Meninggalkan Indonesia (Part 3 di Taipei dan Jakarta)

Standar

Hari sebelumnya Kamis, 17 Maret, kami mengunjungi Taipei Flora International Expo. Kesukaan saya pada objek bunga terobati. Puas sekali mengambil objek di sini. Tempat yang bersih membuat saya kadang tiduran mengambil objek. Untung saja tidak ada yang menyangka gila. Berikut beberapa objek yang saya ambil.

foto bunga2    bunga 3

bunga 4    bunga 1

Selain itu, saya juga iseng ngambilang foto pengunjung, dan kabar baiknya mereka suka.hehehe

pengunjung 1

peace woman

Ternyata di sini juga ada stand Indonesia, tapi sayang tak ada orang yang mau menjelaskan tentang keanekaragaman hayati Indonesia.

stand Indonesia di Taiwan International Flora Expo     stand Indonesia2 di Taiwan International Flora Expo

Keesokan dua harinya, Sabtu, 19 Maret, Acara yang dimaksud pun dimulai. Tak ada yang terlalu berkesan pada momen ini kecuali dari pemaparan pemateri mengenai produk pertanian yang dihasilkan oleh Jepang atau pun Taiwan. Mereka menggunakan teknologi hampir dari seluruh kegiatan pertanian yang mereka hasilkan. Luar Biasa. Acara selanjutnya dilanjutkan dengan agenda foto-foto. Saya berkesempatan berfoto dengan Mantan Menteri Pertanian RI Jilid I, Pak Anton.

Foto Bareng Pak Anton, dan Dosen ITS + Unand

Acara kemudian masuk ke kelas dan selanjutnya makan-makan. Nah, di sini, walau tidak tahu siapa yang memasaknya, saya pun makan dengan lahap begitu pula dengan Pak Ditdit, keliatan dari gayanya celingak celinguk buat nambah entah untuk ke berapa kalinya. V^^. Penanggungjawab makanan adalah orang Indonesia yang beragama Islam, ditambah, dia adalah mahasiswa Indonesia di Taiwan. Sehingga jika dia memberikan makanan yang tidak halal, dia yang bertanggung jawab. Hehehehe. Usai makan dilanjutkan dengan materi konferensi. Yang sebenarnya sangat banyak bisa saya ceritakan. Namun, dikarenakan penyampaiannya dalam bahasa Inggris dan dua hari sebelumnya saya asyik berjalan-jalan ria. Justru di saat paling penting itu, saya tertidur.hehehe. Tapi gak lama kok. Cuma 15 menit.

yang lain juga tidur tuh

Usai tidur, saya pun kembali khidmat mendengarkan materi. Eh, ga berapa lama lagi, tidur lagi. Wah, gawat nih. Sampai-sampai Pak Ditdit nawarin, “Ndra, minum kopi yok di warung sebelah sambil makan ketoprak,” Dasar tuh bapak, udah bapak-bapak tapi masih gokil aje. Yang ada malah tidur lagi sambil ketawa garing. Jadi kalo ditotal-total hampir 1 jam saya tertidur. Tapi yang jelas ilmunya nyampai. V^^

Hmm. Kemudian acara dilanjutkan dengan foto bersama kontingen Indonesia dan beberapa mahasiswa Indonesia di Taiwan. Namun, fotonya saya tak punya. Jadi foto saat pas nyampai di Asia University aja ya saya pasang. *saya ga ikut difoto, karena saya yang motoin*

depan Asia University, Taichung-Taiwan

Tapi sayang, di saat melakukan kunjungan ke beberapa pusat pertanian dan wisata di Taiwan pada hari selanjutnya, saya dan Pak Ditdit harus meninggalkan Taiwan dan kawan-kawan. Kami harus pulang cepat. Alasannya cuma satu, hanya tanggal 20 Maret lah tiket paling murah.hayahay. Tapi tak apalah, lagian juga udah terobati dengan datang lebih awal. Pagi-pagi sekali Ahad, 20 Maret, saya dan Pak Ditdit telah menyantap menu Pop Mie + Rendang. Alasannya, Mas Septian telah membooking tiket Bus menuju Taipei Terminal Bus pukul 9 pagi. Yup, memang benar, kami tidak langsung menuju Bandara Internasional Toayuan. Kami singgah ke Taipei  Station untuk mencari sesuatu, yaitu oleh-oleh. Kata orang-orang sih, kalau belanja di terminal, baik itu bus, kereta, bandar udara, pasti mahal. Tapi gak kok di Taipei. Di sana cukup murah. Kuncinya kalo belanja, jangan mengali-mengalikan dengan rupiah. Itu kuncinya jika ingin belanja di luar negeri. Jika seperti itu, hmmmm, kemungkinan gak ada yang dibeli.heheh. Saya belanja sampai dolar Taiwan saya habis. Untuk siapanya urusan belakangan, karena pengalaman yang saya alami, setiap oleh-oleh yang saya bawa selalu tandas dalam hitungan menit.

