Arsip untuk Maret, 2008

The Winner is…

Selamat kepada Vialli…..

yang telah berhasil meraih:

Komentar Terbaik Atas Resensi Langit Penuh Daya 

Harap kirimkan nama asli, no.hp, dan alamat ke prnm_indra@yahoo.com…. (~Data dijamin kerahasiannya~) Bagi yang belum menang jangan berkecil hati, karena sekarang setiap bulannya ada 2 novel yang direbutkan…. Sesi pertama tanggal 1-15 tiap bulannya dengan 1 pemenang, dan sesi kedua tanggal 16-30 dalam bulan yang sama dengan 1 pemenang juga.. Jadi jangan berkecil hati ya….

Quiz selanjutnya mengenai… P.S. I Love You 

Komentar (5) »

Menimba di Air Keruh

Belakangan ini, negara kita telah menunjukkan sedikit kemajuan untuk mencapai demokrasi yang mulai digembor-gemborkan pada 1998. Salah satu kemajuan itu adalah melakukan pemilihan kepala daerah, langsung oleh rakyat.

Tapi apa yang hendak dikata, ternyata kemajuan itu disalahgunakan oleh segelintir elite politik daerah. Banyak para elite politik yang “menyuap” rakyat untuk dapat memilihnya. Berbagai alasan mereka utarakan, mulai putra daerah lah, pejabat daerah lah, pemerhati daerah lah, pokoknya banyak. Bahkan yang gak ada hubungannya dengan sifat primodial, mereka tidak sungkan-sungkan untuk merogoh kocek. Toh, kalo jadi kepala daerah, bisa dapat berkali lipat.

Menimba di air keruh adalah salah satu trik mereka untuk mencari simpat. Biasanya mereka akan hadir di dekat hari “H” pemilihan atau saat terjadi bencana. Bahwa mereka peduli. Itu slogan yang mereka ketika mengunjungi korban bencana.

Contoh yang dapat dilihat adalah saat banjir di dekat rumahku. Waktu banjir dua tahun yang lalu, mana ada partai politik atau calon gubernur yang datang, tapi sekarang, mereka sepertinya berlomba-lomba untuk hadir di tengah-tengah masyarakat. Gubernur yang sekarang menjabat pun tak mau kalah, Dinas Sosial pun disuruh bergerak cepat. Kemarin, tepatnya anggota DPD RI yang katanya ingin mencalonkan diri jadi Gubernur, mengunjungi pemukiman warga yang terkena banjir di dekat rumahku.

Dengan membawa 200 nasi bungkus, ia dengan seakan dengan bangga mengatakan, “Saya peduli dengan warga, maka pilih lah saya.” Setelah itu salah satu parpol yang cukup besar, “hadir” dengan membawa rendang dan mie instan yang wadahnya berlogokan partai tersebut.

Bukankah itu menimba di air keruh?????

Komentar (1) »

Pemenang HONDA WRITING FEVER COMPETITION 2008 !

Kategori Pelajar SMA
Juara I Alfa Hidjrika Wisda Kusuma | SMA Taruna Nusantara, Magelang
Juara II Dwi Widayat | SMA Negeri 1 Ponorogo, Jawa Timur
Juara III Yogi Tri Prasetyo | SMA Negeri 1 Gresik, Jawa TimurKategori Mahasiswa/i
Juara I Pradita Tria Wirawan | Universitas Gajah Mada, Yogyakarta
Juara II Puspita Anggraini | Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya
Juara III Joni Lis Efendi | Universitas Riau

Kategori Umum
Juara I Ristadi Widodo Kinartojo | Madiun, Jawa Timur
Juara II Zacky Khairul Uman | Depok, Jawa Barat
Juara III Nunung Prajarto, M.A., Ph.D | D.I. Yogyakarta

Kategori Penulis
Juara I Trufi Murdianti | Radar Tanggamus – Lampung
Juara II Erwan Widyarto | Jawa Pos – Radar Jogja
Juara III Helfizon Assyafei | Harian Pagi Riau Pos Group

Hadiah Pemenang Setiap Kategori
Juara I Honda Tiger* + Trophy + Serifikat
Juara II Honda Supra X 125* + Trophy + Sertifikat
Juara III Honda Fit X* + Trophy + Sertifikat

* Off the road
Keputusan Dewan Juri bersifat mandiri, mutlak dan tidak dapat diganggu-gugat.

