Arsip untuk Februari, 2008

Dapatkah Kuraih Lagi Masa Itu???

Sampai saat ini aku belum bisa menerima, bahwa aku sekarang bukan lagi siswa, tapi sudah menjadi maha..mahasiswa.

Kok??? Ya begitulah. Di awal kuliah aku merasakan hal berbeda. Dimana masa2 indah di SMA tidak lagi pernah kujumpai…

Apa arti smua ini??? Hal itu yang kupertanyakan pada diriku sendiri saat itu….

Aku tidak lagi bisa ngelabui guru ke kantin, tidak lagi bisa cabut sekolah dengan alasan kegiatan OSIS, tidak lagi bisa bersenda gurau terlalu lama, juga tidak lagi bisa berteman dengan baik-baik. Dan yang paling kubenci, aku tidak lagi bisa dengan tenang untuk chat atau hang out bareng teman2 (~walau yang terkakhir sangat jarang kulakukan)…

Saat masuk kuliah, aku harus menerima kenyataan bahwa kuliahitu tidak enak.Ingin rasanya kujitak kepala orang yang bilang kuliah is freedom (yang bilang demikian biasanya mereka yang udzur baru tamat) ~maaf~…Tugas yang membludak. Absensi yang dinilai tanpa pandang bulu, mau izin hima kek, mau sakit kek, mau mati kek, yang jelas kalo tak hadir, nilainya kurang. Belum lagi musuh2 dalam selimut yang berada dimana2….Membuat hati tak nyaman…

Tapi itu-lah hidup, semua punya makna…masa SMA adalah masa kita diatur dan masa untuk menikmati dunia, sedang masa kuliah adalah masa mengatur dan masa untuk memperbaiki hidup di dunia agar tertata dengan rapi….

Walau demikian aku masih berharap, masa itu dapat kuraih kembali??? Meskipun itu adalah hal yang sia2.

Komentar (4) »

Prediket my blog….dari www.criticsrant.com/bb/reading_level.aspx

Komentar bertahan »

Sepatu Kaca, Pembawa Petaka dan Cinta

iadk4554big.jpg

Judul : Sepatu Kaca

Penulis : Agnes Jessica

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

Cetakan : Pertama, Februari 2008

Tebal : 240 halaman

 

Lagi-lagi ibu rumah tangga menghasilkan novel fenomenal. Siapa lagi kalo bukan Agnes Jessica. Mantan guru Matematika ini kembali dengan novelnya yang entah untuk kali keberapanya diterbitkan Gramedia. Masih sama dengan novel-novel kebanyakan, cinta tak luput dari permasalahan dalam cerita.

Novel Agnes yang terbaru dari Gramedia ini berjudul Sepatu Kaca. Kok Sepatu Kaca sih? Ya iyalah, kalo sepatu besi kan gak lucu (~nggak ding, just kidding~). Karena novel ini berkisah tentang keluarga Lolo, tokoh utama dalam novel ini, yang orang tuanya mempunyai toko sepatu. Dan Sepatu Kaca itu adalah nama toko kedua orang tua Lolo yang cukup sukses.

Namun, Lolo tidak menyangka bahwa ketika pulang ke Indonesia, kehidupannya berubah seratus delapan puluh derajat. Toko sepatu dan rumah keluarganya disegel, sementara mama-papanya menghilang. Belum lagi kebingungannya pdar karena mendadak jadi tunawisma, seorang pemuda menagih utang orang tuanya sebesar dua ratus juta!

Sudah tentu Lolo yang baru berusia delapan belas tahun tidak bisa membayarnya. Maka pemuda yang menagih utang itu, yang bernama Kingsley, menyanderanya. Bagi Kingsley, Lolo adalah jaminan. Ia memaksa gadis itu tinggal di “gudang”nya. Bukan apa-apa! Menurut Kingsley siapa tahu saat orang tua gadis itu muncul, mencari putrinya, ia bisa mendapatkan uang yang berguna bagi masa depannya.

Seiring berjalannya waktu, keduanya, Lolo dan Kingsley bertambah akrab, walau memiliki selisih umur dua tahun. Malahan Kingsley berniat membantu mencari tahu, mengapa orang tua Lolo yang sukses itu tiba-tiba bangkrut. Dan bahu-membahu pula keduanya berusaha meraih lagi kejayaan toko sepatu itu, dan itu menjadikan cinta tumbuh di antara mereka berdua.

Pokoknya, hasrat pembaca yang haus bacaan akan terpenuhi dengan membaca novel ini. Permasalahan-permasalahan kompleks terjadi di dalam novel setebal 240 halaman ini, pasti pernah kita alami. Bagaimana kita dikhianati, bagaimana kita disenangi, bagaimana kita dicemburui, bagaimana kita dicintai, dan bagaimana kita mencintai ada dalam novel karya Agnes Jessica. Tak disangka mantan guru (sori kalo masih jadi guru) Matematika ini bisa menulis novel se~kompleks ini.

