Jepang, Oh Jepang (Jilid 2)

Standar

Hawa dingin begitu menusuk pagi itu. Saya pun terbangun karena kedinginan. Saya melirik jam tangan yang berada di sisi telinga saya. Masih pukul 4 pagi. Hmm, saya berencana akan berangkat tidur kembali, karena yang kawan-kawan lain juga masih terlelap, mungkin juga sedang ditaburi mimpi. Tapi entah kenapa, mata saya menangkap cahaya terang dibalik fentilasi udara. Saya tersentak kaget, saya saat itu bukan berada di Indonesia, lebih tepatnya Pekanbaru, melainkan di Kyoto, Jepang. Waktu di Jepang lebih cepat 2 jam dibanding Indonesia bagian barat. Artinya saat ini waktu telah menunjukkan pukul 6 pagi. Dengan tergopoh-gopoh saya menuju toilet untuk mengambil air wudhu, setelah itu membangunkan yang lain dan segera menyelasaikan kewajiban shalat subuh berjamaah. Fiuh, awal yang kurang bagus memang.

Usai shalat dan menyiapkan sarapan seadanya, yang saya sebut menu luar negeri (Pop Mie + Rendang), saya dan kawan satu kamar lainnya pun secara bergantian mandi pagi. Oh ya, yang masalah rendang tidak dibeli di Jepang, saya membawanya dari Indonesia. Buatan Emak. Sebagai informasi, kebanyakan penginapan tradisional Jepang (Japanese Style), kamar mandi yang tersedia adalah kamar mandi kolam berjamaah, dan kabar baiknya, air hanya ada waktu malam hari. Jadi pagi hari, kebanyakan orang Jepang tidak mandi pagi. Hmmm, hal ini sulit untuk dicontoh. Oleh karena itulah, dengan alasan: Pertama, mandi bagi saya dan ternyata juga teman-teman yang lain adalah menyangkut privasi; Kedua, pelaksanaan mandi yang hanya bisa dilakukan 1 kali sehari, maka kami memutuskan mandi di dalam toilet yang luasnya tidak seberapa. Kebetulan di toilet tersebut ada sebuah ember. Jadi ember itu yang kemudian kami isi air dari wastafel dan dibawa ke dalam toilet sebagai air pembasuh. Hal inilah yang kami lakukan bergantian selama 6 kali dalam 3 hari di hotel tersebut.

Usai mandi, kami pun segera menuju Uji Kampus Kyoto University. Ini adalah hasil jempretan perjalanan kami menuju kampus.

Bersama anak-anak Jepang

Bersama anak-anak Jepang

Welcome to Kyoto University

Welcome to Kyoto University

Kihada Hall Uji Kampus Kyoto University, Japan

Kihada Hall Uji Kampus Kyoto University, Japan

Foto Bersama dalam Kihada Hall

Foto Bersama dalam Kihada Hall

Setiba di sana registrasi dan sebagainya dan kemudian diadakan konferensi. Hingga pelaksanaan totalnya adalah 2 hari. Peserta kegiatan ini cukup ramai dibanding AISC Taiwan yang lalu. Tapi jika dilihat dari segi panitia, saya rasa panitia AISC Taiwan jauh lebih sigap dibanding Sustain 2011. Walau begitu, acaranya tetap keren, karena saya bertemu dengan banyak orang yang luar biasa menjadi sumber inspirasi saya untuk menjadi manusia yang lebih baik. Amin.

