Kebakaran, Tragedi yang Penuh Ironi

Standar

Kepulan asap tebal mencuat di udara daerah Pekanbaru paling ujung. Semakin keujung asap itu semakin tebal dan menghitam. Hati pun mulai was-was saat itu. Asap itu sepertinya berasal daerah yang juga aku tinggali. Kebakaran, itu adalah sebait kata yang muncul dibenakku yang semakin cemas. Semakin dekat, terlihat jelas api yang membuat asap itu muncul. Merah membara dan siap melalap semua yang berada di dekatnya.

Ternyata dugaanku benar, api telah melalap beberapa rumah yang berada di jalanan menuju rumahku. Aku hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan sedih dari kejahuan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Begitu juga dengan “penonton” lainnya yang benar-benar menjalani lakonnya.

Para orang tua yang berada di rumahnya saat kejadian kebakaran itu sibuk mengeluarkan barang-barang berharganya menuju tanah lapang yang tepat berada di TKP. Namun, ironinya ada juga sebagian mereka yang baru pulang kerja telah mendapati rumahnya telah rata dengan tanah. Belum lagi, ketika anak-anak yang baru pulang sekolah harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya lagi tempat berpulang.

Kebakaran yang terjadi Jumat (29/5) sore itu tidak menimbulkan korban jiwa. Walau demikian, 15 rumah dinyatakan rata dengan tanah akibat kebakaran itu.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s