Kebaikan dalam Keheningan

Standar

Banyak alasan sebenarnya kenapa saya terlalu lama membiarkan rumah ketiga ini ditinggali, sehingga banyak sarang laba-laba dimana-mana. Tapi hanya satu yang dapat saya sampaikan, saya hanya takut. Takut yang tidak beralasan bagi sebagian orang, tapi sekali lagi untuk hal ini saja, saya punya banyak alasan. Ah, sudahlah, seperti yang pernah saya sampaikan tak elok membahas hal remeh temeh seperti itu. Biar itu jadi pemikiran saya saja.

Beberapa kesempatan yang lalu, saya pernah bersama rekan-rekan Climate Smart Leader 2011 menjalani 1 minggu di camp yang sama. Saya banyak mempelajari berbagai hal, salah satunya mengenai tipe orang, giver dan taker. Tipe manakah kamu?

Saya hanya ingin berbagi dari pengalaman lama tersebut yang baru sempat saya berikan pada hari ini, bahwa ternyata seorang bertipe giver saja atau taker saja tidak 100% baik. Benar-benar keseimbangan berlaku di sini sehingga seorang itu disebut seorang yang bijak menghadapi hidup. Saya tidak menghakimi kamu atau siapa saja yang selalu menjadi giver atau selalu menjadi taker, saya hanya memperuntukkan bagi diri saya, agar selalu ingat bahwa hidup di dunia hanya sesaat.

Pertanyaan selanjutnya? Sudah berapa banyak kamu menerima manfaat dari orang lain? Dan sudah berapa banyak kamu memberi manfaat bagi orang lain? Saya pura-pura tidak tahu bahwa bangsa ini banyak tipe giver atau taker, karena saya sudah mengatakan saya tidak mau lagi menghakimi. Kenapa? Percuma, karena tak ada pengadilan kebenaran selain yang dimiliki Sang Pencipta. Yang bisa saya hakimi hanya diri saya saja dan mengingatkan kepada orang yang saya anggap salah dari referensi pengetahuan saya yang tidak seberapa. Itu saja.

Kita perlu menerima manfaat dari orang lain, dengan demikian dari kita yang tidak tahu menjadi tahu, dari yang tidak punya menjadi punya, yang tadinya sedikit, jadi banyak. Tapi di satu sisi, kita perlu memberi manfaat dari manfaat yang kita terima atau yang telah kita punyai, sehingga orang menjadi penerima manfaat dari kita.

Pura-pura tidak tahu, bukan berarti saya cuek. Saya hanya sedang mencari pejuang-pejuang yang mau mengobati luka-luka bangsa yang sudah terlanjur melebar kemana-mana. Lihatlah berapa banyak manusia Indonesia, termasuk saya mungkin di dalamnya. Diam ketika menerima, seakan-akan bahwa kita sama sekali tidak pernah menerima dan mengklaim bahwa itu memang punya kita. Lalu digadang-gadang ketika dalam posisi memberi. Ini lah yang disebut pencitraan diri.

Pencitraan bisa menjadi penting dalam hal memacu semangat orang lain untuk berbuat yang sama atau lebih. Istilahnya kerennya menginspirasi. Tapi sayang, perbedaan antra pencitraan dan kesombongan sangat tipis sekali. Bahkan bagi sebagian besar orang, hal ini dijadikan senjata untuk mendapat dukungan. Beberapa tahun belakangan ini saya punya beberapa tokoh yang sempat saya idolakan. Tapi ternyata sama saja, setelah dihadapkan pada pencitraan media. Tingkah baiknya menjadi hal yang tak menarik lagi buat saya. Bagi sebagian besar mungkin membela sang pejabat yang “menginspirasi” tersebut.

Hal ini lah salah satunya yang membuat saya takut, niat menginspirasi, berubah menjadi menyombongkan diri. Saya telah berbuat ini, kamu? Itu istilah kasarnya. Pentingkah kita “menonjolkan” apa-apa yang telah kita buat? Seberapa pentingkah? Saya harap kamu punya jawaban, karena sampai hari ini saya masih memikirkannya. Namun, tidak itu yang ingin saya bahas pada kesempatan ini. Saya ingin bersama-sama dengan kamu membuka mata dan hati untuk melihat hal-hal menginspirasi secara langsung dibanding melalui media, karena media telah dibumbui kata-kata yang “kebanyakan” tidak jujur.

Berapa banyak petani yang sampai saat ini masih mempertahankan lahannya untuk menjadi sawah di tengah arus globalisasi. Berapa banyak nelayan yang harus mengorbankan nyawanya untuk memberi makan anak-istri. Berapa banyak TKI yang walau sudah disetrika tetap saja bekerja. Berapa banyak guru-guru yang mengajar di pelosok-pelosok negeri ini demi mencerahkan masa depan anak bangsa, dan masih banyak lagi. Saya bersyukur karena mereka tetap melakukan kebaikan tanpa harus ada media yang meliput. Pertanyaan selanjutnya? Bisakah kita membuat kebaikan seperti mereka, kebaikan dalam keheningan, kebaikan yang tak tampak dan tak mengharapkan apa-apa? Mari mencoba. Insyaallah bisa.

Pogung Kidul, 10 Jumadil Akhir 1433 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s