Sumber : Kompas, 22.03.08

Komentar (5) »

Perjuangan Menuju Kampus

“Kumelihat mereka dengan santainya dan sangat asyik bercerita di motor dan mobil yang mereka kendarai…”

Itu gambar yang kudapat ketika hendak menanti bus di halte penantian..Yup hari itu hingga hari ini aku harus naik bus untuk sampai ke kampus. Berikut akan kuceritakan kronologis perjuanganku menuju kampus tercinta untuk mengecap sedikit ilmu pengetahuan.

Pagi itu pukul 4.55 wib, aku terbangun dari tidur yang nyeyak dalam kegelapan, karena sudah seminggu listrik dipadamkan. Padahal adzan Subuh belum terdengar..”Ndra…Ndra…Bangun. Air udah tinggi. Kita harus beres-beres,” ternyata itu suara yang membangunkanku bukan adzan Subuh. Suara itu berasal dari Bapakku.

“Iya,” jawabku.

Lalu dengan langkah lunglai, aku membuka celana training yang kukenakan dan menggantinya dengan Boxer kesayanganku yang sudah 3 hari ini selalu kukenakan bila keluar dari kamarku. Kebetulan rumahku memiliki dua lantai. Di lantai 2 itu terletak kamarku dan disebelahnya gudang.

“Mana yang harus diangkat dulu, Pak?” tanyaku.

“Kulkas sama mesin cuci aja dulu,” kata Bapak.

Ternyata itu hanya kiasan Bapakku saja, karena hampir semua barang-barang yang telah ditinggikan terendam dengan air. So, lagi-lagi aku dan Bapak kembali harus meninggikan letak barang-barang yang ada di lantai satu.

s6300647.jpg

Kok air? Ya, rumahku dan sebagian rumah lain yang berada di Kelurahan Meranti Pandak dan sekitarnya tertimpa musibah banjir. Apa yang hendak dikata. Ini adalah pemberian Tuhan yang harus dipahami oleh ummatnya.

Tinggi badanku hampir 2 meter dan air banjir di dalam rumah telah mencapai pinggangku. Tentu tidak ada yang membayangkan bahwa hal itu bisa terjadi di kota yang katanya juga Metropolitan ini.

saat-banjir-hari-pertama.jpg

Waktu itu aku masuk jam 8 wib. Nah, saat barang-barang semua ditinggikan, waktu telah menunjukkan pukul 7.45. Dengan langkah yang terbatas, aku menuju kamar mandi yang kini telah penuh dengan air banjir. Aku pasrah, tidak tahu harus mengapa di kamar mandi. Bayangkan saja, aku mandi dengan menggayung air dari sumur, yang biasanya dikeluarkan dengan menggunakan mesin pompa air.

Selesai mandi dan mengenakan pakaian akhirnya aku berangkat ke kampus juga pukul 8. Kembali aku harus menempuh banjir besar untuk bisa mencapai bibir jalan. Kebetulan aku menitipkan motor kesayanganku di sana.

Baru saja akan memanaskan motorku itu, tiba-tiba muncul beberapa orang sambil mendorong motornya.

“kenapa bang?” tanya salah seorang di dekatku.

“Banjirnyo gadang. Ndak bisa kalua (keluar, red). Abis Onda den ko ha tarandam,” kata salah seorang dari yang mendorong motor tersebut menggunakan bahasa Minang. Kalo diartikan, Banjirnya besar. Motor tidak bisa keluar. Motor saya terendam.

Nah, aku langsung panas dingin. Di satu sisi aku melihat waktu telah menunjukkan pukul 8.16. Sudah 16 menit diriku terlambat. Di sisi lain, aku harus memikirkan nasib motor kesayanganku ini. Uangku 12 juta bukanlah jumlah yang sedikit untuk dicemplungin ke dalam banjir.

Akhirnya aku memutuskan untuk menggunakan sampan. Alternatif lain bagi mereka yang rumahnya dekat dengan bantaran Sungai Siak. Kebetulan dari bibir sungai ke rumahku hanya 1 km.