Pertanyaannya…

Apa yang kamu lakukan jika hidup di dunia ini tanpa memiliki satu saudara pun yang memiliki hubungan darah….

Comment kamu ditunggu sampai 15 Maret 2008, pukul 15.00 WIB

Nb:

~ Maaf! untuk saat ini pemenang hanya dipilih yang berasal dari Sumatera dan Jabodetabek~

 

 

Komentar (12) »

Dari Istana Hingga ke Astana

Oleh: Indra Purnama

Innalillah wainnailaihi rojiun. Kalimat yang saya ucapkan ketika mendengar kematian Pak Harto. Mungkin juga bagi ratusan juta umat Islam di Indonesia, bahkan hampir seluruh masyarakat dunia yang beragama Islam.

Yup. Memang benar seluruh umat manusia berduka, tidak memandang agama, ras, suku, bangsa, dan keturunan. Tidak juga memandang teman ataupun musuh. Semua berduka.

Semua berduka atas kepergian Bapak Pembangunan Nasional yang mungkin menjadi bapak pembangunan satu-satunya di negara ini. Adakah kira-kira saat ini ’bapak’ yang bisa kita percaya untuk memangku gelar itu lagi?

Semua berduka atas kepergian anak petani ini, karena jasa-jasa beliau terhadap bidang pertanian, dimana pada masa kepemimpinannya kita berhasil meraih Swasembada Pangan, belum lagi penghargaan FAO atas keberhasilan pemerintah menangani masalah pangan. Mampukah kira-kira, bangsa ini kembali meraih keberhasilan pada era orde baru itu? Jangan dulu pertanyaan demikian, kita coba dari pertanyaan yang ringan. Mampukah bangsa ini pada era reformasi yang diinginkan, menurunkan harga kedelelai, minyak goreng, minyak ranah, dan minyak-minyak lainnya?

Semua berduka atas kepergian suami Ibu Tien ini, karena jasanya membuat rakyat tidak brutal. Coba Anda lihat kebrutalan rakyat saat ini! Apakah ini yang diharapkan setelah Pak Harto lengser?

Semua berduka atas kepergian Pak Harto untuk selama-lamanya, karena beliau adalah sosok yang sederhana, sosok yang bisa mengharumkan nama bangsa. Mungkinkah bangsa ini dapat membuat bangsa lain menghormati ’Republik’ seperti zaman Pak Harto?

Semua berduka atas kepergian bapak enam orang anak ini, karena beliau berhasil menjadi bapak yang baik setelah ditinggal sang istri pada 1996 silam.

Masih banyak duka-duka yang lain untuk mengenang sosok Pak Harto. Walau demikian Pak Harto tidak luput dari kesalahan sebagai manusia biasa. Mulai dari KKN yang merajalela (lebih merajalela mana di era reformasi?), petrus, kekerasan terhadap keluarga PKI, hingga pengekangan pers. Hal itu masih meninggalkan luka mendalam bagi sebagian kecil bangsa ini.

Masa Muda Pak Harto

Mantan Presiden Soeharto menapaki perjalanan hidupnya dengan kisah yang panjang. Salah satunya, tercermin dari buku otobiografi Soeharto, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.

Dalam buku tulisan G Dwipayana dan Ramadhan KH ini, Soeharto menuturkan kisah hidupnya secara panjang lebar, falsafah hingga harapan-harapannya. Berikut nukilan salah satu bagian yang bercerita masa kecil Soeharto.

Kisah hidup H.M. Soeharto (84 tahun) berakar dari desa. Selama 32 tahun berkuasa, Pak Harto tidak pernah melupakan akarnya sebagai anak petani. Karenanya, ia selalu memperhatikan nasib dan kesejahteraan para petani.

Pak Harto, anak ketiga Kertosudiro dari Sukirah, istri yang dinikahinya setelah lama menduda. Dengan istri pertama, Kertosudiro, petugas pengatur air desa (ulu-ulu), memperoleh dua orang anak.

Sukirah, sewaktu melahirkan bayi laki-laki di rumah suaminya yang sederhana, di desa Kemusuk, Argomulyo, Godean, arah barat dari kota Yogyakarta, ditolong oleh dukun bersalin mbah Kromodiryo, adik kakeknya, mbah Kertoirono. Bayi yang lahir tanggal 8 Juni 1921 itulah yang diberi nama Soeharto oleh ayahnya, Kertosudiro.

