Pilkada Riau Membingungkan

Standar

Hari ini, Senin, 22 September 2008 adalah hari yang paling menentukan buat warga yang berdomisili di Provinsi Riau. Pasalnya di tiap kabupaten/kota sedang mengadakan proses pencoblosan untuk memilih siapa yang akan menduduki posisi Riau 1 untuk 5 tahun ke depan. Ada 3 pasangan yang saat ini jantungnya berdetak makin kencang hingga penghitungan suara berakhir. Yang hingga pukul 14.15 Cagubri dan cawagubri no 2 masih berada di posisi pertama dengan total 55,69% sebagaimana Quick Count yang dilakukan MetroTV.


Berbagai persiapan pun diluncurkan oleh masing-masing tim sukses pasangan calon gubernur Riau (cagubri) dan wakil gubernur Riau (cawagubri) untuk mendulang suara, jauh-jauh hari menjelang hari H. Mulai dari rapat koalisi partai, kampanye terselubung, hingga kampanye di waktunya. Tidak hanya lewat media-media cetak lokal, bahkan hingga media nasional. Embel-embel janji pun dilontarkan dalam kampanye itu. Yang tentunya , isi iklan meng”elu-elu” kan masing-masing pasangan.

Tak tanggung-tanggung Metro TV diundang ke Riau untuk membuat debat cagubri dan cawagubri. Debat dilangsungkan di salah satu hotel berbintang di Pekanbaru, Kamis (18/9). Aku sengaja untuk melihat debat itu di televisi. Kala itu aku bingung mau milih siapa.

Namun, setelah debat usai, bukannya jadi bisa nentuin pasangan yang tepat, malah aku dibuat tambah bingung. Pasalnya ternyata di mataku, 3 pasangan itu sama sekali tidak memiliki visi dan misi yang jelas. Hal itu terlihat dari jawaban mereka setelah pertanyaan-pertanyaan dilontarkan oleh panelis yang berasal dari Universitas Indonesia, Universitas Riau, dan Universitas Islam Riau. Jawaban ketiga pasangan itu asli ngawur. Lain ditanya, lain yang dijawab. Malah aku sempat terbayang, ini acara debat atau Mamamia Show.

Anehnya, saat baca koran keesokan harinya, aku mendapati berita bahwa debat tadi malam luar biasa. Ketiga pasangan benar-benar memiliki kredibilitas yang tinggi untuk dapat menjadi gubernur dan wakil gubernur. Nah lho????

Aku telah memutuskan malam itu, kalo aku tidak akan mencoblos. Terlebih lagi aku teringat Walo Kota Pekanbaru yang dipilih setahun yang lalu benar-benar tidak memiliki rasa tanggung jawab dan kalo boleh kasar tidak menggunakan otak untuk bicara. Karena beberapa hari yang lalu ia pernah di wawancara oleh stasiun TV swasta nasional mengenai banjir yang terjadi di Pekanbaru.

Wartawan: Bagaimana tanggapan Bapak terhadap banjir ini???

Walikota: OOO..udah biasa, apalagi warga di sekitar sini. kalo gak banjir aja dalam setahun, warga disini bakal demam.

Nah, begitu tuh, pilihan warga Pekanbaru saat Pilkada taon lalu. Salah pilih, kan???? Untung aja aku gak milih dia, kalo sempat milih dia mungkin aku benar-benar menyesal.

Tidak hanya takut salah pilih. Tapi masih banyak alasan lain yang bikin aku malas untuk pergi ke Tempat Pemungutan Suara (TPS). Sewaktu menjabat sebagai pejabat daerah telah banyak aku temukan kasus yang mereka buat. Dan supaya tidak menghakimi salah satu calon aku bakal menggeneralisasi, karena ke semuanya punya kasus tersendiri di mataku dan terserah tersinggung apa tidak. Yaitu pernah salah satu calon membuat peraturan pembakaran lahan seluas 2 hektar dan untung saja Mendagri menolak mentah-mentah, padahal global warming semakin meningkat. Lau ada salah satu calon juga yang tersangkut kasus illegal logging yang sampai saat ini belum terbongkar, tapi aku percaya pada Allah, suatu saat kedoknya bakal terbongkar. Selain itu pasangan ini juga suka acara ceremony dan jarang rakyat di daerah tersentuh oleh pembangunan. Kemudian ada juga calon yang hobinya nyanyi padahal suaranya jauh dari bagus dan calon ini diduga ada kongkalikong dengan beberapa oknum. Dan menurut berita calon ini sengaja memberangus arsip-arsip tentang dirinya.

Ketika alasan itu kusebutkan pada Ibu dan Bapak, aku dimarahi. Katanya, kalo sudah jadi masiswa itu udah bisa berpikir kritis. Kalo ketiganya jelek, maka pilih jeleknya paling dikit, karena ini untuk Riau 5 tahun ke depan. Malam tadi (malam senin, red) aku kembali berpikir keras. Dan setelah Shalat Isya aku telah memutuskan untuk memilih, walau sebenarnya hati ini masih bingung. Terlebih setelah banyaknya sms yang masuk. Pilih no 1 ya…. Ada juga, …kalo mau makmur lagi pilih no 2, dan ada lagi, ….no 3 untuk kesejahteraan. BINGUNNNNNNNNNNGGGGGGGGGGGGG!@#$$@!@#$$@@$^^$#$

Dan hari ini aku telah milih, hanya satu pilihan. Tidak golput dan tidak mencoblos no 4, juga tidak mencoblos semuanya sesuai permintaan sodara-sodara, teman-teman, wartawan-wartawan. Cukup aku saja yang tahu milih siapa, bersama Allah di atas sana.

Foto di bawah diambil ketika ketua TPS tempat aku mencoblos sedang memeriksa kotak suara beserta saksi dan beberapa warga..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s