Dilema Perut Buncit

Standar

Tulisan ini saya sampaikan bukan sebagai kampanye #SaveBuncit atau ingin membela hak orang-orang buncit yang sering terabaikan. Juga bukan bermaksud ingin membenarkan bahwa perut buncit lebih bagus dibanding perut rata atau perut kotak-kotak acap kali jadi kebanggan tersendiri bagi si empunya. Tidak sama sekali. Tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya, yang mencoba mengupas secara singkat berbagai fenomena-fenomena yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kenapa jadi serius begini?🙂

Well, sebenarnya saya hanya kaget ketika saya mengenalkan calon legislatif pilihan saya *maaf* tidak kurus dan perutnya agak buncit (baca: besar V^^). Karena beliau berasal dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS), saya kira kemungkinan banyak yang tidak suka akan membahas mengenai asal partai caleg ini, tersebab pencitraan jelek yang dilakukan media benar-benar berhasil. Tapi toh untuk hal ini saya mempunyai jawaban, karena saya suka partai ini juga berawal dari ketidaksukaan, jawaban-jawaban yang saya punya itu yang akhirnya membuat saya suka dan percaya bahwa partai ini harus dipilih pada Pemilu 2014. Tapi mungkin bukan di sini saya akan membahas. InsyaAllah dilain kesempatan saya akan mencoba membahas kenapa saya memilih PKS.

Yep benar. Alasannya menurut saya terlalu mengada-ngada, yaitu karena beliau tak kurus (baca: gendut) dengan perut yang agak buncit. Saya kaget. Bukan lantaran saya gendut. Bukan. Kawan perlu memeriksakan mata kalau mengatakan saya gendut🙂. Saya kaget karena ternyata masih banyak orang-orang yang menilai seseorang dari tampilan fisiknya. Mungkin saya terlampau berlebihan. Tapi ya kemungkinan ini dikarenakan lingkungan pergaulan saya yang berbeda, saya terlampau lama bergaul dengan orang-orang yang tak pernah mempertanyakan dari mana kamu dan bagaimana penampilanmu. Sehingga hal-hal yang saya anggap “kecil” dan hampir tak bermakna itu, dinilai berbeda oleh mereka-mereka yang hidupnya lebih baik dibanding saya. Sok tahu memang, tapi entahlah. Karena kadang hati dan pikiran manusia suka dibolak-balik oleh yang punya.

Orang dengan perut besar (sepertinya lebih enakan dibanding buncit ya?) kadang kala dipersepsikan sebagai orang-orang yang suka makan uang tak halal. Saya tak menyalahkan kawan. Karena saya pernah berpikir demikian, terlebih lagi ketika melihat para oknum polisi lalu lintas yang suka menilang. Hampir semua perutnya besar-besar. Tapi pikiran itu tak lama terekam di pikiran saya, tersebab ternyata Bapak saya perutnya juga besar (Kini, perut besar itu tinggal kenangan). Beliau hanyalah seorang satpam (tukang jaga gedung). Jika perutnya besar karena korupsi, uang haram mana yang bisa beliau ambil?

Telisik punya telisik. Ternyata pola makan dan tidur turut menjadi faktor penyebab besarnya perut seseorang. Hal ini saya peroleh setelah mendapati perut saya yang juga semakin membesar sewaktu S1 dulu V^^.  Saya masih teringat bagaimana pola makan saya sewaktu S1 yang tak menentu. Kadang tak makan malam. Sering juga makan baru tengah malam, setelahnya tertidur pulas beralaskan sajadah di sekretariat organisasi. Puasa Senin Kamis tak sahur juga mah biasa.

Tak bisa mengurus diri juga jadi pandangan sebagian orang terhadap mereka yang punya perut besar. Bisa jadi ini benar. Lihat saja kasus saya. Saya tampak tak pernah mengurus diri. Ya, begitulah pandangan orang-orang yang tak mengenal saya. Kenapa tidak pernah ada yang sampai punya pertanyaan, kenapa sampai kamu tak mengurus diri? Begitulah kondisi yang ada, kadang kita melihat seorang bisa sukses, langsung terbayang bagaimana kalau kita bisa sesukses dia? Tidakkah pernah berpikir apa-apa saja yang ia lalui untuk mendapati sukses? Sanggupkah kita mengikuti jalan itu? Ketika saya mengetahui kisah Andrea Hirata hingga bisa sesukses sekarang, saya bergidik ngeri. Tak gampang untuk keluar dari sebuah area yang dinamai “comfort zone”.

Atau bisa jadi orang-orang yang perutnya besar karena keturunan atau mendapati suatu penyakit yang mematikan. Masih bisakah kita berkomentar miring tentang orang yang berperut besar ini ketika ibu kita, bapak kita, kakak kita, keluarga kita, atau bahkan diri kita sendiri yang memiliki perut besar?

Dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa kita disebut mengenal seseorang setelah kita bermalam di rumahnya. Selepas membaca hadits ini saya memohon ampun kepada Allah atas khilaf yang saya lakukan. Alangkah sungguh berdosanya saya ketika saya pernah langsung menjudge seseorang tanpa tahu penyebabnya. Dalam pada itu, penyakit buruk sangka telah menggerogoti hati. Oleh karenanya, izinkan saya mohon maaf secara terbuka kepada kawan, karena saya tak ingat kepada siapa saja telah berburuk sangka.

Kembali ke topik semula. Ya begitulah kawan dilema perut besar, begitu juga mungkin dengan kawan-kawan lain yang sering dipandang negatif hanya karena sesuatu yang tak biasa. Tak perlu banyak cerita kawan, cukup senyum saja dengan orang-orang yang berkomentar miring terhadap Anda. Mereka berkata demikian karena hanya belum tahu, jangan marah dengan ke-sok tahuan mereka, cukup jawab dengan kerja-kerja nyata yang bisa kawan berikan.

Tokyo di suatu pagi gerimis, 1 Jumadil Awal 1435 H.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s