TV One dan Metro TV Haram Ditonton?

Standar

Bingung. Perasaan itu kini mewakili kegalauan saya menghadapi kenyataan tentang media berita saat ini, terutama media-media berita televisi, tentunya termasuk TV One dan Metro TV di dalamnya. Bingung, karena media-media itu kini tak lagi menyampaikan berita yang benar-benar benar atau istilahnya berita akurat dan faktual. Padahal sudah sangat jelas bahwa di antara nilai berita, keakuratan dan kefaktualan suatu berita merupakan sebuah keniscayaan yang harus ada. Begitu pula keberimbangan berita menjadi hal mutlak yang harus dimiliki sebuah berita yang baik

Kebingungan ini kian membuncah bukan karena kasus suap impor daging sapi yang makin nikmat di-bully media, karena DIDUGA melibatkan Partai Keadilan Sejahtera, partai yang sudah terlanjur dicap baik oleh banyak orang. Tetapi di media berita, partai yang mengusung tema Cinta, Kerja, dan Harmoni ini terlihat seperti partai para koruptor, padahal sudah sangat-sangat jelas siapa partai koruptor yang sebenarnya, yang hingga kini masih anteng-anteng saja menikmati proses dan hasil korupsinya.

Bertambahnya bingung saya juga bukan karena kasus-kasus lain. Sebut saja satu. Kasus teroris. Lihat berapa banyak berita yang memuat keterangan orang-orang yang disangkakan teroris, kemudian “dibantai” oleh Densus 88. Benarkah mereka seperti yang disangkakan? Mau gimana mengambil keterangan, orangnya saja sudah ditembak mati sebelum sempat ditemui. Sumber berita hanya dari satu pihak, yaitu kepolisian. Bagi saya sulit percaya dengan pelaku hukum di Indonesia, karena memang kebanyakan orang-orang di dalamnya tidak benar. Bisa saja semua direkayasa. Tapi lagi-lagi media memberitakan ini secara berlebihan dan tak jarang bermuara pada SARA. Namun, sekali lagi walau begitu rumitnya masalah ini, bukan ini yang membuat saya bingung dan semakin bertambah bingung beberapa hari belakangan ini. Tanggapan pemirsalah yang membuat saya yang semakin bingung.

Dalam hukum ekonomi, dimana ada permintaan, di sana ada barang. Dimungkinkan memang kebanyakan bangsa ini memang menyukai berita-berita fitnah yang murah dan tak bermutu, sehingga bermunculanlah berita abal-abal, sayangnya itu juga ditiru oleh media besar sekaliber Metro TV dan TV One. Tapi harap maklum, karena memang media kita bukanlah media yang bisa berdiri sendiri, keuangan media masih mengharapkan banyak “uluran tangan”, termasuk dari pemangku kepentingan. Tak heran, jika kemudian bisa disimpulkan kenapa media-media itu bisa ditunggangi banyak kepentingan. Syukur Alhamdulillah jika media-media itu ditunggangi untuk kepentingan baik. Nah, jika ditunggangi untuk kepentingan bejat? Sekarang inilah yang Anda lihat, berita fitnah dan bohong ada dimana-mana.

Kembali ke masalah bingung. Tampaknya kita selaku masyarakat memang selalu menikmati berita fitnah yang tak lebih dari sebuah gosip itu, tanpa memfilternya terlebih dahulu, walau ada yang pro dan kontra terhadap berita itu. Dengan mata telanjang dan hati yang baik, serta pemikiran yang bersih, kita bisa melihat gosip-gosip yang dimunculkan oleh media-media berita televisi tersebut. Padahal kita mengetahui bahwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) telah mengeluarka fatwa tentang keharaman menonton acara infoteinmen. Alasannya, acara-acara tersebut berisi fitnah, menggumabr aib orang lain, dan berita bohong. Jika demikian akankah media-media berita nasional, termasuk Metro TV dan TV One, juga haram ditonton? Wallahu’allam.

Menyongsong Jumat Pagi di Kota Bertuah, 7 Rajab 1434 H

4 responses »

    • hahaha..edisi kali ini Tempo membahas mengenai analisis media TV untuk tunggangan partai, MNC, RCTI, Global TV, Metro TV, dan TV One.. Lalu pertanyaan saya, kalo Tempo?🙂

  1. Reblogged this on setiawanliman and commented:
    segala sesuatu pasti ada positif dan negatifnya,kita juga butuh informasi yang aktual namun sehat dan bisa diterima akal. Kita juga harus tahu bahwa media kini banyak digunakan untuk politisasi saja.

    • salam kenal mas setiawan. Iya mas, masih banyak sisi positif yang bisa diambil. Sayangnya sebagian besar dari kita malah memang lebih asyik menikmati sisi negatifnya..:) Semoga saja kita makin cerdas mengelola diri dalam menerima berita dari media..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s