Malu(ku) di Jepang

Standar

Kurun waktu enam bulan telah saya lalui hidup di sebuah negara yang tak saya sangka-sangka. Benar agaknya kata sebuah buku, kita mengira selama ini yang menentukan rencana adalah diri kita sendiri, keputusan di tangan Tuhan, padahal tidak menurut si empunya buku itu. Rencana pun ternyata berasal dari Tuhan. Lihatlah saya, sedari kecil dulu saya hanya ingin ke Saudi dan Jerman jika kelak diberi kesempatan ke luar negeri. Itulah dua rencana besar saya sejak kecil. Kenyataannya? Saya kini malah berada di sebuah negeri penjajah, negeri yang katanya menjajah Indonesia lebih pedih dibanding penjajah lain. Di sinilah saya. Jepang. Bukan sekali, keberadaan saya di sini, saat ini, adalah kali ketiga. Alamak apa pula ini. Well, lagi-lagi saya hanya bisa bersyukur. Saya kira pasti ada hikmah dibalik ini semua. Pasti. Itu yang selalu saya yakini sedari dulu atas apa yang saya jalani, itu semua telah direncanakan dan ditetapkan Tuhan.

Hidup di sebuah negeri, yang jelas-jelas berbeda dengan ibu pertiwi tentunya bukan perkara gampang, jika tak ingin disebut sulit. Jika dibawa susah, semuanya jelas-jelas susah, mulai dari makan, shalat, hingga perkara tetek bengek lainnya, seperti mandi atau hanya sekedar membuang hajat. Tapi tentunya tak elok jika menyalahkan keadaan, saya tak pernah diajarkan hidup seperti itu oleh emak dan bapak, juga nenek dan etek. So, hingga hari ini saya masih bisa bertahan di Tokyo, kota yang sempat menjadi kota termahal di dunia 2013 silam, walau hanya dengan beasiswa yang tak seberapa. Alhamdulillah.🙂

Kali ini saya hanya ingin berbagi tentang hal-hal unik yang selama ini saya lakukan, yang karena ketidaktahuan atau kadang keingintahuan saya yang terlampau berlebih, itu menjadi hal yang memalukan bagi banyak orang di sini. Pertama, perihal orang Jepang yang pendiam dan cenderung pemalu. Kasus ini berlaku hanya kalau belum kenal, kalau sudah kenal bahkan kadang mereka malu-maluin V^^, apalagi pas mabuk, wajah putih mereka memerah bak udang rebus🙂.  Beberapa kali saya dibuat malu atas tindakan (sadar) yang saya lakukan. Berikut ini adalah satu di antaranya. Ada yang masih ingat karakter kartun Sailormon? Nah, anak-anak SMA di Jepang menggunakan seragam ini bersekolah, plus dengan rok mininya di atas lutut. Saya tidak dalam konteks membahas pornografi atau mengkaji keseksian siswi di sini. Tidak. Pertanyaan dalam kepala ini hanya satu, apalagi waktu itu saat musim dingin. “Apakah mereka tak merasa dingin?” Saya saja harus melapis pakaian sampai 3 helai demi menepis rasa dingin. Kata kawan-kawan internasional ketika saya tanyakan itu, mereka bilang mereka sebenarnya merasa dingin, hanya saja biar tetap keliatan seksi saja. Buktinya ada beberapa siswi yang menggunakan heatech (sejenis stocking) untuk menahan rasa dingin. Namun, sayang. Rerata jawaban kawan saya di sini tersebut bukan berasal dari si pelaku utama, yaitu siswi bersangkutan. Semua jawaban berdasarkan asumsi. Oleh karena saya adalah satu dari milyaran orang (maaf agak berlebihan) yang punya rasa penasaran agak tinggi, akhirnya saya memberanikan bertanya ke salah satu siswi di sini ketika saya baru saja pulang dari kampus. Waktu itu ketika saya menunggu lampu lalu lintas pejalan kaki dan juga pengguna sepeda berubah menjadi hijau, tiba-tiba seorang siswa dengan kostum khas sailormon-nya tepat mengantri disebelah saya, juga menanti bergantinya lampu merah. Tanpa menggunakan heatech. Tidak menunggu lama, akhirnya terlontarlah pertanyaan yang sudah lama tersimpan itu.

