru. Bahkan ada yang berpikir si calon telah hamil duluan. Tapi alhamdulillah Apak, kakak, dan abang meyakini kalau saya tak akan berbuat seperti itu dan akan menjelaskan ke keluarga dan tetangga seperti apa proses ini. Menurut mereka selama tak ada melanggar aturan agama, tak ada yang salah dengan cepatnya proses ini. Apalagi menyegarakan pernikahan adalah yang dianjurkan dalam Islam.

Ketakutan saya yang seperti itu ternyata juga dialami oleh senior-senior yang menikah dengan prosedur mirip dengan saya, maklum proses pacaran yang berlarut-larut atau sang calon yang bisa dibawa kemana-kemana oleh kekasihnya masih lebih dianggap wajar oleh banyak orang sebagai proses pengantar sebelum menikah, jadi agak aneh ketika saya yang tahu-tahu tak punya pacar langsung menikah. Karena dukungan keluarga inti sangat kuat dan bahkan ikut menjelaskan membuat saya agak tenang. Itu yang paling penting bagi saya. Hingga ditetapkanlah akad nikah berlangsung 15 Agustus 2014, dan walimahan direncanakan Feb 2015. Karena mengingat waktu yang sempit. Batas waktu saya hanya sebulan diijinkan meninggalkan kampus, jadi tanggal 17 Agustus harus sudah kembali ke Jepang.

Semua proses untuk melangsungkan aqad nikah sudah selesai, namun kejadian yang tak diduga terjadi. Apak colaps setelah banyak makan durian dari sebuah acara keluarga pada 10 Agustus. Hingga 14 Agustus pagi beliau masih tak sadarkan diri. Saya mulai ragu. Apakah ini pertanda saya tak berjodoh dengan sang calon padahal proses selama ini lancar-lancar saja? Lalu saya pun mencoba bertanya ke ustadz dan kawan-kawan, pun juga tetangga dan keluarga. Kebanyakan mereka menyarankan untuk terus melanjutkan proses ini, lantaran Apak sudah setuju dengan proses ini dan beliau pun telah menunggu-nunggu waktu ini, karena memang beliau yang menyarankan dipercepatnya proses akad. Bahkan ada seorang teman yang mengatakan, urusan orang sakit tidak boleh menunda atau membatalkan urusan orang sehat. Masing-masing ada jalannya. Akhirnya saya pun berangkat sorenya dengan Abang saja, setelah sebelumnya membatalkan tiket Apak dan meminta ijin kepada beliau untuk melangsungkan pernikahan dan akan kembali ke Jepang 17 Agustus.

Akad nikah berlangsung usai Shalat Jumat, 15 Agustus. Alhamdulillah acara sakral itu berjalan dengan lancar. Sore itu saya telah berstatus suami dari Anisa Mutamima, istri yang akan mendampingi saya dunia akhirat Insya Allah. Tapi Apak masih terus ada dipikiran. Malamnya saya pun putuskan ke Pekanbaru keesokan harinya, sebelum tanggal 17 Agustus harus terbang ke Jepang. Saat di rumah sakit saya mengatakan tentang proses akad nikah yang telah berlangsung, serta minta ijin kembali kepada beliau akan terbang ke Jepang besok. Beliau tetap diam tak bersuara. Ada muncul keraguan mulanya ketika saya memutuskan untuk kembali ke Jepang. Tapi adanya masukan-masukan membuat saya kuat untuk meninggalkan Apak dalam kondisi seperti itu. Tetangga depan rumah aja sempat stroke sebulan setengah, tapi Alhamdulillah sudah bisa lari pagi sekarang, kata tetangga saya yang lain saat itu.

Saya pun akhirnya memutuskan kembali ke Jepang pada 17 Agustus. Saya pulang sendiri dengan kondisi badan yang kurang fit. Istri kembali ke Indonesia hampir seminggu setelah saya. Karena istri pun telah membeli tiket pulang ke Indonesia dan kembali ke Jepang jauh sebelum proses ini direncanakan. Tepat jam 23.30 pesawat mendarat dengan selamat di Tokyo dan saya baru bisa pulang ke rumah besok pagi, lantaran transportasi umum sudah tidak ada. Sayang seribu sayang, tepat tengah malam tgl 18 Agustus dapat kabar dari istri di Indonesia kalau Apak telah berpulang ke rahmatullah. Lidah ini kelu saat itu juga. Apa maksud semua ini ya Allah, ucapku lirih di tengah keheningan malam. Istri berusaha menghibur dan menguatkan diri. Mungkinkah ini salah satu alasan kenapa Apak berpendapat lebih baik menikah sebelum beliau berangkat haji?

Saya jelas tak boleh pulang oleh pihak kampus. Kalaupun saya pergi tanpa ijin akan tiba malam di Pekanbaru. Jadi diputuskan istri yang pergi dan meliput kegiatan dengan video Line. Setidaknya mengobati sedikit luka dalam hati dengan menyaksikan sendiri proses pemakaman. Setelah prosesi penyelenggaran jenazah Apak, sakit saya bertambah parah. Pilek dan demam tinggi. Hingus tak berhenti keluar. Entah kenapa ini bisa terjadi. Mungkin dikarenakan rasa sedih yang berulang untuk kali kedua. Tapi alhamdulillah saya banyak mendapat doa dari kawan-kawan, bahkan teman lab, orang Mesir sampai membuatkan makanan khas Mesir. Saya benar-benar terharu dibuatnya. Ketika sakit atau merasa sendiri, bantuan orang lain sekecil apapun akan sangat berarti. Saya lagi-lagi belajar banyak hal.

Setelah istri kembali ke Jepang dan memulai hidup bersama, mulai muncul gosip-gosip baru, yaitu tentang hubungan kami sebelum menikah. Tentang saya yang menembak istri, yang telah suka istri dari jauh jauh hari, dan sebagainya. Ya, ini yang harus kembali dilalui. Setidaknya dengan waktu berlalu, semuanya menjadi terungkap dan jelas.

Namun beberapa kejadian yang saya alami itu bukanlah sebuah badai yang harus ditunggu berlalu. Ibarat sebuah jalan ada yang mendaki, menurun, bergelombang, serta berbelok-belok, kami yakin kehidupan juga seperti itu. Kemungkinan kehidupan saat ini, yang sedang kami jalani, sedang mendaki, hingga banyak energi yang terkuras hingga mencapai tujuan kehidupan di dunia, yaitu surga-Nya.

Tokyo di tengah gerimis, 18 Jumadil Awal 1436 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s