Arsip untuk April 29, 2008

Penderitaan Berakhir Kebahagiaan

Judul : Noda Tak Kasatmata
Penulis : Agnes Jessica
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan: Pertama, April 2008
Tebal : 192 halaman

Siapa yang tak kenal sosok ibu dengan dua anak ini? Ialah Agnes Jessica. Agnes Jessica kembali hadir dengan novelnya yang berjudul Noda Tak Kasatmata. Sebelumnya, Agnes Jessica yang merupakan mantan guru Matematika SMUK 1 Penabur ini sudah melahirkan 28 novel di berbagai penerbit. Di antara novel-novelnya itu sempat menjadi best seller di pasaran dan menjadi tulisan terbanyak yang terbaca di blog ini, ialah Sepatu Kaca dan Antara Aku dan Dia.
Kisah novel ini bersettingkan desa Karya di daerah Jombang, Jawa Timur yang merupakan salah satu tempat pembantaian anggota PKI pada 1965. Dalam pada itu, setelah orde baru berakhir dan mulai di berlakukannya era reformasi yang menganut paham “kebebasan”, Sarah, mahasiswi jurusan Sejarah sedang menyusun skripsi yang berkenaan dengan pembantaian besar-besaran anggota PKI di desa Karya tersebut. Untuk itu ia datang ke desa tersebut dan di sanalah kisah dalam novel ini terbentuk.
Di desa Karya, Sarah tinggal di rumah Kades yang merupakan teman dekatnya dosen pembimbing Sarah. Di sana Sarah memulai hubungan baik dengan penduduk desa yang dibantu oleh Lastri yang merupakan anak Pak Kades.
Untuk mendapatkan informasi mengenai penelitiannya, Sarah harus bekerja keras. Semua penduduk desa yang diajaknya bicara tentang topik yang peka itu diam seribu bahasa. Hambatan utama penelitian Sarah datang dari Surya, anak anggota PKI yang ikut terbantai. Masa lalu yang kelam membuat Surya berwatak keras. Ia menganggap Sarah hanyalah gadis kaya yang cuma tahu bersenang-senang dan menghabiskan uang orang tua. Namun, akhirnya Sarah bisa juga mengorek informasi yang cukup untuk penelitiannya, walau keperawanannya hampir menjadi taruhan.
Ketika penelitiannya hampir berakhir, Sarah menyadari dirinya telah jatuh hati pada Surya, padahal pria itu kekasih orang yang memberi tumpangan selama seminggu berada di desa itu. Apakah Sarah sanggup menghancurkan kebahagiaan orang lain demi kebahagiaannya sendiri? Baca novel setebal 192 ini, Anda akan mendapati jawabannya.
Sungguh karya yang menggugah hati. Seoalah-olah novel ini mengantarkan kita menyaksikan pembantaian anggota PKI yang sangat mengerikan. Novel ini memberikan pandangan kepada pembaca, bahwa anggota PKI yang dibantai itu hanya sebagai korban pergolakan politik. Banyak di antara anggota PKI itu tidak tau menau mengapa mereka di bawa malam-malam menuju tempat kegelapan yang disebut kematian. Belum lagi istri dan anak-anak anggota PKI menjadi janda dan yatim, serta dianggap orang berdosa. Lepas dari itu, novel ini menyuguhkan konflik batin yang sangat luar biasa. Bagaimana perjuangan seorang mahasiswi yang pergi ke sebuah desa kecil yang jauh dari Jakarta yang hampir diperkosa dua kali dan harus menghadapi kenyataan mencinyai kekasih orang? Belum lagi bagaimana konflik batin yang terjadi pada Surya yang tidak bisa bekerja hanya dikarenakan anak PKI dan harus menghidupi kakaknya Dewi yang bisu dan ibunya yang terkena paru-paru basah? dan bagaiaman pula ia harus menahan rasa cintanya, dikarenakan menurutnya tidak ada wanita yang sanggup hidup miskin bersamanya? Selain itu, bagaimana pula perasaan Lastri orang yang mencintai Surya, namun sang kekasih tak kunjung melamarnya? Sekali lagi, novel ini sungguh luar biasa. Bagi mereka yang haus akan sejarah dan lapar akan kisah percintaan, novel ini pantas agaknya menjadi bahan bacaan.

Pertanyaan:

Bagaiman pendapat Anda mengenai cara pemecahan konflik di antara tiga tokoh utama ini, Sarah, Surya, dan Lastri?

Comment diterima selambat-lambatnya tanggal 15 Mei 2008

Komentar (8) »