Aku langsung menuju sungai. Di sungai kudapati, air yang begitu deras. Tapi apa yang hendak dikata. Ini adalah perjuangan.

sungai-siak.jpg

Dengan hati yang was-was aku akhirnya memberanikan diri untuk naik itu sampan. Derasnya air sungai terasa melalui guncangan air yang mengenai sampan. Tak terbayangkan olehku, seandainya sampan itu oleng, sedangkan aku bukanlah orang yang pandai berenang.

Tapi berkat doa kedua ibu bapak, akhirnya aku terseberangkan juga dengan selamat. Nah, aku berjalan hingga ujung Jl Sudirman, dan di sanalah kulihat pandangan yang berbeda. Belum sampe 10 menit, pandanganku berubah hingga 180 derajat, dari motor yang knalpotnya penuh dengan air, dan sekarang penuh dengan kumpulan asap yang berasal dari mesin yang hidup. Apakah mereka tahu bahwa di seberang sana orang yang ingin motornya bisa seperti mereka? Ataukah mereka bisa merasakan apa yang dirasakan orang diseberang sana, yang memiliki motor dan mobil tapi tak bisa digunakan? Mungkin mereka akan merasakan, bila mereka mengalaminya sendiri. Ditunggu saja. Karena sesungguhnya Allah Maha Adil lagi Maha Bijaksana.

Saat itu konsentrasiku buyar oleh bus yang berhenti dihadapanku. Waktunya aku berangkat ke kampus. Tidak terlalu banyak kisah perjuanganku di dalam bus, palingan hanya ketika aku harus turun dari bus jauh dari pintu kampus.

unri.jpg

Waktu telah menunjukkan 9.25. Bukanlah waktu yang tepat untuk datang terlambat. Tapi ternyata saat aku sampai di dalam kelas. Sorak sorai pun muncul dari teman-teman yang menyangka aku akan libur kuliah hingga banjir surut. Mereka memberiku semangat dan salut terhadap perjuanganku untuk mencapai kampus.

Menurut pembaca budiman apakah itu sudah termasuk dalam perjuangankah?

Komentar (5) »

Bencana di Indonesia, Ujian atau Laknat Tuhan

jember.jpg

Jika kita berkaca pada bencana di Indonesia, apa yang kita pikirkan? Pasti dalam hati kita berkata, “Ya Allah, ini kah ujian yang Engkau berikan.” atau “Ya Allah ujian ini terlalu berat untuk kami jalani.

Kalo memang benar, itu yang terlintas di benak kita saat terjadi bencana, marilah kita pelajari apa kah benar, bencana itu suatu ujian.

267849725_86dbedaa201.jpg

Kita semua tentunya pernah ikut ujian kan, kalo anak TK ke bawah mungkin belum. Nah, sekarang yang ingin saya tanyakan, kalo ikut ujian ada syaratnya gak? Ya jelas ada kan. Bayar ini itu, yang SPP lah, yang buku lah, yang pustaka lah, pokoknya banyak yang harus dibayar. Trus kita juga harus melengkapi nilai mid dan tugas, absennya harus mencukupi, dan masih banyak lagi.

Lalu?

Apakah Allah memberi ujian, tidak memberi syarat ini itu?

Memang sih sebenarnya yang Maha Tahu itu hanya Dia semata, tetapi jika kita berpikir secara logika, manusia biasa aja yang buat peraturan ribetnya minta ampun, apalagi Dia yang menciptakan manusia si pembuat peraturan yang tadi. (P.S bagi yang menjalani perintah-Nya mungkin peraturan itu tidak ribet, berbeda dengan orang yang hatinya setengah-setengah bahkan gak ada untuk menjalankan perintah-Nya).

Terus, sekarang kita lihat, apakah kira-kira bangsa ini patut diizinkan ikut ujian????

Saya bukan menyalahkan siapa yang salah, tapi mari lah kita mengintropeksi diri. Jangan menganggap hal ini sepele. Karena dalam ayatnya Allah pernah berkata, Allah akan menurunkan bencana, jika sudah murka pada semua ummat-Nya tanpa pandang bulu dan orang yang tidak “bersalah” pun akan turut di dalamnya.

