Arsip untuk cerita gw

Cerita Tengah Malam

Wah, bener-bener udah lama gw gak up date nih blog. Bukannya gw sombong dan sok rajin nabung, tapi memang pada dasarnya gw terlalu sibuk ngurusin orang dan ga sempat ngurusin diri gw, termasuk rumah kecil ini.

Sebenernya banyak yang pengen gw ceritain beberapa bulan belakangan ini, termasuk tentang perjalanan gw ke Kendari dan Bali. Dua kota yang beda dan gw pernah ke sana. Tapi mungkin lain kali aja ceritanya, karena membutuhkan waktu yang cukup lama. Kelamaan sedihnya karena kangen ketimbang nulisnya.

Cerita yang pengen gw ceritain ini berawal ketika gw bosen buat soal untuk olimpiade kimia tingkat SMA hingga tepat pukul 11 malam. Akhirnya gw pun memilih untuk pergi ke warnet, rencananya juga mau bikin press realese tentang acara olimpiade ini dan dikirim ke Riau Pos. Bukak FB, check email, cari kabar blogfam, liat-liat dari jauh blog gw (takut, entar dimarahin karena udah lama gak singgah), akhirnya gw pun bosen. Pulang adalah jalan satu-satunya untuk menghindari bosen, karena mata juga sudah tidak dapat berkompromi lagi.

Eh, masih dalam keadaan terkantuk-kantuk sambil nindih si Vega, gw jadi terjaga liat kejadian tabrakan maut tidak jauh dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ). 5 anak ayam tanpa ekor, 3 ekor sapi tapi ayam, 2 unta, dan seeokar tupai dilaporkan tewas. Gak becanda. Gw gak tau korbannya kemana, mungkin dibawa langsung ke UGD RSJ yang ada di samping kampus gw. Tapi yang jelas, mobilnya ancur bener n masuk ke selokan.  Gw yang kebetulan punya kamera langsung saja ngeluarin si poket (panggilan gw buat kamera kesayangan) dan mengabadikan gambar itu. Yang gw salutnya, para penonton (kebiasaan jelek orang Indonesia yang sering mengiba tanpa berbuat) bak suporter lapangan hijau menyingkir ketika gw mulai membidikkan kamera, seolah-olah adanya gw akan membantu proses evakuasi, karena ga beberapa lama muncul mobil derek sekitar pukul setengah 1 malam.

Mereka tampaknya antusias ketika gw tanya kronologis kejadian. Saking banyak kalimat pake “kan” gw pun gak ngerti apa yang diucapkan oleh mereka yang berebut untuk menjawab. Gw bener-bener terharu.

IMG_0434

Tapi untung aja gw gak berniat foto seperti ini di depan tuh mobil:

poto waktu di Pantai Legian-Bali

Setelah puas foto-foto, naluri kewartawanan gw muncul. Rencananya gw bakal wawancarai polantas dan korban, tampaknya mereka sudah gak sabaran. Terlihat dari lirik-lirik mereka ke gw. Lewat rumah kecil ini gw minta maaf sama pak polantas dan korban karena gw ga sempat wawancara, maklum udah lama gak buat berita di media. Foto ini hanya untuk konsumsi pribadi

Akhirnya setelah bersalaman dengan para penonton, gw pun meninggalkan TKP dan rencana langsung ngeblog. Eh, gw cari-cari warnet deket rumah gw pada tutup. Ya udah deh, gw tancap pulang n langsung siapkan tugas. Baru pagi ini sempat up date. Semoga korbannnya selamat dan diterima di sisi-Nya. Loh kok????

Komentar bertahan »

Gilak Babi

Gak kerasa, gw akhirnya kembali di tengah orang-orang item tapi manis, mata dan rambut berwarna item juga, ukuran tubuh yang kecil, dan bercakap dengan bahasa Minang. Yah, gw telah kembali di Pekanbaru, yang penduduknya adalah warga negara Indonesia yang sering kali menggunakan bahasa Minang dalam berkomunikasi sehari-hari. Dua hari yang lewat gw berada di tengah-tengah orang bule yang bahasanya entah apa-apa. Yup, gw berada di Hawai…tapi Hawainya Indonesia, yaitu Pantai Lagoi-Bintan-Kepulauan Riau.

Gw bener-bener bisa mastiin kalo lu ke sana, lu bakal ngerasa gak di Indonesia. Bulenya banyak bener dan bahasanya pun beragam, mulai dari Eropa, Afrika, Asia, hingga Amerika sana ada di Lagoi. Apalagi pas gw ke sana ada acara Bintan Triathlon 2009. Gw aja sampai mangap setibanya di Pantai Lagoi itu, karena gw ngerasa gw beruntung banget bisa ke sana. Di samping tempatnya jauh dari Tanjungpinang, kendaraan pun tidak ada (kecuali nyewa mobil) dan akses  untuk masuk ke Pantai Lagoi, yang dikelola Bintan Resort, pun tidak sembarang orang. Kamu harus jadi pemesan kamar seharga ratusan dolar dulu baru bisa masuk.

Gw beruntung, karena gw ke sana dalam rangka hunting foto buat buku gw. Gw nebeng dengan orang Dinas Pariwisata yang notabenenya boleh masuk karena diundang ke acara itu. Ya, udah gw maksimalin aja deh tuk foto-foto sampai jam 10 malam. Sebenarnya orang Pariwisata cuman sampai jam 4 sore doang, tapi ternyata diundang juga untuk malam pemberian award kepada pemenang. Ya udah deh, gw terpaksa beli baju di Bintan yang harganya pake dolar singapura dan kalo dirupiahkan uang gw habis 85 ribu hanya untuk membeli pakaian seharga 15 ribu di Pasar Tanah Abang.

Tidak sampai di situ, karena lelah foto sana-foto sini, gw pun istirahat untuk beli minuman mineral (sebut saja Aqua). Yang gw tahu, minuman itu cuman 2000 rupiah, kalo ada yang mau untung besar pun cuman dijual 3000. Nah, ini mau tau berapa harganya? sin$2,5 atau 20.000 rupiah. Gilak dak tuh, dijual hampir 100 kali lipat buat rakyat jelata yang tak tau apa-apa ini. Ada kakak-kakak dari Dinas Pariwisata langsung berekspresi mengeluarkan kosa kata yang bagi gw begitu baru dan sangat artistik, Gilak Babi, katanya.

Komentar bertahan »

Ke Padang

Setelah semua urusan dana keberangkatan selesai, akhirnya gw berangkat juga ke Padang. Yah, gw dan lima orang teman lainnya malam (Malam Ahad, red)  ini akan berangkat ke Padang. Seperti yang pernah gw sebutin sebelumnya, kepergian gw kali ini untuk ikut olimpiade kimia, kali ini tidak lagi OSN-PTI dengan sponsor Pertamina, yang pernah gw ikutin hingga tingkat nasional Desember lalu. Kali ini adalah OSN-MIPA yang diadakan oleh Dikti.

Lomba ini dibagi 10 regional dan gw berada di regional II yang acaranya dipusatkan di Universitas Andalas, Padang. Gw gak berharap banyak kali ini, padahal sebenarnya kesempatan kali ini lebih besar ketimbang tahun lalu, karena masing-masing universitas hanya boleh mengirimkan maksimal 5 orang. Sementara OSNPTI tahun lalu, ada satu universitas pesertanya lebih 100 orang. Jadi jangan heran jika tahun kemarin pesertanya mencapai 1500 untuk bidang kimia dan alhamdulillah gw masuk 33 besar waktu itu. Dan sampai saat ini gw masih heran kok bisa lolos waktu itu. ;-)

Semoga gw selamat sampai tujuan dan begitu pulangnya. Karena agenda gw masih banyak. Abis dari Padang gw mau ngedit karya tulis, trus ngedit buku, berangkat ke Kepri, n terakhir gw presentasi KKTM bidang IPS 2009 Wilayah A (ini masih menunggu kejelasan, apakah masih ada apa gak).

Komentar (1) »

Kabar Sebulan

Hampir sebulan gw gak pulang ke rumah mungil ini. Untung aja gw pulang lebih awal sebelum ada yang memanggil gw Bang Toyib. Banyak kejadian yang terjadi sebulan belakangan ini dan gw pun bukan lagi indra yang dulu (hueks..).

Tepat pukul 18.17 wib pada 3 minggu silam, tepatnya Ahad, 19 April 2009, gw resmi menjabat sebagai Bupati Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Masa Bakti 2009-2010 (sengaja ditebalin biar mencolok) melalui Sidang Umum XII Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Kimia Tahun 2009 yang kemudian dilantik bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, 2 Mei 2009.

