Dari Istana Hingga ke Astana

Standar

Oleh: Indra Purnama

Innalillah wainnailaihi rojiun. Kalimat yang saya ucapkan ketika mendengar kematian Pak Harto. Mungkin juga bagi ratusan juta umat Islam di Indonesia, bahkan hampir seluruh masyarakat dunia yang beragama Islam.

Yup. Memang benar seluruh umat manusia berduka, tidak memandang agama, ras, suku, bangsa, dan keturunan. Tidak juga memandang teman ataupun musuh. Semua berduka.

Semua berduka atas kepergian Bapak Pembangunan Nasional yang mungkin menjadi bapak pembangunan satu-satunya di negara ini. Adakah kira-kira saat ini ’bapak’ yang bisa kita percaya untuk memangku gelar itu lagi?

Semua berduka atas kepergian anak petani ini, karena jasa-jasa beliau terhadap bidang pertanian, dimana pada masa kepemimpinannya kita berhasil meraih Swasembada Pangan, belum lagi penghargaan FAO atas keberhasilan pemerintah menangani masalah pangan. Mampukah kira-kira, bangsa ini kembali meraih keberhasilan pada era orde baru itu? Jangan dulu pertanyaan demikian, kita coba dari pertanyaan yang ringan. Mampukah bangsa ini pada era reformasi yang diinginkan, menurunkan harga kedelelai, minyak goreng, minyak ranah, dan minyak-minyak lainnya?

Semua berduka atas kepergian suami Ibu Tien ini, karena jasanya membuat rakyat tidak brutal. Coba Anda lihat kebrutalan rakyat saat ini! Apakah ini yang diharapkan setelah Pak Harto lengser?

Semua berduka atas kepergian Pak Harto untuk selama-lamanya, karena beliau adalah sosok yang sederhana, sosok yang bisa mengharumkan nama bangsa. Mungkinkah bangsa ini dapat membuat bangsa lain menghormati ’Republik’ seperti zaman Pak Harto?

Semua berduka atas kepergian bapak enam orang anak ini, karena beliau berhasil menjadi bapak yang baik setelah ditinggal sang istri pada 1996 silam.

Masih banyak duka-duka yang lain untuk mengenang sosok Pak Harto. Walau demikian Pak Harto tidak luput dari kesalahan sebagai manusia biasa. Mulai dari KKN yang merajalela (lebih merajalela mana di era reformasi?), petrus, kekerasan terhadap keluarga PKI, hingga pengekangan pers. Hal itu masih meninggalkan luka mendalam bagi sebagian kecil bangsa ini.

Masa Muda Pak Harto

Mantan Presiden Soeharto menapaki perjalanan hidupnya dengan kisah yang panjang. Salah satunya, tercermin dari buku otobiografi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.

Dalam buku tulisan G Dwipayana dan Ramadhan KH ini, Soeharto menuturkan kisah hidupnya secara panjang lebar, falsafah hingga harapan-harapannya. Berikut nukilan salah satu bagian yang bercerita masa kecil Soeharto.

Kisah hidup H.M. Soeharto (84 tahun) berakar dari desa. Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto tidak pernah melupakan akarnya sebagai anak petani. Karenanya, ia selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para petani.

Pak Harto, anak ketiga Kertosudiro dari Sukirah, istri yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro, petugas pengatur air desa (ulu-ulu), memperoleh dua orang anak.

Sukirah, sewaktu melahirkan bayi laki-laki di rumah suaminya yang sederhana, di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta, ditolong oleh dukun bersalin mbah Kromodiryo, adik kakeknya, mbah Kertoirono. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1921 itulah yang diberi nama Soeharto oleh ayahnya, Kertosudiro.

Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka cerai tidak lama setelah Pak Harto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda, menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Dan ayah Pak Harto juga menikah lagi, memperoleh empat anak dari istrinya yang ketiga.

