Cinta di Sakura (Bab 2)

Standar

Cuaca Jogja yang sudah diguyur hujan sejak subuh tadi tampaknya dianggap tak bersahabat bagi sebagian penjaja dagangan di sepanjang jalanan Malioboro. Lihat saja remaja tanggung bercelana 3/4 di depan Pasar Bringharjo itu, hingga jam telah menunjukkan pukul 11 siang, dagangan nasi pecelnya belum sepiring pun terjual. Biasanya dengan kepiawaiannya berdagang dan jago bermanuver, menjelang makan siang biasanya dagangannya sudah habis. Tapi memang nasi pecelnya berbeda dari yang lain, terlihat lebih higienis dan lezat. Dia yang menjual pun bermuka ramah dan jago berbahasa asing. Tak pelak, sejak tiga tahun ini lapaknya sering didatangi para wisatawan asing. Tapi tidak untuk saat ini dan beberapa kali ketika hujan datang, remaja itu memasang tampang masam, siapa saja yang melihat pasti tidak akan mau mendekat. Bisa-bisa kamu jadi pelampiasan ledakan emosinya.

“Sudahlah Nak, tak usah terlalu dipikirkan. Gusti Allah pasti sudah mengatur riski kita,” tiba-tiba seorang nenek tua yang juga menjaja nasi pecel di sebelah kiri lapaknya menasehati. Memang begitulah adanya, walau dagangan si remaja ini paling laris dan diminati oleh pengunjung Malioboro, tak ada rasa iri dari mereka sesama penjual nasi pecel, karena memang rerata penjual nasi pecel adalah ibu-ibu atau nenek-nenek tua yang memang telah memasrahkan diri untuk menjadi apa adanya sebagai seorang penjual nasi pecel. Lagian mereka juga tau bagaimana perjuangan si remaja itu yang kini masuk tahun ketiga bersekolah di salah satu SMA negeri di Jogja. Hidup si remaja tak jauh lebih baik dari mereka.

“Saya benci hujan,” rutuk si remaja tanpa menghiraukan nasehat si nenek.

Nak, tak baik ngomong seperti itu. Hujan juga riski yang diturunkan Gusti Allah buat kita,” kini giliran ibu-ibu gendut penjual nasi pecel tepat di sebelah kanan lapaknya.

“Entahlah mbah, bude. Saya rasa Tuhan tidak adil. Saya hanya punya hari Minggu untuk bisa berjualan, mengumpulkan uang. Hanya ini yang bisa saya lakukan mbah, bude untuk bisa menabung. Kenapa harus hari ini hujan? Kenapa tidak kemarin? Kenapa juga tidak besok saja? Lihat mereka!” ucap si remaja dengan nada yang cukup tinggi sambil menunjuk mobil jazz yang terkurung macet di jalan raya Malioboro, sepasang ABG. Untung saja jalanan depan lapak nasi pecel benar-benar sepi, sehingga tak ada yang terlalu memerhatikan, ditambah suara guyuran hujan yang semakin keras.

“Hidup mereka tak pernah sulit. Otak mereka pun encer. Bisa dengan gampang kalau ingin kuliah. Saya? Apakah adil mbah, bude?” tambah si remaja, tapi kini suaranya agak pelan. Ada nada getaran di akhir kalimat si remaja itu.

Si nenek tua yang dipanggil mbah dan si ibu gendut yang dipanggil bude itu pun mendekat. Tiga tahun ini mereka berdualah yang paling dekat dan tahu tentang kondisi si remaja ini. Bagaimana susah hidupnya yang harus kerja serabutan untuk bisa mengumpulkan uang menggapai mimpinya yang ingin berkuliah di salah satu universitas terbaik di Jogja. Si remaja ini masih mempunyai orang tua, tapi hidup mereka jauh dari berkecukupan jika tak ingin disebut miskin. Kedua orang tuanya dan seorang adik yang masih berusia 5 tahun, tinggal di selatan Jogja, tepatnya di Bantul. Bapaknya seorang nelayan dan juga seorang penjudi. Si ibu bekerja sebagai tukang cuci.