Berselang seminggu setelah acara suksesi tersebut, gw yang lolos ikut Kompetisi Karya Tulis Mahasiswa (KKTM) tingkat universitas harus mempresentasikan di depan juri pada Sabtu, 25 April 2009. Gw yang tahun ini ikut bidang IPS benar-benar enjoy, gak perlu inget-inget struktur-struktur kimia, proses kimia, dan yang lain sebagainya seperti Adhe yang untuk tahun ini kembali ikut Bidang IPA. Sebagai informasi, tahun lalu gw ikut KKTM bidang IPA sama Adhe dan Bang Hasyim, yang udah tamat. Sebenarnya gw ikut IPS tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mencari suasana yang berbeda. Kuliah di bidang kimia memang sangat menguras pikiran, tapi asyik. (bener tuh?)

Kemudian gw kembali disibukkan dengan rutinitas laporan, tugas-tugas kuliah yang tak kunjung usai, hingga tugas-tugas presentasi. Fiuh, repot dan melelahkan. Namun, di tengah-tengah semua itu, gw dapat kabar gembira, ternyata karya tulis gw dapet juara 1, begitu juga Adhe. Yang Adhe gw udah yakin menang sebelumnya. Pasalnya, dewan juri tampak begok kurang pintar dengan slide-slide yang Adhe tampilkan dari bidang kedokteran, sedangkan dewan pengujinya berasal dari Pertanian, ISIP, dan Teknik. Masak yang ditanya cuman singkatan ama judul. Kan, nampak tuh gak nguasai. Nih, catatan buat PR III.

Abis itu gw dan beberapa orang teman ditunjuk untuk ikut olimpiade tingkat perguruan tinggi lagi. Kali ini pelaksanaannya dilakukan oleh Dikti, tampaknya Dikti kecolongan, karena kali pertama acara ini dilakukan oleh Pertamina (baca: tulisan sebelumnya) bukan Dikti. Untuk Regional II (Sumbar dan Riau), pelaksanaan dilaksanakan di Universitas Andalas, Padang pada 11-12 Mei 2009. Menjelang itu gw bener-bener sibuk cari dosen untuk mempelajari materi yang memang belum tersentuh (maklum masih semester IV). Belajar dari pengalaman ketika gw ikut OSNPTI di UI pada Desember 2008 silam.

Selain itu, gw juga disibukkan dengan kepastian keberangkatan pemenang KKTM tingkat universitas ke wilayah A. Gw dapat informasi di internet, KKTM tidak ada lagi, karena diganti dengan PKM-GT dan makalah harus sudah diterima di Dikti pada 10 Maret 2009. Jika demikian, apa dasarnya universitas gw ngelaksanain KKTM ini akhir April lalu? Lalu sia-sia dong gw nyari bahan sampai ke Lapas buat nyelesain karya tulis ini? Ini yang sedang gw urus menjelang keberangkatan gw ke Padang. Konsentrasi gw agak pecah, belum lagi persiapan ujian mid untuk beberapa mata kuliah yang tertinggal.

Bak kata pepatah, rajin pangkal pandai, malas pangkal bodoh, pada 6 Mei 2009 tepat saat gw sedang belajar Biokimia I, gw dapat telpon dari nomor Jakarta, +6221xxxx, begitu sekilas yang gw lihat. Assalamualaikum, begitu kalimat yang gw ucapin ke orang di seberang sana. Namun, suaranya tak terdengar. Gw gak tau nih, apa memang sinyal yang di kampus gw lagi jelek atau suara mbak ini yang jelek memang kecil. Gw pun mencoba untuk menyetel kuping dan ternyata ada yang salah dengan kuping gw. Tadi pagi gak sempat bersihiin..hihihihi (gak ding).

Ok, balik ke inti permasalahan. Yang terdengar di kuping gw waktu itu cuman kata-kata “Selamat.”
Gw    : “Halo..halo. Mbak masih di sana?” gw akhirnya tahu bahwa manusia di seberang sana seorang mbak-mbak.
Si Mbak: “Iya….blupblupblup… Selamat ya!”
Gw    : “Aduh mbak, apaan sih? Apanya yang selamat? Gak jelas loh mbak. Bisa dikencengin gak suaranya.”
Si Mbak: “K A M U    M E N A N G    L O M B A     N A S K A H   J A L A N,” tampaknya kesabaran si mbak telah hilang. *lebay* (lihat pengumumannya di sini)
Gw    : “Oh. Yang Gagas ya Mbak?” kata gw kalem
Si Mbak: “Iya.” Katanya akhirnya yang mungkin diiringi dengan elusan dada. “Selamat ya!” ulangnya lagi.
Gw    : “Makasih ya mbak,” kata gw.
Setelah itu si mbak pun ngejelasin catatan dewan juri yang harus gw perbaiki untuk diterbitin dalam waktu dekat. Gw pun mendengarkan sambil menghayalkan pulau dewata sebagai hadiah. Dan setelah itu gw pun gak konsen belajar Biokimia I.

Ucapan selamat pun mengalir kepada gw dan mungkin cap tukang kritik pun segera akan luntur. Hehehehe, emang enak loh jadi reviewer itu….

Nah, yang sekarang lagi gw pikirin, selain persiapan ke Padang yang tinggal menghitung hari adalah gw harus memikirkan siapa pendamping gw untuk ke Bali. ;-) .

Komentar (5) »

Bolos dan Tanpa Vega

Waduh, minggu ini begitu spesial bagi gw, karena akhirnya derita perjuangan gw berakhir sudah, yah setidaknya untuk minggu ini. Minggu kemarin, bisa dikatakan acara Talkshow bersama Mbak Asma Nadia berjalan dengan sukses. *maksa*

Memang ternyata bikin acara itu bikin menderita, bayangin aja, jam tidur gw yang memang udah sedikit, dikurangi lagi. Mo gimana cobak, karena memang kepanitian yang berasal dari FLP Wilayah Riau tidak banyak. Jadinya, gw dan juga mungkin sebagian panitia harus fokus gimana acara ini selesai.

Tapi yang jelas acaranya udah kelar dan gw pun kembali fokus ngerjain laporan dan tugas yang udah segunung gw tinggalin. Pulang dari Gedung Soeman-HS, tempat berlangsungnya acara, gw bener-bener letih. Alhasil, semua tugas gak satupun gw kerjakan, termasuk jurnal. Dan kabar gembiranya, Seninnya gw telat bangun. Yang ada gw kelimpungan pagi itu mau ngerjain apa. Akhirnya gw pilih nyusun buku kuliah dan bikin jurnal. Dan tretet-tretet, gw berangkat dari rumah pukul 08.10, sementara kuliah pukul 08.00 dan rumah gw dan kampus berjarak kira-kira dari Lenteng Agung (Universitas Pancasila) ampe…..*lupa gw ngukur waktu ke Depok.hehe*

Nah, gw udah punya rencana mau nyelonong aja masuk ke kelas waktu udah nyampe di kampus. Gw nyampe di kampus tepat pukul 08.30 dengan gas full dan melintasi berbagai rintangan, mulai angkot, bis akap, bis akdp, truk sawit, truk konteiner, truk pasir, dan lain sebagainya. Kalo ada yang belum tau, nih gw kasih tau kalo gw hampir tiap hari telat.*suatu hal yang tak patut dibanggakan*

Tapi niat masuk gw urungkan, sebenarnya gw sedih. Gw belum pernah bolos sebelumnya. Ups, gw ralat, gw gak pernah bolos karena niat gw sendiri sebelumnya. Beberapa kali gw bolos karena ikut lomba dan sebagainya. Namun, ketika gw melihat apa aja yang gw isi ke dalam tas, gw langsung setuju untuk bolos pertama kalinya atas niat sendiri tanpa ada pihak manapun yang mengintervensi gw. Gw menuju tempat sepi dan gw keluarkan dah kertas putih. Ya, gw mau ngerjain laporan. Fiuh.

Senin bolos, Selasanya gw tanpa Vega. Vega lagi diservis, maklum gw udah terlalu lama bersamanya, jadi tentu ada beberapa bagian yang perlu diservis. Gw pun udah lama ngerasain ada yang gak beres sama Vega, tapi baru kemarin gw lepasin Vega, karena Bapak yang pergi bawa servis. Gw hampir gak punya waktu. Senin-Rabu kuliah ampe pukul 5 sore, Kamis kuliah ampe pukul 10, trus jadi asisten labor dari jam 2 ampe jam 5 sore. Trus Jumat pagi gw kuliah dan Jumat sore ama Sabtu gw full ikut organisasi kampus dan luar kampus. Ahad tutup bengkelnya.

Waktu pergi gw bisa nebeng ama tetangga yang kuliah di Pertanian. Pulangnya gw pake bus. Gw nebeng sama mobil dosen gw sampai ke luar kampus. Nah, di luar baru deh gw dapet bus. Gak berapa lama dalam bus, si knek minta ongkos. Gw pun memberi uang Rp 2100 seperti apa yang dipesankan Adhe kepada gw. Adhe lebih berpengalaman mengenai busisasi dan opletisasi. Eh, si abang knek malah nyolot minta tambah. Pas gw bilang gw mahasiswa baru deh mulutnya itu diam. Gw baru nyadar ngapa tuh si knek mulutnya compang camping kek gitu, gw bawa laptop. Emang kalo bawa laptop ongkosnya jadi nambah??????

