Cinta di Sakura (Bab 1)

Standar

Arak-arakan awan hitam itu muncul lagi. Sesekali disusul dengan angin kencang dari arah laut. “Ah, hujan bakal turun,” pikirku. Langkah pun kupercepat. Sesekali penduduk lokal berlalu lebih cepat, terutama yang tidak membawa payung.  Sore itu aku pulang menuju dorm menyusuri jalan khusus pejalan kaki di tepi pelabuhan kota kecil di semenanjung barat Jepang.

Hujan rintik-rintik akhirnya mulai membasahi kota pelabuhan ini. Ini adalah kali ke enam hujan datang di awal musim dingin. Aku terus berjalan, sesekali berlari dengan tangan tetap berada di saku jaket tebal yang kukenakan. Aku lupa membawa payung. Aku tak sempat melihat prakiraan cuaca, lagian ini bukanlah perkara penting bagiku. Nanti kamu akan mengerti kenapa aku tak terlalu peduli dengan hal remeh temeh ini.

Hujan semakin deras. Tampaknya hujan kali ini lebih deras dari hujan-hujan sebelumnya. Pakaian yang kugunakan telah basah kuyup, sementara aku harus berjalan sekira 15 menit lagi menuju dorm. “Kenapa hujan datang pada musim ini,” rutukku. Hujan yang identik dengan dingin ditambah dengan suhu di musim dingin bukanlah paduan yang romantis ketika masih berada di luar seperti aku saat ini. Rasa dingin itu benar-benar telah menusuk-nusuk sekujur tubuhku, “Aku harus berteduh.” Akhirnya aku putuskan untuk berteduh di depan sebuah kombini (convenient store).

Kombini di kota kecil ini tak terlampau banyak. Tempat berteduh ini adalah satu di antara belasan kombini yang ada di sini. Aku mengibas-ngibaskan jaket yang digunakan dengan harapan supaya tak terlalu basah. Hujan benar-benar terlihat ganas, terlebih dengan angin-angin yang saling sambung menyambung seakan tak mau berhenti. “Sial. Bahan masakan habis di dorm,” ucapku dalam hati ketika teringat akan hidangan makan malam. Setelah memastikan pakaianku tak terlampau basah, aku masuk mencari bahan makanan ke dalam kombini.

Sama seperti kombini atau toko-toko lainnya di negeri ini, siapapun yang masuk, akan disambut dengan hangat dan tulus. Begitupula di kombini ini. Baru saja pintu ini terbuka ucapan selamat datang kepadaku terdengar nyaring di telinga, walau aku belum tentu berbelanja. Sebulan ini aku telah terbiasa dengan ucapan selamat datang khas Jepang dari kombini ini. Karena memang kombini ini yang paling dekat dengan dorm yang aku tinggali. Suara seorang bapak-bapak tua dan atau seorang anak muda berusia sekira lebih tua dariku akan terdengar ketika baru saja memasuki kombini ini. Tapi! Tunggu dulu. Kali ini aku mendengar suara yang berbeda, bukan lelaki, melainkan suara wanita muda, itu terdengar dari alunan suaranya yang manja. Lalu entah sejak kapan, mata kami bertemu. Sebuah tatapan tanda tanya bagi saya, “siapa gadis muda ini?.”

“Selamat datang,” ucapnya sekali lagi sambil membungkukkan badan, lagi dengan nada manja, ketika memerhatikanku yang masih berdiri mematung di depan pintu. Buru-buru aku segera mengalihkan pandangan dan mulai berlalu mencari kebutuhan bahan pokok yang akan dijadikan makan malam nanti. Ah, tapi konsentrasi mencari bahan makanan terganggu dengan beragam pertanyaan tentang gadis muda barusan. Pertanyaan paling krusial adalah “siapa dia?”

Wortel, telur, bawang bombay, dan roti tawar. Aku membutuhkan waktu 30 menit di kombini ini hanya untuk membeli barang-barang itu. Kenapa ini? Apa karena gadis muda itu? Entahlah. Bisa jadi iya.

Di luar hujan tampak mulai berhenti. Aku segera bergegas menuju kasir, tempat si penjaga kombini ini bertugas. Kombini ini tampak sepi. Hanya ada aku dan si penjaga kombini. “Mungkin karena hujan yang cukup deras tadi,” pikirku.

“Silakan,” kata si gadis muda, penjaga kombini ini sambil mengambil keranjang dari tanganku. Ia mulai menscan barang-barang belanjaku yang tak seberapa tadi. Aku masih seakan tak percaya menatap gadis muda ini. Dia jelas berbeda. Belum pernah aku melihat gadis Jepang secantik dia di kota kecil ini sebelumnya. Cantik yang berbeda. Wajahnya teduh, bersih, dan putih. Senyumnya? Jelas tampak ketulusan dan keikhlasan dalam setiap senyum yang ia berikan, padahal ia hanya sedang menghitung barang belanjaanku.

