Lagi. Sejarah Itu Terulang

Standar

Di tengah malam di negeri asing ini, negeri yang sama seperti pada sore menjelang magrib 21 Januari 2013, saya (lagi) mendapatkan sebuah berita tentang kematian. Apak telah berpulang ke rahmatullah. 4 jam pertama setelah mendapatkan kabar kali pertama dari isteri yang masih di Indonesia, isi kepala saya berkutat tentang bagaimana saya bisa pulang dan sampai di rumah sebelum Zuhur, besok. Menelepon kesana kemari. “Kalau lewat ashar baru sampai di rumah besok, ga usah saja pulang,” pesan tegas abang kandung di seberang sana. Pesan yang sama seperti yang ia sampaikan ketika Amak berpulang.
Namun, kenyataan ini harus diterima. Saya tak bisa pulang semudah itu. Lagi. Saya harus menerima kenyataan, sejarah yang terulang. Saya masih ingat ketika sehari sebelum berangkat ke Jepang, di awal musim dingin 2013, Amak menelpon dan melepas kepergian saya, padahal sebelumnya kondisi beliau sempat drop dan dirawat hampir seminggu di rumah sakit. “Amak sehat In. Pailah ka Japang tu. Belajar yang rajin di sinan. Beko pas pulang Amak nio danga dari waang baa bantuak salju tu,” Itu yang Amak katakan sambil diakhiri dengan tawa kecilnya yang khas. Pada saat itu. Ya, saat itu. Saya merasa tenang. Begitu pula ketika akan berangkat dua hari yang lalu, ke negeri yang sama, di tengah kondisi Apak setengah sadar, banyak tetamu yang datang memberi dukungan, kisah tentang orang-orang yang tak sadarkan diri selama berbulan-bulan dan akhirnya sembuh pun diutarakan. Berbekal optimisme akan kesembuhan Apak yang membuncah, saya pun pergi dengan hati yang lapang.
Sayang. Ternyata itu hanya kalimat penenang yang efeknya tak bertahan lama. Ada rasa bersalah yang tak tertahan dalam hati ketika dalam kondisi ini saya tak bisa mengambil keputusan dari tangan sendiri. Ah sudahlah, saya tak mau menyalahkan kondisi. Walau begitu hingga saat ini saya masih mencoba menangkap makna tentang semua ini. Mungkinkah saya durhaka dengan orang tua sehingga saya tak dibiarkan melepas kepergian mereka, walau hanya dengan melihat tubuh yang telah dibalut kain kafan? Apakah mungkin pemberian maaf yang selalu saya minta setiap hari itu tak sepenuhnya mereka berikan, lantaran dosa-dosa saya kepada mereka terlampau banyak? Ah, entahlah. Kalau saja istri tidak menghentikan dugaan-dugaan saya akan makna yang sayang tangkap dari semua ini, mungkin saya akan terus menyalahkan diri yang hina ini, anak yang belum tahu cara membalas budi orang tua.
Nasi telah menjadi bubur. Apak kini telah tiada. Hanya kepada Allah saya berserah diri dan mohon ampunan ketika perlakuan yang saya berikan selama ini ternyata tak menyenangkan hati beliau. Walau begitu, saya tak berhenti menangkap hikmah dibalik semua rentetan peristiwa menjelang kematian Apak. Saya hanya bisa berdoa semoga dugaan-dugaan sebelumnya hanya sebatas prasangka saja, karena saya selalu ingin menjadi anak yang shaleh, anak yang bisa memberikan syafaat bagi orang tuanya. Aamiin allahumma aamiin.
Kepada Bapak/Ibu/Saudara dan kerabat yang hadir nanti (Selasa) dan ikut menyelenggarakan jenazah, saya mohon maaf karena kita tak dapat bersua. Saya juga mohon maaf jika selama hidupnya Apak pernah menyakiti baik dari ucapan, perbuatan, atau hanya sekadar sindirin. Mohon juga doa dari semua untuk Apak yang telah terlebih dahulu pulang ke rahmatullah.
Apak. Selamat jalan. Anakmu kini (kembali) belajar ikhlas. Semoga dosa-dosa saya (serta abang dan kakak) selama ini telah engkau maafkan dan saya (serta abang dan kakak) bukanlah termasuk anak-anak durhaka. Semoga Apak diringankan azab kubur. Aamiin ya rabbal’alamiin.

IMG_2036

Tokyo menjelang Adzan subuh, 23 Syawal 1435 H.

4 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s