Sepenggal Kisah

Standar

Sungguh waktu itu berjalan dengan cepat. Rasanya baru kemarin saya menulis cerita akhir tahun, eh sekarang sudah masuk tahun yang baru (Muharram 1430 H, red). Januari pun di depan mata. Banyak tragedi yang terjadi dalam hidup saya sepanjang tahun ini. Tragedi itu pula yang membentuk karakter saya, karakter yang tidak dapat saya ketahui secara pasti. Menjadi lebih baik atau sebaliknya. Karena maklum, banyak manusia kadang kala menilai tidak dari apa yang ia perbuat, tapi siapa yang perbuat. Saya maklum itu.

me

menunggu tari barong di Bali

Lepas dari pendapat orang lain, saya merasa sepanjang tahun 1430 H ataupun 2009 M ini menjadi lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya bagi hidup saya. Kenapa? Karena banyak sekali pengetahuan yang belum saya temukan di tahun-tahun sebelumnya, saya dapatkan di tahun 1430 H/2009 M. Alhamdulillah prestasi yang saya raih juga tidak terlalu mengecewakan dari tahun-tahun sebelumnya. Impian-impian yang pernah saya anggap sebagai suatu hal yang tak mungkin, pun dapat saya peroleh perlahan-lahan.

Hai, kawan! Saya tidak mengetahui secara pasti kawan-kawan kenal saya atau tidak. Tapi cobalah untuk tidak mengenal seseorang dari kulitnya saja. Mungkin ini yang sering membuat saya dianggap sombong oleh sebagian adik tingkat, bahkan dosen pun turut mengatakan saya sombong. Segala pujian hanya bagi Allah. Apa yang bisa saya sombongkan di atas dunia ini. Saya dengan sangat sadar mengetahui bahwa saya hanyalah makhluk hina di mata Allah. Jangankan punya niat, terpikir saja untuk sombong saya tidak pernah. Itulah yang terjadi selama ini. Penilaian dari luar tidak selamanya benar, apalagi dari orang lain kawan.

jajan

jajan di kaos bali

dekat kuta

penginapan dekat Pantai Kuta

Wah salah besar jika kawan-kawan mengatakan bahwa saya ingin merubah pandangan kawan-kawan terhadap diri saya. Inilah yang mungkin menjadi kelamahan saya yang belum saya perbaiki hingga kini. Mungkin kawan-kawan sering mengecap saya si omong besar atau tukang telat atau juga mungkin si penjilat. Terlalu kasar mungkin. Tapi saya tahu ada yang pernah mengatakan itu. Saya tidak bisa beralasan dan membuat orang mengerti siapa saya, tepatnya tidak mau. Karena sulit untuk membuat mengerti seseorang, jika orang itu tidak pernah mengalami kondisi itu. Kelemahan yang sangat memalukan. Dan tenang saja bagi kawan-kawan yang peduli dengan saya, saya tidak akan goyah dengan itu. Saya selalu tanamkan dalam diri saya, bahwa segala sesuatu yang saya lakukan bernilai baik atau buruk hanya  Allah yang tahu, bukan yang lain. Inilah yang membuat saya merasa bahwa tahun ini banyak sekali pelajaran yang dapat diambil, terlebih setelah amanah ketua Hima saya emban.

tulisan di Pantai Legian

Hai kawan! Tahukah apa yang saya takutkan selain dengan Allah dan orang tua? Mungkin ada yang tak mau tahu, tapi saya hanya ingin berbagi kepada  kawan, bahwa saya juga takut menjadi orang yang tak berguna bagi orang lain. Makanya saya heran ketika saya meminta tolong, ada teman yang tak mau, bahkan sambil marah-marah. “Hei, ini untuk kebaikanmu antum! Tidakkah engkau ingin menjadi orang yang berguna bagi orang lain?” Tapi kalimat itu hanya sering kali terngiang-ngiang di benak saya. Sulit untuk keluar dari mulut ini. Saya dan mungkin kebanyakan kawan-kawan adalah tipe orang yang suka pekerjaan itu cepat selesai, masalah hari ini segera diselesaikan, karena kita tidak tahu bagaimana kompleksnya masalah esok. Jadi dibanding tak dikerjakan biarlah saya yang mengerjakan. Nah, itu pun disalahkan karena saya terkesan yang mengerjakan semua. Weleh-weleh. Tapi sudahlah, show must go on, kata si empunya London.