Agaknya perkawinan Kertosudiro dan Sukirah tidak bertahan lama. Mereka cerai tidak lama setelah Pak Harto lahir. Ibu Sukirah yang menjanda, menikah lagi dengan Pramono, melahirkan tujuh orang anak, termasuk putra kedua, Probosutedjo. Dan ayah Pak Harto juga menikah lagi, memperoleh empat anak dari istrinya yang ketiga.

Ketika usianya semakin besar, Pak Harto tinggal bersama kakeknya, mbah Atmosudiro, ayah dari ibunya. Di situ ia pernah menggembala kerbau. Pak Harto masuk sekolah saat berusia delapan tahun, tetapi sering pindah. Semula disekolahkan di Sekolah Desa (SD) Puluhan, Godean. Lalu pindah ke SD Pedes, lantaran ibunya dan suaminya, Pak Pramono pindah rumah, ke Kemusuk Kidul. Namun, Pak Kertosudiro lantas memindahkannya ke Wuryantoro. Pak Harto dititipkan di rumah adik perempuannya yang menikah dengan Prawirowihardjo, seorang mantri tani.

Setamat sekolah rendah empat tahun, Pak Harto dimasukkan orang tuanya ke sekolah lanjutan rendah (schakel school) di Wonogiri. Ia pun pindah ke Selogiri, enam kilometer dari Wonogiri, tinggal di rumah kakak perempuannya, istri seorang pegawai pertanian. Ia disunat pada usia 14 tahun, karena orang tuanya tidak mudah mengumpulkan biaya. Namun ia merasa gembira, badannya cepat tumbuh besar, tinggi dan kekar.

Namun di Wonogiri, ia tidak bisa melanjutkan sekolah karena tidak punya sepatu dan celana pendek. Karena itu ia ingin kembali ke kampung asalnya, Kemusuk, melanjutkan sekolah. Ia pun pindah ke Kemusuk. Pak Harto masuk sekolah Muhammadiyah di Yogya, karena di situ ia boleh mengenakan sarung, tanpa sepatu. Dari rumah ke sekolah, dan sebaliknya, ia mengayuh sepeda butut.

Setamat SMP Muhammadiyah, Pak Harto sebenarnya ingin melanjutkan ke sekolah yang lebih tinggi. Apa daya, ayah dan keluarganya yang lain tidak mampu membiayai. Kondisi ekonomi mereka sangat lemah. Ia masih mengingat pesan ayahnya waktu itu: “Nak, tak lebih dari ini yang dapat kulakukan untuk melanjutkan sekolahmu. Kamu sebaiknya mencari pekerjaan. Dan kalau sudah dapat, Insya Allah, kamu dapat melanjutkan pelajaranmu dengan uangmu sendiri.”

Pak Harto pun berusaha mencari kerja ke sana-kemari, tidak berhasil. Ia memutuskan kembali ke rumah bibinya di Wuryantoro. Di sana ia diterima sebagai pembantu klerek pada sebuah Bank Desa (Volks-bank). Tugasnya mengikuti klerek bank berkeliling kampung dengan sepeda, mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap. Mereka menampung permohonan pinjaman para petani, pedagang kecil dan pemilik warung. Namun, tak lama kemudian Pak Harto minta berhenti, karena bermasalah dengan hinaan klereknya.

Setelah lama menganggur, suatu hari tahun 1942, Soeharto membaca pengumuman penerimaan anggota KNIL—Tentara Kerajaan Belanda. Ia pun mendaftarkan diri, lulus dan diterima, tetapi hanya sempat bertugas tujuh hari dengan pangkat sersan. Soalnya terjadi perubahan, Belanda menyerah kepada Jepang. Sersan Soeharto kemudian pulang ke desa Kemusuk. Namun karier militernya dimulai dari sini.

Di tengah mulai menanjaknya karier Pak Harto, ia menikah dengan Siti Hartinah yang dilangsungkan tanggal 26 Desember 1947 di Solo. Waktu itu usia Pak Harto 26 tahun dan Hartinah 24 tahun. Mereka dikaruniai enam putra dan putri; Siti Hardiyanti Hastuti, Sigit Harjojudanto, Bambang Trihatmodjo, Siti Hediati Herijadi, Hutomo Mandala Putra dan Siti Hutami Endang Adiningsih.

Jenderal Besar H.M. Soeharto telah menapaki perjalanan panjang di dalam karier militer. Pak Harto memulainya dari pangkat sersan tentara KNIL, kemudian komandan PETA, komandan resimen dengan pangkat Mayor dan komandan batalyon berpangkat Letnan Kolonel.