Saya (I):   あの、すみません。

Siswi (S): はい。

I: 寒くないですか。大丈夫ですか。

S: はい。寒くないです。

Setelah itu lampu berubah menjadi hijau. Si siswi itu berlalu dengan cepat. Padahal saya belum sempat berterimakasih kepadanya atas jawaban rasa penasaran selama ini. Intinya si siswi itu menjawab dia ga merasa dingin tuh. Namun, hari-hari berikutnya di sekitar tempat kejadian perkara, saya diberhentikan dua kali oleh polisi.🙂

Kedua, semua tempat bisa dijadikan tempat shalat. Hingga saat ini saya belum mendapatkan jawaban pasti apakah ini boleh atau tidak dilakukan di sini, termasuk dari jawaban orang-orang muslim yang telah lama tinggal di sini. Berikut ini adalah list lokasi yang pernah saya jadikan tempat shalat, tentunya selain kamar dan masjid/mushala: fitting room, ruang ganti pria dan wanita, taman, depan hotel, pinggir jalan raya, di smoking room di stasiun, di dalam kereta, di bawah pohon sakura, di puncak gunung, di dalam mobil, di dalam bis, dan di kelas. Beberapa saran pernah disampaikan oleh para senior untuk mencari lokasi yang sepi agar tak “mengganggu” orang di sini. Tapi apa daya, kadang kala kondisi memaksa saya bisa menjadikan semua tempat untuk shalat. Contohnya waktu sepulang shalat Idul Adha, saya jalan-jalan sekitaran Akihabara yang kemudian disusul hujan deras. Pas ashar menjelang hingga magrib akan datang, hujan tak menunjukkan niat akan berhenti. Apalah daya, halaman depan sebuah hotel mewah yang tertutup dan tak terkena hujan menjadi lokasi pilihan melaksanakan shalat. Di sana, ketika usai shalat, saya liat ada polisi yang menunggui, tak jauh dari lokasi saya waktu itu.🙂

Ketiga, perihal suka standing party dan terlalu banyak basa-basi. Rerata di sini semua ada party. Anak lab baru gabung, party. Anak lab wisudaan, party. Ada mahasiswa internasional baru datang, party. Dan lain-lain. Sebenarnya sama saja dengan kita di Indonesia, tetapi pengalaman saya di Indonesia, lebih banyak proses intropeksi. Kawan-kawan di sini, ga ketulungan setiap ada party, minum sake dan bir hingga mabuk dan aneh. Tapi saya lagi tak ingin membahas ini, yang saya bahas adalah respon saya selama party, di sebuah komunitas yang jauh dari islami. Jika ada senior muslim dalam party itu, Alhamdulillah, saya tinggal makan makanan yang dimakan senior. Aman. Karena sudah tahu mana yang boleh dimakan dan mana yang tidak. Namun, jika saya seorang di sana, perihal memalukan itulah yang terjadi. Saya akan mengecek semua bungkusan makanan itu untuk melihat komposisi bahan makanannya apakah mengandung bahan haram atau tidak. Harus cepat, karena berharap makanan itu tidak habis oleh mereka-mereka yang bisa makan apa saja.🙂. Di lain kesempatan saya bahkan pernah memotong sambutan salah satu professor dengan memberikan tepuk tangan meriah, padahal professor itu belum selesai bicara. Ya begitulah mereka, terbiasa pesta berdiri dan mendengarkan sambutan sambil berdiri pula. Kan, capek jika harus berdiri terus. V^^. Belum lagi saya harus berpikir keras sebelum menikmati makanan dan minuman, setelah terlebih dahulu mendapati kursi dan duduk. Jika tak ada kursi, saya tak kan sungkan duduk di lantai. Bahkan ulah saya ini diikuti oleh kawan-kawan lain, karena sebenarnya mereka juga capek harus berdiri. Nah, makanya lain kali sitting party aja.

IMG_2564Keempat, kebiasaan orang di sini buang ingus di depan umum. Walaupun menggunakan tisu, saya rasa membuang ingus (dengan suara yang bombastis) masih tidak manusiawi dilakukan di dalam kelas, dalam kereta, atau di depan banyak orang. Tapi di sini sodara-sodara, mereka dengan asyiknya membuang ingus plus dengan suara yang bombastis itu tanpa rasa bersalah. Ini bukan masalah jijik, ini menyangkut masalah konsentrasi dan penyebaran virus. Bayangkan saja ketika sedang di kelas, yang sebagian konsentrasi memperhatikan dosen dan sebagian yang lain tidur, tiba-tiba seorang mahasiswa sini menyentak kaget saya, hanya saya. Hanya saya yang langsung melirik si pelaku utama. Yang lain? Tanpa rasa kaget tetap menjalankan aktivitas sebelumnya, berkonsentrasi, tidur, dan berkonsentrasi sambil tidur. Anehnya malah saya yang ditatapi oleh sebagian besar mereka atas rasa kaget saya yang luar biasa itu. Ada apa dengan semua ini? Jika seandainya ini adalah sebuah anime, saya akan terjungkang di kursi selang nol koma sekian detik setalah mahasiswa itu membuang ingus plus dengan suara bombastis.

