Celana 2000 Yen

Standar

Sebagian kawan mungkin bertanya, apa lagi ini? Hmm, entahlah. Mungkin saya rindu dengan bangsa tercinta. Saya terlalu banyak menghabiskan waktu untuk belajar, yang mungkin hanya untuk kepentingan pribadi, sehingga terlalu lama bisa belajar mencintai negeri. Tapi setidaknya saya selalu mencari cara untuk mencintai bangsa, walau hal itu sangat sulit dilakukan. Mengapa?

Kawan lihatlah bangsa kita kini. Apa yang kawan lihat? Apa yang kawan rasakan? Samakah dengan yang saya lihat? Samakah dengan yang saya rasakan? Atau sama sekali tak terlihat? Atau sama sekali tak terasa apa pun? Kalau dua terakhir ini yang kawan alami, hmm, saya benar-benar tak mengerti mengapa bisa terjadi. Tapi di hati kecil saya bertanya, “mungkinkah ibu pertiwi telah gagal mendidik putra-putri penerus?”

Sumber: Internet

Sumber: Internet

Banyak oknum-oknum petinggi bangsa kita yang memang sengaja membuat banyak anak bangsa untuk sulit mencintai negeri. Lihat saja, kita punya banyak minyak bumi, banyak rumput laut, banyak kelapa sawit, dan banyak kekayaan lain. Tapi kenapa kita masih saja menjadi negara pengimpor barang-barang itu? Mereka sengaja membuat anak-anak bangsa ini bodoh, agar tak ada pabrik pengolahan minyak bumi hingga bisa menjadi beragam produk buatan anak negeri. Mereka sengaja tak mendirikan banyak pabrik pengolahan kelapa sawit yang bisa menghasilkan banyak turunan produk-produk yang bahkan bisa kita ekspor. Oknum-oknum itu sengaja membuat anak negeri ini lebih mencintai produk impor, agar mereka mendapat keuntungan atas semua itu. Banyak pula anak negeri ini yang punya ilmu membuat produk-produk itu akhirnya memilih menjadi pekerja di negara lain. 

Belum lagi lihat tingkah polah oknum di kontes politik. Lihat begitu peliknya mengungkap kebusukan mereka. Yup, mungkin karena jumlah mereka sangat banyak dan saling terkait satu sama lain. Bahkan orang baik, orang-orang yang sangat mencintai negeri, yang ingin membersihkan oknum-oknum itu, di-bully habis-habisan. Lihat pula beberapa kasus yang mungkin dengan akal orang awam seperti saya sangat mudah diungkap. Misalnya kasus Bunda Putri. Jika memang tahu nama aslinya, cek saja ke daftar penduduk. Kasus lain yang terbaru, adanya Jilbab Hitam yang meneror pimpinan Tempo yang diduga memeras Bank Mandiri. Sadap saja telepon mereka kalau mau mengungkap. Selidiki memory card handphone. Sayang, semua itu hanya sekadar mimpi. Rakyat di negeri ini dibiarkan saling bunuh dengan opini-opini yang salah, karena banyak media pun ikut dibeli.

Ah, sudahlah. Tak perlu dibahas lagi tentang tingkah polah oknum-oknum itu. Tak perlu kita ikut-ikutan pula menghakimi orang, seperti apa yang diperbuat media, karena belum tentu media itu benar-benar memberitakan berita benar, sekalipun media itu media besar. Tak perlu pula kita berburuk sangka kepada orang-orang baik yang mencoba memperbaiki bangsa di tatanan politik, karena jika tak ada orang baik di sana, maka tak kan pernah berubah bangsa ini. Tak boleh pula kita mempertanyakan kecintaan terhadap negeri pada kawan-kawan yang bekerja di luar negeri, bisa jadi mereka ke negara lain karena tidak menerima perlakuan oknum-oknum jahat itu. Cukup. Hentikan semua ketidakbergunaan yang saya sebutkan itu, karena semua itu akan menghabiskan energi dan tak menghasilkan apa-apa, kecuali rasa benci.

Yang perlu kita lakukan kini hanyalah berpikir dengan cara apa saya bisa mencintai negeri. Lalu buatlah. Sangat simpel. Mohon, jangan tinggalkan bangsa ini. Bangsa ini membutuhkan putra-putri terbaiknya, jika kamu pergi, siapa yang akan membangun bangsa?

Dok: Pribadi

Dok: Pribadi

Celana 2000 Yen adalah salah satu cara saya mencintai negeri. Celana Made in Indonesia termahal yang pernah saya miliki dan saya membelinya di negara lain. Semoga banyak orang lain juga membeli produk ini, sehingga ekspor produk negeri kita meningkat. Mencintai negeri bisa kita dilakukan dengan banyak cara kawan. Sekarang tinggal kita, mau atau tidak. Jika saya kini mencintai negeri dengan Celana 2000 Yen, maka saya rasa masih banyak kawan-kawan lain yang cintanya terhadap negara melebihi saya.

Di tengah dinginnya Tokyo di akhir Musim Gugur,
10 Muharram 1435 H

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s