Kala Kangen Melanda

Standar

Kala kangen melanda,
perasaan sedih pun terasa
kala pikiran ini merindu
hati ini terasa ngilu.

Benar-benar tak dapat dipungkiri bahwa waktu memang cepat sekali berjalan. Agak tersayat perasaan ini ketika mengenang kenangan buruk di masa lalu dan agak tergoyah pula hati ini jika tidak ingin dikatakan sedih, ketika kenangan indah berlalu begitu cepat. Ah, memang manusia terlalu sentimentil.

Lepas dari itu semua, saya begitu kangen sekali masa-masa saya yang penuh dengan warna, cinta, dan persahabatan. Tulisanlah yang mampu membuat saya seakan-akan kembali pada masa itu. Saya kangen temen-temen DCR 2007, saya kangen temen-temen OSN-PTI 2008, saya kangen dengan rekan-rekan KKTM Regional A 2008, saya kangen dengan teman-teman Riau di Universitas Indonesia, saya juga kangen  dengan temen-temen Musta X Ikahimki 2009, saya kangen dengan masa-masa saya bertualang di Siak, Bintan, Batam, dan Tanjungpinang, saya kangen dengan warga Bali yang menyambut saya dengan hangat, saya juga kangen dengan temen-temen Rakornas Ikahimki 2010, dan saya kangen dengan setiap keadaan yang membuat hidup lebih berwarna, penuh cinta dan persahabatan.  Namun, sekali lagi saya katakan itu hanyalah sebuah cerita, yah yang mungkin bisa menjadi bahan pengobat rindu ketika rasa kangen itu muncul. Tentu ini tidak sampai membuat saya terkapar tak karuan dengan sikap rindu ini. Aktivitas tentu tetap harus saya jalankan, karena hidup tak berhenti di batas rasa kangen atau rindu saja. Hidup ini masih panjang kawan

Saya juga sedih ketika melihat “rumah” kecil ini tak lagi terurus oleh majikannya yang terlalu sibuk dengan “rumah-rumah” lain. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Laman rumah ini masih itu-itu saja, hampir tak ada perubahan terkini. Tentu ini bukanlah hal yang disengaja, tapi memang ada hal prioritas yang harus saya dulukan. Namun, selalu saya sempatkan untuk mengisi laman demi laman, seperti pada malam menjelang pagi ini. Malam yang begitu kelam tak menghalangi saya untuk memberi sedikit cerita kepada temen-temen pembaca. Cerita saya ini berawal pada Sabtu, 17 April 2010 silam.

Waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB.
Asisten    : “berangkat jam berapa ndra?”
Me             : “jam 6.55 kak”
Asisten    : “ya udah. Pulang aja lagi. Entar ketinggalan pesawat,”
Me          : “bentar lagi kak. Nanggung,” kata saya sambil menitrasi campuran air dan etil asetat dengan kloroform, istilah keren praktikumnya, Diagram Fase Terner.

Nah, tepat jam 5 sore.  Saya pun harus terburu-buru pulang, karena pihak Batavia, pesawat yang saya tumpangi, mengatakan perjalanan ke Jakarta dipercepat 10 menit. Alhasil tiba di rumah, saya pun terburu-buru memasukkan barang tambahan ke tas dan langsung tancap ke Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.  Eh, tiba di bandara, saat check in diperoleh informasi, bahwa pesawat delay sampai pukul 19.30 WIB. Ah, sudahlah. Sepertinya saya shalat dulu.

Saya lupa menceritakan bahwa tujuan kepergian saya adalah untuk menghadiri undangan Olimpiade Kimia Indonesia, Seminar Nasional Green Chemistry, dan Rakornas Ikatan Himpunan Mahasiswa Kimia Indonesia (Ikahimki) yang ke semuanya dilaksanakan di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar-Sulawesi Selatan. Ini menjadi agenda terakhir kepergian saya di masa kepemimpinan di Himpunan Mahasiswa Pendidikan Kimia Universitas Riau, karena 25 April kepengurusan saya telah demosioner melalui sidang Suksesi XIII.

Kembali ke kisah perjalanan. Akhirnya dalam waktu 1 jam 20 menit, saya untuk ke sekian kalinya menginjakkan kaki di tanah Jawa. Ada perasaan berbeda setiap kali saya menginjakkan kaki di Bandara Soekarno-Hatta, karena saya merasa bahwa di sanalah dimulainya perjuangan di luar sangkar yang selama ini dirasa aman. Usai shalat Isya dan makan di A&W (walau tak penting sebenarnya disebutkan), saya langsung masuk ke ruang tunggu dan sekali lagi pesawat delay. Dalam pada itu, saya tak menyia-nyiakan waktu, satu majalah habis saya baca ditemani dengan secangkir kopi di depan ruang tunggu. Pukul 12 malam, akhirnya saya dan penumpang lainnya diberangkatkan. Di sini kisah persahabatan dimulai dengan bertemu teman-teman dari Universitas Sriwijaya, Andre dan Asef.