Benar, apa yang pernah dikatakan k2k tingkat saya waktu itu, “kalo kita tuh harus berbaik sangka, yang penting kita masih beriman pada-Nya.” Lalu saya membalas begini, “kan lebih baik kita beriman dan mawas diri.” Jadi, mentang-mentang sudah beriman, kita menganggap semua musibah sebagai ujian.

Tapi lagi-lagi muncul pertanyaan, kalo memang benar apa yang dikatakan k2k tingkat saya itu. Sudah sejauh mana kita beriman? Sudahkah kita sadar bahwa memegang tangan yang bukan muhrim itu haram? Sudahkah kita sadar saat sepasang kekasih yang belum nikah berdua-duan di kamar ada yang menyaksikan? Sudahkah kita sadar saat kita mengambil uang rakyat, kita diamati oleh-Nya? Sudahkah kita sadar bahwa shalat itu tiang agama? Sudahkan kita sadar bahwa pada diri kita ada secercah agama universal, yaitu Islam? Masih banyak lagi ketaksadaran kita, mengenai keimanan yang semakin menipis…

Setelah membaca ini, dapatkah kita mengatakan bahwa bencana di negeri kita ini adalah ujian Tuhan?

Komentar (11) »

Persahabatan Sejati Berbuah Cinta Sejati

iblq1043big.jpg

Judul : Langit Penuh Daya

Penulis : Dewie Sekar

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : Pertama, Februari 2008

Tebal : 360 halaman

Apa jadinya jika seorang Emak-Emak nulis novel? Langit Penuh Daya adalah jadinya. Kok? Memang benar, Langit Penuh Daya adalah produksi rumahan Emak Dewie Sekar, begitu Dewie menyebut dirinya. Membaca dan menulis adalah dua hal yang disenanginya. Langit Penuh Daya adalah novel ketiganya yang diterbitkan di Gramedia Pustaka Utama.

Novel ini menggambarkan persahabatan Langit dan Daya yang berujung cinta sejati.

Langit dan Daya bersahabat sejak remaja. Sejak awal, entah mengapa Daya ingin membuktikan pada dunia bahwa laki-laki dan perempuan bisa bersahabat tanpa “terkontaminasi” roman picisan. Kenyataannya? Belakangan sikap Daya ini jadi bumerang yang melukai hatinya sendiri, sebab perasaannya pada Langit mengikuti embusan angin takdir tanpa bisa dikendalikan, tumbuh menjadi cinta. Namun, Daya nekat menyembunyikan perasaanya dari Langit. Persahabatan mereka tak pernah putus, bahkan juga saat akhirnya Langit menjalin hubungan dengan Dian.

Sementara itu Langit juga menyimpan perasaannya pada Daya. Dia jadian dengan Dian, hanya untuk membuat Daya cemburu. Tapi menurutnya itu tidak ngerubah perasaan Daya pada dirinya. Namun, dia cukup senang, karena Daya tak pernah menjalin hubungan serius dengan laki-laki lain, sampai Yusa memasuki kehidupannya. Kehadiran arsitek yang bekerja sebagai desainer interier dan tanaman ini membuat Langit tiba-tiba terancam, hingga ia mulai mempertanyakan, apa yang sesungguhnya dirasakannya pada Daya, si gadis rumah sebelah.

Cerita dalam novel ini sungguh menarik, walau ketebalannya mencapai 2 cm. Novel ini membuktikan kalau suatu persahabatan itu tidak menghalangi untuk membuahkan cinta sejati. Kita akan dibawa untuk menikmati suatu persahabatan sejati sekaligus cinta sejati dari novel ini. Sungguh karya yang menarik untuk mereka yang haus bacaan dan lapar pengetahuan.

Pertanyaan…

Setujukah kamu, jika teman sejati kamu, sangat mencintai kamu sebagi kekasih, bukan teman biasa…Alasannya sekaligus…

Ditunggu paling lambat tanggal 29 Maret 2008 pukul 15.00 WIB

Achtung…~pemenang dipilih dari Sumatera dan Jabodetabek aja ya~

 

Komentar (22) »

THE WINNER IS….