Turun dari bus, gw naik angkot. Deket sih sebenarnya menuju rumah gw, tapi karena jinjingan gw banyak, gw terpaksa naik angkot. Eh, untuk tarif angkot gw lupa nanya berapa. Gw pun berpacu sms ke Adhe dengan kecepatan si supir angkot. Tapi alhamdulillah saat mobil berhenti sms dari Adhe masuk. Langsung gw baca

2500 aj lah kasi.

Sender:
Adhe
+6285658262xxx

Dengan gerakan cepat, gw pun ngeluarin uang dari dompet 3 ribu. Si abang supir hanya bengong-bengong aja tuh liat gw sambil ngembaliin uang gw 500 lagi. Gw sebenarnya bukan gak mau rugi ato apalah namanya, gw hanya gak mau dibilangin KETIPU. Sakit aja rasanya kalo apa yang gw beli atau gw bayar ternyata di luar batas normal. *gak nyambung* Apalagi tuh Kimia Ceria, termasuk Adhe, begitu senangnya ketika gw ketipu, walaupun hanya ketipu 100 rupiah. Gw bodoh, mereka senang.hikshikshiks.

Udah deh, gak penting kayaknya dibahas kebodohan gw yang udah lama gak naik angkot ama bus. Padahal waktu SMA gw merajai dunia perangkotan dan perbusan. Yang jelas gw nyampe di rumah abis magrib. Setidaknya gw senang, karena pagi ini gw gak kuliah, bukan karena gw bolos, tapi karena dosennya yang bolos.hehehehe

Komentar bertahan »

Minggu-Minggu Suram

Gak terasa udah hampir dua minggu gw gak update nih blog. Gw benar-benar dapat ujian berat. Yah, beberapa minggu ini benar-benar cukup suram bagi gw, pasalnya gak hanya Ujian Tengah Semester dan berbagai kuis yang gw lalui di kelas, gw juga mendapat ujian terberat, Kak Intan (Ruwaida Muthia), bendahara gw dalam acara talkshow yang pernah gw ceritain, telah berpulang ke rahmatullah, Ahad pagi 5 April 2009.

Sosok Kak Intan begitu berarti bagi gw. Yah, maklum gw terlalu banyak kerjaan, jadi Kak Intan yang cukup fokus dan selalu ingetin gw. Kejadiannya begitu mendadak, padahal malamnya gw masih sempat sms-an dengan kakak itu. Tapi apa yang hendak dikata, Tuhan punya rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun. Gw cuman bisa berdoa semoga Kak Intan ditempatkan pada posisi yang terbaik “di sana”.

Yah, setelah kepergian Kak Intan, hari-hari yang gw lalui semakin suram saja. Gw dan teman-teman musti selesaikan urusan yang diamanahkan kepada Kak Intan. Tapi di hari yang semakin suram itu, gw selalu berusaha untuk kuat, karena memang gw rasa itu yang diinginkan Kak Intan.

Lepas dari suram-suram, gw rabu kemarin pergi ke RS Arifin Ahmad. Rencananya gw pengen ngasih privat sore itu, tapi ditelpon, katanya gak les, keluarganya ke Sumatera Barat (habisin masa liburan mungkin). Ya udah deh, karena gw pulang udah sore dari kampus, gw pun menuju RS Arifin Achmad jenguk dosen gw yang sakit, tanpa mandi dulu tentunya. Gw sms deh temen-temen yang bisa ikut, tapi tak ada yang bisa, katanya udah pulang kampung semua mau nyoblos. Jadi gw ajak aja adik tingkat gw dan ternyata dia mau. Ya udah setelah magrib, gw pun ke RSAA.

Wuih, suasana RS di malam hari bener-bener ngedukung buat film suster ngesot. Sepi. Lorong-lorong itu tak berpenghuni…..(ya iyalah entar di razia pula sama Satpol PP). Si adik tingkat ciut deh nyalinya. Gayanya aja sok berani, tangannya megangin tas gw.

Si Adik : “Jangan cepet-cepet donk kak?”

Gw : “Siapa yang cepet sih?”

Gw aja yang sering gak nyadar kalo jalan. Gw masih inget waktu jalan dari asrama UI ke Stasiun UI. Jangan dikira bodoh dulu ya, kejadiannya tanggal merah, mana ada Bikun. Nah, gw udah nyampe di Stasiun UI, eh temen-temen gw masih kesisa (tertinggal ding) di pos satpam.

Ok balik lagi ke suasana RS.

Gw : “Kayaknya pintu di sini ditutup deh?”

Si Adik : “Gak tau? Tapi serem banget, kak. Jangan cepet-cepet kak!”

Gw : “Ih, udah dibilangin gak cepet, masih ngotot juga. Atau ngesot aja?”

Si Adik : “Jangan ngomong-ngomong ngesot gitu dong” (leher gw sampai tertartik ke belakang, saking semakin kencengnya nih anak megangin tas gw).

Gw : “Hiya.Hiya. Thapi jhangan mahin hkasar hgini hdong.”

Abis itu si adik ngelapasin pegangannya di tas gw dan gw pun kembali bernafas lega. Dasar pembunuh berdarah dingin.

Setidaknya ada tiga orang yang gw kenal dan ketemu di RSAA. Tetangga gw, sekretaris jurusan di kampus gw, dan terakhir dosen yang bersangkutan (percuma aja kalo ke RS gak ketemu si ibuk dosen).

Tepat jam 19.30 gw pulang dan ada hal yang bikin gw keki. Orang-orang yang ketemu ama gw punya tawa yang penuh arti ketika melihat gw bareng adik tingkat. Yah, mungkin aja mereka punya pikiran:

1. Weh, Indra udah punya pacar baru ya? (gak tau gosip mana yang didapat sebelumnya tentang gw ketika ada yang ngomong kayak gini)

2. Cantik juga ya pacarnya Indra! (sepertinya ini perlu uji klinis  *sori dek*)

3. Loh, kok gak dapat berita ya, Indra udah jadian? (gak ngikutin infotainment sih!)

4. Siapa yah ceweknya Indra itu? (ya elah, udah dibilangin adik tingkat, gak percaya sih)

5. Alhamdulillah ternyata Indra masih suka cewek! (maksudnya apa tuh? Ya suka lah, gw nya aja yang belum mikirin pacaran, untuk saat ini).

Sebelum spekulasi ini berjalan lebih jauh dan membuat fans-fans gw pada pusing, gw mau klasifikasi. Si adik itu benar-benar adik gw, yah setidaknya sekarang. Gw gak tau beberapa tahun lagi dia bakal jadi istri gw apa gak, karena itu rahasia Tuhan. Hahahahah, kok ngomongnya jadi ngelantur gini sih.

Tiba di rumah gw nanyain kabar adik tingkat gw yang lain, tuh di negeri nun jauh di sana, Padang (jauh ya?). Sorenya dia mau ke RS juga (Waduh kok banyak banget sih hari itu yang ke RS). Gw rasa mungkin dia sakit Tipes ato apalah, pasalnya suaranya bergetar dan menggigil. Ternyata dari hasil investigasi (sms maksudnya), dia udah mendingan. Moga cepat sembuh ya!.

Komentar bertahan »

KES T & RSSM

KES T? Apa itu? Mungkin bagi yang gak pernah mencicipi mata kuliah Profesi Kependidikan ataupun Bimbingan Konseling gak bakalan tahu. Lu gak perlu bukak KBBI buat nyari tuh arti kata kata. Sepertinya dosen kampus gw aja tuh yang main singkat-singkat.

KES T itu kependekan dari Kehidupan Efektif Sehari-hari Terganggu. Yah, awalnya pas tuh dosen ngasih singkatan, gw dan beberapa temen yang sering duduk di bangku paling depan akan was-was. Pasalnya tuh dosen yang suka sama Godok Bagulo bakal suka nyingkat-nyingkat asal aja. *contohnya lagi gw kumpulin* maklum pas dosen tuh nerangin, gw lagi ngerjain laporan praktikum.

OK, back to KES T. Nah, beberapa hari belakangan ini temen-temen gw dan mungkin juga gw mengalami namanya KES T. Yah, masalahnya cuman sepele. Kampus gw tiap semester ngadain monitoring dan evalusai. Salah satu aspek monitoring dosen itu juga berasal dari mahasiswa. Eh, dia malah marah, karena nilainya rendah. Dia bilang, kami semua pembohong lah, gak jujurlah, sok pintar lah. Pokoknya pake “lah” semuanya.

