Kami Tidak Butuh Pemimpin Labil

Standar

Tampaknya kekagetan banyak orang akan hasil Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrat (PD) belum berakhir. Walau, mungkin banyak orang juga sudah memprediksi skenario ini. Tapi kali ini kita tidak membahas mengenai siapa seseorang yang akhirnya yang terpilih. Tapi lebih kepada, kenapa bisa seseorang itu yang terpilih?

Menjadi hal menarik sekaligus memilukan ketika mengetahui, presiden kita, yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terpilih menjadi ketua umum PD.klb-sby-demokrat-130324b Menarik, karena ternyata semua kader PD memiliki otak yang hampir-hampir mirip dan tak jauh berbeda, liat saja mereka begitu kompak memilih Bapak SBY. Memang tidak ada yang salah dengan ini, karena ini adalah sebuah kebebasan. Toh, saya juga tidak menyalahkan mereka-mereka yang sangat ngotot memilih SBY sebagai ketua umum PD. Tapi ada hal yang memilukan bagi saya dan juga mungkin sebagian besar masyarakat Indonesia, bahkan ada sebagian merasa muak dengan tingkah presiden kita itu. Kenapa tidak? Lihatlah bagaimana ketidakkonsistenan Bapak SBY dalam bersikap. Saya rasa Anda pernah melihat dan mendengar ketika SBY dengan sangat jelas pernah bicara kepada menterinya yang memimpin partai atau berasal dari kader partai agar fokus memikirkan negara, jangan hanya memikirkan partai. Faktanya, kini SBY malah memilih menjadi ketua umum partai. Tidakkah ia sadar dengan ucapannya? Adanya ketua harian hanyalah akal-akalan saja.

Ketidakkonsistenan pemimpin kita di negeri ini, telah berimbas kemana-mana. Masyarakat tidak lagi percaya dengan gaya kepemimpinan, maaf, alay, yang dilakukan oleh pemimpin kita. Pemimpin yang tak konsisten dengan ucapannya, pemimpin yang lebih sibuk mengurus kepentingan pribadi dan kelompoknya, pemimpin yang lebih suka membesar-besarkan masalah kecil dan mendiamkan masalah-masalah besar. Ini lah potret yang harus kita akui, yang pada akhirnya, menjadi pemicu terjadinya krisis kepercayaan kepada pemimpin negeri ini dengan banyaknya upaya main hakim sendiri. Liat saja bagaimana upaya main hakim sendiri terjadi dimana-mana, sebut saja kasus di Oku, kasus di Cebongan, kasus di Palopo, dan rentetan kasus-kasus lainnya. Silakan jika Anda menyangkal hubungan yang coba saya sampaikan ini, karena toh ini memang murni hasil renungan saya pribadi tanpa diintimidasi oleh pihak kedua apalagi ketiga.

Namun, tentunya ketidakkonsistenan pemimpin kita, Bapak SBY, harus segera diakhiri, jika ingin negeri ini sesegera mungkin bangkit dari keterpurukan. Bapak SBY harus segera memilih, akan fokus kepada partai atau negara, seperti apa yang pernah dia sampaikan. Jika ingin tetap berada di partai, kesetiaan Bapak akan dipertanyakan sebagai pemimpin negara. Ada baiknya Bapak mundur dengan hormat jika ingin tetap berada di PD, karena saya dan banyak masyarakat Indonesia lainnya hanya ingin mengatakan, “Kami tidak butuh Pemimpin Labil.”

Tengah hari yang panas di Kota Pekanbaru

Indra Purnama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s