Nak, sudahlah. Tak baik menyalahkan Gusti Allah. Gusti Allah pasti punya rencana terbaik untuk setiap hamba-Nya, sing penting kita sudah usaha. Dalam hidup kadang kala ada sesuatu yang tak bisa kita tolak kehadirannya, ya seperti hujan ini. Ini di luar kendali kita, Nak.” tambah si nenek tua yang kini telah merebahkan kepala si remaja di pundaknya.

“Iya Nak, kata ustadz pengajian malam Jumat di masjid dekat rumah bude, kalau Gusti Allah sudah mengatakan ‘kun faya kun’, maka jadilah,” tambah si ibu-ibu gendut dengan ekspresinya yang memang selalu berlebihan. Tak ayal ini membuat si remaja tersenyum.

“Nah, begitu kan bagus. Cukup kami-kami aja yang wajahnya keriput dan penuh dengan masalah, anak muda itu harus fresh, jalan hidup yang dilalui masih panjang,” kini si ibu-ibu gendut berlagak sudah seperti seorang orator.

“Benar itu Nak, berhentilah menyalahkan Tuhan. Apa yang bisa kita lakukan saat ini kita lakukan. Riski itu bisa saja datang dari arah yang tak terduga-duga,” nasehat lembut si nenek tua cukup menenangkan si remaja.

***

“Sudah mau tutup?” tanya Pak Joko. Pak Joko adalah tukang parkir sepelantaran jalan Malioboro yang dekat dengan lapak nasi pecel, persis di depan pintu masuk utama Pasar Bringharjo dari arah jalan Malioboro.

“Iya pak. Yah, mau gimana lagi pak. Lagi ga bagus nih cuaca,” ucap si remaja sekenanya sambil mengikat kain penutup lapaknya. “Oh ya, ini bagian pak Joko!” tambahnya sambil memberikan satu porsi nasi pecel.

“Wah, rejeki nomplok ini. Gak dapat uang parkir, malah dikasih nasi pecel,” ujar Pak Joko senang.

“Eh Joko, penjenangan boleh senang, tapi jangan lupa bilang terimakasih dan bersyukur gitu dong,” tiba-tiba si ibu gendut yang sedari tadi memerhatikan ikut menimpali.

“Ualah, sampai lali aku. Matur nuwun nasi pecelnya. Alhamdulillah,” sambung Pak Joko sambil berlari kesenangan.

Si remaja hanya geleng-geleng kepala liat tingkah Pak Joko. Tapi memang dari dagangan yang ia berikan kepada beberapa pengemis, penyemir sepatu, dan tukang parkir, rerata semuanya menunjukkan ekspresi rasa senang yang luar biasa.

“Kini saatnya pulang ke desa. Adik-adik di desa pasti sudah tidak sabaran belajar kelas bahasa bersama,” ucap si remaja dalam hati. Kini perasaannya jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Terlebih setelah melihat ekspresi senang orang-orang yang ia berikan nasi pecel.

Namun, beberapa saat sebelum si remaja tadi meninggalkan lapaknya, dia melihat sosok laki-laki paruh baya seperti orang Jepang yang sedang mencari-cari sesuatu sambil memegangi payung di jalanan tak jauh dari lapaknya. Awalnya si remaja bersikap tak ingin memedulikan, tapi karena pada saat itu perasaannya sedang sangat baik, maka ia mencoba menanyakan keperluan si orang asing ini. “Mana tau saja dia butuh bantuan,” ujar si remaja, lagi, dalam hati.

“Maaf, permisi,” kata si remaja dengan menggunakan bahasa Jepang kepada orang asing yang belum tentu orang Jepang.

“Aa, kamu bisa berbahasa Jepang?” balas si orang asing dengan berbahasa Jepang pula. Ternyata memang benar orang Jepang.

“Ya. Sedikit,” jawab si remaja.