Makanya saat mata kuliahnya di semester ini keluar di angkatan gw, bapak itu pun merubah metode belajar. Gw dan temen-temen disuruh maju buat ngajar. Dia cuman duduk, abis jam ngajar dia keluar. Wah, gimana gak KES T tuh. Si Bapak aja yang ngajar gak ngerti apalagi gw dan temen-temen. Temen yang ngajarin di depan aja gak ngerti apa yang ia ajarkan. Bener-bener frustasi di kelas mata kuliah si Bapak. Kakak tingkat yang ngambil mata kuliah bareng angkatan gw sampai ngebatalin tuh mata kuliah. Kalo angkatan gw jelas gak bisa. Karena dia udah ngomong, sampai kapan pun, setiap mata kuliah yang ia asuh akan ia buat seperti itu khusus untuk angkatan gw.

Gw awalnya fun-fun aja. Malah seneng dong. Karena temen-temen yang silih berganti ngajar gak ngerti apa yang ia ajar, gw pun gitu juga, gw akhirnya mutusin buat laporan, main game, atau nulis. Yah dari pada belajar gak jelas gini. Toh, si Bapak juga udah janjiin angkatan gw bakal dirilis dengan nilai E.

Loh, lu gak usaha? Minta maaf atau apa kek? Hahahaha. Lu gak tau sih masalahnya. Gw dan temen-temen gak salah kok. Malahan sangat objektif menilai tuh Bapak. Awalnya dia buat metode gitu katanya karena kami bohong menilai cara ngajarnya. Gw gak terima dong, perasaan gw dan temen-temen ngisi nilai untuk cara ngajarnya tinggi kok. Gw pun pergi lah menghadap ketua prodi dan minta izin melihat hasil penilaian. Dan terbukti lah bahwa nilai ngajar bapak itu tinggi-tinggi. Bayangin aja, gw dan beberapa temen ada yang ngasih nilai tertinggi dari angket nilai itu buat si Bapak.

Gw pun pergi menghadap tuh Bapak. Gw mencoba untuk maaf walaupun kali ini gw sangat yakin kalau ini adalah hal yang paling salah yang pernah gw lakuin. Eh, dianya malah nyuekin gw. Ternyata belakangan baru ketahuan, ternyata si bapak itu gak senang dengan kejujuran angket yang diisi oleh angkatan gw tentang kepribadiannya. Pendendam, egois, pemarah, dan beberapa sifat jelek lainnya melekat tuh pada dosen.

Yang bikin gw KES T bukan metode yang dibuat bapak itu, tapi lebih kepada tanggung jawab gw pada angkatan. Kebetulan gw dipercaya menjadi Komting. Temen-temen gw pada nangis-nangis minta gw minta maaf lagi, belum lagi perpecahan antara kubu yang mengisi angket (sekitar 20 orang) dengan yang gak (sekitar 25 orang). Bener-bener ribet. Belum selesai satu masalah muncul masalah baru.

Tapi sudahlah, gw udah bisa mulai mengatasi KES T itu. Tapi entahlah buat temen-temen gw yang lain. Gw berharap sih gak ada istilah KES T lagi di angkatan gw. Berdoa aja tuh si Bapak dibukakan pintu hatinya untuk menerima kebenaran, walaupun itu pahit. *berdoa mulai*……………………..*selesai*

Lepas dari KES T, perasaan gw juga sedikit lega. Selasa, gw ngantar naskah buku ke GagasMedia lewat Pak Pos. Moga aja diterima. Amin. Dan kemarin gw seneng banget dapat hiburan gratis.

Kemarin sore sehabis kuliah, gw nemenin someone (s.o) ke dokter bedah. Gak dibedah sih, tapi disuntik doang. Biasanya dia pergi bareng Pak De nya. Tapi kali ini dia minta gw nemenin. Yah, gw temenin dong. Terlebih lagi gw lagi butuh hiburan. Loh kok? Iya, emang bener. Nih s.o cengeng banget orangnya. Takut darah, takut jarum suntik, takut infus, takut perban. Pokoknya penakut deh n biasanya kalo udah takut dia bakalan nangis. Dan kebetulan hiburan kayak gitu gw suka.

Gw langsung tancap ke RSSM (males gw manjanginnya). Dia udah nunggu di sana. Gak berapa lama gw cerita-cerita dengannya, namanya pun dipanggil. Nah, gw pun siap-siap melatih kontraksi mulut untuk siap-siap tertawa.

Ups. Gw lupa ngasih tau, kalau di tangannya ada daging tumbuh, istilah kedokterannya keloid. Udah pernah dioperasi sih, tapi pas udah gede muncul lagi. Dia pun dengan lantangnya mengatakan TIDAK pada operasi kembali. Say No to Operasi, katanya.

Di ruang dokter, dia pun berbaring. Dokter mulai mengeluarkan senjata (baca: jarum suntik), si s.o pun mulai mengeluarkan air mata. Kemudian si s.o teriak-teriak setelah jarum menusuk daging kecil itu.

s.o : “Aduhhhhh dok….Sakiiiiiiiiiiiitttttttt”
dokter : “Gak. Dokter gak sakit. Suster sakit???”
Suster : “Gak dok. Suster gak sakit. Mungkin mas ini?” *sambil nunjuk gw*
Gw : “Ah, gak. Gak sakit. Terus aja dok…”
s.o : “Awassssss, nanti kamu ya masssssss!” *dia kadang manggil gw mas atau abang*

Abis itu gw tertawa sampai proses penyiksaan selesai. Dan si s.o pun seperti robot, tangannya bener-bener tegang dua-duanya. Air matanya udah mulai ilang sih. Gw gak enak juga mau ngapusnya. Trus gw dapet telpon dari kakak gw. Gw diminta pulang cepet. Si Emak nitip beli obat batuk paling mahal *kadang-kadang si kakak memang agak lebay*
Gw gak enak aja ninggalin nih s.o. Yah, gw cerita-cerita aja bentar di lobi sambil nunggu Pak De nya.
Gw : “Bener-bener takut ama suntik dan darah ya?”
s.o : *hanya sekali anggukkan kepala*
gw : “Dari SD ya?”
s.o : *dua anggukan kepala*
gw : “Pernah gak luka, trus lukanya itu dikasih jeruk nipis?”
s.o : *diem tanpa anggukan*
gw : “Ato pernah gak…….*tangannya yang abis disuntik kesenggol*”
s.o : “Aduh mas………Sakit tauuuuuuuuuu…”

Gw pun berusaha nenangin dia. Di depan orang ramai pula si s.o tuh mekiknya. Apa kata orang-orang nanti tentang gw. Bayangin aja sampai ada yang bisik-bisik gak jelas. Ah mati kucing lah mereka. Gw pun nenangin lagi tuh s.o. Dan dia pun diam. Karena si Pak De mau datang dan hari udah malam, gw pun pamit sama s.o. Awalnya dia gak mau gw tinggalin. Tapi setelah gw tatap matanya dalam-dalam, dia pun terhipnotis dan tertidur. Saat itulah gw kabur.

Ternyata hidup penuh “warna-warni” akan asyik kalo kita menjalaninya dengan pikiran jernih.

Komentar (1) »

Sial & Temannya

Fiuh. Gw bener-bener ditimpuk ama sial Minggu kemarin.

Ini berawal ketika gw mau nyiapin buku yang mau gw kirim ke penerbit. Gw berhasil nyelesain tuh buku pada Minggu pukul 4 dinihari dan gw cuman tidur 3 jam. Gw bangunnya jam 8. *bukannya 4 jam?* terserah deh, lagi gak pake kalkulator.

Kemudian dengan semangat 45 gw berangkatlah ke kampus. Kebetulan catridge warna printer gw lagi rusak. Yah, gw numpang ngeprint tempat kost kakak tingkat deh. Rencananya sambil nunggu print-nan tuh buku, gw bisa ngerjain laporan Praktikum Kimia Analitik II.

Eh, ternyata kejadiannya di luar rencana. Baru aja gw masuk kampus, ban motor gw bocor. Gw bener-bener illfil berat. Ini sama sekali gak gw rencanain. Akhirnya gw pun mendorong tuh motor sambil mencari bengkel. Waduh, gimana mw nemuin bengkel, kampus aja belum keliatan. Maklum dari pintu masuk kampus gw ke area gedung jauh banget. Tapi gw semangat. Itung-itung olahraga.

Awalnya nyantai aja. Tapi gak beberapa lama gw diliatin ama beberapa cewek yang lewat mendahului gw. Ada juga yang menyemangati gw. “Ayo, semangat. Lu pasti bisa.” Ada juga yang ini. “Terus. Terus. Ups..Kiri sedikit. Ok Pas. seribu.” *obsesi tukang parkir tuh cewek*

Udah ah, gw lanjut aja dorong motor. Peduli amat. Dengan 4 buku tebal yang bisa dijadiin bantal untuk 4 orang. Ditambah sebuah note book, akhirnya gw sampai di tempat bengkel. Kira-kira jalan yang gw tempuh dari Universitas Pancasila ampe Detos (Depok Town Square). Kabar baiknya itu dibarengi sambil dorong motor.