Ketika usianya semakin besar, Pak Harto tinggal bersama kakeknya, mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Di situ ia pernah menggembala kerbau. Pak Harto masuk sekolah saat berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Pak Harto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Setamat sekolah rendah empat tahun, Pak Harto dimasukkan orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak perempuannya, istri seorang pegawai pertanian. Ia disunat pada usia 14 tahun, karena orang tuanya tidak mudah mengumpulkan biaya. Namun ia merasa gembira, badannya cepat tumbuh besar, tinggi dan kekar.

Namun di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya sepatu dan celana pendek. Karena itu ia ingin kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, melanjutkan sekolah. Ia pun pindah ke Kemusuk. Pak Harto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya, ia mengayuh sepeda butut.

Setamat SMP Muhammadiyah, Pak Harto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

Pak Harto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung. Namun, tak lama kemudian Pak Harto minta berhenti, karena bermasalah dengan hinaan klereknya.

Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk. Namun karier militernya dimulai dari sini.

Di tengah mulai menanjaknya karier Pak Harto, ia menikah dengan Siti Hartinah yang dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Pak Harto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karier militer. Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Lama pangkatnya tertahan, sampai-sampai ia meminta izin Ibu Tien untuk berhenti dari tentara dan menjadi sopir taksi saja. Namun Ibu Tien tidak memberi izin. Lantas Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf, kemudian Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal. Pak Harto, setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Berawal dari Istana

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Pak Harto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, 22 Maret 1968. Inilah awal hidup Pak Harto sebagai Presiden RI ke-2, dari istana.

Di awal pemerintahannya, Pak Harto ketika itu memprioritaskan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan utama pemerintah. Kondisi perekonomian nasional saat itu memang sedang amburadul. Kebijakan yang diambil Pak Harto tentu saja sangat tepat dan mendapat dukungan dari banyak pihak.

Ketika itu dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat yang diambil umumnya berpendidikan Barat dan liberal seperti lulusan Berkeley, yang kemudian dikenal di dalam klik ekonomi sebagai “Mafia Berkeley”.

Sejarah pertumbuhan ekonomi di awal era pemerintahan Orde Baru memang pantas diacungi jempol, meskipun pada akhir rezimnya, Pak Harto dituding hanya mewariskan utang bertumpuk-tumpuk atau sisa kebobrokan sistem ekonomi mikro dan makro yang menyesakkan hingga saat sekarang. “Namun, setidaknya, pemerintah Orde Baru ternyata pernah menyelamatkan bangsa ini dari gelombang kehancuran,” kata Prof Dr H Emil Salim, seorang ekonom senior yang juga mantan menteri Orde Baru.

Pada saat itu, kata Emil Salim, laju inflasi menjelang peristiwa G 30 S, bisa dibilang edan. Jangan kaget, indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali. Harga beras naik 824 kali. Harga tekstil naik 717 kali. Nah, sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp 160 saja menjadi Rp 120.000.

Itu semua agaknya menjadi bukti ilustratif betapa malapetaka yang menghantam bangsa Indonesia saat itu demikian dahsyat. Belum lagi persoalan ekonomi yang mencabuti satu per satu ajal rakyat Indonesia ini masih harus dipinggirkan oleh drama pergulatan politik nasional. Namun kepiawaian Pak Harto mampu memadukan semua komponen masyarakat dalam mengatasi persoalan bangsa, terutama ahli-ahli ekonomi.

Ketika itu, jurus para ekonom yang diakomodasi pemerintahan Orde Baru itu, paling tidak mampu menyusun program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup komprehensif. Ada lima jurus yang dianggap manjur. Pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir.

Hasilnya, laju inflasi mulai jinak. Dari kisaran angka 650 persen (tahun 1966), melunak jadi 100 persen (1967), turun lagi 50 persen (1968), bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969). “Ini prestasi yang diraih pemerintah saat itu,” ujar Emil Salim.

Kebijakan lainnya yang digulirkan pemerintah saat itu adalah deregulasi dan debirokratisasi (Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967, dan seterusnya).