Tepat pukul 3 malam, Ahad dini hari, waktu Indonesia Tengah, pesawat pun mendarat di Bandara Sultan Hasanuddin. Panitia pun sigap menjemput kami dan mengantar kami ke Asrama Mahasiswa (Ramsis) Unhas. Di sini kisah persahabatan semakin kental terasa, terlebih setelah matahari menyinari bumi, menjemput pagi dan semua berkumpul di Aula Ramsis, diketahui ada kurang lebih 20 delegasi dari berbagai universitas se-Indonesia yang hadir. Cukup sulit untuk disebutkan satu-satu, tapi yang jelas beberapa yang saya ingat, dodik, agung, randy, andi, bayu, dwi, rizal, asef, andre, darma, nida, mb yosi, kang arya, risal, syukri, kadek, klaudi, darman, sadly, kak ray, kak ibe, kak joe, putri, rasyid, susilo. Lebihnya lupa namanya..hehehe…

Ahad siangnya, saya mencoba berwisata kuliner, merasakan bagaimana fenomenalnya Coto Makassar. Coto Makassar sejenis makanan berkuah yang terdiri dari daging, hati, jantung, dan bagian sapi lainnya. Hanya sekedar mencoba, tapi ternyata rasanya tak seenak kesohoran namanya bagi lidah saya. Sebenarnya mungkin saja saya akan merasa enak makan Coto itu, jika saya tak mengambil kelas Praktikum Biokimia semester ini. Sebulan yang lalu saya praktikum Isolasi Glikogen dari hati sapi. Saya yang menimbang hati mentah itu, lalu memotong-motongnya dan sempat pula menggerus. Bau yang muncul saat praktikum itu, ada di aroma hati dalam Coto. Itu membuat saya tak enak “hati” untuk mencoba makan Coto lagi, tapi ini tak berlaku bagi delegasi yang lain, mereka sampai tambah.

Senin-Kamis, kegiatan yang diagendakan pun berlangsung. Dari kegiatan itu terlihatlah bagaimana sikap masing-masing delegasi terhadap kelangsungan Ikahimki. Agak tidak sopan jika saya menceritakan berbagai kejadian yang muncul pada kegiatan yang harusnya hanyalah sebatas rapat koordinasi, dibuat seakan Munas atau Musta oleh segelintir orang. Merasa dijebak, seperti itu mungkin sangkaan beberapa delegasi, karena agenda Rakornas bisa membuat sebuah keputusan Munaslub. Apakah ini harus diakui? Padahal konsedarannya tidak ada seperti yang dikatakan salah seorang delegasi dari Unhas. Ah, sudahlah. Biarkan saja. Tapi saya yakin kejadian ini tak kan menguap begitu saja dari benak para delegasi se-Indonesia. Lepas dari semua itu, saya sangat salut dengan teman-teman HMK Unhas yang begitu mantapnya menyiapkan acara. Mulai dari konsumsinya yang mengakomodir masakan Padang..hahaha..I Love it. Sampai kepada agenda penjemputan dari bandara dan menuju bandara, serta agenda jalan-jalan malam sampai pagi sampai malam lagi. Dua jempol buat panitia yang begitu mantap menyiapkan acara.

Tapi ada yang membuat saya masih risih sampai saat ini adalah, masih terpajangnya Foto Pak Kalla mendampingi Pak SBY di dalam salah satu gedung kampus. Tanda Tanya besar dalam benak saya dan juga teman-teman delegasi lain. Apakah ada maksud lain selain lupa mengganti??? Entahlah, biar saja waktu yang menjawab.

Kamis siangnya, mulailah field trip ke Benteng Rotterdam dan Trans Corp. Sebenarnya sebelum hari kamis ini, beberapa delegasi sudah terlebih dahulu pergi mengelilingi kota Makassar, ke Pantai Losari, mencoba makan Pisang Epe, sejenis pisang raja yang dibakar kemudian diberi selai perasa. Mencoba minum  saraba, yang terbuat dari air perasan jahe, telur, dan beberapa tambahan laiinya, di sini dikenal dengan nama skoteng.