Temannya si Sial ternyata menimpa gw lagi. Ternyata tuh bengkel yang paling deket dengan kampus (yah jaraknya kira-kira dari Detos ampe Univ. Pancasila tadi) T U T U P.

Dan gw pun berisrirahat di tempat temen kost gw. Yah, urusan motor entar aja. Kalo gak ketemu juga tuh bengkel, gw mending pulang pake bus aja. Gw milih pergi tempat kakak tingkat untuk ngeprint.

Lagi. Temannya Sial yang satu lagi ikut-ikutan nimpuk gw. Si kakak tingkat pulang kampung. Jadi gimana nih? Akhirnya gw pun terjun ke Sungai Siak *gak lah*

Gw nelponin semua orang yang ada di phone book gw. Eh, semuanya malah bilang lagi rusak lah, gak adalah, lagi pulang kampung lah, lagi di rumahnya lah lagi makan. Intinya gak ada yang punya printer warna yang normal.

Gw pun kembali tempat kost temen gw. Setelah mempertimbangkan secara matang, gw akhirnya bawa tuh motor ke bengkel. Yah, dorong lagi. Padahal tangan gw udah lemes. Bayangin aja buat ngupil aja gw musti pake jempol kaki, saking lemesnya tuh tangan. *ekstrim*

Setelah perjalanan 1 km, akhirnya gw nemuin tuh bengkel. Di sebelah bengkel itu ada cuci motor. Akhirnya gw pun ngambil dua paket sekaligus. Perbaiki ban motor dan cuci motor.

Abis itu gw lirik jurnal. Gw ingat rencana gw juga ngerjain laporan. Ingat laporan, gw langsung ingat asintennya. Bang Daus. Gw pun mencari nomor tuh abang sama kakak tingkat dan akhirnya dapat. Dan dengan hati gembira, gw denger kata-kata. “Bisa, Ndra!”

Wuih lega bener.

Gw pun langsung tancap tempat kost tuh Bang Daus. Sambil ngeprint dan motor gw diperbaiki, gw pun ngerjain laporan. *jangan buruk sangka kalo laporan gw tinggi, gw gak nanya2 kok ama Bang Daus*

Nah, print-an selesai, perbaiki dan cuci motor ok, laporan belum kelar, gw pun pulang. Sebelumnya gw mampir tempat jilid naskah. Setibanya di rumah gw pun tak lagi sadarkan diri.

Tapi ada dua hal yang berhasil gw simpulkan dari kejadian itu: Pertama, kalo ngupil sebaiknya pake telunjuk, soalnya kalo pake jempol kaki bakal memperlebar diameter lubang hidung. Kedua, jangan macam-macam ama si Sial, karena dia suka main keroyokan. Kalo udah jatuh ketimpa tangga gak masalah. Yang jadi masalah kalo jatuh ketimpa durian.

Rencana di tangan manusia, keputusan di tangan Tuhan.

Komentar bertahan »

“Total”, Dari Kambing Jantan The Movie

Wah udah lama rasanya gak berlama-lama di depan komputer, hanya buat having fun. Jujur belakangan ini gw bener-bener banting tulang dalam artian sebenarnya. Mulai dari ngurusin segala hal permintaan dosen yang maunya serba cepat (yah halusnya jadi pembantu asisten dosen), masalah mata kuliah Kimia Fisika (KF) II yang bikin gw males datang ke kampus, buku dan novel gw yang gak kunjung usai, ngisi database yang banyaknya nauzubile, dosen yang gak pernah bosen ngasih tugas tiap kali pertemuan, rapat-rapat berbagai organisasi seakan ingin menyaingi tugas yang diberikan dosen, nyiapin KKTM 2009, ampe ngurusin acara talkshow nasional bareng Asma Nadia. Kepala gw bener-bener mw pecah rasanya. Dan kabar baiknya lagi, saat ini sudah mulai praktikum dan tentunya beban gw bertambah satu lagi. BUAT LAPORAN TIAP MINGGU. Fiuh!!!!

Well, sekarang gw sedikit bebas, karena KKTM udah selesai, buku ampir selesai (rencana sih mau bawa ke GagasMedia), masalah KF masa bodoh lah, database coming soon, satu per satu kerjaan dosen udah berhasil gw selesain, tugas-tugas sebagian juga udah selesai (entahlah kalo minggu depan ada lagi, terpaksa gw up-date ni cerita), rapat gw gak ikut (peace). Yah tinggal ngurusin acara talkshow, novel, dan LAPORAN minggu ini.

Back to “Total”. Kemarin karena jadwal gw yang lumayan agak renggang, gw akhirnya bisa juga nonton di Riau 21. Karena beberapa bulan terakhir ini, kalo temen-temen gw ngajakin, gw gak bisa ikut. Tapi sekarang beda, gw udah bisa merasakan hawa hiburan di bioskop sana. Gw pergi bareng pemenang Menjulang Awards.

Sampainya di bioskop gw serahin sepenuhnya kepada si pemenang mw nonton apa. Dan setelah menimbang, memutuskan, serta menjual berbagai kebutuhan sehari-hari, akhirnya dia memilih nonton…tretet…tretet.. KambingJantan The Movie.

posterkambingjantanthemuvi

posterkambingjantanthemuvi

Gw yang dalam hati. “Tolong pilih Twilight, udah lama gw pengen nonton itu.” Maklum kata temen gw, Twilight pilemnya bagus.

Kenapa gw gak mau nonton KambingJantan? Alasan pertama, kata temen gw lagi, pilemnya gak bagus banget, jauh dari isi cerita bodohnya. Alasan kedua, yang nulis ceritanya (ini yang dari buku ya, bukan versi movie) adalah seekor kambing, gak manusia. Yah, mw gimana lagi gw dengan terpaksa nonton KambingJantan The Movie. (gak sinkron banget sih..;-))

Kata temen-temen bener. Ternyata yang ada di studio dikit banget, bisa diitung ama jari tangan dan jari kaki. Gw bener-bener nyesel waktu itu. Tapi gw berusaha menikmati. Eh, si pemenangnya malah manyun gitu. Keknya dia nyeseeeeeelllllll banget milih KambingJantan The Movie. Kalo menurut gw sih, dia milih KJ (capek gw manjang-manjangin biar keren) karena dapat informasi yang salah.

Tapi gak bagi gw, semakin gw pelototin dalam-dalam, rasanya bola mata gw pengen keluar, yah gak lah. Semakin gw perhatiin, ternyata pilemnya bagus kok. Emang sih beda ama bukunya, tapi yang ini lebih “bernilai.” Sori Dith gw sempet ngeraguin karya bodoh lu yang satu ini.

Banyak banget yang bisa gw ambil dari cerita KJ. Salah satunya, kambing dan kebo gak bisa dikawinsilangkan.hahahahaha….dan salah satunya lagi, gw inget kata-kata si kebo, “Gw maunya total…..”

Total? Wah, gw jadi inget Luna Maya. Gak. Gw langsung inget tentang diri gw. Gw pikir, selama ini gw gak total ngerjain sesuatu hal. Yah, hasilnya jelas gak maksimal. Saat keluar dari Riau 21 gw terus terbayang kata-kata total yang keluar dari mulut kebo. Total..Total..Total..Gw terus ngelafasin kata-kata itu dalam hati sampai di tempat parkir. Gw jadi kepikir kalo gw pengen konsen ke dunia tulis menulis, seperti Radith yang akhirnya menolak keputusan nyokapnya untuk kuliah di Finance, walaupun udah terlanjur. Jadi gw berpikir juga kalo gw mungkin bisa mengakhiri semua ini dan juga konsen di dunia tulis menulis. Jujur, saat ini gw hanya bisa nulis resensi di koran lokal. Karena memang waktu gw untuk nulis sekarang luar biasa tersitanya. Ya, gw harus total di dunia tulis dan gak mikirin yang lain.

Tapi belum lagi gw ninggalin lapangan parkir, handphone gw bergetar. Oh reminder, pikir gw. Dan setelah gw liat, semangat gw untuk total hancur lebur. Di henpon itu tertulis kata-kata yang seolah ngejek gw “Ingat: Ngajar jam 7 di Cempedak.”

Sekarang, besok, besoknya lagi, dan lagi, gw mungkin belum bisa untuk total. Hasil sampingan akan berbeda jauh dengan hasil utama. Bukan begitu Dith????

Okeh, sekedar informasi dan promosi. Forum Lingkar Pena (FLP) Wilayah Riau mengadakan talkshow dengan tema: “Saatnya Kampanyekan Menulis untuk Mendidik”
Talkshow Nasional Bersama Asma Nadia
Gedung Perpustakaan Soeman HS
Jalan Jendral Sudirman
Ahad, 12 April 2009
CP: 085667611808

Komentar (2) »

Libur, Kerja, Libur & Kerja

Waduh akhirnya keinginan liburan gw terujud juga. Keberangkatan gw yang rencananya Sabtu, 31 Jan 09 ke Hang Nadim-Batam, yang terakhir gw kunjungi waktu berumur 6 tahun, diundur jadi Ahad, 1 Feb 09. Gw sempet marah tuh sama maskapai seenaknya aja ngudurin jadwal penerbangan. Alasannya sih ada kesalahan teknis. Ya udah deh, karena gw dikasih taunya dua hari menjelang pergi, setidaknya gw bisa sedikit mengerti.

