Menimba di Air Keruh

Standar

Belakangan ini, negara kita telah menunjukkan sedikit kemajuan untuk mencapai demokrasi yang mulai digembor-gemborkan pada 1998. Salah satu kemajuan itu adalah melakukan pemilihan kepala daerah, langsung oleh rakyat.

Tapi apa yang hendak dikata, ternyata kemajuan itu disalahgunakan oleh segelintir elite politik daerah. Banyak para elite politik yang “menyuap” rakyat untuk dapat memilihnya. Berbagai alasan mereka utarakan, mulai putra daerah lah, pejabat daerah lah, pemerhati daerah lah, pokoknya banyak. Bahkan yang gak ada hubungannya dengan sifat primodial, mereka tidak sungkan-sungkan untuk merogoh kocek. Toh, kalo jadi kepala daerah, bisa dapat berkali lipat.

Menimba di air keruh adalah salah satu trik mereka untuk mencari simpat. Biasanya mereka akan hadir di dekat hari “H” pemilihan atau saat terjadi bencana. Bahwa mereka peduli. Itu slogan yang mereka ketika mengunjungi korban bencana.

Contoh yang dapat dilihat adalah saat banjir di dekat rumahku. Waktu banjir dua tahun yang lalu, mana ada partai politik atau calon gubernur yang datang, tapi sekarang, mereka sepertinya berlomba-lomba untuk hadir di tengah-tengah masyarakat. Gubernur yang sekarang menjabat pun tak mau kalah, Dinas Sosial pun disuruh bergerak cepat. Kemarin, tepatnya anggota DPD RI yang katanya ingin mencalonkan diri jadi Gubernur, mengunjungi pemukiman warga yang terkena banjir di dekat rumahku.

Dengan membawa 200 nasi bungkus, ia dengan seakan dengan bangga mengatakan, “Saya peduli dengan warga, maka pilih lah saya.” Setelah itu salah satu parpol yang cukup besar, “hadir” dengan membawa rendang dan mie instan yang wadahnya berlogokan partai tersebut.

Bukankah itu menimba di air keruh?????

One response »

  1. Aslm…Emang sih, kalo pas bencana yg ga bertepatan dengan waktu kampanye alias nyari suara (Suara koQ dicare…_)pasti susaH DEH nemuin beras, air bersih, pakaian layak pakai, de el-el. Tapi sudah menjadi kebiasaan kalo tradisi bagi-bagi mie instan ato nasi bungkus di waktu banjir, misalnya,akan dijadikan ajang “Kampanye Terselubung”.

    Satu yang pasti masyarakat Indonesia terjerat dalam kemiskinan struktural. Buktinya hanya mengharapkan bantuan-bantuan “instan”. Emang tidak ada yang salah seh, namun tiada salahnya kalo Qt mencoba mencari solusi spy ga ada banjir tahunan,atau bencana apalah, minimal mengurangi resiko atau korbannya sendiri.

    Was…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s