Gerbong 7

Standar

Catatan Perjalanan 14 Jam di Kereta Api

Waktu menunjukkan pukul 3 dini hari ketika saya melirik ke hape yang terletak di samping kepala saya. Udara dingin yang sudah masuk memenuhi udara kamar, membuat keinginan meringkuk dalam selimut menguap kembali. Saya lupa menutup jendela kamar yang terletak di lantai 2 ini. “Uh, ga boleh tidur lagi,” hati saya berbicara.

Saya segera bangkit dari tempat tidur, sementara teman sekamar saya tampaknya masih menikmati mimpi. Memang bagi saya pagi-pagi di kota ini tampak berbeda dibanding kota asal saya. Di sini, waktu shalat subuh pukul 4 kurang. Jadi memang aktivitas berjalan lebih cepat. Saya harus mengikuti ini. Demi apa? Kadang saya junga bertanya, “demi apa?” Ah, sudah lah semua orang tentunya punya pilihan tentang apa yang ia tuju dan tak patut pula orang perlu tahu tentang pilihan itu. Itu pula yang coba saya terapkan. Saya hanya ingin Dia tidak marah. Saya takut, karena saya terlambat mengetahui. Tapi tak apalah terlambat, dibanding tidak tahu sama sekali. Harapan itu selalu ada. Hmm, terlalu panjang  saya bercerita hingga cerita yang ingin saya sampaikan tidak kunjung tersampaikan.

Jam dinding kamar menunjukkan pukul 05.45 WIB. Saya pun segera bergegas menuju stasiun. Teman yang tadi masih belum sadarkan diri, kini telah siap menempuh perjalanan panjang. Yup, panjang, karena menghabiskan waktu 14 jam. Apa yang dituju? Ah, pertanyaan muncul kembali. Sudah lah tak perlu dibahas *yang penting kamu harus tahu apa yang kamu tuju*

Pukul 07.30, Setidaknya begitu terlihat pada sebuah benda berbentuk lingkaran yang diberi nama jam di salah satu dinding stasiun. Saat kereta ini mulai bergerak, ada perasaan senang agak membuncah. Tapi sayang, hanya beberapa menit setelah kereta melesat meninggalkan stasiun, saya terlelap. Saya kurang tidur memang, beberapa  hari belakangan ini saya sering tidur larut.

1 jam berselang, saya terbangun. Ternyata kereta telah tiba di sebuah kota yang cukup bersejarah di negeri ini. Perasaan sesak dan perih muncul, ketika saya melihat situasi ini. Di gerbong ini, saya melihat wajah Indonesia yang mungkin tak pernah terlihat sama sekali oleh sebagian besar pejabat di negeri ini, mungkin juga kamu. Tapi apa hendak dikata, situasi ini pula lah yang membuat saya selalu bersyukur, karena saya bisa menikmati ilmu pengetahuan tanpa ada embel-embel jika sekolah, maka tak kan pernah makan konsekuensinya. Ah, saya kembali ngawur. Ini karena memang saya hidup di negeri yang ngawur. Ada yang marah? Itu hak kamu kawan. Tapi apa? Selalu harus ada optimisme kawan. Negeri ini akan keluar dari kengawuran ini, jika K-I-T-A sama-sama tidak ngawur. Siapkah? Saya harap kita harus siap. Mau tidak mau, siap tidak siap, kita dituntut berubah kawan. Tidakkah kita ingin nasib kita berubah? Ya, kita harus merubah sikap kita kawan. Ya, sikap yang buruk menjadi sikap yang baik. Mudah? Tentu tidak, tapi yakin kan hati kita kawan, kita ingin B-E-R-U-B-A-H menjadi manusia yang baik. Apa pun latar belakangmu kawan, saya rasa yang namanya kebaikan itu mutlak, harga mati. Nah, kan ngawur lagi. Baik kawan, saya akan kembali berkisah.

Kereta ini tampaknya tak pernah lelah. Sudah lebih 10 jam berlalu, suara yang dimunculkan dari kereta ini masih saja gagah, walau hanya kelas ekonomi. Tapi tetap saja tiap menit, ops ralat, tiap detik, selalu saja ada yang membuat saya bergidik melihat potret bangsa ini. Hanya dari kursi 9E ini. Sekali lagi hanya dari kursi yang saya duduki. Saya tidak kemana-mana. Hanya dari kursi. Kesedihan ibu pertiwi sangat tampak dengan jelas, tanpa ada yang menghalangi. Kaca jendela kereta berukuran 100 cm x 50 cm (perkiraan) tak bisa menutupi apa yang saya lihat. Negeri ini tampak “telanjang” di mata saya. Tidakkah ada yang matanya terbuka melihat apa yang saya lihat? Hmm, saya rasa tidak. Saya mengira kamu dan juga yang lain juga melihat. Tapi kenapa hanya diam? Saya juga bertanya pada diri saya, kenapa saya diam? Saya tidak bisa menjawab, bisu dan kelu.

Dalam ketenangan saya tahu, saya tahu jawaban kenapa selama ini saya diam. Selama ini saya menunggu untuk berbuat baik. Menunggu pemerintah yang bertindak, menunggu perusahaan secara keroyokan tergerak hatinya melalui sebuah proyek yang dinamakan CSR, menunggu orang baik yang memiliki kelebihan harta mendermakan hartanya. Oh, terlalu. Terlalu lama saya mengetahui ini, kenapa selama ini harus menunggu yang tidak pasti. Uh kawan, apakah ini juga yang teman rasakan? Menunggu? Atau mungkin mata kawan tidak buta, tapi hati kawan yang telah tertutup awan hitam? Naudzubillah, semoga bukan karena ini kawan.

Pengemis mengais-ngais tong sampah, rumah-rumah kumuh yang berjejer berantakan yang saya ragu apakah kaki atau kepalanya tertutupi ketika hujan turun, penjaja kue yang entah sejak kapan dan sampai kapan ia menelusuri lorong-lorong gerbong kereta sambil mengendong dagangannya, boleh lah kalo pedagang itu masih muda, ini bukan muda lagi, tapi lelaki dan perempuan tua renta, yang seharusnya menikmati masa tuanya hingga hari pemanggilan itu tiba. Saya menangis kawan, benar-benar menangis. Saya selalu teringat surat Ar-Rahman di kala itu.

Tapi cukup. Saya tidak bisa bercerita banyak lagi. Saya harus berbuat sesuatu. Mulai dari mana? Dari diri saya sendiri tentunya. Semoga begitu juga kawan semua. Mari kita menjadi individu-individu yang berkarakter menuju bangsa yang berkarakter. Sudah saatnya kita menyudahi saling salah menyalahkan. Saatnya kita membuat aksi nyata. Dari gerbong ini saya kembali belajar, gerbong 7

Gerbong 7, Medio Muharram 1433 H

Sebagai bahan renungan, coba lah menilik lirik lagu Chrisye berikut ini:

Akan datang hari
Mulut dikunci
Kata tak ada lgi

Akan tiba masa
Tak ada suara
Dari mulut kita

Berkata tangan kita
Tentang apa yang dilakukannya
Berkata kaki kita
Kemana saja dia melangkahnya
Tidak tahu kita
Bila harinya
Tanggung jawab, tiba…

Rabbana
Tangan kami
Kaki kami
Mulut kami
Mata hati kami
Luruskanlah
Kukuhkanlah
Di jalan cahaya
Sempurna

Mohon karunia
Kepada kami
HambaMu
Yang hina

7 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s