Sebenernya gw gak punya sodara di Batam. Sodara gw adanya di Tanjung Pinang. Emang sih semua keluarga gw yang ada di Pekanbaru (ya elah gayanya kayak mo ngelepas naik haji) ngasih saran supaya gw ke Tanjung Pinang aja. Ya mereka ngomongnya enak, tapi gak tau biayanya. Tiket ke Tanjung Pinang = 2,5 x tiket ke Batam. Makanya gw ke Batam, dari Batam baru ke Tanjung Pingan pake Fery dengan biaya 45 ribu. Hemat berapa rupiah cobak??? (klo yang ginian, gw cepet ngitung-ngitungya..;) Masiswa gitu loh.

Gw nekat aja ke Batam, karena gw udah biasa keliling sendiri. Waktu masi puti abu-abu aja gw pernah ke Ibu Kota (Jakarta), yang katanya lebih kejam dari ibu tiri, sendiri. Sempet pulak gw kesesat di jalan tol, untungnya gak ada pamong praja. Karena gw tau dari tipi, pamong praja-nya Jakarta kejem-kejem. Tapi bagaimanapun gw dengan sok beraninya pergi sendiri, si emak tetap aja tuh puasa nadzar kalo gw balik dengan selamat ke kota kelahiran gw.

Nah, hari yang dinanti tiba. Semua perlengkapan sampai ke celana dalam udah gw persiapkan. Setibanya di Bandara SSK II gw ngambil tiket dulu. Dan di sana lah dewi fortuna itu muncul. Dengan wajah berdosa si mbak ticketing ngomong ke gw.

“Mas, maaf. Penerbangan kita transit di Pinang dulu. Gak apa kan Mas?”

Gak tau gw harus berekspresi macam apa melihat si mbak-mbak itu. Udah ngundurin jadwal terbang seenaknya dewe, eh sekarang malah memperlambat jam penerbangan. Di sisi lain, gw kembali mengkalkulasi keuntungan gw ketika transit di Pinang. Dan gw dengan gagahnya mengatakan:

“Oh gak apa mbak. Mungkin saya turun di Pinang aja kalo gitu, sambil jalan-jalan.” sambil sedikit batuk-batuk kecil.

Si mbak pun merasa senang, karena ternyata gw gak marah. Padahal gw senengnya minta ampun. Gw gak perlu bayangin hal-hal aneh kalo gw ke Batam dulu (berdasarkan cerita). Dan gw pun ngambil tuh tiket dan langsung check-in. Oh ya gw lupa, kalo gw gak diantar ke SSK II, abisnya dari pagi Pekanbaru diguyur ujan lebat. Jadinya gw diantar ama Taksi keluarga. Sedihkan, gak ada yang ngelambai di pintu keberangkatan.hiks.hiks.hiks.

Ketika check-in, gw ngungkapin ke si mbak bagian check-in kalo gw turun di Pinang, dengan sigap dia pun ngerubah stiker barang yang sejatinya bertulis BTH (to Batam) menjadi TNJ (to Tanjung Pinang). Gak lucu aja, gw turun di Pinang, eh tas gw malah melancong ke Batam. Ternyata masih ada yang bikin sedih, selain gak di antar ama keluarag. Pas gw mau masuk ke pesawat gw mendapati suatu kenyataan pahit ternyata kamera gw rusak. Gw udah punya rencana balik ke rumah ngambil kamera yang satu lagi, eh, tuh supir pesawat gak mau nunggu. Katanya dia buru-buru cari setoran..weleh.weleh. Dengan perasaan kesal gw naik ke pesawat. Percuma aja pergi liburan tapi gak bawa kamera. Tapi rasa kesal itu sebentar, energi positif gw bilang klo sodara gw di Pinang pasti ada kamera.

Butuh waktu sekitar 1 jam, akhirnya si mbak pramugari ngomong kalo pesawat akan segera landing. Gw pun yang sedang baca Aerial pun melihat keluar jendela. Pas gw take off dari SSK II atopun landing di Soekarno Hatta, di bawah sana terlihat hamparan rumah-rumah ataupun kebun-kebun. Tapi kali ini yang gw liat cuman laut,laut, dan laut. Gw cemas aja, nih pesawat landing di laut apa di darat sih, kok masi di laut gini udah bilang mo mendarat.

Kecemasan gw segera ilang setelah akhirnya ngeliat tanah kosong dan pesawat pun semakin turun dan mendarat dengan mulus di Bandara Raja Ali Haji Tanjung Pinang. Selamat Datang di Kepulauan Riau.

Dari Bandara gw dijemput ama paman gw. Yang pertama gw tanya pas jumpa tuh paman yang gw panggil angku. “Ngku, angku punya kamera.” Gak ada, jawab tuh angku. Lalu gw tanya lagi, “Kalo counter Samsung ada tak di sini?” Gak ada lagi jawabannya. Dan liburan pun dimulai dengan perasaan kesal semakin bertambah-tambah. Ahad ama Senin gw jalan-jalan di Tanjung Pinang pake motor bebek-nya sodara gw di sana.

Selasanya gw rencana mw ke Batam, gw mau cari counter Samsung. Masa tetanggaan dengan Singapur tapi tak punya counter Samsung. Eh yang ada semua sodara gw malah gak ngizinin. Yang parahnya lagi, mereka nelpon emak. Ya udah gw dikasih wanti-wanti biar gak pergi sendiri. Karena gw ngotot dan bilang mw perbaiki kamera, akhirnya emak mencari keluarga yang mungkin sedang stay di Batam dan akhirnya di dapat 2 orang, yaitu Bang Isan yang baru beberapa minggu keterima di Dinas Imigrasi Belakang Padang dan Pak Eri, suaminya adik emak. Karena Belakang Padang jauh dari Telaga Punggur, pelabuhan domestik Batam, gw nelpon Pak Eri dan ternyata dia bisa jemput gw. Langsung deh gw minta anterin ke counter Samsung.

Ternyata alhamdulillah counter Samsung ada dan gw langsung masuk ke sana. Tapi gw bener-bener makin kesal, karena ternyata Samsung Batam gak punya reservator kamera. Ditambah lagi ternyata Pak Eri gak bisa lama-lama nemenin gw, karena harus kerja. Yah, mo gimana lagi, gw yang libur, di sini semua orang masi kerja, sekolah, dan kuliah. Gw rencana mw diantar ama Pak Eri lagi ke pelabuhan, tapi gw gak mau. Gw masi pengen jalan-jalan di  Batam. Pak Eri berhasil gw yakinin biar gak cemas, gw ceritain lagi tuh cerita di Jakarta. Dia nganterin gw ke Batam Center. Sesudah kepergian Pak Eri gw pergi ke Kantor Walikota minta peta Batam. Ya udah sampai sore gw jalan-jalan gak jelas di Batam berdasarkan peta. Gw sempet juga ke toko Kek Villa, ke Nagoya Hill, dll. Di sana gw jumpa adik tingkat dan saat itu juga gw tanyain kamera. Gw sungguh gembira karena kameranya ada dan lebih gembiranya lagi gw dipinjemi ampe Sabtu.

Yang jelas di Batam gw udah punya guide, jadi karena udah pukul 5 sore, gw siap-siap mw ke pelabuhan. Tapi ternyata hari gelap, tanda mau ujan. Dan gw tau ombak yang memang besar akan semakin besar kalo hujan. Dengan segala pertimbangan akhirnya gw putuskan tinggal di Batam malam itu dan n Gw pun menuju Belakang Padang. Ternyata Belakang Padang itu deket ama Singapura, jelas bangety loh.

Besoknya gw keliling Batam lagi, lalu pesan tiket buat pulang dari Batam. Trus setibanya di Tanjung Pinang, semua orang bersyukur. Weleh-weleh. Kemudian perjalanan besok, besoknya besok, dan besoknya lagi, gw ke Pulau Penyengat, ke Pantai Trikora-Bintan. Sabtu gw ke Batam dan jalan-jalan lagi ke Costarina, yang mungkin bakal ngalahin Ancol n ngembaliin kamera punya Mita, makasih ya Mit.

Malamnya gw nginap tempat Pak Eri. Ahad pagi gw balik ke Pekanbaru.

Seninnya, gw seakan ilang ingatan kemaren gw baru aja selesai liburan. Pasalnya gw yang dipercaya sebagai staff prodi harus meladeni ratusan masiswa kimia yang membludak mau mendaftar ulang. Alhasil gw marah-marah lagi, stress lagi.