Pada hari pertama kegiatan, malamnya dilaksanakan Gala Dinner. Nah, hasrat untuk makan enak begitu menggelora malam itu, karena yang memasak makanan adalah orang muslim Indonesia dengan kebanyakan menu berasal dari Indonesia. Saya yang terbiasa makan duduk

pun, cukup kuwalahan dalam mencicipi semua makanan yang ada. Akhirnya saya berinisiatif bersama Sandi dan Rahman untuk mengumpulkan makanan dan segera membawa ke sudut ruang makan. Nah, di sana lah kami menikmati makanan.

lesehan di Gala Dinner

lesehan di Gala Dinner

Kemudian saat acara Gala Dinner usai, makanan masih banyak tersisa, kami mengambil inisiatif untuk membungkus semua jenis makanan, kebetulan Rahman membawa tas yang cukup besar. Tak hanya hampir semua jenis makanan, air mineral 2 botol besar, pepsi 1 botol, dan fanta 1 botol besar, juga ikut kami selamatkan untuk bekal minuman di penginapan. Air mineral botol kecil dihargai 18 ribu di Jepang. Saya yang peminum tentunya akan tekor jika harus membeli air mineral. Kwkwkwkw. Awalnya semua menatap sinis, tapi kami santai aja, toh gak ada yang kenal juga dan untuk semua makanan ini juga kami sudah bayar, jadi dibanding mubazir, kan lebih baik dimakan. Tapi, watak asli peserta lain juga terlihat ketika panitia mengumumkan bahwa makanan boleh dibawa pulang, semua berdesakan mencari kantong plastik untuk membungkus makanan yang ada. Saya yang merasa sudah sedia payung sebelum hujan pun merasa ada yang kurang, yaitu membungkus nasi, saya pun langsung menuju rice cooker dan segera mengambil nasi, serta mengajak teman-teman lainnya. Tapi ternyata tidak hanya nasi yang diambil, piring, gelas, sendok, ternyata juga raib. Hmmmm, untung rice cooker tidak ikut diambil. Pulang ke penginapan, kami membawa beban yang cukup berat. Malam itu kami pun berpesta.

Ini adalah foto wajah-wajah riang mahasiswa Indonesia yang membawa pulang makanan dalam jumlah banyak.

                                  

Kami juga berkenalan dengan beberapa mahasiswa Jepang, mereka sangat ramah, serta beberapa peserta dari negara lain. Ini foto-foto mereka.

Sakakibara cs

Selama dua hari itu pulalah tali persaudaraan kami terikat sangat erat, terutama dengan Prof. Kumar dari India, Kyungshun dari Korsel, Pak Abdul Rochim dari Semarang, dan teman-teman dari Indonesia yang sempat hadir pada kegiatan ini, terkhusus kepada Rahman, Monic, Viviq, Uti, Sandi, dan Jeje. Kami pun berkelanan selepas kegiatan bersama-sama.

Kamar di Osaka

Kamar di Osaka

Kami memilih check-out dari penginapan di Kyoto pada 10 Okt pagi. Sebenarnya masih ada rencana untuk keliling di sekitar Kyoto, Nara, dan Kobe. Tapi dikarenakan biaya penginapan yang terlampau mahal dengan fasilitas serba minim, akhirnya kami memilih hengkang ke Osaka yang penginapannya lebih murah dengan fasilitas lebih lengkap. Syukron katsiran saya ucapkan ke Mas Dedi Eka Priyanto, Ketua PPI Kyoto yang sangat membantu saya dan beberapa rekan lain dalam hal fasilitas internet dan informasi situs-situs penting di Jepang, terutama situs transportasinya. Semoga amal ibadah mu Mas diterima di sisi-Nya. Loh kok??? Afwan Mas.

Nah, sekadar saran buat kawan-kawan, sebaiknya jika ke luar negeri bawalah kartu kredit atau jika tidak punya, pinjam kartu kredit orang lain, atau yang lebih ekstrim, paksa orang yang punya kartu kredit untuk ikut. Sangat penting sekali terutama untuk membooking hotel atau hostel. Atau pesan dari Indonesia. Karena bisa jadi ketika kita sudah berada di penginapan, ternyata penginapannya penuh, jadi dengan fasilitas internet dan kartu kredit kita bisa reservasi kamar.