“Oh syukurlah. Begini saya datang bersama rombongan orang Jepang. Saya terpisah dari rombongan saat melihat permainan alat musik di ujung jalan sana. Saya tidak bisa berbahasa Inggris, apalagi bahasa Indonesia. Saya lupa arah jalan dan dimana bus rombongan kami diparkir, saya juga tidak mencatat nomor plat bus yang digunakan. Saya juga bingung mau bertanya ke siapa, karena saya juga takut jika bertanya ke salah orang,” jelas si orang Jepang panjang lebar. Di setiap kalimat orang Jepang ini ada jeda, yang kemudian sesekali ditimpali “haik” oleh si remaja.

“Sebenarnya cukup banyak tour guide berada di sekitaran Malioboro yang bisa berbahasa Jepang. Lantaran hujan saja, tak ada mereka yang bisa membantu kamu. Lagian kamu tidak perlu khawatir bertanya di sini. Karena Jogja adalah kota yang aman buat wisatawan,” ucapku menenangkannya.

“Ayo ikut saya. Saya akan mengantarkan kamu ke kantor pariwisata di dekat sini. Mereka nanti akan memberitakan dengan pengeras suara tentang biodata kamu agar touir guide rombongan segera datang menjemput kamu,” tambah si remaja sebelum si orang Jepang terlalu banyak berekspresi. Si orang Jepang pun mengikuti si remaja dengan perasaan was-was. Maklum baginya ini adalah kali pertama melancong ke luar negeri, ke Indonesia pula. Banyak cerita-cerita miring yang dia dapat tentang bagaimana tingkat kehati-hatian harus benar-benar tinggi selama berada di Indonesia jika ingin selamat kembali.

“Saya tidak akan menipu Anda. Tenang saja,” ucap si remaja seakan mengerti apa yang dipikirkan oleh si orang Jepang.

Tak beberapa lama si remaja dan si orang Jepang telah tiba di kantor pariwisata yang berada di jalan Malioboro ini. Kasus-kasus seperti itu membuat keberadaan kantor ini benar-benar sangat bermanfaat. Lalu si remaja menjelaskan kronologis seperti yang diceritakan orang Jepang tadi. Dengan sigap si operator kantor pariwisata langsung memberikan informasi tentang data diri orang Jepang yang sedang mencari rombongannya dan meminta tour guide segera menjemputnya dengan pengeras suara yang bisa didengar oleh seluruh pengunjung sepanjang jalan Malioboro.

Selang beberapa menit, tour guide rombongan orang Jepang datang dengan badan basah kuyup. Entah karena kena hujan atau keringat dingin akibat takut kehilangan peserta rombongan tour-nya. Bisa dibayangkan bagaimana nanti komplain akan dibuat oleh peserta rombongan jika salah satu peserta semakin lama tidak ditemukan, agenda lain pun akan jadi kacau. Lalu sang tour guide pun berkoordinasi dengan pihak pariwisata.

“Oke, semuanya sudah selesai. Saya izin pamit,” kata si remaja kepada si orang Jepang dengan bahasa Jepang. Si orang Jepang bingung berkespresi, satu sisi senang karena berhasil bertemu si tour guide, satu sisi bingung bagaimana mengucapkan terimakasih kepada si remaja. Namun dari semua orang yang ada dalam ruangan itu, si tour guide yang tampak lebih bingung, siapa remaja ini?

“Nama saya Makoto. Ini kartu nama saya. Silakan kontak saya jika kamu butuh bantuan. Terimakasih untuk bantuan kamu hari ini,” akhirnya si orang Jepang bisa mengakali rasa bingungnya. Dia juga tidak berani memberi uang kepada si remaja, karena hal seperti itu tak lazim di negerinya.

Si remaja tak banyak bicara. Lagian bantuan apa yang ia butuhkan dari si orang Jepang ini pikirnya. Tapi ia menerima saja kartu nama itu dan langsung balik arah, bergegas menuju kelas bahasa yang akan diajarnya sore ini.

“Hei tunggu. Siapa nama kamu?” teriak si orang Jepang ketika si remaja telah berada di halaman kantor pariwisata.

“Panggil saja De!” teriak si remaja jauh lebih keras sambil membalikkan badannya ke arah dalam kantor. Lalu dengan cekatan ia membuka payung dan berlalu dengan cepat di jalanan Malioboro yang diguyur hujan semakin lebat sore itu.

Tokyo, di penghujung musim dingin 1435 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s