entah apa ini

Tapi saya bersyukur karena segala kendala itu tak menyurutkan niat saya untuk terus berprestasi dan terus membaca. Alhasil berbagai impian yang bagi orang suatu omong kosong dapat saya raih. Saya tahu semua yang terjadi dalam hidup saya adalah goresan rencana Allah yang luar biasa. Satu yang perlu kawan tahu, bahwa segala yang kawan lakukan, lakukanlah karena Allah. Karena dengan demikian, apapun hasilnya akan berbuah manis, sekalipun hasilnya bukan seperti apa yang kawan bayangkan.
Saya pernah sewaktu putih abu-abu mengikuti lomba karya tulis yang memakan waktu hampir 2 bulan penuh untuk mencari data hingga mengunjungi objek-objek kepenulisan. Cukup banyak tenaga, waktu pelajaran, dan materi yang habis untuk itu, tapi apa yang dapat, saya kalah. Lah, kalo misalkan yang saya lakukan bukan karena Allah, mungkin saya sudah marah besar dan mungkin akan bertindak di luar dugaan. Karena dari yang saya lihat judul pemenangnya telah pernah dibukukan.  Tapi apa pelajaran yang saya dapat? Banyak sekali. Dan banyak lagi pengalaman-pengalaman pahit, yang saya tahu itu adalah skenario Allah untuk membuat saya semakin yakin bahwa pengalaman-pengalaman itu sangat berguna bagi saya di masa yang akan datang. Terimakasih buat seluruh teman-teman dan guru-guru yang memotivasi saya waktu itu.
Banyak kota yang telah saya kunjungi tahun ini, Padang, Bukittinggi, Tanjungpinang, Batam, Bintan, Jakarta, Depok, Kendari, Makassar, dan terakhir Bali. Semuanya mempunyai kesan tersendiri bagi hidup saya. Saya sungguh merasa bersyukur karena perjalanan itu hampir tidak mengeluarkan uang dari kocek saya. Bukan juga dari hasil korupsi. Ini semua saya dapatkan karena usaha kerja keras yang saya lakukan, doa kawan dan orang tua berikan, dan Allah pun meridhai-Nya. Jangan sesekali meminta lebih kepada Tuhan, jika kita tidak bisa berbuat sesuatu untuk memenuhi permintaan itu. Dan juga jangan sampai usaha memenuhi permintaan itu terhenti, ketika permintaan itu tak kunjung datang, karena sesungguhnya Tuhan punya rencana lebih dahsyat untukmu.
Hai kawan, jangan takut mengambil risiko selagi muda, karena ketika tua kita tinggal memperbaiki kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh risiko-risiko di waktu muda itu. Takut berbuat artinya sama sekali tak akan pernah berhasil, karena tidak pernah tahu variabel apa saja yang mempengaruhi keberhasilan itu. Tergesa-gesalah untuk sukses. Dan gantungkan cita-cita itu di depan matamu. Cita-cita itu tidak untuk dicapai, tapi buatlah cita-cita itu untuk dimulai. Lakukan. Dan saya yakin, kita semua akan bisa mengantarkan Indonesia ini keluar dari jurang kemiskinan dan kebodohan.
Saya hanya bisa berdoa, semoga di tahun yang akan datang lebih baik dari tahun sebelumnya, saya dan kawan bisa lebih bermanfaat bagi orang banyak, dan diberi kesehatan untuk terus meneriakkan Allahuakbar dalam setiap tindakan. Amin ya rabbal alamin.

monumen bom bali

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s