Lama pangkatnya tertahan, sampai-sampai ia meminta izin Ibu Tien untuk berhenti dari tentara dan menjadi sopir taksi saja. Namun Ibu Tien tidak memberi izin. Lantas Pak Harto diangkat menjadi Kepala Staf, kemudian Panglima Kodam Diponegoro, Jawa Tengah, dengan pangkat Mayor Jenderal. Pak Harto, setelah menempuh pendidikan Seskoad di Bandung, ditunjuk sebagai Panglima Komando Mandala, Wakil Panglima I Kolaga dan kemudian Pangkostrad dengan pangkat Letnan Jenderal.

Berawal dari Istana

Tanggal 1 Oktober 1965, meletus G-30-S/PKI. Pak Harto mengambil alih pimpinan Angkatan Darat. Selain dikukuhkan sebagai Pangad, Jenderal Soeharto ditunjuk sebagai Pangkopkamtib oleh Presiden Soekarno. Bulan Maret 1966, Jenderal Soeharto menerima Surat Perintah 11 Maret dari Presiden Soekarno. Tugasnya, mengembalikan keamanan dan ketertiban serta mengamankan ajaran-ajaran Pemimpin Besar Revolusi Bung Karno.

Karena situasi politik yang memburuk setelah meletusnya G-30-S/PKI, Sidang Istimewa MPRS, Maret 1967, menunjuk Pak Harto sebagai Pejabat Presiden, dikukuhkan selaku Presiden RI Kedua, 22 Maret 1968. Inilah awal hidup Pak Harto sebagai Presiden RI ke-2, dari istana.

Di awal pemerintahannya, Pak Harto ketika itu memprioritaskan pertumbuhan ekonomi sebagai pokok tugas dan tujuan utama pemerintah. Kondisi perekonomian nasional saat itu memang sedang amburadul. Kebijakan yang diambil Pak Harto tentu saja sangat tepat dan mendapat dukungan dari banyak pihak.

Ketika itu dia mengangkat banyak teknokrat dan ahli ekonomi yang sebelumnya bertentangan dengan Presiden Soekarno yang cenderung bersifat sosialis. Teknokrat yang diambil umumnya berpendidikan Barat dan liberal seperti lulusan Berkeley, yang kemudian dikenal di dalam klik ekonomi sebagai “Mafia Berkeley”.

Sejarah pertumbuhan ekonomi di awal era pemerintahan Orde Baru memang pantas diacungi jempol, meskipun pada akhir rezimnya, Pak Harto dituding hanya mewariskan utang bertumpuk-tumpuk atau sisa kebobrokan sistem ekonomi mikro dan makro yang menyesakkan hingga saat sekarang. “Namun, setidaknya, pemerintah Orde Baru ternyata pernah menyelamatkan bangsa ini dari gelombang kehancuran,” kata Prof Dr H Emil Salim, seorang ekonom senior yang juga mantan menteri Orde Baru.

Pada saat itu, kata Emil Salim, laju inflasi menjelang peristiwa G 30 S, bisa dibilang edan. Jangan kaget, indeks biaya hidup tahun 1960 sampai tahun 1966, naik 438 kali. Harga beras naik 824 kali. Harga tekstil naik 717 kali. Nah, sementara harga-harga itu mengganas, nilai rupiah sekarat dari Rp 160 saja menjadi Rp 120.000.

Itu semua agaknya menjadi bukti ilustratif betapa malapetaka yang menghantam bangsa Indonesia saat itu demikian dahsyat. Belum lagi persoalan ekonomi yang mencabuti satu per satu ajal rakyat Indonesia ini masih harus dipinggirkan oleh drama pergulatan politik nasional. Namun kepiawaian Pak Harto mampu memadukan semua komponen masyarakat dalam mengatasi persoalan bangsa, terutama ahli-ahli ekonomi.

Ketika itu, jurus para ekonom yang diakomodasi pemerintahan Orde Baru itu, paling tidak mampu menyusun program rehabilitasi dan stabilisasi ekonomi yang cukup komprehensif. Ada lima jurus yang dianggap manjur. Pertama, pengendalian inflasi melalui kebijakan anggaran berimbang, dan kebijakan moneter ketat. Kedua, pencukupan kebutuhan pangan. Ketiga, pencukupan kebutuhan sandang. Keempat, rehabilitasi berbagai sarana dan prasarana ekonomi. Kelima, peningkatan ekspor dengan mengembalikan share sepenuhnya pada eksportir.

Hasilnya, laju inflasi mulai jinak. Dari kisaran angka 650 persen (tahun 1966), melunak jadi 100 persen (1967), turun lagi 50 persen (1968), bahkan terkendali di bilangan 13 persen (1969). “Ini prestasi yang diraih pemerintah saat itu,” ujar Emil Salim.

Kebijakan lainnya yang digulirkan pemerintah saat itu adalah deregulasi dan debirokratisasi (Paket 10 Februari dan 28 Juli 1967, dan seterusnya).

