SPG PASAR BUAH PEKANBARU 88 TAK RAMAH (Edisi Lengkap)

Standar

Dimuat Selasa, 5 Pebruari 2008 di Harian Pagi Riau Pos

Entah apa ekspresi yang harus aq perlihatkan kala itu, marah atau tertawa. Saat itu, aq sedang berbelanja di Pasar Buah Pekanbaru 88 yang terletak di Jalan Riau. Kondisi supermarket yang banyak menjual buah ini sangat ramai waktu itu, sehingga untuk berjalan di antara rak-rak barang, para pembeli harus berdesak-desakkan.

Nah, kejadian itu bermula ketika salah satu pembeli, pria berperawakan tinggi mengenakan jaket cokelat (yang ternyata aq) bertanya kepada salah satu sales promotion girls atau yang disingkat SPG yang mempunyai rambut sebahu. Pada saat itu aq tepat berada di belakang pria itu untuk menunggu ia selesai bertanya hingga aq bisa meneruskan perjalanan untuk berbelanja. Di belakang aq dan di depan si penanya masih banyak pembeli lain yang masih antre.

”Mbak, tempat jual sabun dimana ya?” kata pria itu sambil sesekali celingak-celinguk mencari tempat berbagai sabun dijual, berusaha agar segera menemukannya, karena ia sepertinya risih harus menghambat jalan pembeli lain.

Dan tau tidak apa yang dijawab sama SPG, cewek berambut pendek itu.

”Gak tau tuh,” katanya santai sambil ngeloyor pergi.

Sontak aq langsung kaget mendengar kata-kata sang SPG. Mungkin pembeli lain juga begitu. Padahal yang aq tahu SPG itu adalah orang selalu tampil ramah, walau di hati tidak ada yang tahu.

”Oh, gak tau ya Mbak! Makasih,” katanya sambil terus berjalan. Dan aq rasa mungkin SPG itu tidak mendengar, karena keburu pergi.

Itu lah yang membuat aq bingung untuk ’berekspresi’. Saat mendengar ucapan dari SPG aq ingin rasanya memaki si SPG. Tapi ketika mendengar tanggapan si penanya aq ingin rasanya tertawa, bagaimana tidak aq langsung teringat ketika dosen aq cerita tentang pengalamannya di sebuah hotel ternama di Jakarta. Kedatangan dosenq itu katanya untuk urusan perkuliahan dengan salah satu temannya di Jakarta yang menginap di hotel itu. Kala itu ia hanya ingin menunjukkan kesopanan ketika masuk ke dalam hotel dengan bertanya kamar temannya kepada resepsionis. Sebenarnya dosen aq tu udah tahu kamar sang teman dari sms yang ia terima.

Hampir sama jawaban yang ia terima ketika ia bertanya ke resepsionis. ”Tauk tuh,” kata dosenq menirukan ucapan sang resepsionis dengan gerakannya sekaligus, yaitu kedua tangan dijulurkan ke depan dan bahu sedikt diangkat (~kek senam aja~).

Waktu itu sang dosen juga memaafkan si resepsionis, sama seperti si pria tadi yang tampaknya telah memaafkan si SPG, itu terlihat dari nada katanya yang sama sekali tidak ternodai oleh emosi.

Pengalamanq dan sang dosen yang dijadikan analogi hanyalah segelumit pelayanan pelanggan yang buruk. Tidak semua pelanggan mau memaafkan atas pelayanan yang buruk. Aq yang berbelanja hampir 200-ribuan ~bener tuh~ di setiap akhir pekan saja jadi harus mikir dua kali untuk ke sana. Bagaimana tidak, aq belum sanggup menahan emosi jika saya diperlakukan seperti itu. Malu, jika emosi harus meledak di depan orang ramai.

Tapi yang jelas, aq hanya menyampaikan, tidak hanya kepada pihak Pasar Buah Pekanbaru 88, tapi juga kepada seluruh ’pelayan masyarakat’ agar masalah pelayanan ini harus diperhatikan. Tidak salah pembeli atau customer jika ia meninggalkan toko Anda jika tidak dilayani dengan ramah.

Dan tau tidak? Saat aku nanya tanggapan SPG lain, ia malah dukung tuw SPG yang songong habis. Katanya, ”Gak apa-apa tuh kalo pelanggan yang gak sopan digutiin, masak ngasih uang dengan tangan kiri.”

Loh?? Selidik punya selidik, ternyata SPG membalikkan cerita. Katanya si SPG itu marah karena si pelanggan pria itu ngasih uang pake tangan kiri ke kasir…Jago bener tuh SPG ngarangnya..

Untung aja waktu itu aq lg gak emosi, kalo emosi aq bilang aja, ”Pria yang difitnah itu aq. Tauk gak!”

Ya begitulah pengalaman pahitq yang aq analogikan dengan seorang pria berperawakan tinggi. Tapi kalo kalian terserah lah. Kalo memang udah emosi banget dengan tingkah SPG, bentak aja tuh SPG, kalo perlu teriak-teriak biar pembeli lain nengok…biar bangkrut sekalian tuh toko ato si SPG tuh dipecat dengan tidak hormat.

~~~PERINGATAN: SARAN INI HANYA BERLAKU SESUAI PETUNJUK SECURITY~~~

3 responses »

  1. Mas benar sekali. Saya juga mendapat perlakuan yang sama dari SPG disana, barusan saya disuruh belanja lagi kesana, tapi saya musti mikir dulu. SPG nya g sopan banget. Kalau misalnya memang tidak senang dg saya mengapa tidak menjelaskannya pada saya. Ini malah menceritakan saya dg SPG lain. Terus terang saya malas sekali ketika disuruh kesana. Seperti kata David J. Schwartz, Yang membuat Produk atau Dagangan sebuah Supermarket itu laku, terletak pada Pelayanan SPG nya. . .
    Mudah2an mereka baca, jadi tau apa kekurangan mereka. Bayangkan, jika setiap bulan mereka kehilangan pelanggan tetap bagaimana mau jalan usahanya. . .
    Beuh, ,

    • @alifah..
      begitulah pelayan di negeri ini.jarang sekali memberikan yang terbaik.
      di negara lain, siapapun yang memberi pelayan yang jelek, siap2 saja didepak..

      kasihan negeri ini…yang bisa kita lakukan adalah merubah diri kita dimulai dari yang kecil dan dimulai sekarang..untuk menjadi bangsa yang ramah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s