Kelima, kebiasaan dipluitin dan dikejar polisi. Di sini semua telah diatur. Termasuk dalam hal berlalu lintas. Tak hanya kendaraan, pejalan kaki dan pengguna sepeda pun diberi tanda lampu lalu lintas khusus. Beberapa kali saya dipluitin oleh polisi karena menyeberangi jalan ketika lampu merah masih menyala untuk pejalan kaki? Kenapa saya langgar? Sebenarnya tak ada niat untuk melanggar, tapi apalah daya ketika orang-orang di sini melanggarnya, hanya saya yang menunggu. Lalu ketika saya ikuti, naas ada polisi. Hasilnya seakan saya pelaku utama pelanggar lalu lintas itu. Tapi dalam pada itu saya tidak di-stop polisi dan ditanya-tanya, padahal saat itu saya dalam posisi siap untuk di-stop polisi, kenapa hanya saya yang diberhentikan beserta beberapa makian dalam versi bahasa minang. Pada kesempatan awal saya tiba di sini, saya juga pernah dipluitin polisi yang mengejar saya. Merasa tidak bersalah dan tidak mengetahui jenis pluit polisi, saya tak memberhentikan sepeda, malah kayuh semakin kencang, karena jalanan tak banyak orang. Setiba di tujuan, si polisi terengah-engah minta liat KTP sini, ya sudah saya liatin. Usai itu, dia mencatat dan pergi. Resek banget kan polisi dekat sini? Belum lagi ketika bareng kawan Thailand Selatan pergi belanja pakaian di sebuah stasiun dua hari yang lalu, kami diberhentikan oleh dua polisi patroli. Kawan Thailand yang tak menguasai bahasa Jepang agak cemas. Saya? Sudah biasa mah berurusan dengan polisi. Cuma liatin KTP Jepang semua beres. Terus si kawan ini masih penasaran dengan pengalaman pertamanya ini. “Kenapa ya?” katanya. Sebenarnya saya ingin jawab: “karena kamu pergi dengan saya.” Tapi segera saya ubah, karena liat pakaian yang kita kenakan, “karena kita pakai pakaian musim dingin dan ini membuat kita kampungan.” Saya dan kawan Thailand tertawa sepanjang jalan dan saya beri kata-kata pamungkas yang selama ini saya gunakan agar berurusan cepat dengan polisi di sini. 日本語 を食べません (nihongo o tabemasen). V^^

Keenam, perihal teh pahit yang dinamai ocha. Hingga saat ini saya masih tak mengerti kenapa orang sini sangat senang dengan ocha, padahal pahit dan kadang tak berasa. Lalu peristiwa memalukannya dimana? Ialah waktu kali pertama di sini, selang 2 hari setelah tiba di sini, kampus mengadakan field trip ke sebuah gunung dan nginap di guest house di sekitaran gunung tersebut. Di sanalah saya mengenal ocha, teh pahit yang cenderung tak berasa. Sebuah pertanyaan alami dan benar-benar bukan saya sengaja buat pun terlontar. Saya menanyakan gula kepada Sensei (panggilan dosen di sini). Semenjak itu, setiap ada party bareng Sensei tersebut, pasti ia selalu mengatakan, “Indra-san, ini gula untuk kamu.”

Sebenarnya banyak hal yang memalukan dan kadang secara sengaja saya lakukan hanya karena ingin tahu. Sehingga hal-hal memalukan (dan agak berbahaya setelah saya pikir-pikir) itu tak terulangi lagi oleh kawan-kawan di masa mendatang. Tapi dikarenakan keterbatasan ingatan dan penyusunan tesis dipenghujung deadline, tulisan ini harus saya akhiri. Akhirnya semangad menjalankan aktivitas.

Di awal musim semi, Tokyo, 14 Jumadil Akhir 1435H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s