Negeri Budak

Standar

“Mendadak hati ini sakit mendengar sebutan itu ditujukan kepada negara saya. Ini bukan masalah kata itu jujur atau tidak, ini masalah nasionalisme, karena negara ini telah memberikan saya sebuah kehidupan dan cinta”


Kawan, deskripsi di atas hanyalah sebuah rintihan. Rintihan kekesalan diri seorang yang tak bisa dibendung lagi. Kesal karena bangsa ini kini telah menjadi semakin hina, hina karena rakyatnya memang ingin dihina. Hina karena rakyatnya memang ingin menjadi budak. Selamanya atau hanya sementara? Ah, tidak ada yang tahu kawan.

Kau perlu tahu kawan, banyak orang baik di negara ini, yang sama pemikirannya dengan seorang yang merintih itu. Tapi sayang, jumlahnya jauh lebih sedikit dibanding mereka yang menginginkan perbudakan tetap mendarah daging di bumi pertiwi ini. Ah, jangan kau tanya siapa itu kawan? Kau lihatlah cermin di ujung sana, kau bisa lihat bajingan itu, bajingan yang mau menang sendiri.

Tidakkah kau lihat kawan, siapa yang menguasai bumi dan segala isinya kini, kawan? Bukan negara, bukan kita, tapi mereka yang punya kuasa. Semua yang baik dari bangsa ini diobral kawan. Kita hanya dapat sepah nya saja, itu pun kalau ada disisakan untuk kita kawan. Alamak, kita bangga kawan ketika kerja di kebun kelapa sawit, tapi kau perlu tau kawan, kau hanya budak, yang bisa disepak kapan saja. Yang punya kebun siapa? Belum lagi lihat orang berdasi yang kerja di perusahaan minyak dan tambang lagi-lagi itu hanyalah budak kawan, tidak ada yang perlu kau banggakan.

Kita pergi keluar negeri menghindari perbudakan ini. Naas. Lagi-lagi, kita menjadi budak. Malah kadang disetrika dan disiram air panas. Oooooooooohhhhhhh, tidak dapat saya berkata lagi kawan. Sejenak saya berpikir, hal apa yang bisa saya lakukan? Ah, saya hanya rakyat kecil biasa kawan, tanpa kawan saya hanya akan siap menjadi debu ditiup badai.

Oh, Tuhan, kepada siapa lagi kami mengadu? Tidakkah Kau kasihan dengan bangsa ini? Bangsa yang kini tak ubahnya seperti bangsa yang nelangsa, hidup segan mati tak mau.

Ah, saya lupa Tuhan akan janjimu. Janji sebuah kesejahteraan jika mau merubah diri. Intinya, kita harus keluar dari perbudakan ini jika ingin hidup yang lebih baik. Mudah? Untuk kesekian kalinya, tidak mudah kawan. Saya juga sempat pesimis, tetapi tidak untuk saat ini, karena  saya semakin optimis menatap masa depan Indonesia. Saya sadar bahwa tidak ada jalan lain selain merubah sikap untuk bisa menghentikan perbudakan ini. Saya harap kawan juga optimis merubah wajah bangsa ini menjadi baik. Kawan, mari kita mulakan dengan membuang sikap egois dari dalam diri dan peduli lingkungan. Kawan, kita buka mata dan hati kita untuk mulai memperbaiki luka-luka bangsa dengan banyak cara. Jika tidak sekarang, mau kapan?

Tengah Malam di Yogyakarta, 22 Jumadil Akhir 1433 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s