Selamat kepada @rien…..

yang telah berhasil meraih:

Komentar Terbaik Atas Resensi Sepatu Kaca

Harap kirimkan nama asli, no.hp, dan alamat ke prnm_indra@yahoo.com….

(~Data dijamin kerahasiannya~)

Bagi yang belum menang jangan berkecil hati, karena sekarang setiap bulannya ada 2 novel yang direbutkan….

Sesi pertama tanggal 1-15 tiap bulannya dengan 1 pemenang, dan sesi kedua tanggal 16-30 dalam bulan yang sama dengan 1 pemenang juga..

Jadi jangan berkecil hati ya….

Quiz selanjutnya mengenai…

Langit Penuh Daya

Komentar (5) »

Lagi Pekanbaru Juara I Darmasiswa Chevron Riau

dcr08-26.jpg

PT. Chevron Pacific Indonesia (CPI) kembali menggelar program Darmasiswa Chevron Riau (DCR) untuk kali kedelapan. Program DCR adalah suatu program beasiswa bagi anak Riau yang prestasi dengan nominal yang wah…..
Program DCR tahun 2008 ini diikuti oleh 55 siswa-siswi kelas 3 Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA) dari 11 Kabupaten/Kota di Propinsi Riau dari tanggal 12-13 Maret 2008. Nah, adek-adek ini diinapkan di Asrama Sungkai, Chevron. (jadi inget, diriku waktu di 2007)

Seperti tahun-tahun sebelumnya PT CPI menyerahkan wewenang sepenuhnya kepada Dinas Pendidikan Nasional masing-masing Kabupaten/Kota untuk menyeleksi siswa terbaik mereka untuk diikutsertakan dalam program DCR 2008 ini.
Nah, tadi malam, tepatnya, Kamis (13/4) diadakanlah malam inaugurasi, dimana pengumuman pemenang diumumkan. Dan tau tak, Pekanbaru berhasil menyabet 2 tempat di no 1, yaitu oleh M. Iqbal Bakti Utama dari SMAN Plus Riau dan Fatardhi Rizki Andhika dari SMAN 1 Pekanbaru. Rasa haru langsung menyelimutiku saat itu yang turut menyaksikan pengumuman nama mereka. Gak nyangka aku dulu juga pernah seperti itu. Sedih juga, karena asal sekolahnya gak di tempat aku menuntut ilmu dulu, MAN 2 Model Pekanbaru, tapi tak apa lah, yang jelas mereka Pekanbaru. Pekanbaru is the best..Tapi buat adek-adek yang gak dapat juara 1 jangan berkecil hati. Kalian tetap yang terbaik…

Penerima beasiswa DCR terbagi pada 4 peringkat. Peringkat pertama (tiga orang) mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 12.000.000/tahun ditambah satu unit komputer dan sebuah printer; peringkat kedua (lima orang) mendapat beasiswa Rp. 9.000.000/tahun ditambah satu unit komputer; peringkat ketiga (tujuh orang) mendapatkan beasiswa sebesar Rp. 8,000,000/tahun dan peringkat keempat (40 orang) mendapat beasiswa Rp. 5,000,000/tahun.

Para penerima DCR ke-8 ini akan menerima bantuan biaya pendidikan selama empat tahun penuh selama memenuhi ketentuan, antara lain harus mendapat IPK minimal 2,75 (skala 4) untuk setiap semester. Selain itu nantinya mereka masing-masing juga mendapatkan bantuan biaya wisuda sebesar Rp. 750.000,- . Lebih istimewa lagi, ke-55 peserta DCR ini juga mendapat undangan khusus untuk menjadi mahasiswa Politeknik Caltex Riau.
Diharapkan melalui program beasiswa ini para alumni DCR dapat berperan membangun Bumi Lancang Kuning tercinta.

~Terima kasih Chevron….jasamu akan selalu kukenang….~

Komentar (3) »

Indahnya Masa SD

 tn1.jpg

Dimuat juga di Harian Riau Pos, Edisi Ahad 2 Maret 2008

Penulis : Ken Terate
Penerbit : Gramedia, Jakarta
Cetakan : Pertama, Januari 2008
Tebal : 240 halaman

Ternyata tidak hanya masa SMA yang dilirik penulis, kisah masa-masa transisi dari SD menuju SMP pun menjadi sajian yang layak. Alasannya sih, anak SMP-kan juga remaja. Dia adalah Ken Terate, salah satu penulis yang melukiskan kisah anak SD yang memasuki SMP. Jurnal Jo, begitu judul novel Ken Terate yang menjadi buku kelimanya.