Pemerintah juga membuka diri untuk penanaman modal asing, meski dilakukan secara bertahap. Juga membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang menyusun strategi negara agraris yang didukung oleh industri, hingga industri yang menghasilkan industri. Dasar-dasarnya sudah diletakkan ketika itu, tetapi implementasinya kemudian kurang optimal.

Kemudian, dalam bidang ekonomi juga tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengundang Pak Harto untuk menerima penghargaan atas prestasinya.

Kemajuan ekonomi Indonesia pada saat itu dianggap negara-negara maju sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. Indonesia pun sempat dijuluki sebagai salah satu negara yang bakal menjadi “macan Asia”, karena pertumbuhan ekonominya pesat dan kondisi politik di dalam negeri sangat stabil waktu itu.

Namun, keberhasilan itu tidak dapat dinikmati berlama-lama. Apalagi, pemerintahan Pak Harto pada era itu mulai banyak melakukan penyimpangan di berbagai bidang, termasuk maraknya kolusi, korupsi, dan nepotisme di berbagai bidang vital yang menyentuh kepentingan rakyat banyak. Juga bidang yang sensitif, seperti minyak, gas, hutan, pertanian, dan lainnya.

Lengsernya Pak Harto

Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Menjelang akhir kepemimpinannya, Soeharto menghadapi krisis multidimensi di Indonesia yang dipicu oleh krisis moneter, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merajalela, dan terjadinya kesulitan akses pangan oleh rakyat. Itulah yang menjadi dampak paling besar dalam lengsernya beliau.

Pada masa itu kondisi ’Republik’ sungguh tidak sangat terkendali. Berbagai macam kecaman datang, mulai dari masyarakat kecil hingga ’ahli pikir’, siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Sungguh ironis mengenai lengsernya Pak Harto. Ia harus mengundurkan diri dalam keadaan masyarakat yang sudah tidak ”jinak” lagi. Reformasi menjadi tuntutan rakyat di masa itu.

Akhirnya pada Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara Istana Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden Soeharto menyampaikan pidato Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal itu dilakukan Pak Harto untuk menghindari banyaknya korban berjatuhan.

Astana, Akhir dari Segalanya

Kini Pak Harto telah tiada. Pada 27 Januari 2008, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.

Kematian Pak Harto diakibatkan oleh kegagalan multiorgan. Walau demikian Pak Harto sempat di rawat di RSPP selama dua pekan oleh tim dokter kepresidenan. Kritis, pulih lagi. Kritis, pulih lagi. Begitulah kondisi Pak Harto selama di RSPP hingga akhirnya ia harus meregang nyawa tepat pukul 13.10 WIB.

Pak Harto dimakamkan di Astana Giribangun, Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah. Astana Giribangun sendiri berada 20 km dari pusat kota Karangayar. Dibangun pada 1974 di lereng Gunung Lewu, Jawa Tengah. Astana Giribangun terletak 666 meter dari permukaan laut, sehingga tempat ini cukup tinggi untuk bisa memcapainya.

Astana Giribangun, akhirnya menjadi tempat pengistirahatan terakhir Bapak Pembangunan ini tepat pada pukul 12.15 WIB. Hubungan Pak Harto dengan dunia telah berakhir. Maafkanlah beliau atas segala kesalahannya. Biarkan beliau pergi dengan tenang. Tuhan saja memaafkan hamba-Nya yang melakukan dosa.

Selamat jalan Pak Harto, selamat jalan Bapak Pembangunan!

Sorry telat postingnya,,,abisnya lama banget sih nunggu dimasuk-in ke Riau Pos,,,

~Biar lah telat asal kn gak sama sekali~ He…

2 responses »

  1. Sebagai manusia, qt hanya bisa memaafkan atas apa yang telah dilakukannya terhadap negara yang dijuluki “Bhineka Tunggal Ika” ini. Istana negara emang hanya simbol tapi Hukum negara jangan hanya dijadkan simbol. Hukum harus tetap ditegakkan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s