Pemerintah juga membuka diri untuk penanaman modal asing, meski dilakukan secara bertahap. Juga membuat Rencana Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang menyusun strategi negara agraris yang didukung oleh industri, hingga industri yang menghasilkan industri. Dasar-dasarnya sudah diletakkan ketika itu, tetapi implementasinya kemudian kurang optimal.

Kemudian, dalam bidang ekonomi juga tercatat Indonesia mengalami swasembada beras pada tahun 1984. Indonesia dinyatakan mampu mandiri dalam memenuhi kebutuhan beras atau mencapai swasembada pangan. Organisasi Pangan Dunia (FAO) pun mengundang Pak Harto untuk menerima penghargaan atas prestasinya.

Kemajuan ekonomi Indonesia pada saat itu dianggap negara-negara maju sangat signifikan sehingga Indonesia sempat dimasukkan dalam negara yang mendekati negara-negara Industri Baru bersama dengan Malaysia, Filipina dan Thailand, selain Singapura, Taiwan dan Korea Selatan. Indonesia pun sempat dijuluki sebagai salah satu negara yang bakal menjadi “macan Asia”, karena pertumbuhan ekonominya pesat dan kondisi politik di dalam negeri sangat stabil waktu itu.

Namun, keberhasilan itu tidak dapat dinikmati berlama-lama. Apalagi, pemerintahan Pak Harto pada era itu mulai banyak melakukan penyimpangan di berbagai bidang, termasuk maraknya kolusi, korupsi, dan nepotisme di berbagai bidang vital yang menyentuh kepentingan rakyat banyak. Juga bidang yang sensitif, seperti minyak, gas, hutan, pertanian, dan lainnya.

Lengsernya Pak Harto

Pak Harto memerintah lebih dari tiga dasa warsa lewat enam kali Pemilu, sampai ia mengundurkan diri, 21 Mei 1998.

Menjelang akhir kepemimpinannya, Soeharto menghadapi krisis multidimensi di Indonesia yang dipicu oleh krisis moneter, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang merajalela, dan terjadinya kesulitan akses pangan oleh rakyat. Itulah yang menjadi dampak paling besar dalam lengsernya beliau.

Pada masa itu kondisi ’Republik’ sungguh tidak sangat terkendali. Berbagai macam kecaman datang, mulai dari masyarakat kecil hingga ’ahli pikir’, siapa lagi kalau bukan mahasiswa.

Sungguh ironis mengenai lengsernya Pak Harto. Ia harus mengundurkan diri dalam keadaan masyarakat yang sudah tidak ”jinak” lagi. Reformasi menjadi tuntutan rakyat di masa itu.

Akhirnya pada Kamis, 21 Mei 1998 sekitar pukul 10:00 pagi di ruang upacara Istana Merdeka, yang lazim ketika itu disebut ruang kredensial, Presiden Soeharto menyampaikan pidato Pernyataan Berhenti Sebagai Presiden Republik Indonesia. Hal itu dilakukan Pak Harto untuk menghindari banyaknya korban berjatuhan.

Astana, Akhir dari Segalanya

Kini Pak Harto telah tiada. Pada 27 Januari 2008, ia telah menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.

Kematian Pak Harto diakibatkan oleh kegagalan multiorgan. Walau demikian Pak Harto sempat di rawat di RSPP selama dua pekan oleh tim dokter kepresidenan. Kritis, pulih lagi. Kritis, pulih lagi. Begitulah kondisi Pak Harto selama di RSPP hingga akhirnya ia harus meregang nyawa tepat pukul 13.10 WIB.

Pak Harto dimakamkan di Astana Giribangun, Kabupaten Karangayar, Jawa Tengah. Astana Giribangun sendiri berada 20 km dari pusat kota Karangayar. Dibangun pada 1974 di lereng Gunung Lewu, Jawa Tengah. Astana Giribangun terletak 666 meter dari permukaan laut, sehingga tempat ini cukup tinggi untuk bisa memcapainya.

Astana Giribangun, akhirnya menjadi tempat pengistirahatan terakhir Bapak Pembangunan ini tepat pada pukul 12.15 WIB. Hubungan Pak Harto dengan dunia telah berakhir. Maafkanlah beliau atas segala kesalahannya. Biarkan beliau pergi dengan tenang. Tuhan saja memaafkan hamba-Nya yang melakukan dosa.

Selamat jalan Pak Harto, selamat jalan Bapak Pembangunan!