Pak Ditdit Masih Ngantuk Saat Pagi2 Sudah harus berangkat

suasana shoping shop terminal Taipei   suasana shoping shop terminal Taipei2

Pak Ditdit yang paling khawatir selama prosesi belanja ini. Dia khawatir telat sampai di bandara. Tapi saya berhasil menenangkan orang tua tersebut. Maklum, orang tua memang lebih sedikit pencemas dibanding anak muda seperti saya. (puas saya ngomong seperti ini, karena Pak Ditdit tidak tahu) V^^. Kemudian saya dan Pak Ditdit segera menuju halte bus menuju bandara. Kabar baiknya, saya dan pak Ditdit harus membawa masing-masing 1 tas ransel, 1 tas seret, dan 2 bag belanja. Hmm. Serasa TKI mudik. Hehehe. Oh ya, ngobrol masalah TKI, saya melihat TKI di Taiwan sangat nyaman sekali, bayangkan saja, terminal tempat kami belanja tadi “dikuasai” oleh TKI, sekali lagi, “dikuasai” TKI. Apa pasal? Ternyata di hari-hari libur, TKI sering membuat acara di stasion-stasion, baik itu berupa ramah tamah, silaturrahmi, gossip masal, dan sejenisnya. Tapi tetep diiringi orgen tunggal. Lagu Bang Toyib, Jablai, pun terdengar lantang di sana. Saya serasa berada di acara 17-an di kampung-kampung.🙂

Setelah menyeret-nyeret beban melewati jalanan panjang, satu zebra cross, serta dua buah jembatan, kami sampai di halte bus menuju bandara. Setelah bayar membayar akhirnya kami berangkat dan tertidur selama kurang lebih 1 jam perjalanan. Sesampainya di bandara, kami agak tertunda menyantap menu andalan untuk makan siang, Pop Mie (tidak pakai rendang, karena telah dimasukkan ke bagasi), karena air panas tak berhasil ditemukan. Barulah ketika sampai di ruang tunggu, ada air hangat. Ya jadilah dibanding gak ada. Lalu dengan lahapnya kami makan siang agak sorean. Usai itu, saya shalat Ashar sekalian dijamak dengan zuhur di ruang tunggu. Tak pusinglah dengan sorot mata orang-orang  tidak tahu dengan Islam.

suasana di waiting room Taoyuan International Airport        suasana di waiting room Taoyuan International Airport2

Makan Snack Khas Indonesia harga Impor usai menyantap Pop Mie

Selepas shalat, seluruh penumpang menuju Manila pun dipersilakan naik pesawat. Saya duduk di bangku 19 F, Pak Ditdit 19 E. Beberapa menit setelah take off, khusus saya, dihidangkan makanan spesial, Moslem Meal. Sementara yang lain belum, termasuk Pak Ditdit. Kebetulan saya telah merequest makanan islam di tiket penerbangan saya. Saya jadi tak enak untuk memulai makan. Tapi tak apalah, perut saya lapar dan Pak Ditdit juga menolak ketika ditawari dan tidak memakan makanannya yang dihidangkan beberapa menit setelah saya diberi makanan. Setelah saya lihat, ternyata yang membedakan makanan saya sayur nasi pakai roti dan mentega berlabel halal. Hmm, saya makan dengan lahap. Perkataan Pak Ditdit, yang mengatakan saya telah makan babi, makanan saya itu haram, dan lain-lain tak saya hiraukan, karena saya rasa penegasan halal sudah cukup untuk bisa menikmati makanan. Tidak beberapa lama, kami sampai di Manila dan setelah melalui proses transit yang lagi-lagi harus memaksa saya membuka sepatu, melepaskan ikat pinggang terjadi lagi *fiuh*, kami pun sudah kembali di ruang tunggu bandara Internasional Manila. Masih sama dan tidak ada perubahan. Hehehe. *Ya iyalah cuma selang 5 hari*.

Langit Senja Manila

Kemudian penerbangan dilanjutkan ke Jakarta pada pukul 20.10. Saya duduk di 15A dan Pak Ditdit 15B. Lagi-lagi saya mendapatkan hidangan istimewa. Sesekali Pak Ditdit melirik-lirik ke arah makanan saya. Saya iseng aja nawarin. Eh, beliaunya mau. Dengan sendirinya perkataan yang pernah ia utarakan hilang terbawa angin malam Manila. Hmm. Dasar Orang Tua. Saya pun tertidur setelahnya. Ketika membuka mata, saya pun telah kembali ke sebuah negeri antah berantah, negara sandiwara dunia, Indonesia.

Habis

4 responses »

  1. Assalam mas indra,

    pls ignore my previous message,maklum rada gaptek…:-p. mau tanya dong bis yg dari taipei station ke bandara, inget gak bis nya namanya apa ? bisa booking lewat internet gak yah ? Alhamdulillah dari taichung ke taipei rencananya dianter supir kantor…(heheh nomernya juga kalomasih inget heheh) atau naikMRT aja lebih cepet ?

    punya no telp city tour yg murmer gak ? thx mas, ntar nanya lagi yah, maklum emak2…hehehe

    cheers,
    Lena

    • Wassalam bu lena..
      dari Taipei stasion yang baru ga ada ke bandara bu. ibu harus keluar taipei stasiun (lt 3 kalo ga salah yang keluar ke arah jalan raya, deket ama jalan masuk ke MRT). trus belok kanan, trus lurus teruss…abis itu naik jembatan..lurus aja dari arah tangga..ampe ke seberang..nah, kemudian lurus aja lagi,entar mulai keliatan stasiun arah jam 1 dari tangga. trus pas udah arah jam 3, jalan aja ke kanan, menuju halte bis ke bandara..*insyaallah rute yang masih saya ingat seperti itu..

      cepet naik MRT, tapi maahhhalllll..hehehe
      ga biasa pake city tour bu. ga menantang perjalanannya. biar menikmati kegilaan di negeri orang..lagian ga ada yang bakal tahu, kalo kita “pura-pura bego” atau “bego beneran buk..hehehe..maaf bu,,

      Salam bu..semoga perjalanannya menyenangkan, kalo ibu muslim, jangn lupa request makanan muslim, karena barangkali itulah makanan muslim terakhir kali yang ibu temui sebelum pulang ke indonesia..hehe;oh ya, jangan lupa bawa lation kalo lagi musim dingin, juga lipgloss..trus yang paling penting, rendang atau pop ***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s