Arsip untuk instropeksi

Perempuan Berkalung Sorban – Sudutkan Islam?

Tifatul Sembiring – Hati-hati terhadap SARA

Kontroversi film Perempuan Berkalung Sorban membuat Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Tifatul Sembiring ikut bersuara. Ia mendukung seruan Imam Besar Masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub agar film itu diboikot. Ia pun meminta film itu dikoreksi. “Menyeru umatnya boleh-boleh saja kan. Apalagi kalau itu dianggap berbahaya atau kurang baik, lantas mereka serukan, ya silakan saja,” kata Tifatul kepada detikcom.

Tifatul sendiri mengaku belum menonton film tersebut. Tetapi kalau ada yang memojokkan kalangan pesantren, menurutnya sah-sah saja jika film tersebut dikoreksi. “Seperti yang saya baca di media, seolah-olah ajaran Islam itu seperti itu, melarang begini dan begitu padahal ini tidak benar secara fikih umumnya. Menurut saya tidak ada salahnya dikoreksi filmnya, dari pada bikin heboh,” tambah pria kelahiran Bukittinggi, Sumatera Barat ini. Presiden PKS itu lantas mengimbau agar para pekerja kreatif seperti film lebih berhati-hati dalam melahirkan karyanya bila bersentuhan dengan SARA. “Kalau menurut saya, hal-hal yang berkaitan dengan SARA itu harus hati-hati,” pungkas Tifatul.

 

Prof Musdah Mulia: Tak Perlu Ditarik, Jangan Gampang Marah Kalau Dikritik

Staf ahli Departemen Agama dan Guru Besar UIN Jakarta Siti Musdah Mulia tidak setuju dengan seruan boikot Film Perempuan Berkalung Sorban. Ia menilai film itu justru mengungkapkan realitas penindasan terhadap perempuan dengan mengatasnamakan agama. Musdah menilai film itu tidak perlu ditarik dari peredaran. Dr Siti Musdah Mulia tidak setuju dengan seruan boikot Film Perempuan Berkalung Sorban. Ia menilai film itu justru mengungkapkan realitas penindasan terhadap perempuan dengan mengatasnamakan agama. “Saya membenarkan film ini mengangkat realitas. Dalam prakteknya seperti itu, sebagai umat Islam kita tidak suka agama kita membelenggu perempuan, ketinggalan zaman. Tapi pada kenyataannya memang masih banyak yang seperti itu,” jelas dosen UIN Syarief Hidayatullah saat diminta tanggapannya, Jumat (6/2/2009).

Musdah mengimbau umat Islam sebaiknya tidak gampang marah bila mendapat kritik atas praktek diskriminasi perempuan yang mengatasnamakan agama. Umat Islam harus jujur dan mengakui selama ini memang ada tokoh agama atau ulama yang sering mengajarkan pandangan yang salah tentang hak dan kewajiban perempuan Islam. “Film ini melawan pandangan salah yang selama ini ada di masyarakat, seperti ajaran melarang perempuan keluar rumah. Dulunya memang banyak yang seperti itu. Jadi jangan marah kalau dikritik,” tegas perempuan Indonesia pertama yang meraih gelar doktor di bidang pemikiran politik Islam ini. Musdah menilai film yang diangkat dari novel karya Abidah Al Khalieqy ini tidak perlu ditarik dari peredaran. “Nggak perlu ditarik, kalau film ini dilarang, film Islam lainnya juga. Kalau diberikan satu warna masyarakat tidak punya alternatif. Islam itu berwarna-warni, ” pungkasnya.

perempuanberkalungsorban

perempuanberkalungsorban

Perempuan Berkalung Sorban menceritakan perlawanan Anissa, seorang santriwati terhadap pengekangan perempuan di pesantren. Dalam film itu, Annisa berkata Islam tidak adil terhadap perempuan. Film menampilkan diskriminasi terhadap perempuan yang dilakukan ulama dengan dalih agama, seperti perempuan tidak boleh jadi pemimpin, perempuan tidak boleh naik kuda, perempuan tidak perlu berpendapat dan perempuan tidak boleh keluar rumah tanpa disertai muhrimnya. Imam besar masjid Istiqlal Ali Mustafa Yakub menilai film itu mencitrakan Islam sangat buruk dan telah melakukan fitnah terhadap pesantren. Ia menyerukan agar film itu tidak ditonton alias diboikot. Sekilas Kisah Perempuan Berkalung Sorban Ini adalah sebuah kisah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Anissa (Revalina S Temat), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang. Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Anissa merengek dan protes dengan alasan ayahnya. Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataan Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh. Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai.

(dari milist)

Komentar (1) »

KRISIS GLOBAL ALA MEDAN

BBM NAEK!

Tambah banyak SIHOTANG

Karena PANDAPOTAN terus MANURUNG!

