Happy Ending in The International Exchange Youth Program

Standar

Pak Amir memakai helm

berkendare motor berbonceng tige

dengan semangat The Exchange Program

kibarkan tekad, indahkan bangse

Itu adalah sepenggal pantuan buatan Kak Riska (FISIP Unri 06) yang ia goreskan untukku. Aku sengaja minta ia membuatkan, karena aku tau dia sangat berbakat di bidang ini. Secara ia kan anak melayu asli. Lagunya aja, ada pake kuning. Tunggu bentar, kalo gak salah taik kuning ya. he..

Bang Randi, Yogi, Taufani, Kak Riska

Nah, alamat kapal akan tenggelam, pantun yang rencana akan aku bawakan pada acara program pertukaran pelajar antar negara di tes kesenian, gagal saya tampilkan. Tunggu bentar. Ngebet amat sih pengen tau kenapa. OK, aku lanjutkan. Sejam setelah selesai wawancara, hafalan berbagai pantun yang telah disiapkan Kak Riska hilang begitu saja.

Usut punya usut, ternyata aku terkena sindrom not confidence. Bagaimana bisa percaya diri, usai shalat dan makan, aku melihat semua tampil beda dengan berbagai aksesoris di badannya. Nah, aku. Masih dengan stelan salesman, baju putih + celana hitam + sepatu pantofel hitam + dasi yang sudah melorot.

Akhirnya aku memutuskan untuk menyegarkan diri. Aku sengaja meninggalkan mereka yang sangat asyik mempersiapkan segala sesuatunya untuk tampil dan itu pasti sangat maksimal. Aku berusaha mencari warnet deket Dispora, tapi gak ketemu. Baru ketemu setelah melewati jalan hangtuah, Sutomo, dan Ronggowarsito.

Entah mengapa di sana lah terbuka inspirasiku. Tiba-tiba saja bermunculan kata-kata puitis di dalam benakku. Kenapa tidak mencoba baca puisi saja?

Setelah cukup untuk 30 menit berselancar di dunia maya, aku segera menuju Dispora dengan jalan yang sama ketika aku pergi ke warnet.

Setibanya di sana, para peserta telah silih berganti dan sangat jelas mereka menampilkan perform yang menurutku luar biasa tuk dipelajari satu malam.

Tapi tekadku telah bulat, yaitu tekad untuk tidak menang. Bukannya aku putus asa, tapi aku telah memutuskan bahwa dengan persiapan yang tidak matang seperti ini, aku tidak pantas untuk menjadi the winner. Jika aku memang putus asa, seharusnya aku seperti 7 orang lainnya, yang mengundurkan diri. Itu menandakan mereka tidak siap untuk kalah. Padahal, dalam competition kita harus siap tuk menang, tapi juga harus siap untuk kalah.

Dan tiba saatnya aku untuk unjuk gigi. Walau aku tidak tau, bahwa apakah aku bisa tampil maksimal. Tapi alhamdulillah, aku ternyata bisa tenang tuk menyampaikan puisi atau kata orang acting. Terserah, juri, peserta, atau penonton kasih tanggapan apa terhadap penampilan ku itu, tapi menurutku itu kemampuan yang kubisa saat itu. Lain waktu, lain cerita.

suasana 15 menit menjelang pengumuman yang lolos 6 besar (3 putra, 3 putri)

Setelah menghabiskan waktu kurang lebih 3,5 jam, akhirnya waktu pengumuman itu tiba juga. Dan aku benar-benar senang, bukan karena aku tidak menang, tapi kepada pilihan dewan juri yang benar. Kak Riska dan Taufani teman seperjuangan saat itu lulus 6 besar dan kurasa mereka memang pantas tuk menang dalam kompetisi ini, karena bukan hanya kemampuan b.inggris saja yang dinilai, tetapi juga behaviour.

Taufani, Yogi, dan aku

Bagiku saat itu berakhir dengan Happy Ending.

p.s

Aku harap kepada Dispora Riau, agar memerhatikan masalah konsumsi dan kenyamanan peserta yang ikut program ini. Selama saya mengikuti kompetisi yang gratis, tidak ada pernah satu badan ataupun instansi manapun yang tidak memberi konsumsi kepada peserta, padahal dana yang disediakan untuk program ini sangat besar dan bayar pulak lagi. Kembali menjadi bukti bahwa Dispora hanya mementingkan prestasi di bidang olahraga dibanding akademik. Jangan beralasan, dengan PON Riau 2012, dana harus dihabiskan semua ke olahraga. Tidak ada yang ngelarang untuk olahraga, tetapi perhatikan juga prestasi akademis. Perlu diingat ya dalam program ini YANG DIPERAS ITU OTAK BUKAN TENAGA. Yang kuras tenaga aja diservis dengan telur ayam kampung, gak logis kan jika yang kerja pake otak, diservis dengan “MurahQua”. Ditambah pula ruangan test tanpa AC. Coba bayangkan ketika Anda psikotes dalam ruangan kecil berisikan manusia kurang lebih 55 orang tanpa ada AC yang nyala?

Semoga kritikan ini dapat diterima dengan lapang dada dan tahun-tahun yang akan datang, hal ini bisa diperbaiki oleh Dispora Riau. Amin

acara foto bersama pesrta yang lolos seleksi hari pertama

4 responses »

  1. yang samping orang pake (apa ya namanya) gak tau lah, pokoknya kek topi kuning, itu indra…
    ha..ha…ha…untung aja indra gak pendek, kalo pendek mungkin gak keliatan semuanya…he…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s