“539 yen,” katanya. Aku masih menatap si gadis muda ini dengan takjub. Siapa dia? “539 yen,” ucapnya lagi sambil masih tersenyum. Ah, senyum yang manis. Aku takjub dibuatnya. “539 yen,” kali ketiga ia menyebutkan jumlah yang harus kubayar, masih dengan senyum manis yang benar-benar tak tampak direkayasa. Tapi kali ini aku cepat-cepat merogoh dompet kecil lusuh dari saku celana, lalu membayar dan segera keluar dari kombini.

***

Hujan telah benar-benar berhenti ketika aku tiba dorm. Aku mengamati kotak surat dan mengambil semua isi di dalamnya. Dorm ini dipinjamkan oleh majikan tempatku bekerja. Para pekerja lain juga begitu. Cuma masing-masing majikan punya aturan sendiri tentang dorm yang dipinjamkan, ada yang satu dorm berdua, bahkan ada yang berempat. Tergantung dari luas dorm yang dipunyai oleh majikan. Untungnya majikanku hanya mempunyai dorm yang tak relatif besar, yang hanya bisa ditinggali untuk seorang saja. Aku rasa hanya ini yang membuatku, mungkin, bisa betah tinggal 2 tahun 11 bulan lagi di sini. Aku tak lagi suka keramaian. Menurutku keramaian itu hanyalah sebuah kesenangan semu.

Barang belanjaan kutumpukkan begitu saja di atas meja makan. Aku segera mengecek satu persatu isi kotak surat. Aku menunggu surat dari emak. Setelah di cek satu persatu ternyata hanya berisi sampah, iklan-iklan yang tidak jelas apa maksudnya. Tapi tunggu dulu, apa ini. Ini sepertinya berbeda, selembar kertas A4 bertuliskan “Undangan”. Tak perlu berpikir lama buatku untuk segera membaca secarik kertas itu.

“Apalagi ini?” rutukku dalam hati. Ternyata sebuah undangan untukku dan seorang lagi pekerja baru dari Indonesia agar hadir dalam penyambutan pekerja baru di kota ini. Undangan berasal dari kelompok pekerja asal Indonesia yang telah lebih dulu bekerja di sini. Aku kira, aku telah benar-benar tak kan lagi bertemu dengan manusia Indonesia di sini. Ternyata salah, aku ternyata masih harus bertemu manusia-manusia licik itu lagi. Aku juga lupa, entah sejak kapan aku benar-benar benci dengan negaraku sendiri dan orang-orangnya, tentu selain  emak dan adikku. Tapi itulah keadaannya kini. Salahkah aku?

Masih mengenakan pakaian yang belum mengering, aku duduk bersandar di pinggir dipan. Pikiranku kini terbang melayang memikirkan emak dan adikku kini di Indonesia. Bagaimana kabar kalian sekarang? Kenapa surat dari kalian tak kunjung datang? Tiba-tiba saja ada air yang keluar dari sudut mata. Namun air mata itu cepat-cepat kuhapus ketika teringat janji-janjiku kepada emak dan adik. “Aku harus kuat melalui semua ini,” camku dalam hati. Aku lalu segera membersihkan diri dan menyiapkan makan malam.

Memasak bukanlah perkara sulit bagiku. Apapun bahan masakan yang ada, bisa aku jadikan makanan yang enak dimakan. Setidaknya begitu kata teman-temanku dulu. Ya, dulu mereka memang teman-temanku, tapi sekarang mereka telah menjelma menjadi orang-orang yang tak kukenal atau bisa jadi aku yang telah berubah menjadi orang yang tak mereka kenal. Entahlah. “Setidaknya aku di sini dan takkan bertemu mereka lagi,” ucapku dalam hati. Aku segera menyantap makan malam selagi panas. Di musim dingin ini, semua serba cepat menjadi dingin. Menikmati makanan selagi panas adalah pilihan yang baik untuk menghangatkan tubuh.

Menatap langit malam. Itulah aktivitas yang kulakukan tiap malam. Satu-satunya cara bagiku mengusir rasa bosan untuk menjalani aktivitas di negeri ini. Aku bukanlah tipe orang yang suka berdiam di satu tempat yang mengerjakan pekerjaan itu-itu saja. Tapi di sini aku harus melakukan pekerjaan yang tidak aku suka itu. Dengan menatap langit malam, aku merasa ada kedamaian di sana. Begitu tenang dan hening, terlebih suasana di kota kecil ini tak begitu ramai di malam hari. Jika tak mengingat jam 3 subuh sudah harus berada di pelabuhan, aku mungkin akan berlama-lama duduk dan menatap langit malam di balik jendela beranda kamar dorm ini.

“Waktunya tidur,” ucapku dalam hati sambil merapikan tempat tidur. Dua lapis selimut tebal yang baru saja dipinjamkan majikan kemarin, cukup membuat badan terasa lebih hangat dibanding hari-hari sebelumnya. Harapannya bisa tidur lebih cepat. Namun, entah kenapa tiba-tiba teringat kembali si gadis penjaga kombini. Siapa dia?

Tokyo, di penghujung musim dingin 1435H

7 responses »

    • Alhamdulillah ada yg mau memberi komentar. maaf jika banyak yg menduga ini adalah cinta pada pandangan pertama.🙂 semoga bisa memberikan sesuatu yg berbeda..aamiin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s