Benteng Rotterdam adalah benteng yang bersejarah bagi bangsa ini, karena benteng ini menjadi benteng pertahanan di wilayah timur. Benteng ini selesai dibangun pada masa Raja Gowa XVI. Setidaknya itu yang saya dengar. Benteng ini juga merupakan tempat Pangeran Diponegoro menghabiskan waktu hidupnya ketika ditahan oleh Belanda. Usai mengunjungi benteng, shalat, dan makan soto ayam khas Makassar yang enaknya luar biasa, saya dan teman-teman lain pun akhirnya menuju Trans Corp, yang merupakan wahana indoor terbesar di dunia. Katanya.

Namun, sayang, karena permainan di sini tak tergolong ganas seperti Dufan. Buktinya yang naik Halilintar saja banyak anak SD. Hahahah. Tapi ada yang tak ada di Dufan, yaitu rumah hantu yang diberi nama Dunia Lain. Tetap tak terlalu seru, karena hantunya hanya satu, tak menegangkan (padahal sebelum hantunya muncul tutup mata..hahahahaha).  Yang jelas permainan di Trans corp tak terlalu mengecewakan, terlebih lagi ketika munculnya aksi drama musikal yang sempat membius para delegasi untuk melek sebentar.

Belanja. Itu tujuan akhir malamnya. Oleh-oleh menjadi bagian penting dalam perjalanan saya. Mungkin ada yang kaget ketika saya membuat list dan cukup banyak belanja. Ini tidak lain hanya karena saya emang suka belanja (karena selama di Pekanbaru tak sempat belanja), kemudian emang karena rumah saya, kampus saya adalah keluarga besar yang suka nuntut oleh-oleh. Hahahaha.. Walau begitu banyak saya membeli oleh-oleh, tetap saja di Pekanbaru, masih saja ada yang tidak dapat.

Esoknya, Jumat, sebelum pulang, saya pun lagi-lagi menyempatkan membeli oleh-oleh yang masih kurang, hingga akhirnya terburu-buru menuju bandara. Karena berangkat jam 1 siang, akhirnya saya hanya bisa melaksanakan shalat zuhur. Namun, naas ternyata pesawat delay sampai jam 2.30 siang WITA. Masih dengan Batavia. Hingga Akhirnya tepat pukul 3.30 atau setengah 4 sore WIB, saya kembali menginjakkan kaki di Soekarno Hatta. Di sana saya berjumpa Andre delegasi dari Unsri yang telah lebih dahulu tiba di Cengkareng dengan menaikki Sriwijaya Air dari Makassar. Schedule berangkat jam 5 sore ke Pekanbaru pun kembali delay. Tampaknya tak ada hari tanpa delay bagi Batavia Air. Berangkat dari Jakarta jam 7 malam dan sampai di Pekanbaru hampir 9 malam.

Setibanya di rumah jam 10 malam kurang. Saya sempatkan untuk beristirahat 5 menit, kemudian saya langsung menuju kampus, mengambil hasil pengamatan praktikum. Karena paginya sampai sore saya praktikum dan laporan belum ada yang siap. Namun, naas, saya mendapatkan kabar buruk, karena besok adalah praktikum mandiri kelompok saya dan tak ada yang memberitahu saya saat di Makassar. Alhasil malam itu, saya pun sibuk mencari tempurung kelapa dan menghancurkannya hingga pukul 2 dinihari. Setibanya di rumah saya pun tak sadarkan diri. Sementara laporan tak ada yang siap. Tapi siapa yang berusaha dia pasti mendapat, man jadda wa jadda. Dalam waktu 2 jam siaplah 2 buah laporan.

6 responses »

  1. Makassar tu adanya di sulawesi selatan ndra, bkn sulawesi tenggara.. Salut bwt indra atas tulisanx, sukses slalu kwn..

  2. Nice writing …fren.. Thanks for sharing ..

    I would like to share good news as well

    English Tutors Urgently Required
    A fast-growing National English Language Consultant is hunting for
    English Tutors
    Qualifications:
    1) Competent, Experienced, or Fresh Graduates
    2) Proficient in English both spoken & written
    3) Friendly, Communicative, & Creative
    4) Available for being placed in
    i. Pekanbaru (0761-7641321)
    ii. Balikpapan (0542-737537)
    iii. Samarinda (0541-273163)
    iv. Banjarmasin (0511-3362559)
    v. Palembang (0711-350788)
    vi. Makassar (0411-451510)
    vii. Surabaya (031-5324548)
    If you meet the qualifications above, please send your resume to: easyspeak.recruitment@gmail.com. Contact Person: 081 24 111 111 9 (Dodi)
    Send your application & resume as soon as possible since tomorrow might be too late.
    Visit http://www.easyspeak.co.id for further information.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s