Universitas Riau = UR

Standar

“Gila!” kata gue.

“Gila? Maksudnyah?” kata si abang foto kopi dengan gaya dibuat-buat seperti di tipi-tipi. Agaknya si abang foto kopi gemar nonton sinetron.

“Gila aja pokoknya!” lanjut gue sambil ngambil kopian.

“Loh kok bisa?” tanya abang foto kopi lagi saat nerima uang dari gue.

Untung aja waktu itu gue sabar menghadapi abang foto kopi, kalo gak…. Kalo gak, ya Iya..

Gue mulai jelasin ceritanya satu per satu. Secara garis besar, kegelisahan gue berawal dari berubahnya singkatan nama kampus gue, yaitu yang tadinya Universitas Riau itu disingkat Unri diganti jadi UR.

Kayaknya memang gak terlalu penting sih mempersalahkan singkatan, karena toh nama universitasnya, kan gak ganti. Tapi sekarang yang gue permasalahkan adalah muka gue mau tarok dimana? Loh kok? Ya iyalah. Gak lucukan, kalo orang nanya ke gue dimana kuliah dan gue ngejawab, Urrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr….Disangka gue serigala kesesat lagi. Orang yang kuliah di Universitas Islam Riau punya singkatan yang ok, UI Riau, mantap kan?. He… Kekknya anak-anak UIR pada maksa deh…..

Karena merasa gue orang pertama yang tahu dengan berita buruk itu, langsung saja gue kasih tahu sama orang-orang yang gue temuin, di pasar, di mal, di musola, di masjid, pokoknya di tempat yang ramai. Ada yang menanggapinya dengan histeris sambil sedikit mengelurakan teriakan. “Uff…Ah…Uhhh,” teriakan orang yang sedang makan di restoran Padang ketika gue beritahu tentang perubahan singkatan Unri.

Ada juga yang menanggapi berita ini dengan muka datar sambil menerawang. Tapi Adhe, teman sekampus gue yang menjadi orang pertama yang mendapat informasi dari gue, bilang kalo orang itu ngacangin gue. Ah asoi geboi lah, yang jelas gue harus memberitahu semua orang tentang berita yang (sengaja dibuat-buat) heboh ini. Mau mukanya datar, lonjong, atau tiga dimensi, yang jelas gue kasih tahu.

Si abang foto kopi, angguk-angguk aja. Sepertinya si abang foto kopi ini menanggapi serius akan ucapan gue tadi.

“Gimana gak gila tuh?” kata gue memancing argument si abang.

Eh, yang ditanya malah ketawa sambil garuk-garuk kepala.

“Bisa diulang gak ceritanya?” tanya si abang dengan lugu.

***

Urusan di foto kopi selesai, gue langsung tancap ke kantin fakultas. Di kantin, gue pun menyebarkan informasi perubahan ini. Pegawai kantin dan pembeli pun mulai berkumpul seakan gue akan memberikan penyuluhan pemakaian alat kontrasepsi.

Usai pemberitahuan itu, mereka pun kembali beraktivitas melayani pembeli dan melahap makanan. Sepertinya berita yang gue sampaikan tidak seperti yang diharapkan oleh mereka. Kali aja mereka baru akan seneng, kalo gue beritahu ada atraksi bukak baju di rektorat. Ck…ck…ck..manusia zaman sekarang *sambil geleng-geleng*.

Cuman Adhe yang setia menemani gue memberitahu berita penting itu. Hingga ia dengan sukarela menemani gue ke rektorat, meminta konfirmasi yang jelas dari pihak rektorat. Emang gue siapa sih, Presma bukan, bupati juga bukan? He….Gak ada salahnya kan, sesekali rakyat jelata langsung menyuarakan aspirasinya. Bukankah anggota dewan sekarang banyak yang korupsi (loh kok ngelantur gini).

Setibanya di rektorat, gue kaget. Kok rame gini sih. Oh ya, kan, ada Unri Expo di halaman rektorat. *pura-pura gak tahu*

Dari sana, gue bisa melihat wajah-wajah lugu para mahasiswa. Sepertinya mereka tidak tahu, bahwa nasib dan wajah mereka berada di telapak kaki kami. Sebentar lagi mereka akan berterima kasih, pada gue dan Adhe atas prestasi mengembalikan harkat, martabat, dan marwah Unri di kancah pendidikan Indonesia.

Dengan saling pandang, gue dan Adhe pun melangkahkan kaki ke dalam gedung rektorat yang berlantai empat ini. Tapi, saat menginjakkan kaki menuju tangga, gue ketemu ama abang-abang yang keliatannya orang rektorat.

“STOP!!1@&??!!!” kata gue sambil mengarahkan tangan kanan ke depan.

“Apa-apaan ini! Kalian siapa?”

Agaknya kalian tahu, bahwa dialog yang barusan hanya ada di sinetron. He…

Kembali ke dunia nyata…

“Bang, Unri kok diganti sih jadi Urrrrrrrrrrr…..,” kata gue mengawali pembicaraan dengan panjang lebar.

Si abang yang ini pun senyum-senyum dengerin penjalasan gue. Gue sih gak masalah senyumannya. Asalkan dia gak bilang aja, “Ulangi, Ndra?” atau lebih parah lagi, “What did you say?”

“Itu udah melalui rapat senat yang panjang Ndra. Selain singkatan kampus kita yang mirip dengan Umri, juga dikarenakan surat ke kita sering nyasar ke Unsri,” kata abang itu.

Umri itu singkatan dari Universitas Muhammadiyah Riau yang baru bukak tahun ini, sedang Unsri itu Universitas Sriwijaya yang di Palembang sono. Tapi….itu kan salahnya pak pos kalo nyasar ke Unsri, terus kalo karena Umri, seharusnya gak kita yang ngerubah singkatan. Anak baru lah yang nyesuain.

Sebelum gue banyak berpersepsi di dalam hati, si abang pun menghentikannya dengan singkatan Unri yang baru.

“Kan mantap tuh kalo singkatannya You Are,” katanya nyengir. Usai itu pun ia permisi sambil berjalan cepat. Sepertinya kami mengganggu bang Ijal yang lagi terburu-buru.

“Iya juga ya, Ndra!” kata Adhe. (Akhirnya ada juga kau ngomong Dhe)

“You Are…..You Are…..Hmmmm bagus juga,” ucap gue sambil angguk-angguk. Tapi tetep aja aneh…ibarat kuliah di kampus yang baru lahir…..

One response »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s