Meninggalkan Indonesia (Part 1 di Manila dan Taipei)

Standar

Hari-hari berlalu begitu saja. Tanpa terasa hari ini adalah hari kesekian dari awal saya berangkat meninggalkan Indonesia. Yup, tidak tanggung-tanggung saya mengatakan itu, meninggalkan Indonesia. Bagi saya kata-kata meninggalkan Indonesia begitu menggelitik telinga ini.
Hmm, meninggalkan Indonesia. Kata-kata itu selalu mengusik hati saya beberapa hari menjelang keberangkatan saya meninggalkan Indonesia. Ah, agaknya saya terlalu berlebihan kawan, pergi meninggalkan Indonesia. Tapi sudahlah, saya katakan saja, bahwa saya akan ke Taiwan kawan. Bukan Taipei, tapi Taichung, sebuah kota kecil, yang saya rasa kecilnya kota itu tak sekecil pikiran-pikiran orang-orang yang “katanya” berada di kota besar. Saya harap kawan mengerti.
Saya sempat berkelahi mulut dengan para cukong paspor di kantor imigrasi beberapa waktu sebelum saya berangkat. Saya yang datang dari pukul 7 pagi mendapatkan paspor lebih lama ketimbang mereka yang datang pukul 10 yang tentunya punya uang lebih banyak. Saya juga harus beradu argument dengan petugas TETO (Trade and Economic of Taiwan Office) dikarenakan keterlambatan saya yang kurang dari 5 menit dari jadwal tutup kantor itu. Tapi tak apalah, semua saya hadapi dengan mencoba bersabar. Walau lebih lama menerima paspor, toh saya juga menerinya dengan biaya cukup murah dengan harus rela dibuat lama. Alhamdulillah saya juga diberi seorang teman yang luar biasa dalam membantu mengurus Visa saya di Jakarta. Ikmal namanya. Jazakallah akh. Setidaknya, saya bisa kembali fokus pada “meninggalkan Indonesia.”