Tapi penderitaan itu tidak lama, besoknya (Selasa) gw dimintak ikut jadi panitia acara Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI) Prov. Riau. Ya panitia kek registrasi gitu deh. Gw terima dong, apalagi ternyata gw dikasih kamar dan acaranya sampai Sabtu. Gw telpon Adhe untuk ngikut, eh dianya malah males-malesan. Tapi pas dibilang nginep di hotel, baru deh dia ngangguk-ngangguk gak jelas. Jadinya gw minta cuti lagi deh sama ibu Prodi dan diizinin.

Gw pun berlibur lagi, tapi kali ini libur sambil kerja. Tapi tak apa yang penting libur.

Sampai jumpa liburan tahun depan (karena semester ini gw ngambil semester pendek, jadi liburan diisi ama kuliah).

Sekarang udah masuk kuliah dan ternyata tugas gw yang harusnya gw selesaikan pas liburan masih menumpuk, mulai dari nyiapan PKM, KKTM, Roadshow kepnulisan, Talkshow Nasional, Buku, Novel, Kumcer, dll. Tapi gw berusaha nyiapin semunya. Semoga…

Komentar (2) »

Yuk, Liburan!

Pagi itu cuaca Pekanbaru cukup dingin. Aku berdiri di depan pintu rumah dan Vega dengan gagahnya berada di samping kiriku. Kutatap semilir awan pagi itu yang tertutup oleh embun pagi, seraya berkata “Bertanlah Indra! Ini yang terakhir!”

Dengan langkah pasti aku menindih Vega dan siap berangkat mengais ilmu di tempat nun jauh di sana, Universitas Riau. Dan hari itu, Rabu (entah tanggal berapa yang jelas minggu kemarin, mungkin 21 jan 09) adalah hari terakhir ujian akhir semester (UAS) untuk semester ini, gasal 08/09. Kimia Analitik II, begitu mata kuliah terakhir yang diujikan.

Gw bener-bener berharap ujian terakhir ini mampu memberikan pompaan semangat bagi gw untuk datang ke kampus. Karena beberapa hari menjelang rabu itu, gw seringkali dilanda badmood, entah karena dosen, karena kakak tingkat, karena teman2 seangkatan, pokoknya bener-bener bikin gw pengen membunuh mereka. Namun, karena mental gw hanya berani buat bunuh nyamuk (itupun dengan membaca basmalah) gw mengurungkan niat itu. Yang ada gw malah gag konsentrasi ngerjain soal-soal ujian sebelumnya. Dan gw yakin IP 4,00 tidak akan lagi singgah di tangan gw untuk semester ini. Yah, mo gimana lagi. Gw udah berusaha kok.

Nah, untuk mengobati kekesalan itu, gw pun rencana pengen liburan. Kemana ya? Begitu pertanyaan yang terlintas di otak gw. Nah, kebetulan sorenya gw dengerin radio, lupa entah Aditya FM ato Pondasi FM, yang jelas liputannya tentang liburan. Si penyiar ngasih tau, katanya di Indragiri Hilir (Inhil) apa Indragiri Hulu (Inhu) gitu ada air terjun tujuh tingkat. Gw pun langsung mutusin pengen liburan ke sana.

Beberapa hari setelah mendengar kabar dari radio tersebut, gw pun nyari temen asal Inhil ato Inhu minta kejelasan tempat dan gimana transportasi serta akomodasi di sana. Eh, bukannya dapat jawaban yang pasti, gw malah ditertawain. Kata mereka, di daerahnya yang banyak itu air payau dan yang paling banter itu laut (selat malaka) ada di Inhil. Jadi kesimpulannya si penyiar itu bohong. Tentu gw lebih percaya dengan teman dari daerahnya langsung.

Okeh, gw cari tempat lain. Nah, akhirnya setelah gw melihat daftar perjalanan hidup gw (ce ileh), ternyata dulu gw pernah ke Kep. Riau waktu umur 6 tahun bareng Bapak dan Nenek. Karena ingetan gw masi ada sedikit-sedikit, gw mutusin ke Kep. Riau, gw mau liat bagaimana perubahan provinsi yang memisahkan diri semenjak 2001 dari Riau.

peta-pinang

peta-pinang

Gw udah dapat tiket dan berangkat akhir januari. Dan gw bakal menghabiskan liburan di sana buat menenangkan pikiran sambil membawa misi nyelesain novel dan cerita non fiksi. Bagi yang pernah ke Kepulauan Riau mungkin bisa berbagi cerita ke mana aja gw bagusnya. Karena rencananya dari Batam, gw lanjut ke Tanjung Pinang, abis itu mungkin kalo sempat ke Bintan, Dabo Singkep, dan Penyengat.

sultan-riau-masjid

sultan-riau-masjid

Bagi teman-teman di seluruh universitas di Indonesia selamat berlibur ya. Yang masi ujian, sabar karena liburan itu pasti ada.he…

Komentar bertahan »

Berbagi Cerita Seleksi Pusat OSNPTI 2008 (Part 2)

plumpang

plumpang

Waktu itu tiba juga. Gw akhirnya bisa keluar juga dari Depok. Tujuan awal agenda hari itu, bertepatan dengan Ahad (7/12) adalah Depot Pertamina yang ada di Plumpang.
Rombongan (ce ile, kayak mo naik haji aja) berangkat dari Wisma Makara pukul 09.00 wib. Tidak lama memang di Plumpang, karena “ceramah” kali ini cukup singkat, karena memang ruangannya agak sempit, jadi berhimpit-himpit deh dan banyak juga yang kejepit, katanya sih karena si Ipit atau mungkin karena gak pake sumpit…(apa cobak)…Udah, kita kembali serius.

Memang benar, di sana kami bentar kok. Karena panitia juga keknya udah gak sabar ke Dunia Fantasi (Dufan). Gak nyangka, panitia yang kebanyakan mahasiswa UI itu udah gak sabaran. Sepertinya mereka belum pernah ke Dufan..Ck.ck.ck.ck (sambil geleng-geleng kepala)..Bener tuh? Apa gak kebalek?

Abis tanya jawab dan keliling-keliling depot, tepat jam 11.00 wib, tancap deh ke Dufan. Ciek, duo, tigo, Check it out. Tiba di Dufan, gw dan temen yang lain langsung disuguhkan wanita cantik. Ya gak lah. Disuguhi oleh makan siang maksudnya. Jadilah kami makan siang lesehan di parkiran Dufan, yang berada entah di sebelah mananya Monas.

Sehabis makan siang, langsung deh menuju Dunia Fantasi, dunia penuh imajinasi. Alah! Nah, setibanya di depan pintu, terjadilah peristiwa itu, dimana kami diberi stempel berlogo Dufan. Kapan lagi nih bawa kenang-kenangan dari Dufan. Gw pun mengulurkan tangan, pengennya sih di jidat ato dimana gitu yang gak kehapus kena air. Tapi karena antreannya rame, jadi gw urungkan niat itu. Udah itu gw gak langsung menuju “TKP” tapi shalat dulu bentar, biar aman gitu mainnya.

Karena abis makan, maka dipilihlah permainan yang tak mengguncang perut. Perang Bintang. Begitu permainan yang akhirnya dipilih setelah melalui survey yang cukup panjang. Bagi yang belum pernah ke Dufan, gw kasih tau deh gimana permainannya, biar gak katrok gitu pas ada kesempatan ke sana..(ha…ha…ha…ha…ampun…ampun). Nanti di dalam ada lampu berkedap kedip, nah, lo-lo pade nembaknya pas lampunya jadi ijo. Kalo merah berenti, kuning ati-ati (loh ini trafic light apa perang bintang?). Pokoke intinya gitunya. Nah, jangan kayak Hadi. Dari akhir ampe selesai poinnya masi “0”, entah apa yang ditembaknya daro tadi. Sori di, kalo gw jujur..he…

Perang Bintang usai, gw dan rombongan yang telah terbagi-bagi pun menuju tempat, yang masih, tidak mengguncang perut. Rombongan yang sama gw ato tepatnya rombongan yang gw ikutin terdiri dari Hadi (Unri), Defri (UNP), Yudi (Unibraw), K’Zakk (UI), Habib (ITB), Fingko (Unmul), de el el. Ada sekitar 15 gitu deh. Namun, sangat disayangkan, antreannya begitu panjang, sepanjang tali beruk. Maka daripada itu, gw dan rombongan mencoba naik Rajawali. Awalnya gw takut. Maklum gw takut ketinggian. Jangankan dari tempat tinggi liat ke bawah, gw liat tanah aja menggigil. Tapi karena temen-temen pada asoy geboy, ya gw ngikutin aja. Hasilnya, takut dikit. Tapi asyik juga.