SAGALA Mahal

TAMBUNAN kehidupan berat

SIAMANJORANG miskin dan kaya makin BARASA Baca entri selengkapnya »

Komentar (2) »

Andai Presidenku Seorang Pemberani

Carut marut Indonesia masih saja merona,

kemiskinan dan kebodohan dimana-mana,

rakyat pun banyak yang merana,

katanya sih karena bencana

Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Marhaban Ya Ramadhan

Allahuakbar Allahuakbar….

Adzan magrib begitu menggelora kala itu. Getaran hati yang tadinya kuat menjadi semakin kuat. Begitu perasaan ini ketika awal Ramadhan dengan gagahnya menggantikan Rajab. Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Kembalikan Fungsi Hutan

Sungguh miris hati ini ketika secara tak sengaja melihat iklan di Metro TV tadi malam (Rabu malam (16/7), red). Apa pasal? Iklan yang dengan bangga dipersembahkan oleh Asian Agri ini bercerita tentang kesuksesannya menolong bangsa Indonesia dari kemelaratan dengan membuka lahan sawit, berikut petikan iklannya yang masih tersimpan di memori otak saya: Baca entri selengkapnya »

Komentar bertahan »

Emak, Bapak, Maafkan Anakmu

Hiks. Sedih banget. Akhirnya telor gue pecah juga. Ups..maksudnya gue pecah telor juga. Kata teman-teman gue sih gitu. Gimana gak, akhirnya IP (apa perlu gue jelasin IP itu apa), turun. Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »

Bukan kesalahan mahasiswa jika mereka gagal dalam ujian, karena setahun HANYA 365 HARI

Kalendar tahunan yang umum untuk mahasiswa:
 
1.  Minggu adalah hari libur, dalam setahun ada 52 hari. 
     Sisa untuk belajar 313 hari. Baca entri selengkapnya »

Komentar (8) »

Teruskan Perjuangan Islam, Allahu Akbar!

Belakangan ini agama Islam benar-benar sedang diuji. Hampir setiap hari ada saja orang yang menghina bahkan menuding bahwa agama Islam adalah agama teroris.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (5) »

Kebakaran, Tragedi yang Penuh Ironi

Kepulan asap tebal mencuat di udara daerah Pekanbaru paling ujung. Semakin keujung asap itu semakin tebal dan menghitam. Hati pun mulai was-was saat itu. Asap itu sepertinya berasal daerah yang juga aku tinggali. Kebakaran, itu adalah sebait kata yang muncul dibenakku yang semakin cemas. Semakin dekat, terlihat jelas api yang membuat asap itu muncul. Merah membara dan siap melalap semua yang berada di dekatnya.

Ternyata dugaanku benar, api telah melalap beberapa rumah yang berada di jalanan menuju rumahku. Aku hanya bisa menyaksikan kejadian itu dengan sedih dari kejahuan. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Begitu juga dengan “penonton” lainnya yang benar-benar menjalani lakonnya.

Para orang tua yang berada di rumahnya saat kejadian kebakaran itu sibuk mengeluarkan barang-barang berharganya menuju tanah lapang yang tepat berada di TKP. Namun, ironinya ada juga sebagian mereka yang baru pulang kerja telah mendapati rumahnya telah rata dengan tanah. Belum lagi, ketika anak-anak yang baru pulang sekolah harus menerima kenyataan bahwa ia tidak punya lagi tempat berpulang.

Kebakaran yang terjadi Jumat (29/5) sore itu tidak menimbulkan korban jiwa. Walau demikian, 15 rumah dinyatakan rata dengan tanah akibat kebakaran itu.

Komentar (2) »

Sang Direktur

Berikut adalah sebuah cerita tentang bagaimana sebuah pesan dikomunikasikan
secara hirarkis dalam sebuah perusahaan, dari Direktur hingga ke karyawan
bawahan.


Dari: Direktur – Kepada: General Manager :

“Besok akan ada gerhana matahari total pada jam sembilan pagi. Ini adalah
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari. Untuk menyambut dan melihat
peristiwa langka ini, seluruh karyawan diminta untuk berkumpul di lapangan
dengan berpakaian rapi. Saya akan menjelaskan fenomena alam ini kepada
mereka. Bila hari hujan, dan kita tidak bisa melihatnya dengan jelas, kita
berkumpul di kantin saja.”


Dari: General Manager – Kepada: Manager :

“Sesuai dengan perintah Direktur, besok pada jam sembilan pagi akan ada
gerhana matahari total. Bila hari hujan, kita tidak bisa berkumpul di
lapangan untuk melihatnya dengan berpakaian rapi. Dengan demikian, peristiwa
hilangnya matahari ini akan dijelaskan oleh Direktur di kantin. Ini adalah
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”


Dari: Manager – Kepada: Supervisor :

“Sesuai dengan perintah Direktur, besok kita akan mengikuti peristiwa
hilangnya matahari di kantin pada jam sembilan pagi dengan berpakaian rapi.
Direktur akan menjelaskan apakah besok akan hujan atau tidak. Ini adalah
kejadian yang tak bisa kita lihat setiap hari.”