Pukul 21.00 pada hari Selasa, 15 Maret 2011 saya telah berada di ruang tunggu Keberangkatan Internasional di Terminal 2 Bandara Soetta. Tak dapat saya gambarkan perasaan kala itu, karena saya sendiri juga bingung, kenapa saya berada di sana. Kawan perlu tahu bahwa semua ini serba mendadak, ini hanyalah berwal dari mimpi 2 bulan yang lalu ketika ada sebuah call for paper di Taiwan dari milist. Saya hanya senyum sembari melafazkan “meninggalkan Indonesia.” Hingga pada saat malam itu saya pun tertawa kembali membayangkan mimpi saya pada waktu dua bulan yang lalu. Hal itu pulalah yang membuat saya lupa minta doa kepada orang-orang terdekat seperti dosen dan teman-teman.
Bahasa apa yang akan saya gunakan, selamat ga ya sampai ke lokasi acara, makan apa nanti di sana, dsb pertanyaan-pertanyaan itu baru muncul ketika berangkat. Banyak orang menyangsikan keberangkatan saya pada awal-awal saya iseng-iseng memberitahukan bahwa saya akan berangkat ke Taiwan, tapi saya tidak terlalu menggubris, mengingat juga pada waktu itu saya sedang sibuk-sibuknya menyiapkan agenda besar di BEM fakultas. Nasi sudah menjadi bubur, saya berharap amunisi yang saya bawa dari Indonesia bisa cukup bagi saya untuk eksis di Taiwan😉.
Awalnya ada 2 teman saya yang seharusnya juga berangkat. Namun, karena belum memliki paspor dan visa, mereka harus mengurungkan niat mereka untuk pergi. Sebenarnya agak takut, ketika tahu mereka tak jadi berangkat. Apelah daya budak kampong yang tak pernah ke luar negeri, pergi ke negeri orang yang belum jelas pangkal dan ujungnya.
Hingga saya mendengar sebuah panggilan yang asing di telinga saya, “attention please! Blabalabala..intinya saya harus masuk pesawat. Saya senyum, “ah, sebentar lagi saya meninggalkan Indonesia.”
Philipines Airlines, begitu setidaknya yang tertulis di badang pesawat, cukup sulit bagi saya untuk melihat dari kaca jendela anjungan yang tertutup kabut malam. Hmm. Selamat tinggal Indonesia. Ucapku ketika pesawat sudah bergerak dan siap meluncur. Padahal waktunya masih ada 30 menit dari jadwal keberangkatan. Saya merasa ada yang berbeda. Tapi entah apa itu.
Percakapan dalam bahasa inggris pun untuk kali pertamanya saya mulai dalam pesawat ini. Walau dengan sedikit tergagap. Gagap karena saya bukan berbicara dengan orang Indonesia, ketika mereka tidak mengerti ucapan saya, saya tidak bisa sekenanya berbahasa Indonesia ataupun bahasa Minang. Dan itu lah yang terjadi. Ada perdebatan kecil di kabin pesawat. Saya menang melawan pramugarinya, tapi tidak dengan stafnya. Pria agak tua. Pembicaraan mengenai makanan halal yang telah saya request sebelumnya, tapi mereka mangkir. Hingga akhirnya ada salah seorang masyarakat Indonesia yang membantu saya. Ternyata ada beberapa bahasa Airline memang tidak saya ketahui tentang menyebut makanan halal dan sejenisnya. Ah, sudahlah. Saya jadi mengingat kebodohan saya yang “mengguncang” pesawat.
Sekitar pukul 5 subuh, pesawat mendarat dengan mulus di Ninoy Aquino International Airport (MNL) Manila, Filipina. Yup benar. Saya transit di Manila. Di sini lah saya berjumpa dengan orang Indonesia yang juga akan mengikuti seminar yang sama. Ditdit N Utama. Begitu nama bapak separuh baya itu. Sosok yang bisa saya anggap luar biasa dari cerita-cerita yang pernah saya dengar darinya. Perjumpaan ini saya anggap lucu, karena bertemunya bukan saat Indonesia, tapi saat transit. Cerita ini pun selanjutnya akan selalu mengajak Pak Ditdit, karena kami hampir selalu bersama menjelajahi negeri Formosa.
Suasana Bandara Internasional di Manila
Excuse me sir. Where can I find a prayer room here?” ucap saya kala teringat kewajiban yang belum terselesaikan subuh itu kepada salah seorang petugas bandara. “Sorry, prayer room is not here,” jawab petugas yang kutanya. Come on, ini bukan di Indonesia Ndra. Kataku pada diri sendiri. Mulai lah petualangan menjadi orang islam yang cukup minoritas di beberapa tempat. Saya shalat di bangku bandara. Entah perasaan saya, tapi saya sepertinya dilirik oleh beberapa orang. Terserah mereka bilang aneh atau tidak, tapi yang jelas saya telah menunaikan kewajiban. Bayangan akhirat lebih menakutkan. Selesai shalat, saya bergantian menjaga tas dengan Pak Ditdit. Ini adalah kekhawatiran yang berlebihan di luar negeri. Nanti saya ceritakan kenapa demikian.
Tepatnya jam berapa saya lupa mulai berangkat ke Taipei, walau begitu, saya masih ingat bahwa pesawat sudah bergerak 25 menit sebelum jam berangkat. Saya pun kembali merasa ada yang berbeda, tapi belum pasti apa itu. Waktu di Manila dan Taipei termasuk dalam wilayah Indonesia Tengah. Jadi ada penambahan waktu 1 jam.
Welcome to Taiwan, sebutku dalam hati, ketika perjalanan yang ditempuh kira-kira hampir 2 jam telah mendarat di sebuah bandara Internasional di Taipei yang diberi nama Taoyuan International Airport. Hmm. Nanti saya akan ceritakan tentang beberapa perbandingan bandara internasional yang pernah saya lewati dengan bandara Soetta di tulisan selanjutnya.
Setelah melewati imigrasi, perasaan saya cukup senang, walau harus melepas ikat pinggang, sepatu, dan jaket ketika melewati X-ray. Saya beruntung, resleting celana tidak terdeteksi pada waktu itu. Jika iya, saya pun mungkin harus melepaskan celana. V^^.
Di pintu kedatangan, telah menunggu salah seorang panitia berwajah oriental. Saya mengira dia adalah orang tempatan, tapi ternyata bukan. Orang Indonesia asli, dari Kalimantan. Hmmm. Apakah tempat tinggal mempengaruhi bentuk wajah?? Nah, ketika akan melangkahkan kaki menuju halte bus, saya melihat ada petugas imigrasi Taiwan berlari ke arah kami. “Oh, apakah yang terjadi,” perasaan saya cukup khawatir. Dalam bahasa Indonesianya beliau mengatakan, apakah dompet kamu ada? Kontak saya kaget. Dompet? Saya pun langsung menggerayangi bagian belakang celana. Ternyata memang tidak ada. Saya cukup cemas waktu itu. Tidak ada, jawab saya. Lalu dia mengatakan bahwa petugas menemukan dompet yang mungkin milik saya di kursi pesawat. Dia meminta saya melihatkan paspor. Setelah cocok dengan kartu debit yang saya punya di dalam dompet, ia pun memberikan paspor dan dompet Eiger yang memang milik saya. Alhamdulillah, aku saya waktu itu. Kalau hilang, tentunya saya akan menggelandang di negeri orang.
Bersambung…

5 responses »

    • Gampang banget gun. Mau beli apa aja juga gampang. Ngasih uang ke orang lain juga gampang..hehehe..Ini bukan jerih payah enterpreneur gun. tapi karena nulis.

      Nah, untuk ke depannya baru dari enterpreneur. mari sama-sama punya cita-cita keliling dunia. hehehe

      Dan semangad buat gun dan kita semua..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s