Lelaki Harus Bisa Memasak

Standar

Well. Tak bisa dipungkiri bahwa saya benar-benar hampir melupakan rumah ini. Lagi-lagi, ini perihal sepele. Lupa. Kadang saya juga berpikir apa pasal saya bisa lupa, karena toh pekerjaan saya belakangan ini tak sebanyak sewaktu mahasiswa S1 dulu. Hmm, entahlah. Setidaknya saat ini saya ingin berbagi cerita tentang keahlian masak saya yang ingin selalu ditingkatkan. For what?

Berbicara masalah memasak, mungkin termasuk masalah sepele bagi kaum hawa. Dalam konteks ini, saya tidak ingin membahas tentang calon ibu yang tak bisa memasak, karena itu sungguh t e r l a l u. Saya hanya ingin berbagi tentang begitu beratnya tugas para wanita, terutama dalam hal memasak. Kenapa demikian?

masakan saya V^^

Beberapa minggu belakangan ini saya sangat intensif memasak. Jika tidak masak, maka saya tak akan bisa makan dan memenuhi energi tiap hari. Tentu, tak ayal kesehatan dipertaruhkan jika ini terjadi. Saya senang memasak sudah sejak lama. Semenjak saya bermukim di Jakal Km 18,5 Jogja, saya mendapatkan pengalaman baru tentang dunia masak-memasak, kombinasi Sumatera-Jawa-Sulawesi. Dalam hal ini saya harus berterimakasih atas kebaikan Pak Charles, Pak Jusman, dan Bang Adi, yang mungkin tak akan saya temui lagi ketika saya kembali ke Jogja. Harapannya sih masih bisa ketemu, tapi tentunya masa studi kedua bapak akan bertambah. Maafkan saya.🙂

Di sini, Tokyo, memasak menjadi sangat penting artinya bagi saya. Sebab, tak banyak makanan halal yang bisa di makan di luar sana. Jadi, mau tidak mau, saya harus selalu memasak. Memasak bagi saya, sebenarnya bukanlah suatu perkara yang terlalu sulit. Toh, semuanya seperti bekerja di laboratorium, masukkan ini, campur itu, aduk, panaskan, jadi deh masakan, yang insyaallah bisa dimakan. Namun, di sisi lain, pekerjaan ini menurut saya menimbulkan banyak pekerjaan baru. Dan itu perlu menjadi bahan pertimbangan untuk memasak atau tidak. Apa itu?

Mencuci perkakas yang telah digunakan, membersihkan dapur, membuang sampah dapur, hingga menghabiskan makanan yang terlampau banyak dimasak jika tidak ingin mubazir, adalah beberapa pekerjaan baru yang ditimbulkan setelah memasak. Mengingat itu semua, saya teringat begitu lamanya pekerjaan memasak yang begitu berat itu berulang-ulang bagi para ibu dan para istri. Mungkin ketika kita tidak sama sekali pernah memasak, mungkin tak kan pernah tahu mengenai hal ini. Dalam pada itu, pada tulisan dan waktu yang singkat ini saya hanya ingin mengatakan, sebaiknya lelaki harus bisa memasak, supaya tahu begitu beratnya tugas seorang ibu dan istri.

Memasuki Musim Dingin, Tokyo

18 Dzulhijjah 1434H

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s