Itulah Indonesia!

Standar

Menjadi mahasiswa bukanlah perkara mudah kawan. Harus membuka buku, belajar, dan kemudian menghadapi ujian. Tapi… di sini lah letak tantangannya kawan. Menjadi mahasiswa saya belajar banyak hal. Saya mulai mengerti mengarungi “universitas kehidupan” juga dari menjadi mahasiswa. Jadi apa setelah mahasiswa tidak perlu dikhawatirkan. Toh, semua sudah diatur. Kamu hanya perlu berusaha, berdoa, lalu bersabar. Tidak ada manusia yang disia-siakan oleh sang khalik selama memang manusia itu pantas untuk ditolong. Tapi… Ternyata ada juga tapinya kawan. Tapi di sini, saya kira kita harus berusaha, berdoa, dan bersabar berkali-kali lipat. Apa pula pasalnya? Jawabnya karena kita tinggal di Indonesia.

Beberapa bulan silam sebelum saya kembali menjadi mahasiswa di sini (UGM, red) saya harus mendengarkan omelan Bapak terhadap pelaksanaan e-KTP. Warga dibagi berdasarkan kelurahan untuk datang merekam data e-KTP. Jam 8 pagi saya pun sudah tiba di sana dengan Bapak untuk segera merekam. Jam 8 yang biasanya sepi, bahkan kadang petugas kecamatan saja belum datang, saat itu ramai sesak. Setengah hari sudah, tetapi antrian tetap tidak berkurang, bahkan bertambah banyak. Berbagai saran yang diberikan warga untuk mempermudah pelaksanaan perekaman tak digubris. Alhasil dalam satu minggu itu dihabiskan warga untuk melakukan perekaman. Bapak saya yang darah tinggi tentu saja marah-marah. Lalu selesai marah, saya tanyakan ke Bapak, “Sudah marahnya? Bapak marah ke siapa? Pegawai ini?” Ya, kepada siapa kita mau marah? Pegawai hanya menurut pada atasannya. Atasannya hanya menurut pada kepala dinas, dan kepala dinas hanya tunduk kepada kepala daerahnya. Jadi percuma saja membuang-buang energi untuk marah-marah, karena kita tinggal di Indonesia.

Masih banyak hal lain yang tentunya teman-teman terduduk lemah seraya berkata, “Yah, itulah Indonesia.” Dalam setiap mengurus apa saja selalu saja ada kalimat, “Jika bisa dibuat susah, kenapa dipermudah.” Birokrasi berbelit ini berujung pada duit. Sehingga tanpa  berkali-kali lipat usaha, sabar, dan doa, kecil kemungkinan bisa bertahan, tentunya tidak hanya dialami mahasiswa saja. Namun,  bisa jadi saya salah. Mungkin ini hanya persepsi saya belaka, yang tidak mewakili banyak orang. Semoga saja. Karena memang saya sendiri tidak pernah berharap siapa pun anak negeri ini meremehkan Indonesia. Bagi saya sekalipun “Itulah Indonesia” seperti yang saya persepsikan dan bagaimanapun dengan kondisi oknum pemimpin bangsa ini yang telah “mengobra”l ibu pertiwi, tidak menyiratkan semangat optimis saya untuk bisa bermanfaat bagi negeri ini dengan cara yang baik dan benar, sekecil apapun, dan sehina apapun itu di mata banyak orang. Tuhan, jaga niat ini dan semoga ini dapat menjadi cara bagi saya mendekatkan diri dengan bau surga-Mu. Amin ya rabb.

Pulogadung, 2 Safar 1430 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s