Pilihan selanjutnya pun masih yang tak mengguncang perut, tapi kayaknya memang orang pade takut semua. Permainan “menyeh-menyeh” itu ngepul, panjang banget antreannya. Terpaksa deh, cari yang lain. Dan pilihan itu jatuh pada Halilintar. “Ini sih kecil,” kata gw pas ngantre. Tapi pas udah selesai, gw meradang, meriang, pilek, influenza. Loh, kok gejala flu burung. Yang jelas, bener-bener bikin jantung bekerja lebih cepet. Pak Erning aja ampe ngos-ngosan kayak lomba lari 1010 km. Yang paling kasian, Mas Ian. Abis dari Halilintar, ia ngangkat tangan untuk permainan selanjutnya, kecuali Istana Boneka. Begitu pula dengan Habib. Pas perjalanan pulang, Habib semangat cerita kalo dia ampe dua kali naik permainan di Dufan, bahkan sampai tertidur. Gw mikirnya, hebat juga nih si Habib, padahal tadi takutnya bukan main abis Halilintar. Tapi pas dia bilang kalo yang dinaikin itu permainan istana boneka, gw langsung lemes.

Balik lagi ke Halilintar. Abis Halilintar semuanya sepakat main arung jeram, karena hari tampaknya akan hujan. Disini nih yang gak enaknya. Semua basah kuyup abis dari arung jeram. Airnya bener-bener deres. Jadi basah deh semua ampe ke bagian terdalam. Tapi nyantei aja toh, nanti dikeringin ama angin. Hanya gw dan Fingqo yang ngejinjing sepatu kemana-mana se-antero Dufan.

Abis Arung Jeram, gw ditantang naik Kora-Kora. Siapa takut. Cuman naik turun gitu kok. Tapi yang lain pada takut semua, apalagi K’ Zakk. Tapi keknya ada yang disembunyiin deh bagi mereka yang gak ikut. Tapi gw mikir lagi. Kapan lagi bisa pergi rame-rame kek gini. Jadi coba aja semuanya. Ya udah, gw coba. Dan tak tanggung-tanggung gw ngambil posisi nomor dua dari atas. Apa kisah selanjutnya?

Gw bener-bener nyesel naik Kora-Kora. Jika pada saat itu nyawa gw akan dicabut, hanya satu permintaan gw. TOLONG BERENTIIN KORA-KORA INI SEKARANG JUGA!!!!PLIISSSSSSSSSSSSSSSSSSSS. Tapi kayaknya nyawa gw masi belum berakhir. Dan gw terpaksa nutupin mata sambil teriak dan megangin jantung biar gak copot. Tapi untung aja gw gak kek cewek yang difotoin Mbak Endah (Unnes), keknya udah pipis deh..he…

Asli kalo gw kucing yang punya nyawa sembilan, agaknya telah berkurang satu karena naik Kora-Kora. Makanya waktu gw diajak naik kincir-kincir, gw gak sanggup lagi. Beberapa orang dari rombongan tampaknya masi kuat. Gak tau deh gimana cara orang tu bisa sekuat itu, setelah beberapa kali nyawa mereka hampir melayang.he. Diputar vertikal, lalu horizontal, vertikal lagi, tapi kursinya ikut juga berputar, begitu permainan kincir-kincir. Rombongan yang ada di bawah pada ngakak semua. Pasalnya mereka yang naik kagak tau, kalo mekanisme “pembunuhan terencana” kali ini seperti itu.

Perjalanan dilanjutkan ….waduh sori udah kemaleman…besok disambung lagi ya, sekalian dengan foto-fotonya

Perjalanan dilanjutkan dengan iring-iringan manusia-manusia yang tampaknya akan muntah. Tapi keliatannya masih bertahan. Kemudian dilanjutkan dengan masuk ke dalam ruang bingung. Asli bingung, ruangannya kaca semua. Gw aja sampai ngutuk kalo sempat gak ketemu jalan keluarnya, orang yang paling depan bakal gw jitak. Berkali-kali tersesat entah kemana. Karena orang yang paling depan gak pasti ngasih petunjuk, akhirnya gw pilih ngikutin orang lain yang tampaknya lebih santai dan lucunya mereka pada ngikutin gw dan lolos keluar tapi pintu penipu yang terletak di bagian samping pintu masuk. Padahal gw udah punya rencana jahat, kalo jalan keluar gak ketemu. Memecahkan semua kaca yang ada.

Selanjutnya masuk ke Rumah Miring. Tapi gak terlalu miring hingga membuat kami menjadi miring. Tapi pusing-pusing dikit gw alami setelah keluar dari rumah itu. Hada-hada saja yang dibuat oleh “mereka.”

Karena mendengar orang teriak-teriak begitu kenceng, selain Kora-Kora dan Tornoda. Rombongan pun langsung melirik permainan itu. Ternyata Niagara-Gara. Namun, setelah memasuki antrean. Ternyata antreannya duakali panjang tali beruk. Rombongan yang tinggal beberapa orang pun langsung mengurungkan niat.

Setelah puter-puter cukup lama, rombongan tidak menemukan permainan lain lagi yang antreannya sedikit. Maka daripada itu, kami tak tanggung-tanggung mengantre di tempat permainan yang saat itu paling rame, yaitu Extreme Log. Sambil ngantre kami bisa melihat penampilan group band lokal yang lagi manggung di Dufan. Saking menghayatinya menonton tuh group band, gw dan beberapa teman, Mas Ian, Ade, Hadi diteriaki pengunjung lain. “Woi, jalan”. Wah ternyata antreannya udah jauh, kami terpaksa berlari mengejar ketinggalan antrean yang kira-kira udah sepuluh meter jauhnya. Dua jam kami harus menunggu dan akhirnya masuk ke arena permainan.

Tapi apa yang didapat? Di dalam kami hanya disuguhkan dengan tontonan hutan Arimazona. “Kurang ajar. Udah ngantre 2 jam, ternyata cuman nonton beginian,” kata salah seorang pengunjung Extreme Log. Gw rencananya mo ngomong gitu juga, tapi gak jadi ketika akhirnya di ajak ke arena yang sesungguhnya. Di sini ternyata dia berada. Gw gak bisa menceritakan permainan di sini, karena kalian harus mencobanya sendiri. Abis itu kami salat Ashar bentar.

Usai itu rombongan yang tersisa berjumpa dengan rombongan lain. Dan akhirnya tercetuslah ide untuk mengakhiri permainan di Dufan ini, yaitu dengan menaiki Tornado. Gw sih masi ragu-ragu bakal ikut apa gak. Tapi ikut aja. Liat nanti.

Saat itu sedang ada parade Dufan, jadinya kami berfoto-foto bentar bareng badut Dufan

Namun, sangat beruntung disayangkan hujan gerimis turun. Karena di dekat Komedi Putar akhirnya kami berteduh di sana sambil menaiki kuda-kuda itu. Jadinya selama kurang lebih 15 menit kami ber-komedi putar.

Selesai komedi putar, selesai pula hujan. Dan niat naik Tornado pun muncul kembali. Ternyata Tornado kembali diputar saat kami sampai di sana dan kebanyakan yang naik adalah anak-anak OSN. Gw dan Defri ragu-ragu. Sedangkan yang lain telah menyatakan tidak bakal naik sesuatu yang dapat membunuh. Si Defri akhirnya naik, sedangkan gw masi dengan keraguan. “Ayo, Ndra. Kamu bisa!” teriak-teriak mereka yang udah duduk di Tornado, kebetulan operator baru akan memainkan Tornado kalo udah penuh ato setengah penuh, katanya biar stabil (aduh si operator tampaknya mengaplikasikan pelajaran Kimianya waktu es em a). Gw terharu. Tapi gw telah memutuskan. Gw gak naik. Atut. He……….Pasalnya nyawa gw gak terkumpul-kumpul abis Kora-Kora tadi.

Tampaknya Tornoda permainan kecil, buktinya semua orang pengen nambah. Tapi tidak bagi kakak-kakak di samping Defri. Dia memohon-mohon agar Tornoda dihentikan. Seolah-olah Defrilah penyelamat hidupnya kini. Tapi untungnya si operator tidak mendengar, Tornado pun berputar sekali lagi. Muntah-muntah deh tu si kakak dari atas sana. Hiiiiii…

Permaianan terakhir yang dipilih adalah istana boneka. Padahal panitia udah nelpon-nelpon agar ngumpul di depan komedi putar jam 6 sore, sedangkan sekarang udah jam 6 sore lewat 15 menit.

Pantes si Habib ampe tertidur di istana boneka. Kita disuguhi menikmati pemandangan boneka dengan menggunakan perahu melewati sungai yang ada dalam istana sambil mendengarkan irama yang syahdu. Dan ini lah menjadi the best bagi Habib.

Setelah permainan itu kami salat magrib dan berkumpul dekat komedi putar abis salat. Di sana belanja bentar, foto-foto bentar, makan di parkiran lagi, salat Isya, dan pulang meuju Depok. Sungguh perjalanan yang melelahkan.

tunggu part3, Coming Soon…

Komentar (4) »