Dari: Supervisor – Kepada: Koordinator :

“Jika besok turun hujan di kantin, kejadian yang tak bisa kita lihat Setiap
hari, Direktur, dengan berpakaian rapi, akan menghilang jam sembilan pagi.”

Dari: Koordinator – Kepada: Semua Staff :

“Besok pagi, pada jam sembilan, Direktur akan menghilang. Sayang sekali,
kita tidak bisa lagi melihatnya setiap hari”


Dari: Staff kepada Staff :

“Memang dia lebih baik pergi…”

Nah, sangat banyak hikmah yang terkandung dalam joke kecil ini. Mungkin ada yang bisa menemukannya?

Komentar (3) »

Ketika Tuhan Menciptakan Indonesia . . .

Suatu hari Tuhan tersenyum puas melihat sebuah planet yang baru saja
diciptakan-Nya. Malaikat pun bertanya, “Apa yang baru saja Engkau
ciptakan, Tuhan?”

“Lihatlah, Aku baru saja menciptakan sebuah planet biru yang bernama
Bumi,” kata Tuhan sambil menambahkan beberapa awan di atas daerah hutan
hujan Amazon.

Tuhan melanjutkan, “Ini akan menjadi planet yang luar biasa dari yang
pernah Aku ciptakan. Di planet baru ini, segalanya akan terjadi secara
seimbang”.

Lalu Tuhan menjelaskan kepada malaikat tentang Benua Eropa.

Baca entri selengkapnya »

Komentar (6) »

Bencana di Indonesia, Ujian atau Laknat Tuhan

jember.jpg

Jika kita berkaca pada bencana di Indonesia, apa yang kita pikirkan? Pasti dalam hati kita berkata, “Ya Allah, ini kah ujian yang Engkau berikan.” atau “Ya Allah ujian ini terlalu berat untuk kami jalani.

Kalo memang benar, itu yang terlintas di benak kita saat terjadi bencana, marilah kita pelajari apa kah benar, bencana itu suatu ujian.

267849725_86dbedaa201.jpg

Kita semua tentunya pernah ikut ujian kan, kalo anak TK ke bawah mungkin belum. Nah, sekarang yang ingin saya tanyakan, kalo ikut ujian ada syaratnya gak? Ya jelas ada kan. Bayar ini itu, yang SPP lah, yang buku lah, yang pustaka lah, pokoknya banyak yang harus dibayar. Trus kita juga harus melengkapi nilai mid dan tugas, absennya harus mencukupi, dan masih banyak lagi.

Lalu?

Apakah Allah memberi ujian, tidak memberi syarat ini itu?

Memang sih sebenarnya yang Maha Tahu itu hanya Dia semata, tetapi jika kita berpikir secara logika, manusia biasa aja yang buat peraturan ribetnya minta ampun, apalagi Dia yang menciptakan manusia si pembuat peraturan yang tadi. (P.S bagi yang menjalani perintah-Nya mungkin peraturan itu tidak ribet, berbeda dengan orang yang hatinya setengah-setengah bahkan gak ada untuk menjalankan perintah-Nya).

Terus, sekarang kita lihat, apakah kira-kira bangsa ini patut diizinkan ikut ujian????

Saya bukan menyalahkan siapa yang salah, tapi mari lah kita mengintropeksi diri. Jangan menganggap hal ini sepele. Karena dalam ayatnya Allah pernah berkata, Allah akan menurunkan bencana, jika sudah murka pada semua ummat-Nya tanpa pandang bulu dan orang yang tidak “bersalah” pun akan turut di dalamnya.

Benar, apa yang pernah dikatakan k2k tingkat saya waktu itu, “kalo kita tuh harus berbaik sangka, yang penting kita masih beriman pada-Nya.” Lalu saya membalas begini, “kan lebih baik kita beriman dan mawas diri.” Jadi, mentang-mentang sudah beriman, kita menganggap semua musibah sebagai ujian.

Tapi lagi-lagi muncul pertanyaan, kalo memang benar apa yang dikatakan k2k tingkat saya itu. Sudah sejauh mana kita beriman? Sudahkah kita sadar bahwa memegang tangan yang bukan muhrim itu haram? Sudahkah kita sadar saat sepasang kekasih yang belum nikah berdua-duan di kamar ada yang menyaksikan? Sudahkah kita sadar saat kita mengambil uang rakyat, kita diamati oleh-Nya? Sudahkah kita sadar bahwa shalat itu tiang agama? Sudahkan kita sadar bahwa pada diri kita ada secercah agama universal, yaitu Islam? Masih banyak lagi ketaksadaran kita, mengenai keimanan yang semakin menipis…

Setelah membaca ini, dapatkah kita mengatakan bahwa bencana di negeri kita ini adalah ujian Tuhan?

Komentar (11) »