Novel setebal, 240 halaman ini bercerita tentang Jo yang kini memasuki masa remaja dan harus meninggalkan kisah SD-nya. Banyak sekali peraturan yang harus ia lakukan hingga nama remaja benar-benar lekat padanya.

Tidak boleh memakai celana pendek; punya baju dan aksesoris yang oke; harus memakai deodoran (walau geli rasanya); memakai pakaian dalam yang seharusnya, sesuai pertumbuhan; harus punya geng yang keren (meski mereka sangat menjengkelkan, tahan saja daripada dicap remaja kuper); dan terakhir harus punya pacar (syarat supaya kamu diakui sebagai remaja keren). Begitu kira-kira segelumit peraturan menjadi seorang remaja yang ia dapatkan. Setelah dilaluinya, ternyata Jo merasa berat untuk melalui masa SMP nya yang mengerikan. Jo kangen berat pada masa SD-nya hingga dia pernah berharap agar tidak tumbuh. Apalagi Jo mulai kehilangan sahabat baiknya dari SD dan dikhianati cowok yang dia kagumi.

Cerita ini sungguh akan mengingatkan kita pada masa-masa SD dulu yang Jadul abis. Kekocakan dan keluguan kita di masa SD akan teringat kembali dengan membaca buku ini. Kita seolah-olah diseret kembali pada masa-masa yang menyenangkan itu, masa-masa kita hanya diberi tugas ketika ujian dan tidak perlu memikirkan hal-hal yang berhubungan dengan orang dewasa. Baca novel ini dan nikmati lah kembali masa SD Anda!***

 

Komentar (3) »

Selamat Ulang Tahun “Kabisat”

Tak semua orang yang tahu dan tidak semua orang juga yang mau tahu, kalau 29 Februari yang lalu adalah hari yang dinanti-nantikan oleh sebagian orang yang ingiiiiiiiiinnnnnn sekali berulang tahun seperti manusia normal….

Memang begitu fakta yang terlihat. Bagi sebagian masyarakat, tanggal 29 bukan lah hal luar biasa, yang harus diperingati seperti memperingati hari buruh atau hari pendidikan. Tapi tidak bagi mereka yang lahir pada tanggal itu.

Mereka yang lahir tanggal 29 Februari sangat menantikan hari ulang tahunnya yang bisa dirayakan sesuai tanggal di kalender, bukan dengan mencoret tanggal 1 Maret dengan 29 Februari pada hari biasa. Bagaimana tidak senang? Mereka harus menunggu waktu 4 tahun agar ada tanggal 29 Februari, dikarenakan di saat itu tahun kabisat.

Akhirnya, aku yang sempat lupa menyampaikan selamat bagi semua yang lahir di tahun kabisat,  melalui blog ini, dari hati yang paling dalam, aku ucapkan Selamat Ulang Tahun.

NB:

Jangan terlalu bersedih dengan hanya berulang tahun 4 tahun sekali. Ambil aja hikmahnya. Kan gak tiap tahun ntraktir orang. Iya kan? He…..

Komentar (4) »

THE WINNER IS….

Selamat kepada Prety…..

yang telah berhasil meraih:

Komentar Terbaik Atas Resensi Kutu, Kan?

Harap kirimkan nama asli, no.hp, dan alamat ke prnm_indra@yahoo.com….

(~Data dijamin kerahasiannya~)

Bagi yang belum menang jangan berkecil hati, karena sekarang setiap bulannya ada 2 novel yang direbutkan….

Sesi pertama tanggal 1-15 tiap bulannya dengan 1 pemenang, dan sesi kedua tanggal 16-30 dalam bulan yang sama dengan 1 pemenang juga..

Jadi jangan berkecil hati ya….

Quiz selanjutnya mengenai…

iadk4554big.jpg

Komentar bertahan »