Sorry telat postingnya,,,abisnya lama banget sih nunggu dimasuk-in ke Riau Pos,,,

~Biar lah telat asal kn gak sama sekali~ He…

Komentar (2) »

SPG PASAR BUAH PEKANBARU 88 TAK RAMAH (Edisi Lengkap)

Dimuat Selasa, 5 Pebruari 2008 di Harian Pagi Riau Pos

Entah apa ekspresi yang harus aq perlihatkan kala itu, marah atau tertawa. Saat itu, aq sedang berbelanja di Pasar Buah Pekanbaru 88 yang terletak di Jalan Riau. Kondisi supermarket yang banyak menjual buah ini sangat ramai waktu itu, sehingga untuk berjalan di antara rak-rak barang, para pembeli harus berdesak-desakkan.

Nah, kejadian itu bermula ketika salah satu pembeli, pria berperawakan tinggi mengenakan jaket cokelat (yang ternyata aq) bertanya kepada salah satu sales promotion girls atau yang disingkat SPG yang mempunyai rambut sebahu. Pada saat itu aq tepat berada di belakang pria itu untuk menunggu ia selesai bertanya hingga aq bisa meneruskan perjalanan untuk berbelanja. Di belakang aq dan di depan si penanya masih banyak pembeli lain yang masih antre.

”Mbak, tempat jual sabun dimana ya?” kata pria itu sambil sesekali celingak-celinguk mencari tempat berbagai sabun dijual, berusaha agar segera menemukannya, karena ia sepertinya risih harus menghambat jalan pembeli lain.

Dan tau tidak apa yang dijawab sama SPG, cewek berambut pendek itu.

”Gak tau tuh,” katanya santai sambil ngeloyor pergi.

Sontak aq langsung kaget mendengar kata-kata sang SPG. Mungkin pembeli lain juga begitu. Padahal yang aq tahu SPG itu adalah orang selalu tampil ramah, walau di hati tidak ada yang tahu.

”Oh, gak tau ya Mbak! Makasih,” katanya sambil terus berjalan. Dan aq rasa mungkin SPG itu tidak mendengar, karena keburu pergi.

Itu lah yang membuat aq bingung untuk ’berekspresi’. Saat mendengar ucapan dari SPG aq ingin rasanya memaki si SPG. Tapi ketika mendengar tanggapan si penanya aq ingin rasanya tertawa, bagaimana tidak aq langsung teringat ketika dosen aq cerita tentang pengalamannya di sebuah hotel ternama di Jakarta. Kedatangan dosenq itu katanya untuk urusan perkuliahan dengan salah satu temannya di Jakarta yang menginap di hotel itu. Kala itu ia hanya ingin menunjukkan kesopanan ketika masuk ke dalam hotel dengan bertanya kamar temannya kepada resepsionis. Sebenarnya dosen aq tu udah tahu kamar sang teman dari sms yang ia terima.

Hampir sama jawaban yang ia terima ketika ia bertanya ke resepsionis. ”Tauk tuh,” kata dosenq menirukan ucapan sang resepsionis dengan gerakannya sekaligus, yaitu kedua tangan dijulurkan ke depan dan bahu sedikt diangkat (~kek senam aja~).

Waktu itu sang dosen juga memaafkan si resepsionis, sama seperti si pria tadi yang tampaknya telah memaafkan si SPG, itu terlihat dari nada katanya yang sama sekali tidak ternodai oleh emosi.

Pengalamanq dan sang dosen yang dijadikan analogi hanyalah segelumit pelayanan pelanggan yang buruk. Tidak semua pelanggan mau memaafkan atas pelayanan yang buruk. Aq yang berbelanja hampir 200-ribuan ~bener tuh~ di setiap akhir pekan saja jadi harus mikir dua kali untuk ke sana. Bagaimana tidak, aq belum sanggup menahan emosi jika saya diperlakukan seperti itu. Malu, jika emosi harus meledak di depan orang ramai.

Tapi yang jelas, aq hanya menyampaikan, tidak hanya kepada pihak Pasar Buah Pekanbaru 88, tapi juga kepada seluruh ’pelayan masyarakat’ agar masalah pelayanan ini harus diperhatikan. Tidak salah pembeli atau customer jika ia meninggalkan toko Anda jika tidak dilayani dengan ramah.

Dan tau tidak? Saat aku nanya tanggapan SPG lain, ia malah dukung tuw SPG yang songong habis. Katanya, ”Gak apa-apa tuh kalo pelanggan yang gak sopan digutiin, masak ngasih uang dengan tangan kiri.”

Loh?? Selidik punya selidik, ternyata SPG membalikkan cerita. Katanya si SPG itu marah karena si pelanggan pria itu ngasih uang pake tangan kiri ke kasir…Jago bener tuh SPG ngarangnya..

Untung aja waktu itu aq lg gak emosi, kalo emosi aq bilang aja, ”Pria yang difitnah itu aq. Tauk gak!”