Hal itu pulalah yang terjadi dengan kami. Kami mereservasi hotel yang paling murah dan masih ada yang kosong di Osaka, tempatnya dekat dengan Shinimamiya Sta. Oh ya, informasi tambahan, di banyak penginapan murah di Jepang, harga tidak berdasarkan kamar, tapi berdasarkan orang. Di Osaka, kami mendapatkan harga 1500 JPN per orang per malam dengan fasilitas wi-fi, kamar mandi yang sangat representatif, dan air panas gratis untuk merebus Pop Mie, serta kamar yang dilengkapi dengan lemari, AC, dan TV. Tapi fasilitas yang terakhir tidak begitu berguna, karena seluruh tayangannya berbahasa Jepang.

Sebelum menuju hotel di Osaka, dalam perjalanan itu, kami singgah ke Kyoto Tower dekat Kyoto Sta, yang katanya adalah tempat belanja murah di Kyoto. Namun, dengan jinjingan tas seperti orang mudik, kami pun merasa risih. Tapi tenang, kami menemukan solusi yaitu menitipkan tas di locker-locker yang tersebar sangat banyak di Kyoto Sta. Dengan mengeluarkan 60 JPN, masalah tas teratasi. Kami pun siap menjelajahi Kyoto. Berikut adalah petikan foto selama perjalanan di Kyoto.

Bertemu Orang Indonesia di Kyoto Tower

Bertemu Orang Indonesia di Kyoto Tower

Berfoto with Wanita Berkimono

Berfoto with Wanita Berkimono

Belanja di Jepang memang tidak ada murahnya. Agaknya begitu kalimat yang ingin saya katakan. Betapa tidak, harga 1000 JPN aja termasuk murah di Jepang untuk barang yang tak seberapa. Mainan kunci berkisar antara 300-750 JPN. Harga yang cukup mahal jika saya harus membeli 30 mainan kunci. Inilah kawan kenapa saya tidak membawa oleh-oleh, barang-barang di Jepang terlalu mahal, sementara saya tidak bisa membeli 1 atau 2 buah, karena kalian semua adalah kawan terbaikku. Jadi jika 1 dapat, yang lain juga harus dapat. *ngeles.com

Oke kembali ke perjalanan. Usai dari Kyoto kami pun segera menuju Osaka. Perasaan senang begitu jelas terlihat di wajah kami ketika mendapatkan hotel yang lebih layak. Terutama setelah memegang kertas wi-fi. Wah, dunia terasa berguncang saat itu saking senangnya ketika kami loncat-loncat kegirangan. Setelah membersihkan badan, serta melaksanakan shalat magrib, kami yang laki-laki, saya, rahman, pak rochim, dan sandy, segera keluyuran keliling Osaka, sementara para ibu, uti, viviq, jeje, dan monic lebih memilih lama untuk online, tapi mereka juga mengelilingi Osaka setelah itu dengan jalur berbeda dengan yang kami lalui.

Rahman di tengah tumpukan mainan yang tak terbeli

Purnama di Osaka

Dalam perjalanan itu, saya sejenak menikmati purnama malam itu. Purnama yang belum sempurna. Sungguh anugerah Allah swt.yang tidak dapat saya ungkapkan ketika saya bisa menikmati purnama di tempat-tempat baru. Hmmm, sejenak saya merasakan kedamaian. Well, perjalanan kami disudahi di sebuah mall yang sangat artistik di daerah Osaka.

Pulang dari perjalanan malam itu, saya melampiaskan nafsu berinternatan. Saya berencana akan ke Gifu, tempat Bu Roza dan Pak Alwis, dosen yang memberikan begitu banyak ruang untuk bergerak. Terimakasih Bu, Terimakasih Pak. Emak menitipkan rendang untuk Bu Roza dan Pak Alwis. Setelah melalui pesan dan diimingi dikasih ongkos, saya dengan niat yang sangat kuat berencana akan ke Gifu besok sore. Tepat pukul 12 pada malam itu saya pun segera menuju pembaringan dan tidur untuk beberapa saat.

6 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s