Malam-malam Tertutup Kabut

Standar

Ada perasaan yang berbeda tiap kali saya berada di malam pertengahan bulan hijriah. Saya ibarat merajai malam. Hmmm, setidaknya itu yang saya rasakan. Atau mungkin karena saya lahir di malam-malam dipertengahan bulan Islam itu? Ah, tak payah lah berkontemplasi lebih jauh, karena juga akan membingungkan orang lain. Tapi setidaknya saya ingin berbagi kisah.

Tapi beberapa malam ini, saya, yang merasa “raja”, harus berbesar hati ketika malam-malam saya tertutup kabut. Lebih tepatnya asap. Jengah dan marah. Itu yang ingin saya sampaikan. Ini bukan perkara karena saya ingin “menguasai” malam, melainkan karena jengkel terhadap kondisi yang tak pernah habis dari bumi, ini lah yang disebut musim pembakaran. Malam-malam pun menjadi kelam dan tak menarik. Atau mungkin memang karena bulan memang tak lagi semenarik dulu? Ah, entahlah. Tapi menurut saya bulan tengah malam itu, masih saja ditemani bintang-bintang jika tak tertutup asap seperti beberapa malam belakangan ini. Walaupun itu tak sebanyak dulu-dulu. Ini patut pula lah dipikir-pikir, karena zaman sudah berubah, si bulan di tengah bulan pun sudah tak muda lagi. Hmmm, manusia hanya menduga-duga.

Bercerita tentang malam-malam di tengah bulan, sulit saya gambarkan kawan. Ada perasaan yang sulit saya lukiskan. Senang dan sedih sulit saya pilah ketika melihat malam di tengah bulan, karena memang malam-malam di tengah bulan sungguh sangat bernilai bagi saya. Namun, saya frustasi jika tak dapat menikmati malam di tengah bulan. Termasuk beberapa malam belakangan ini. Tapi setidaknya saya sedikit bahagia ketika pulang mengajar malam ini. Walau tampak malu di balik awan hitam, saya setidaknya dapat menikmati sedikit saja rasa “berkuasa”. Jangan tanya rasanya bagaimana, karena saya juga tidak tahu bagaimana rasanya.

Ah, kawan, saya jadi teringat ketika berada di malam-malam tengah bulan di Negeri Formosa. Saya tak mendapati malam-malam di tengah bulan sedikit pun, termasuk bintangnya sekalipun. Entah apa penyebabnya. Kemungkinan besar karena cuaca dingin yang menyebabkan malam-malam di tengah bulan benar-benar tak muncul akibat tertutup kabut. Walau begitu, saya hampir tak pernah absen untuk sekadar mendongak ke langit ketika berada di tengah-tengah kerumunan masyarakat keturunan China. Berandai-andai, mana tau saja malam-malam di tengah bulan dapat sedikit saja saya nikmati. Ternyata sia-sia, hingga saya meningggalkan Negeri Formosa pun, bulan tengah bulan pun tak menampakkan wujudnya, begitu pula dengan bintang-bintang. Hmmm, tapi saya selalu berharap orang-orang dapat menikmati malam-malam yang tak tertutup kabut. Semoga. Wallaualam

Pekanbaru di tengah malam berkabut, Medio Syawal 1431 H

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s