Ya begitulah pengalaman pahitq yang aq analogikan dengan seorang pria berperawakan tinggi. Tapi kalo kalian terserah lah. Kalo memang udah emosi banget dengan tingkah SPG, bentak aja tuh SPG, kalo perlu teriak-teriak biar pembeli lain nengok…biar bangkrut sekalian tuh toko ato si SPG tuh dipecat dengan tidak hormat.

~~~PERINGATAN: SARAN INI HANYA BERLAKU SESUAI PETUNJUK SECURITY~~~

Komentar (1) »

Sandiwara dari Senayan

He…ngomongin politik (baca: ngompol) ni ye….Emang…

080212bblbi.jpg

Aku sebagai rakyat jelata merasa risih dengan sandiwara, acting, atau apalah namanya yang semua itu dilakonkan oleh rival-rival politik di Senayan sana…

Kalo artis ato aktor benaran sih don’t worry (atau gara-gara banyak selebritis yang jadi anggota dewan kali ya), tapi ini tidak, dari wajah saja tidak mendukung sama sekali untuk membuat sandiwara. Nah, mereka yang notabenenya pilihan rakyat malah turut bersandiwara layaknya selebritis (padahal mereka bukan selebritis).

Ayo tau tak apa sandiwara mereka? Tak perlu aku sebutin deh satu-satu, karena aku tahu kalian semua pasti pada tahu, salah satunya pada kasus interpelasi BLBI. Nah loh? Apalagi tuw kasus BLBI? Aku gak perlu jelasin lebih jauh, karena bukan itu pembahasannya. Tapi yang jelas kasus BLBI itu suatu kasus pengembalian dana dari para pengemplang bantuan likuiditas Bank Indonesia (BLBI) sebesar lebih dari Rp 144 triliun.

Di sanalah mulainya salah satu sandiwara orang-orang dari Senayan. Seakan mereka adalah pahlawan kesiangan. Atau bisa juga mereka seakan aktivis mahasiswa yang berdemo. Pokoknya sangat banyak sandiwara yang mereka (orang senayan, red) lakukan.

Sandiwara itu dimulai dari masalah ketidakhadiran Presiden. Ketidakhadiran Presiden banyak dipertanyakan wakil rakyat. Sebagian anggota DPR tidak puas dengan ketidakhadiran Presiden Yuhoyono dalam sidang kali ini. Yudhoyono alias SBY memilih mewakilkannya para menterinya, antara lain Menteri Koordinator Perekonomian Boediono, Menko Politik, Hukum dan Keamanan Widodo A.S. untuk menanggapi interpelasi DPR.

Jadi sandiwaranya dimana??? Ya begitu lah adanya. Sandiwara mereka terselubung, ibarat prostitusi di kalangan anggota dewan (maaf, ini sesuai fakta yang ada). Mereka dengan sok-sok-nya mempersalahkan ketidakhadiran SBY. Itu lah sandiwara yang mereka lakukan, walaupun sebenarnya kalo SBY datang lebih bagus,..

Tapi sebenarnya mereka (anggota dewan, red) tau, tujuan rapat yang dilaksanakan Rabu (12-02-08) bukan mempersalahkan siapa yang hadir atau siapa yang menandatangan, tapi adalah menyelesaikan kasus BLBI yang tak ada ujungnya selama ini.

Untuk kesekian kalinya kita harus melihat sandiwara yang dilakoni anggota dewan. Entah sandiwara apa lagi nantinya yang diperankan oleh mereka. Allahu bissawab.

Komentar bertahan »

Kutukan is nothing

hkbo1725.jpg

Judul : Kutu, kan?
Penulis : Bacem wong
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Cetakan : Pertama, November 2007
Tebal : 198 halaman

*****

Novel yang berjudul kutu, kan? ini adalah novel kedua yang dilahirkan dari ‘rahim’ Bacem Wong. Gila. Itu yang tergambar dari pemuda asal Bandung ini. Gimana nggak gila, kalau orang aja bisa gila baca novelnya neh orang gila. Jadi gilakan bacanya. He…
Novel ini berkisah tentang kisah Eki. Nasib Eki sungguh malang. Biarpun dia nggak jelek-jelek amat dan udah punya penghasilan sendiri sebagai fotografer, kisah cintanya tetap gagal total.
Mulai dari Diandra yang cantiknya bak bintang film; Citra, sang penari; Davin yang ngasih lampu hijau, sampai ke Putri yang cuma anak SMA…..semuanya gagal!!! Kenapa ya? Di saat-saat putus asa itu Eki berpikir ia terkutuk. Lani yang merupakan temannya Eki sejak SMP menganggap itu suatu kegagalan biasa dalam hidup. Tapi menurut Eki ia tetap dikutuk. Gagal kok nggak cuma sekali?
