Arsip untuk Maret 27, 2008

Perjuangan Menuju Kampus

“Kumelihat mereka dengan santainya dan sangat asyik bercerita di motor dan mobil yang mereka kendarai…”

Itu gambar yang kudapat ketika hendak menanti bus di halte penantian..Yup hari itu hingga hari ini aku harus naik bus untuk sampai ke kampus. Berikut akan kuceritakan kronologis perjuanganku menuju kampus tercinta untuk mengecap sedikit ilmu pengetahuan.

Pagi itu pukul 4.55 wib, aku terbangun dari tidur yang nyeyak dalam kegelapan, karena sudah seminggu listrik dipadamkan. Padahal adzan Subuh belum terdengar..”Ndra…Ndra…Bangun. Air udah tinggi. Kita harus beres-beres,” ternyata itu suara yang membangunkanku bukan adzan Subuh. Suara itu berasal dari Bapakku.

“Iya,” jawabku.

Lalu dengan langkah lunglai, aku membuka celana training yang kukenakan dan menggantinya dengan Boxer kesayanganku yang sudah 3 hari ini selalu kukenakan bila keluar dari kamarku. Kebetulan rumahku memiliki dua lantai. Di lantai 2 itu terletak kamarku dan disebelahnya gudang.

“Mana yang harus diangkat dulu, Pak?” tanyaku.

“Kulkas sama mesin cuci aja dulu,” kata Bapak.

Ternyata itu hanya kiasan Bapakku saja, karena hampir semua barang-barang yang telah ditinggikan terendam dengan air. So, lagi-lagi aku dan Bapak kembali harus meninggikan letak barang-barang yang ada di lantai satu.

s6300647.jpg

Kok air? Ya, rumahku dan sebagian rumah lain yang berada di Kelurahan Meranti Pandak dan sekitarnya tertimpa musibah banjir. Apa yang hendak dikata. Ini adalah pemberian Tuhan yang harus dipahami oleh ummatnya.

Tinggi badanku hampir 2 meter dan air banjir di dalam rumah telah mencapai pinggangku. Tentu tidak ada yang membayangkan bahwa hal itu bisa terjadi di kota yang katanya juga Metropolitan ini.

saat-banjir-hari-pertama.jpg

Waktu itu aku masuk jam 8 wib. Nah, saat barang-barang semua ditinggikan, waktu telah menunjukkan pukul 7.45. Dengan langkah yang terbatas, aku menuju kamar mandi yang kini telah penuh dengan air banjir. Aku pasrah, tidak tahu harus mengapa di kamar mandi. Bayangkan saja, aku mandi dengan menggayung air dari sumur, yang biasanya dikeluarkan dengan menggunakan mesin pompa air.

Selesai mandi dan mengenakan pakaian akhirnya aku berangkat ke kampus juga pukul 8. Kembali aku harus menempuh banjir besar untuk bisa mencapai bibir jalan. Kebetulan aku menitipkan motor kesayanganku di sana.

Baru saja akan memanaskan motorku itu, tiba-tiba muncul beberapa orang sambil mendorong motornya.

“kenapa bang?” tanya salah seorang di dekatku.

“Banjirnyo gadang. Ndak bisa kalua (keluar, red). Abis Onda den ko ha tarandam,” kata salah seorang dari yang mendorong motor tersebut menggunakan bahasa Minang. Kalo diartikan, Banjirnya besar. Motor tidak bisa keluar. Motor saya terendam.

Nah, aku langsung panas dingin. Di satu sisi aku melihat waktu telah menunjukkan pukul 8.16. Sudah 16 menit diriku terlambat. Di sisi lain, aku harus memikirkan nasib motor kesayanganku ini. Uangku 12 juta bukanlah jumlah yang sedikit untuk dicemplungin ke dalam banjir.

Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan sampan. Alternatif lain bagi mereka yang rumahnya dekat dengan bantaran Sungai Siak. Kebetulan dari bibir sungai ke rumahku hanya 1 km.

Aku langsung menuju sungai. Di sungai kudapati, air yang begitu deras. Tapi apa yang hendak dikata. Ini adalah perjuangan.

sungai-siak.jpg

Dengan hati yang was-was aku akhirnya memberanikan diri untuk naik itu sampan. Derasnya air sungai terasa melalui guncangan air yang mengenai sampan. Tak terbayangkan olehku, seandainya sampan itu oleng, sedangkan aku bukanlah orang yang pandai berenang.

Tapi berkat doa kedua ibu bapak, akhirnya aku terseberangkan juga dengan selamat. Nah, aku berjalan hingga ujung Jl Sudirman, dan di sanalah kulihat pandangan yang berbeda. Belum sampe 10 menit, pandanganku berubah hingga 180 derajat, dari motor yang knalpotnya penuh dengan air, dan sekarang penuh dengan kumpulan asap yang berasal dari mesin yang hidup. Apakah mereka tahu bahwa di seberang sana orang yang ingin motornya bisa seperti mereka? Ataukah mereka bisa merasakan apa yang dirasakan orang diseberang sana, yang memiliki motor dan mobil tapi tak bisa digunakan? Mungkin mereka akan merasakan, bila mereka mengalaminya sendiri. Ditunggu saja. Karena sesungguhnya Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana.

Saat itu konsentrasiku buyar oleh bus yang berhenti dihadapanku. Waktunya aku berangkat ke kampus. Tidak terlalu banyak kisah perjuanganku di dalam bus, palingan hanya ketika aku harus turun dari bus jauh dari pintu kampus.

unri.jpg

Waktu telah menunjukkan 9.25. Bukanlah waktu yang tepat untuk datang terlambat. Tapi ternyata saat aku sampai di dalam kelas. Sorak sorai pun muncul dari teman-teman yang menyangka aku akan libur kuliah hingga banjir surut. Mereka memberiku semangat dan salut terhadap perjuanganku untuk mencapai kampus.

Menurut pembaca budiman apakah itu sudah termasuk dalam perjuangankah?

Komentar (5) »