Nah, akhirnya muncul Kinan yang manis, tapi buta di saat ia memikirkan masalah kutukan itu. Namun, sekali ini Eki berharap kisah cintanya nggak bakal apes lagi, tapi kok tanda-tandanya… Oh, tidaaakkkk!!!! Apakah Eki benar-benar terkutuk dan ditakdirkan menjomlo selamanya? Tapi akhirnya Eki menyimpulkan sendiri bahwa kutukan itu tidak ada. Kutukan is nothing.
Novel setebal 198 halaman ini sungguh menarik, karena sudut pandang yang dipilih penulis. Jarang ada penulis yang memilih sudut pandang orang ketiga, tetapi ia ikut juga terlibat dalam percakapan. Ya, seperti hantu gitu deh, ikut nimprung saat orang lagi bicara. Namun, isinya kurang menarik sebab ceritanya terlalu menonjolkan masalah cinta yang sudah dianggap basi oleh kebanyakan orang. Tapi novel ini bisa dijadikan literatur bagi remaja yang lapar akan bacaan.

Indra Purnama
email dan fs: prnm_indra@yahoo.com

QUIZZZZZZZ

Buat teman-teman yang bisa jawab pertanyaan dengan bagus, maka aku sediakan satu buah novel terbaru terbitan Penerbit Utama Gramedia Pustaka Utama.

Pertanyaan:

Apa yang kamu lakukan jika berada pada posisi Eki??? n apa yang kamu sarankan jika ada orang seperti Eki???

Cara jawabnya melalui komentar aja…Ok, ditunggu jawabannya paling lambat 25 Pebruari 2008

Komentar (11) »

Masak Euy!!!

Siapa bilang laki-laki tidak bisa masak? Hal itu dibuktikan oleh teman-teman kita dari Program Studi (Prodi) Pendidikan Kimia Universitas Riau (Unri) dengan mengadakan lomba masak nasi goreng ++ (puls-puls, red) bagi mahasiswa. Tetapi belakangan, dosen laki-laki juga turut serta. “Kami gak mau kalah lah,” kata Drs R Usman Rery, Ketua Prodi Kimia bersemangat.
Acara yang berlangsung pada, Sabtu (19/1) dirancang sedemikan rupa untuk memeriahkan Islamic New Year 1429 H. Panitia sendiri berasal dari mahasiswa Prodi Kimia angkatan 2007, dan didukung sepenuhnya oleh Himpunan Mahasiswa Prodi Kimia (Himaprostpek).
Awalnya peserta direncanakan 10 tim, tetapi karena pada waktu itu banyak yang sedang ujian akhir, maka hanya 3 tim yang ikut, ditambah dengan 1 tim dari pihak dosen laki-laki. Awalnya acara tidak terlalu heboh, saat acara dimulai dengan berbagai kata sambutan, tetapi setelah semua peserta mulai menempati singgasananya, baru teriak meriah muncul dari para suporter.
Tim dosen terdiri dari, Abdullah SSi MSi dan Drs R Usman Rery,

neh tim dosen

sedang tim 1 terdiri dari angkatan 2003,

dsc02155.jpg

tim 2 terdiri dari mahasiswa angkatan 2004,

dsc02119.jpg

dan tim 3 terdiri dari angkatan 2005,

dsc02070.jpg

dan acara ini sendiri dibawakan oleh presenter terkenal,,indra

dsc02051.jpg

Cukup sengit persaingan mereka. Masing-masing dengan semangatnya mempertahankan jabatan dan angkatan mereka. Begitu juga dengan suporter yang terpecah berdasarkan angkatan. “Hidup 05,” kata itu sesekali terdengar dari arah penonton, begitu juga teriakan dari angkatan lain untuk mendukung timnya.
Akhirnya, lomba yang dimulai pukul 10.45 WIB, berakhir pada pukul 11.30 WIB. Pemenang pun diumumkan. Dan keluar sebagai pemenang sesuai dengan urutan angkatan, Juara I angkatan 2003, Juara II angkatan 2004, dan juara III angkatan 2005. Ada yang menarik dari tim 3, yaitu dari nasi goreng yang dibuat. Nama nasi gorengnya ‘Thailand’. Sekilas namanya memang keren, tapi tau tidak apa kepanjangannya? Enak tak enak ditelan, begitu kepanjangan nama nasi goreng mereka. Gara-gara itu, dewan juri sempat ragu untuk mencicipi nasi goreng buatan mereka.
Tapi yang jelas acara ini sangat bagus untuk menjalin hubungan silaturrahmi yang sempat renggang karena aktivitas kuliah. “Kita harap, hubungan kita semakin baik antar angkatan dengan adanya lomba ini,” kata Mulya Haris, Ketua Pelaksana acara lomba masak nasi goreng ++ ini.

Ada door prize juga loh,,,dsc02153.jpg

Komentar bertahan »